Disuatu tempat dan dipenuhi pohon-pohon rindang disepanjang jalan membuat siapa saja yang melintasi kawasan tersebut seperti sedang diuji nyalinya, bahkan tanpa lampu penerang.
Banyak opini yang tersebar membicarakan tentang lokasi ini yang bilang hutan larangan yang bila siapa saja datang ke tempat ini sudah pasti tidak akan kembali dan dinyatakan menghilang. Ada juga asumsi yang mengatakan bahwa dihutan tersebut ada hewan buas jadi, semua masyarakat mengindari kawasan tersebut.
Tapi, jika dilihat lebih dalam lagi dan masuk kehutan Kita bisa melihat ada gerbang hitam menjulang tinggi melebihi 3 meter berdiri kokoh disana dan kalau mendapat akses untuk masuk kedalamnya Kita akan disuguhkan oleh bangunan besar nan megah dengan diterangi lampu-lampu disepanjang jalan dan tidak akan terlihat menyeramkan lagi bila masuk bahkan bisa memanjangkan mata.
Didalam bangunan tersebut terdapat beberapa orang diruang tengah sedang berkumpul disatu tempat. Mungkin jika dihitung ada 16 orang disana yang terdiri dari 10 laki-laki dan 6 perempuan.
"Gimana keadaan Dia?" Tanya Pria berusia 23 tahun memecah keheningan
"Kabarnya sih baik. Tapi, kemarin Dia abis keluar dari rumah sakit." Sahut Pria berusia 17 tahun
"Apa! Rumah sakit!?" Ulang pria dewasa sambil berteriak tak tahu tempat dan sudah berusia 39 tahun
"Astaga.... Yah! Biasa aja dong. Aku kaget kan." Sahut Perempuan berusia 22 tahun dengan wajah kesal
"Tahu nih Ayah. Jadi kalah kan." Sahut Pria berusia 18 tahun
"Lebay!" Sahut Pria berusia 19 tahun dengan dinginnya
"Kalian bertiga, lihat wajah Ayah mulai kesal. Lebih baik diam kalo gak kalian tamat..." Ucap Perempuan berusia 16 tahun menengahi
Sontak semua menjadi diam seribu bahasa.
"Kalian bertiga lihat saja nanti!" Ucap Pria berusia 39 tahun dengan penuh penekanan
Dan benar saja mereka bertiga langsung membelokan matanya terkejut.
"Yah, kami hanya bercanda." Kata ketiganya bersamaan dengan wajah paniknya
"Keputusan sudah bulat. Kembali ke kamar masing-masing." Ucapnya mutlak dan semuanya pun patuh untuk ke kamar masing-masing
Sedangkan untuk tiga remaja yang ditandai oleh sang Ayah hanya bisa menerima dengan berat hati.
Karena semua anak remaja sudah pergi ke kamar dan sekarang tersisa para orang dewasa 4 pasutri dan 1 pria paruh baya (Kelapa Keluarga) dan melanjutkan perbincangan lebih serius.
🤸🏻♀️
Kediaman Likila ✨
Kamar Delkiza jam 14.21 siang. Setelah 5 hari keluar dari RS
"Bang." Panggil Delkiza ke Denis
"Ya." Jawab Denis singkat karena sedang bermain game online
"Bang." Panggil Delkiza lagi
"Yaaa."
"Bang." Panggil Delkiza untuk yang ketiga kali
"Apasih Del. Abang lagi main game... Kenapa hm?" Balas Denis tetap bersabar menghadapi adiknya ini
Bukannya menjawab Delkiza malah menubruk tubuh Denis.
Hiks
Dan terdengar lah tangisan Delkiza.
"Kamu nangis Dek? Why?" Panik Denis berusaha melihat wajah Delkiza tapi Delkiza menahannya
"Hiks... Gak mau... gini aja..." Racau Delkiza dipelukan Denis
"Kenapa sih? Cepat bilang siapa yang sudah buat kamu nangis biar Abang hajar orangnya." Omel Denis sambil mengelus rambut Delkiza
Delkiza menggeleng. "Bukan." Cicitnya
"Terus? Kenapa kamu menangis kalo bukan ada yang jahatin kamu. hm? Ayo jawab." Desak Denis yang kesal karena Delkiza tak berhenti menangis malah semakin menjadi
Huaaa..~~~~
Denis yang dibuat pening oleh tangisan Delkiza langsung Ia gendong ala koala bahkan Delkiza malah semakin mempererat pelukannya dileher Denis.
"Dasar bayi besar." Gumam Denis dan terus menimang-nimang Delkiza agar berhenti menangis dan setelah beberapa menit kemudian akhirnya Delkiza berhenti di menit ke 15.
"Sudah puas nangisnya hm?" Tanya Denis lembut dan mendudukkan Delkiza disofa sedangkan dirinya berjongkok dihadapan Delkiza
Masih dalam kondisi sesenggukan Delkiza mengangguk pelan.
Sontak membuat Denis tersenyum kecil mendapati mata Delkiza yang bengkak dan hidung berwarna merah.
"Cosplay jadi badut ya kamu." Ucap Denis spontan
Delkiza memberengut mendengar kata 'badut' dari mulut Denis.
"Abang jahat." Ucap Delkiza singkat dengan wajah sembabnya
Denis tak menggubris Ia lebih memilih merapikan rambut dan mengelap sisaan air mata Delkiza.
"Jangan menangis tiba-tiba lagi ya cantik. Abang bingung harus apa. Tapi, untuk kali ini Abang akan biarkan kamu jika dilain hari bergini lagi Abang pastiin orang itu akan habis." Ucap Denis serius membuat Delkiza tidak bisa berkata-kata
Delkiza menatap lekat Denis. "Aku nggak tahu kenapa hari ini cengeng banget apa lagi sama Bang Denis, dan Aku gak bisa kendalin air mata supaya gak keluar tapi nyatanya tetap keluar malah deras lagi." Adu Delkiza dengan logat seperti anak kecil
"Aneh... Kamu gak panas dan juga gak kesurupan tapi, kok kamu lain dari biasanya. Atau benar disekolah terjadi sesuatu. Iya?"
Denis menatap lekat mata Delkiza untuk mencari keberadaan dan Delkiza sendiri malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kan. Kamu menghindari tatapan Abang. Pasti ada sesuatu dan kalo kamu gak mau kasih tahu biar Abang sendiri yang akan cari tahu." Jelas Denis lalu berjalan keluar
Sedangkan Delkiza diam membiarkan Denis keluar dengan raut wajah serius.
"Kamu tetap di kamar. Nanti Abang panggil Bibi buat nemenin kamu. Abang pergi dulu." Kata Denis sebelum pergi
Selepas kepergian Denis Delkiza langsung memutuskan untuk pergi ke ruang ganti dan berpakaian ala laki-laki.
10 menit kemudian Delkiza telah rapi dengan outfit serba hitam yang biasa remaja laki-laki pakai.
"Aku harus cepat sebelum ada yang datang." Gumam Delkiza dan berjalan ke arah balkon
Menit berikutnya Delkiza langsung berjalan mendekati dahan pohon yang tumbuh tepat dibalkon kamar dan memudahkannya untuk keluar dari kamar tanpa sepengetahuan siapapun.
Duk!
Suara sepatu Delkiza menampak di tanah dengan selamat. Melihat sekeliling aman Delkiza berlari cepat melalui pintu belakang dan berakhirlah Delkiza disini warung kopi tempatnya menghabiskan waktu diluar.
"Eh... Neng Kiza, seperti biasa neng?" Tanya Ibu Hesti pemilih warung kopi yang sudah hapal dengan pesanan apa yang akan Delkiza pesan
"Iya, Bu." Riang Delkiza dan diancungi jempol Bu Hesti
"Siap Neng."
Sambil menunggu pesanannya jadi Delkiza mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu 'me time nya'.
Brak!
"Yo! whatsup!" Seru pria sambil menggerakkan meja membuat Delkiza terkejut
"Ya!" Kesal Delkiza menatap marah pria didepannya
"Hehehehe..."
TBC....
See you again 👋 next part
Mohon dukungannya reader untuk karya pertama Aku... Terima kasih 🤗
Rilis : 23Juni2023#19.06wib☑️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments