Tak berapa lama kemudian, mereka sampai pada rumah yang dituju. Tanpa berpikir panjang, Mama segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk membawa Sisil ke dalam rumah. Dinda pun mengikuti dari belakang. Nenek yang memang tengah menanti kehadiran mereka, segera keluar setelah terdengar suara gaduh dari luar rumah.
"Ada apa?"ujar Nenek setelah membuka pintu dan menyaksikan kejadian tersebut.
Mama begitu cemas, "nggak tau kenapa tiba-tiba Sisil begini, Bi."
"Bawa ke dalam," ujar Nenek.
"Baik, Bi." Mama sedikit mengangkatkan tubuh Sisil yang lumayan berat tuk ditopang. Mempercepat langkah dan membaringkannya di atas kursi panjang yang terbuat dari rotan. Kursi itu bisa digunakan untuk tempat tidur.
Tak mengerti apa yang terjadi saat itu, mata Sisil masih terbelalak dan tidak berkedip sedetik pun. Dinda yang melihat kejadian itu berdiri di belakang Mama, mencoba untuk tak melihat wajah dan mata kakaknya yang terbelalak.
"Bismillahirrahmanirrahim." Bibir Nenek komat kamit membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Mama masih tercengang.
"Allah." Meniupkan bacaan-bacaan itu pada telapak tangannya dan mengusap wajah Sisil.
"Sisil sayang!" gumam Mama sembari terus memegangi tangan putrinya.
Wajah dan mata Sisil mulai kembali seperti semula, tapi tubuhnya terlalu lemah hingga menyebabkannya pingsan beberapa menit. Nenek terus membacakan ayat-ayat Al-Quran, kemudian meniupkan lagi ke tubuh Sisil dari kepala, badan sampai ujung kaki. Mama yang mengetahui keadaannya yang mulai membaik, sedikit lebih tenang.
"Ma, Mama!" ujar Sisil yang baru saja siuman.
"Iya, Sayang! Sebentar ya." Kemudian mengambil minum dan memberikan pada putrinya itu.
"Badan Kakak lemas banget." Suaranya terdengar lirih.
"Istirahat aja dulu, Nak. Biar Mama ambil dulu barang-barang dari mobil." Beranjak dari ruang keluarga.
"Ma, Kakak takut." Menarik tangan mamanya.
"Kenapa Sil? Takut kenapa, Sayang. Coba cerita sama Mama." Kembali duduk.
Nenek dan Dinda duduk di ruangan yang sama, hanya terdiam melihat keadaan Sisil. Nenek yang mengetahui cucu kecilnya takut, segera mengajak bicara dan menenangkan.
."Nggak apa-apa mungkin Kakak capek, Nenek antar ke kamar ya!" Meyakinkan Dinda.
"Tapi, Nek...," protesnya.
"Udah nggak apa-apa, capek kan? tidur di kamar aja ya!" seru Nenek.
Di saut oleh Dinda dengan anggukan, "iya, Nek!"
Keduanya mulai menaiki anak-anak tangga yang terbuat dari bahan kayu. Nenek masih begitu kuat untuk berjalan perlahan di atasnya. Usia memang sudah senja, tetapi tubuh tak begitu rapuh secepat pergantian usianya. Dinda memegang tangan Nenek dengan erat sembari menjaga keseimbangan tubuhnya pula yang tak kecil lagi.
Sedangkan di lantai bawah, Sisil duduk dengan bersandar ke dinding dan mulai bercerita,
"Tadi Kakak mimpi, ada anak kecil laki-laki gitu Ma, seusia Dinda. Dia datang waktu Kakak lagi duduk di sebuah pohon besar gitu. Kakak tahu itu pohon besar juga karena kesandung akar-akarnya. Keadaan sekitar nggak ada penerangan, cuma karena cahaya bulan lumayan terang, jadinya bisa lihat anak laki-laki itu. Dia menatap seperti marah dan nggak berkedip sedikit pun. Sambil menunjuk ke suatu arah tapi Kakak nggak bisa lihat sama sekali. Akhirnya, malah dia langsung marah dan mendekatkan wajahnya ke Kakak, Ma. Kaget banget jadinya! Setelah itu, Kakak tak ingat sama sekali. Tiba-tiba bangun udah di sini aja," jelasnya.
"Aneh juga ya anak itu, tapi nggak usah dipikirin cuma mimpi aja," saran Mama bermaksud menenangkan Sisil.
"Tapi nyata banget rasanya, Ma! Kakak juga pertama kali se-khawatir ini."
"Perasaan Kakak aja mungkin karena berpikiran negatif ke desa ini, semenjak berangkat dari rumah tadi. Ya Udah Mama ambil barang-barang dulu, Kakak tiduran aja!" Ujarnya kemudian beranjak menuju luar rumah.
"Iya, Ma," lirih sisil
Hari kian sore, cahaya matahari semakin redup dan telah berubah warna menjadi kemerahan. Begitu pula jalanan desa, mulai sepi tak ada yang berlalu lalang lagi. Sementara, semuanya masih sibuk membereskan barang masing-masing. Keadaan sisil pun mulai pulih, sehingga ia dapat membantu Mama merapikan pakaian yang akan dimasukkan ke dalam lemari. Dan beberapa kali, terlihat asyik memindahkan posisi barang-barang untuk mempercantik kamar.
Waktu salat tiba, mereka pun melaksanakan salat magrib berjamaah di kamar. Setelah selesai, Nenek mengajak untuk makan malam di ruang makan yang letaknya berada pada lantai satu bagian belakang, sebelum memasuki wilayah dapur.
Suasana desa begitu sepi, sebab rumah Nenek merupakan rumah paling ujung di desa tersebut. Hanya suara serangga dan katak yang jelas terdengar menghiasi dinginnya malam. Seakan tiada kehidupan manusia selain mereka di sana. Malam yang dingin, tak menghilangkan kehangatan mereka yang tengah asyik bercengkrama di meja makan. Nenek telah memasak berbagai macam makanan berupa sayur, lauk dan nasi untuk dimakan malam itu. Rasanya begitu lezat dan nikmat. Sekarang Dinda dan Sisil dapat merasakan yang namanya masakan Nenek seperti yang diceritakan oleh teman-temannya.
"Dinda, enak nggak masakan Nenek?"
tanya Nenek.
"Hmm... gimana ya, Nek?"canda Dinda dengan wajah lugunya menahan tawa.
"Nenek rasa ini enak loh, Din!" jelasnya. Sambil mencoba masakan itu kembali dengan memakan sesuap nasi dari sendok makan.
"Ih Nenek, Dinda bercanda pun. Ini enak banget, Nek!. Masakan terlezat se-dunia. Mama aja kalah," kelakar Dinda. Lalu, di saut dengan tawa mereka semua tak terkecuali Sisil.
Beberapa waktu berlalu, Sisil telah menyelesaikan makan malamnya. Kemudian bertanya,
"Oh iya, Nek. Kenapa ya warga sini lihat kedatangan kami seperti marah dan juga terheran-heran gitu?" tanya Sisil memotong tawa mereka.
Seketika semua mata tertuju padanya, gadis itu menanyakan hal yang menyebabkan Nenek terhenti mengunyah makanannya yang begitu lezat. Ia masih terdiam, lalu menundukkan pandangan beberapa saat setelah pertanyaan itu terlontar dari bibir Sisil. Entah apa yang dipikirkan, raut wajahnya pun tak tertebak sama sekali.
"Kenapa, Nek?" tanyanya.
"Husst...,"sentak Mama pada Sisil.
"Biarkan dia bertanya, Lin," saut Nenek.
"Iya, Bi. "Mata Mama tak lepas memandang Sisil.
Dengan raut wajah yang ditekuk, ia mulai bercerita tentang kejadian tersebut. Begini ceritanya.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
kenapa Bi...ngga Bu gtu🤔🤔
2023-09-23
0