Part Ten

Sepuluh menit telah berlalu, mereka telah melewati gapura desa tersebut. Suasana begitu sepi, meski terkadang terlihat ada beberapa petani yang membawa cangkul dan juga ada yang membawa karung berisi seperlimanya. Tak terlalu berat juga sepertinya.

Akhirnya desa itu benar-benar tak terlihat lagi pada pandangan mereka, kini hanya pohon-pohon besar yang menyambut sepanjang jalan. Jalanan yang langsung bersentuhan dengan ban mobil mulai mulus semenjak mendekati gapura tadi.

Tak berapa lama, Sisil telah sampai di sekolahnya yang baru. Gedung sekolah keduanya cukup dekat satu sama lain, hanya butuh waktu satu menit untuk mencapai sekolah Dinda. Layaknya anak baru pada umumnya, Mama mengajak Sisil ke kantor guru dan berbicara pada guru wali kelasnya.

Mama yang harus mengantarkan Dinda pula, pamit pada Sisil.

"Sayang, nanti ikuti arahan Bu guru ya. Mama antar adikmu dulu terus langsung ke kota buat ngurusi toko pakaian kita. Nanti Mama jemput pas pulang. Oke Sil!" ujar Mama meyakinkannya.

"Iya jangan khawatir, Ma. Sisil bisa jaga diri kok, Ma." Senyum Sisil begitu menyejukkan hati Mama yang cukup cemas karena keadaan Sisil belakangan ini.

Dinda mencium tangan kakaknya dan Sisil kemudian pamit hendak masuk ke kelas dengan mencium tangan Mama. Dinda yang memang harus diantar sebelum bel bunyi, segera berlari kembali menuju mobil.

Setelah mengantar keduanya, Mama melanjutkan perjalanan ke kota untuk melihat pekerjaan pegawainya yang telah ditinggal lebih dari seminggu.

Sepanjang perjalanan Mama begitu gelisah. Ibu dari kedua anak itu seperti menanggung beban berat yang telah lama ada di punggungnya, tetapi tak paham pula cara untuk meletakkan beban itu sejenak saja untuk meluruskan punggung yang mulai bungkuk.

Perjalanan satu setengah jam tak terasa berlalu begitu saja, pikirannya hilang dan kembali lagi beberapa saat. Beruntungnya jalan cukup sepi, tidak baik melamun dalam keadaan menyetir kendaraan seperti itu.

'Mengapa sixth sense itu harus turun pada Sisil, bagaimana jika itu akan menjadi boomerang yang akan menyakitinya pula. Bagaimana pun, dia seperti anak kandung bagi orang tua yang telah membesarkannya ini. Tak sanggup tersiksa batin lagi atas kehilangan orang- orang yang disayang.' Muncul segala perkataan itu di batin Mama.

Lalu, Sisil anak kandung yang terlahir dari rahim siapa kalau begitu? Jika memang mamanya yang bernama Marlina itu adalah orang yang membesarkannya.

Matahari terus saja meninggi dan kini telah terpleset ke arah barat, hawa sekitar yang tadinya panas mulai berubah menjadi sejuk dan berakhir pada keadaan gelap yang menghantarkan rasa dingin pada kulit- kulit tubuh yang begitu tipis.

Masih dalam hari yang sama ketika azan magrib berkumandang, semuanya telah bersiap-siap untuk melaksanakan salat berjamaah pada bagian kosong di lantai satu yang bersampingan dengan anak-anak tangga. Nenek menjadi imam bagi salat mereka kali ini, bacaannya jelas, lembut meski perlahan dalam pengucapannya.

Mama berusaha khusuk dalam mengikuti bacaan dari Nenek, Sisil pun demikian. Sementara Dinda sesekali melihat selain tempat sujud dan pikirannya pun entah melayang ke mana. Ketika berdiri pada rakaat ketiga, konsentrasi Sisil buyar. Bacaan yang baru saja diucapkan pun ikut terlupa, pikirannya seakan berjalan pada hal yang bahkan tak penting untuk perlu diingat.

Saat hendak berdiri setelah menyelesaikan salatnya, Sisil seketika pingsan beberapa menit. Ia belum mampu menyesuaikan diri dengan semua yang terjadi belakangan ini dengan bertubi-tubi. Ternyata selepas salam tadi bayangan itu semakin jelas, tidak seperti biasanya berbentuk puzzle yang dihantamkan pada dirinya.

'Braagh....' Tubuhnya terjatuh ke lantai. "Siiil." Ketiganya mengguncang tubuh

Sisil.

Sisil sebelumnya dihantamkan dengan sebuah kejadian masa lalu, terlihat Ibu muda yang tengah hamil tua berbicara dengan anak yang berada pada rahimnya itu.

"Anak lanang Bunda, sehat-sehat ya! Bunda ingin sekali bertemu dengan jagoan kecil Bunda ini. Utututu...." Sambil mengelus perutnya karena begitu gemas dengan tendangan bayinya itu.

"Bundaaa...," teriak seorang gadis kecil dari dalam rumah.

"Ini minumnya Bunda, tapi tumpah-tumpah tadi Bun" ucapnya dengan wajah yang menggemaskan dan berbicara terbata-bata. Ia tengah membawakan segelas air putih dengan wadah gelas plastik yang berbentuk panjang dan berwarna hijau muda.

"Sini Nak Gadis, Bunda. Enggak apa-apa Sisil kan udah bantu Bunda buat bawain minumnya. Dedek pastinya juga senang karena dijagain Kakak Sisil. Kakaknya yang menggemaskan ini," ucap wanita itu sambil mencubit pipi gadis kecilnya.

Casilda atau akrab dipanggil Sisil ini tahu betul siapa Ibu muda itu, siapa lagi kalau bukan Bi Mirna. Bayangan yang dihadirkan itu seakan memberi sebuah jawaban atas berbagai pertanyaan besar yang ia tanyakan semenjak merasakan ini semua. Ada rahasia yang ditutupi Mama dan Nenek tentang dirinya. Namun, ia takkan percaya sepenuhnya atas apa yang dilihatnya tadi. Sisil akan mencari tahu sendiri dengan keterbatasan kemampuannya dalam berpikir.

'Kalau benar, berarti Sisil anak Bi Mirna gitu?' Muncul suara itu dari hati kecilnya sebelum benar-benar ia tak menyadarkan diri.

Mama mengangkatkan kepala Sisil yang tergurai lemah ke atas pahanya, Nenek mencoba menyadarkan Sisil. Sedangkan Dinda berlari secepatnya ke dapur, lalu kembali membawa segelas air minum yang hendak diberikan setelah kakaknya siuman.

Perlahan Sisil mulai membuka matanya yang indah itu, kaki dan tangannya yang berukuran panjang itu digerakkan dengan pelan. pun terlihat

"Ma, Kakak kenapa lagi?" tanyanya pada Mama sambil memegangi pangkal rambutnya yang panjang itu.

"Pingsan lagi Kak, abis salat tadi. Ini Kakak masih pakai mukena," tunjuk Mama terhadap rok dari mukena yang dikenakan putri sulungnya itu.

Mama takut Sisil bertanya banyak hal yang mungkin saja tadi terlihat olehnya. Jadi selepas kejadian itu, Mama mengajak Nenek dan Dinda juga untuk makan malam seperti biasanya.

"Ayo makan kalau gitu, tubuh Kakak butuh tenaga supaya tidak mudah pingsan lagi," elak Mama.

"Iya, Ma. Kita makan sekarang aja. Kepala Kakak pusing biar sekalian istirahat nanti," gumamnya.

"Cucu Nenek, kayaknya kecapean tadi setelah kembali beraktivitas di sekolah," timpal Nenek.

Dinda dengan semangatnya membantu Mama mengangkat alat makan, nasi dan lauk. Sebelum itu, ia menggeserkan bangku yang hendak diduduki kakaknya. Makan malam itu, tak banyak kata yang mereka lontarkan satu sama lain. Barangkali hanya beberapa patah kata yang dimulai oleh Dinda.

Setelah makan, Sisil diantar ke kamar oleh Mama. Ia merehatkan tubuh dari segala kelelahan yang ia hadapi juga kegelisahan yang belum sepenuhnya ia pahami. Di lain Sisi Dinda tengah merapikan buku yang hendak dibawa besok. Ia begitu asyik dengan buku-bukunya dan juga komik doraemon yang sengaja dibeli sebelum mereka pindah total ke desa Mulyo Abadi.

Sisil terlelap dan sudah masuk jauh ke alam mimpi. Kini ia memimpikan hal yang lebih aneh lagi.

Terpopuler

Comments

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

nahh kann...

2023-09-23

0

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

oohhh....anak angkat tohh,jngan2 anak adik suaminya yg suka muncul dipenglihatan sisil🤔

2023-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!