Part Nineteen

Pagi yang cerah untuk hati yang masih gelisah, bukan perkara mudah untuk menerima sebuah kenyataan hidup yang harus ditelan layaknya obat. Hari ini semua bangun lebih awal, Sisil, Dinda dan juga Lidya telah bersiap berangkat ke sekolah. Upacara bendera akan dilaksanakan setengah jam lagi dan mereka kini telah meluncur dengan santai di jalanan desa Mulyo Abadi. Dinda duduk di depan, sementara Lidya dan Sisil di belakang. Sisil hanya fokus pada jalanan desa. Sampai sesuatu menarik perhatiannya.

"Eh lihat itu Lid, kayaknya rumah itu deh yang dimaksud." Tunjuk Sisil pada sebuah rumah di seberang kanannya.

"Eh kayaknya iya deh, horor juga ya," balas Lidya sedikit menundukkan wajahnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sisil.

Mama sedikit melirik dan bertanya, "Pada lihat apa?"

"Nggak ada kok, Tan." Lidya spontan menjawab dan kembali pada posisinya semula. Mama hanya tersenyum dan kembali fokus ke jalan, sedangkan Sisil tak Hiraukan Mama sedikit pun.

Perjalanan 15 menit telah berlalu, mereka telah sampai di depan gerbang sekolah Sisil. Sekolah telah ramai dipenuhi para siswa dari pinggir jalan sampai di dalam kelas.

"Ya Udah Tan, kita masuk dulu. Makasih banyak udah diterima dengan baik di keluarga Tante. Seru pokoknya, lain kali main ke rumah nggak apa-apa kan Tan.. Hehehe," canda Lidya.

"Ya nggak apa-apa dong dengan senang hati, Nak." Mama membalas dengan senyum yang sangat manis.

"Sekali lagi makasih dan mohon maaf banget ya Tan ngerepotin." Lidya membalas senyuman itu dan menyalami tangan kanan Mama.

"Nggak apa-apa cantik, nggak ngerepotin kok."

Sisil menggendong tas abu-abunya dan mengambil botol minum, ia hendak membuka pintu mobil. Namun Lidya menarik lengan Sisil pelan dan memberi isyarat dengan mencium tangannya sendiri kemudian melirik Mama.

"Ish," Sisil mengernyitkan dahinya dan menyalami Mama dengan terpaksa. Marahnya belum juga berkesudahan, padahal niat Sisil ingin masuk ke sekolah tanpa pamitan.

"Dah... Semangat ya belajarnya," teriak Mama dari dalam mobil setelah membuka jendela yang ada di samping Dinda.

"Dah..." Lidya melambaikan tangan.

Keduanya menjalankan hari ini seperti biasanya. Upacara kemudian belajar beberapa mata pelajaran. Sisil hari ini bertambah semangat karena ia selalu riang dan menunggu hari untuk belajar matematika. Begitu sukanya dia, sampai jika pusing sekali pun menurutnya matematika adalah penawarnya. Meski demikian Sisil tetap menyukai pelajaran-pelajaran lain. Belajar merupakan bunga dalam hidupnya, bahkan jika dihabiskan waktu senggangnya untuk belajar dia akan menerima sepenuh hati.

Mama pergi mengantarkan Dinda ke sekolahnya, kemudian pamit melanjutkan perjalanan ke kota untuk mengecek kondisi bisnis Mama di sana.

***

"Sisil mau dibawa ke mana?"

"Udah ikut aja, Cah ayu." Mbah menarik halus pergelangan tangan Sisil.

"Mbah, kenapa bawa ke sini?"

"Lihat aja," tegas Kakek itu.

Mirna berlari dengan perutnya yang mulai membesar, tentu saja sulit baginya membawa tubuh yang kini berbadan dua. Mirna mundur perlahan melawan arah jalan pulang, setelah ia dibuntuti dari belakang ketika hendak membeli obat nyamuk di warung yang lumayan jauh dari rumah. Kondisi desa memang sepi, rumah masih begitu jarang ada jika pun ada jaraknya berjauhan. Beberapa obor memang sengaja dinyalakan untuk penerang jalan.

Seorang Pria berbaju serba gelap yang tingginya lebih kurang 1,6 meter tengah membuntuti Mirna. Mirna mulai menyadari pria itu mengikutinya setelah melihat dua bayangan tubuh di kaca jendela rumah warga yang baru saja dilewatinya. Mirna mempercepat langkah dan mulai menepi ke rumah warga, tapi belum sampai ke daerah pemukiman warga, ia benar-benar telah dikejar.

Mirna yang takut, berlari semampu yang ia bisa. Bahkan jarak dan tempat yang ia tuju tidak jelas arahnya. Sampai Mirna terpaksa bersembunyi di sebuah rumah besar yang sudah tidak ada penghuninya satu minggu belakangan. Pemilik rumah itu, seorang Nenek sebatang kara yang meninggal karena sakit. Mirna bersembunyi di rumah itu dengan berharap penuh ada seseorang yang datang ke sini membantunya.

"Mau ke mana kau pergi Mirna. Keras kepala kali kau seperti batu. Cihh." Disemburkannya ludah ke kanan.

"Kau salah nyari gara-gara denganku, dengan kau tak menjual tanahmu imbasnya ke aku. Setann... Tak berpikir kau hidup orang melarat, Anj*ng."

"Sini kau kalo masih kepala batu juga. Sini lawan aku kalau berani, muak aku lihat orang songong kayak kau. Berpendidikan ceelah, berlagak kau menasehati pamanku ini itulah. Lihat muka kau aja tak sudi di dunia ini."

"Sepertinya kau memang harus mati, nggak guna. Nyesel juga aku dulu pernah melamar mu. Bego kau." Sumpah serapah pria yang diketahui bernama Syam itu jelas dan terdengar keras keluar. Dan bisa dipastikan Mirna juga mendengar karena berada di ruangan yang sama.

Suara hening sejenak memberi rasa yang lega bagi Mirna dan ternyata semua tak sesuai harapan Mirna. Ia yang ngos-ngosan memegangi perutnya yang besar sambi. bernyanyi.

"Nanananana...na. Sabar ya Nak."Mengelus perutnya yang terasa sakit.

"Kita keluar ya sepertinya penjahat itu udah pergi." Mirna berbicara sendiri.

"Bun, jangan awas!" teriak Sisil.

"Bun, jangan Pliss! Mbah ayo bantu,"

Ketika Mirna keluar dari celah antara lemari dan Dinding yang sengaja diberi jarak itu, sebuah pisau menancap tepat di bagian perut tengah yang sedikit condong ke kanan.

"Ah..," jerit Mirna kesakitan, tapi mau tak mau ia harus berlari. Mirna menginjak kaki pria itu lalu memukulnya dengan sebuah kayu yang ditemukannya di samping lemari. Dan pria itu menjerit sejenak sambil memegangi pipi kirinya yang dipukul dengan balok kayu itu.

Mirna berlari sebisanya dan keluar dari rumah kosong itu. Sampai ketika di depan rumah, ia menemukan sebuah mobil yang ia kenal tengah parkir di halaman.

"Ada apa Mir, kenapa perut kamu?" tanya Zaki, sepupu Mirna. Ya jelas itu adalah papanya Sisil

"Mas nggak usah banyak nanya, ayo lari dari sini." Mirna begitu menahan sakit.

Zaki langsung menggendong Mirna tanpa pikir panjang. Kemudian menghidupkan mobilnya dengan cepat. Pria yang bernama Syam itu kini tepat di belakang mobil, bahkan ia lebih cepat dari yang dikira. Kini Syam tepat di jendela mobil bagian supir. Zaki terkejut dan menginjak gas cukup kuat sehingga menabrak keras pohon besar yang ada di seberang rumah kosong itu.

"Haaaaaa." Kepala Bunda Mirna dan Papa terbentur keras ketika bagian depan mobil benar-benar menghantam keras pohon yang telah hidup berpuluh-puluh tahun itu. Dan semua itu hanya bisa Sisil saksikan di hadapannya tanpa berbuat apa-apa.

Sisil menangis teriak dan menarik tangan mbahnya agar membantu Mirna yang merupakan bundanya dan juga Papa yang begitu ia ingin temui langsung untuk berbicara.

"Ra iso Nduk, kita ndak bisa bantu," jawab Mbah tenang.

"Is... Tolong... Tolong..., siapapun tolong bantu Bunda dan Papa saya," ucapnya terisak.

Di lain sisi pria yang penuh rasa amarah itu kabur dengan membawa pisau yang berlumur darah di tangannya. Ia membersihkan segala jejak, agar ia tidak disangkut pautkan dengan kematian ini. Pria itu mulai tak nampak lagi dalam pandangan Sisil.

"B**DAP kau ya." Sisil kali ini benar-benar murka dan geram.

Sampai beberapa waktu warga mulai berkerumun di daerah itu karena mendapat laporan bahwa terjadi kecelakan yang cukup parah di desa tersebut. Papa sempat dilarikan ke rumah sakit di kota. Namun naas, pendarahan di kepala Papa membuatnya tak tertolong. Nenek begitu syok sampai pingsan beberapa kali, Ayah pun demikian.

Ayah begitu merasa bersalah karena pada malam tersebut terjadi problem di tempat kuliner milik Ayah, sehingga Ayah memutuskan untuk berangkat pada malam itu juga. Padahal Bunda sudah mencegah Ayah pergi.

"Nggak usah, kan ada manajer yang ngurus. Ayah nggak usah pergi," kata Bunda mencegah.

"Nggak bisa Bun, Ayah harus pergi." Sembari bawa tas.

Kini kalimat itu adalah kalimat yang paling Ayah sesali, bahkan menyebabkan dia stress menyalahkan dirinya sendiri. Ditambah Nenek juga menyalahkan kematian putri semata wayangnya pada Ayah karena tak mendengar pinta Bunda dan tak bisa menjaganya dengan baik. Bisa dipastikan rasa terpukul Nenek karena bayi yang dikandung juga ikut meninggal dalam kandungan Bunda.

Sisil terduduk lemah melihat kejadian itu di hadapannya langsung, Tak terkira rasa sakitnya melihat Ibu kandung sendiri mati sia-sia di depan mata.

"Bunda... Dedek... Papa, Maafin Sisil. Maafin Sisil nggak bisa bantu kalian." Ia menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba Kakek itu menutup mata Sisil beberapa waktu dan kini ia masuk ke dimensi yang berbeda dan waktu yang berbeda pula. Udara tampak berwarna hitam putih seperti sebuah cuplikan foto yang diabadikan pada kamera masa lalu.

"Huhuhu.."

"Udah jangan nangis. Lihat ini."

"Apa Mbah?" tanya Sisil dengan memutar kepalanya 45 derajat.

"Itu." tunjuknya pada rumah yang tak asing bagi Sisil.

Malam yang hening, suara jangkrik dari rerumputan itu menambah hawa sunyi di desa Mulyo Abadi. Namun seketika berubah, ketika suara dari arah barat rumah mereka terdengar riuh. Gerombolan manusia penuh amarah membawa obor yang membara, semakin memanaskan suasana seketika. Tak sempat terhitung jumlah kepala di tempat itu, yang jelas tak adalagi yang berkepala dingin.

"Mirna, Dodi keluar kalian ya..."

"Keluar.. Keluar."

"Keluar kalian kepala batu."

"Woy lepasin aja tanah kalian, Bangs*t" "Tenang semuanya tenang," ujar kepala desa.

Sumpah serapah berkeluaran dari mulut para warga, sepertinya tak ada lagi kata-kata buruk yang tak mereka ucapkan.

Nenek, Ayah dan Bunda keluar dari rumah setelah mendengar suara gaduh. Meski khawatir diamuk warga mau tak mau semuanya harus mereka hadapi dengan hati yang tenang. Bunda berjalan pelan sambil memegangi perutnya yang mulai tampak menonjol, Ayah dan Nenek berjalan bersamaan dengan Bunda.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!