Mimpi mungkin telah menjadi sesinggahan bagi segala yang ingin disampaikan kebenaran padanya. Mungkin ini akan menjawab salah satu pertanyaannya dari segudang teka teki yang saling berkaitan terkait kehidupan Bi Mirna dan juga Sisil.
Sisil tidur begitu pulas hingga ia tertarik pada sebuah kejadian dalam alam mimpi. Ia berjalan tanpa tahu keberadaannya di mana, yang jelas hanya planga-plongo heran dengan lingkungan sekeliling. Semua tampak gelap hingga ia menemukan sebuah titik cahaya yang muncul dari tubuh kakek tua yang berpakaian serba putih dan menggunakan sorban.
Wajah kakek tua itu tak dikenalinya sama sekali, tetapi Sisil merasa ada keterikatan batin dengan beliau. Sesampai di hadapan Kakek yang bertubuh besar dan lumayan berisi itu, Kakek itu tersenyum lebar padanya mengisyaratkan begitu bahagia bisa menemui Sisil.
"Nak, akhirnya aku bisa melihatmu" tersenyum lebar pada Sisil.
"Kakek ini siapa?" Sisil bingung atas pertemuan beliau dengan dirinya.
"Mbah...," ucap Kakek tua itu. Hanya sepotong kata tersebut yang muncul.
"Kenapa aku di sini, Mbah? Ini di mana?," tanya Sisil yang merasa heran juga takut.
"Kamu aman di sini, Mbah ingin sampaikan bahwa sebenarnya kamu cukup bisa melihat yang mungkin tak dapat dilihat orang lain. Tetapi butuh waktu untuk itu, hapalkan bacaan ini," ucap Kakek yang wajahnya berseri itu sambil menyodorkan kertas yang bertulisan bahasa Arab semacam doa.
Tak jelas pula alasannya, Sisil tak berpikir panjang untuk itu. Ia duduk di atas sebuah batu besar dan mulai menghapalkannya bacaan demi bacaan. Tak begitu lama, gadis belia itu telah hapal dengan lancar.
"Mbah itu buyut dari bundamu yang juga mempunyai kemampuan yang sama. Jadi kamu perlahan saja," jelas Kakek tua.
Perlahan Kakek berbaju serba putih itu menjauh meninggalkan Sisil seorang diri di sana. Sisil hanya diam memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Seketika Sisil terbangun dari mimpi anehnya itu.
"Ahhhh...," sentaknya seketika terduduk di atas ranjang.
"Mimpi kok gitu ya, rasanya nyata banget, tapi kertas bacaan itu gimana?" sambil melihat ke tangannya lagi dan melihat ke kiri dan kanannya.
Sisil sadar betul itu hanya sebuah mimpi karena baru saja terbangun dari tidurnya, tetapi ia merasa mimpi tersebut begitu nyata. Sehingga, ketika ia tak temukan kertas berisi bacaan doa tersebut maka mengingat-ingat bacaan tersebut adalah kunci dari kebenaran mimpinya.
Gadis belia itu masih terduduk di atas ranjangnya, setelah sebelumnya meminum segelas air putih yang sengaja disiapkan di sampingnya. Kemudian Sisil menutup mata untuk melihat juga mengingat satu persatu huruf yang begitu lancar ia hafal dan ucapkan dalam alam mimpinya.
'Bismillahirrahmanirrahim' ucap Sisil dengan keadaan mata tertutup.
'Aaaaaa....' Ia berusaha mengingat, tapi kian pikirannya fokus pada goresan tulisan huruf hijaiyah pada kertas itu makin hilang pula bacaan tersebut.
Hal itu terus berulang hingga semua tampak samar dalam pikirannya hanya satu hal yang ia ingat dari tulisan itu panjang bacaannya sekitar empat baris yang tak penuh. Lain dari itu, hanya terngiang di pikiran bahwa sebenarnya ia mampu melihat sesuatu yang tak terlihat oleh mata manusia pada umumnya.
'Kenapa enggak ingat terus ya, malah makin lupa. Ya Udahlah kalau gitu mungkin karena belum saatnya aja. Berarti semua yang aku rasain itu karena aku peka gitu? Tapi kayaknya Mbah itu sampaikan kalau dia itu buyut Bunda, Bunda siapa? Kalau Mama kan aku manggilnya Mama' batin Sisil.
Ia lelah berpikir, sehingga ia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan salat subuh yang sebentar lagi akan masuk waktunya. Namun sebelum itu, ia memutuskan untuk mandi sekalian.
Sisil membangunkan Dinda dan langsung keluar dari kamar. Ketika Sisil membuka pintu dengan perlahan. Terlihat dari ujung matanya, sekelebat bayangan serba hitam bergerak dari sudut Dinding di depan kamar Mama menembus kamar misterius itu. Bayangan tersebut terlihat seperti seorang wanita berambut panjang yang mengenakan daster berwarna gelap.
'Astaga, apalagi?' Sambil memegangi dadanya karena terkejut.
'Bikin kaget Sisil aja.' Dengan wajah kesal.
'Udah ah, enggak peduli juga. Aku mau mandi aja, abis itu salat. Mama juga kayaknya udah bangun.'Ceritanya pada diri sendiri.
Sisil tak menghiraukan sosok bayangan itu, ia meneruskan segala aktivitas pagi sebelum ke sekolah seperti biasanya. Mandi, salat subuh, merapikan kamar, sarapan lalu mengecek kembali segala keperluan sebelum berangkat ke sekolah.
Hari itu Sisil dan Dinda berangkat seperti hari sebelumnya, dengan keadaan cepat dan terburu-buru. Sementara Mama, setelah mengantarkan kedua putrinya ke sekolah, ia kembali ke rumah karena segala pekerjaan di toko besar dan satu cabang kecil telah dihandle oleh Tante Siska sebagai tangan kanan Mama di sana.
Siang menjelang sore, Mama kembali menjemput keduanya. Sisil dan Dinda telah menyelesaikan hari itu dengan semampu mereka dan sebaik-baiknya. Barangkali keduanya belum begitu bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya.
Dinda telah naik duluan ke lantai dua menuju kamar dan Sisil jauh tertinggal di belakang. Nenek tak ada di rumah, sepertinya tengah ziarah ke makam Bibi. Sedangkan Mama masih di luar sedang menelpon seseorang terkait pekerjannya.
Sisil telah sampai di depan pintu kamarnya dan berpikir sambil melihat ke kiri posisi ia berdiri.
'Kayaknya aku harus masuk kamar itu deh, pasti akan dapat sesuatu meski sedikit tentang Bi Mirna. Males banget sebenarnya ngurus beginian, tapi karena benar-benar udah ganggu selesaikan aja,' ucap Sisil yang tengah merancang dan memikirkan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang Bibi.
Selepas salat magrib dan makan malam, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Sisil memutuskan masuk ke kamar misterius itu dalam keadaan sepi, karena pasti Nenek akan merahasiakan segalanya dan tak membolehkan masuk ke sana.
Ia mengambil kunci di tempat pertama kali ditemukan. Lalu memegang gagang pintu yang kini terlihat karatan itu, dengan perlahan membuka sedikit demi sedikit meski pintu itu sudah begitu sulit untuk di buka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments