Part Thirteen

Hari ini perasaan dan pikiran Sisil tengah melanglang buana, tak jelas pula entah apa yang ada dihayalannya. Di sekolah pun ia lebih banyak menghabiskan waktunya termenung daripada mendengarkan guru mengajar. Sesekali Sisil memperbaiki posisi duduknya untuk menghilangkan kegalauan hati juga menghindari rasa tersinggung dari guru yang mengajar.

Sisil yang duduk di bagian belakang rapat dengan dinding kelas, terlihat gerasak-gerusuk memainkan tangan. Sesekali mengubah posisi duduk dan melepas napas panjang dengan mencondongkan wajah cantiknya menghadap loteng kelas. Tanpa ia sadari waktu istirahat telah tiba,

"Sil, kamu nggak pergi ke kantin?" tanya Lidya, teman sekelas Sisil yang begitu sabar menghadapi sikapnya yang dingin.

Sisil melepaskan tangan kanannya dari dagu yang ia topang sejak tadi. Lalu menggelengkan kepala pelan, mengisyaratkan ketidak tertarikannya atas ajakan Lidya.

"Oh. Kamu kenapa sih, aku liat kayaknya bengong-bengong nggak jelas kayak banyak pikiran."

"Huum, nggak apa-apa," balasnya sembari menutup buku tulis. Pundaknya pun ikut naik seiring ujarnya yang singkat.

"Beneran? Mukanya kusut gitu kok. Ya gini-gini aku juga merhatiin kamu kali. Biasanya diam-diam juga nggak kusut gini tampangnya. Hehehe," ejek Lidya.

"Sok tau," umpat Sisil.

"Eh btw, kapan-kapan aku main ke rumahmu ya! Kamu nggak boleh nolak pokoknya. Hahaha..

"Rada maksa sih, tapi ya biar kita deket gitu. Kamu tuh, huh dingin banget, aku cuma pengen temenan tau. Kamu rumahnya dekat sini kan?" potongnya tak memberi jeda untuk Sisil berbicara.

"Ih biarin aku ngomong napa, haduh," decak Sisil, yang disaut tawa oleh Lidya.

"Nggak ah rumah aku jauh, di kampung sebelah," lanjutnya

"Hah, kamu asal desa sebelah yang aneh banget itu?" tanya Lidya.

"Aneh gimana?" jawab Sisil pura-pura tidak tahu.

"Adalah pokoknya, kapan-kapan aku cerita. Yuk ke kantin mumpung masih ada waktu nih." Melirik jam tangannya dan beranjak pergi.

"Ya Udah aku ikut," jawab Sisil yang tampaknya mulai cair.

Hari itu Sisil tak menyangka, ia bisa menyesuaikan diri dengan Lidya. Mengingat Sisil yang dingin dan kaku pastinya cukup sulit untuk itu. Namun pada akhirnya, Sisil takluk dalam pertemanannya dengan Lidya yang ramah dan periang. Keduanya mulai tampak akrab sejak hari itu, tak jarang di sela-sela waktu istirahat mereka bercerita banyak hal tentang satu sama lain.

***

"Aku kasih tau, Sil. Aku dibolehin main ke rumah kamu...., "ucapnya dengan suara mendayu. Seakan yang diucapkannya adalah sebuah nyanyian.

"Beneran? Jelas dapat izin Ibu kamu?" sedikit ragu tapi sejujurnya hatinya ingin menjerit riang.

"Iya beneran lah, Ida. Nih aku juga udah bawa persiapan nginap. Hahaha," kelakar Lidya, setelah berhasil menemukan ide panggilan untuk Sisil dengan sebutan Ida.

"Ih, apa sih Lidy, ganti nama aku aja. Udah bagus namanya Sisil malah dituker-tuker," geramnya.

"Lah, kamu juga nyingkat namaku. Hedeh, lagian biar beda gitu. Ida-nya dari nama kamu juga kan, CASILDA," tukas Lidya dengan menekankan setiap huruf di kata akhir kalimat tersebut.

"Apa Sih Lidy, nggak jelas banget." Dengan raut wajah berkerut dan bibir bagian bawah yang biasanya. terlihat berbeda posisi dari

"Ngakak uy, Ida Ida" kata Lidya tebahak-bahak dan disaut tawa pula oleh Sisil meski sempat ia merasa geram.

Jam pelajaran telah di mulai, semua siswa termasuk Sisil dan Lidya begitu fokus dengan setiap materi yang disampaikan para guru. Lima mata pelajaran hari ini, mereka lahap perlahan. Meski sesekali siswa lain menahan kantuk dan ada pula yang diam-diam memakan camilan kantin, yang dibawa selepas jam istirahat tadi. Entah bagaimana mereka melahap makanan itu tanpa terlihat oleh guru.

Bel waktu pulang telah berbunyi, suara ratusan manusia dari sekolah itu terdengar begitu riuh. Beberapa siswa dijemput orang tuanya, ada pula yang pulang mengendarai sepeda dan lainnya berjalan kaki dikarenakan letak sekolah yang dekat dengan rumah mereka.

"Mamskimu udah datang belum Sil?" tanya Lidya dengan sedikit menyentuh lengan atas Sisil.

"Ha?"

"Ih, Mamskimu udah datang jemput belum? Makanya jangan bengong mulu. Ish ish ish..." Kepalanya tampak geleng kanan dan kiri.

"Oh, Mama? Palingan juga bentar lagi nyampe..." Kemudian Sisil menggeser posisi duduknya ke kiri, memberi ruang untuk Lidya mengambil posisi duduk.

Belum sempat Lidya menumpukkan beban tubuhnya yang cukup berisi itu di bangku panjang tersebut. "Itu Mama udah dateng. Yuk Lidy,"ujar Sisil.

"Ish Ish kau nih, baru saje nak duduk," balasnya dengan canda.

"Ah perkara duduk doang, ntar di mobil bisa hehehe." Sisil kemudian menarik pegelangan tangan Lidya dengan lembut. Sontak Lidya terheran-heran melihat sikap Sisil yang tak seperti biasanya.

Keduanya berjalan menuju mobil, ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!