"Itu, i--- tu itu Sungai," ucapnya masih terbata-bata karena terkejut dengan keberadaan wanita itu. Sisil ingin sekali menanyakannya langsung tetapi tidaklah mungkin.
"Nenek yang ada di sungai, waktu kita ke sungai pagi-pagi itu lo, Dek," timpal Sisil kembali.
"Ooh, tapi kenapa pergi ke kuburan Bibi? Siapa Nenek itu?" tanya Dinda yang malah penasaran seperti kakaknya.
"Nah itu, tapi masuk ke dalam dulu aja yok," ajak Sisil.
Sisil dan Dinda memutuskan masuk dulu ke rumah, takut terjadi sesuatu yang mungkin saja terjadi terhadap diri mereka. Sisil merangkul adiknya dan terhenti di ruang tamu, keduanya duduk di ruangan yang rapi itu setelah beberapa tahun belakangan tak ada yang mengunjunginya.
Sisil yang sebenarnya cemas, tetap berusaha mengingat wajah yang sejak pertama kali melihatnya terasa familiar. Sisil begitu yakin ada rahasia yang ditutupi wanita paruh baya itu dan berkaitan dengan kehidupan bibinya. Dinda yang tak mengetahui apa pun, kini lebih penasaran daripada Sisil yang merasakan hal itu sendiri.
"Kak, ada apa sih sebenarnya?"
"Gini, Din. Kakak juga sebenarnya bingung apa yang terjadi. Nenek yang tadi itu pernah Kakak liat di sungai dan anehnya Kakak seperti udah lama kenal gitu lo, Din. Kayaknya ada kaitan dengan kehidupan Bibi dulu, tapi kan enggak tau juga kebenarannya gimana," jelas Sisil.
"Iya mungkin ya, Kak. Kalau memang nggak ada hubungannya sama Bibi Mirna pasti nggak bakalan datang tuh ke kuburannya, tapi kok aneh ya. Kenapa bisa Kakak seperti kenal sama Nenek itu? Padahal Kakak kan baru lihat dua kali dengan ini," timpal Dinda.
"Entahlah Din, tetapi itu yang terjadi ke Kakak," Jawab Sisil singkat yang sebenarnya khawatir dan tak menyukai kemampuannya itu.
Dinda memang tidak tahu dengan kemampuan aneh yang dimiliki kakaknya, ia sering mendengar cerita kejadian-kejadian yang dialami tapi tak begitu memahami alasan bisa terjadi dan dirasakan oleh Sisil. Di lain sisi, Dinda selalu ingin tahu apa yang menimpa dan terjadi pada keluarganya. Namun, mengingat usia yang masih begitu dini untuk dijelaskan hal-hal tersebut, sehingga butuh filter dan penempatan kata yang tepat.
Sisil dan Dinda melakukan aktivitas seperti biasanya dan kini keduanya tengah asyik mempersiapkan kebutuhan untuk bersekolah yang tinggal dua hari lagi. Mereka telah dipindah sekolahkan ke desa sebelah setelah semester ganjil kemarin usai.
"Yaudah deh, Kak, Dinda mau sampulin buku dulu. Yang tadi mungkin aja Nenek itu ada miripnya dengan orang yang kita kenal sebelumnya. Bye...," ucap Dinda meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar.
"Oke," balas Sisil yang mengerti betul Dinda tak akan paham yang dirasakannya.
Setelah beberapa saat, Sisil pun mengikuti Dinda menuju kamar. Namun tanpa ia sadari neneknya telah duduk santai di ruang tengah, di atas kursi panjang yang terbuat dari rotan itu.
"Siiil...," sapa Nenek.
"Eeh, iya Nek." Sisil terkejut atas keberadaan Nenek yang tak sadar ia lewati begitu saja. Padahal langkah kakinya tak terlalu besar dan baru saja menginjak anak tangga yang pertama.
Kembali turun dan menghampiri Nenek,
"Ada apa, Nek?" tanyanya. "nenek, kenapa di sini?" sambil mencari posisi nyaman di samping neneknya.
"Enggak boleh Nenek duduk santai di rumah sendiri?" sambil tersenyum.
"Hehehe, "jawab Sisil yang mengetahui maksud Nenek bercanda.
"Gimana persiapan sekolahnya udah selesai?" tanya Nenek.
"Udah, Nek. Tinggal bantu Dinda
nyampulin bukunya. Oiya Nek...."
"Kenapa Sil?" Nenek menanggapi ucapan Sisil yang sepertinya hendak bertanya panjang lebar.
"Subuh tadi ada satu orang perempuan sama umurnya kayak Nenek, cukup lama di kuburan Bibi Mirna. Enggak tau juga ngapain, tapi abis Dinda sama Sisil deketin dan Nenek itu kayaknya sadar, dia langsung lari ke semak-semak. Jadi ya gitu bikin penasaran Nek, soalnya Sisil kayak beneran kenal sama dia. Ada tahi lalat di pipi yang mengarah ke hidungnya, Nek." Terus berusaha menjelaskan detail kejadian.
"Ha? Aminah...."
"Aminah? Siapa Nek?' tanya Sisil yang bingung dengan tanggapan Nenek atas ceritanya itu.
"Hmm... Hmm," Nenek berbicara terbata-bata, mengisyaratkan rasa cemasnya dengan seseorang di balik nama itu.
"Siapa Nek, kok malah takut gitu? Aminah itu nama perempuan yang ada di kuburan Bibi itu, gitu Nek?"
'Hmm...," jawabnya ragu. "Iya, Nduk. Aminah itu sahabat Nenek sejak kecil, karena sama-sama dibesarkan di desa ini juga oleh orang tua kami."
"Terus kenapa seperti nggak baik-baik aja antara Nenek berdua? Bertengkarkah? Musuhan atau gimana? Kok kayaknya Nenek kaget banget Sisil bilang gitu," tanya Sisil yang seakan mengintrogasi neneknya sendiri. Ia tak memberi celah untuk neneknya berbicara dan mengelak lagi atas pertanyaan-pertanyaannya.
Tak tahu sesuatu yang dipikirkan gadis belia itu, yang jelas ia merasa neneknya berbicara apa yang dirasakannya saja, tetapi menutupi kejadian sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun silam. Sisil yang terus mendapat petunjuk terbatas dengan adanya puzzle kejadian, semakin merasa bingung karena keadaan dalam kehidupan nyata menolak untuk memperjelas segala yang telah lenyap dan dilenyapkan dari kisah kehidupan Bibi Mirna.
"Bukan bertengkar, musuhan atau gimana gimana tapi lebih menyendiri terlebih dahulu. Jadi Nenek dan Aminah itu bersahabat sejak kecil, satu sekolah dan teman bermain sehari-hari. Sampai tumbuh dewasa setelah berumah tangga sekalipun, tetap kayak gitu."
Nenek menggaruk kepalanya yang tak gatal dan melanjutkan penjelasannya, "nah suatu kali Nenek yang bernama Aminah itu tak setuju dengan saran dari Bibi Mirna yang melarang pertambangan masuk ke desa ini. Aminah dan warga desa telah berpikir panjang tentang hal tersebut, tetapi Mirna yang juga telah memiliki lahan perkebunan sendiri tak mengizinkan kebunnya untuk digarap menjadi tempat pertambangan. Sehingga warga desa yang memiliki sawah atau kebun di sekitarnya tak bisa berbuat apa-apa selain menyampaikan maksud hati mereka kepada Mirna dengan datang berbondong-bondong. Sebelumnya kepala desa udah bicara baik-baik sama Mirna. Namun Mirna orang yang teguh pendirian tak tergoyahkan sama sekali. Semenjak itu Nenek merasa Aminah tak sejalan lagi dengan Nenek, buktinya jelas Sil." Nenek menjelaskan permasalahan yang ia hadapi begitu umum.
"Terus kenapa Nenek malah takut bukan kelihatan marah?" tanya Sisil dengan wajah lugunya meski ia paham betul setiap detail yang dijelaskan oleh Nenek.
"...." Nenek belum menanggapi pertanyaan Sisil. Ia hanya tampak menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri.
"Nek?" ucap Sisil yang bermaksud menekankan kembali pertanyaannya tadi.
"Nduk, kapan-kapan lagi ceritanya ya. Pinggang Nenek udah pegel banget buat duduk lama, mulai enggak kuat. Nenek ke kamar dulu berbaring ya!" Nenek mengelak dari pertanyaan cucunya yang begitu penasaran kebenaran dari yang terjadi belakangan ini.
"Tapi, Nek...," balas Sisil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
ini mereka ngga pda sekolah gtu???...
2023-09-23
0