Part Seventeen

Kakinya tiba-tiba mendingin, seperti ada sentruman dengan sensasi yang berbeda menjalar ke tubuh. Rasa dingin itu perlahan berjalan dari telapak kaki hingga sampai ke dadanya, sehingga membuat Sisil sesak. Ketika ia membuka matanya yang sembab secara perlahan, tiba sesosok wanita menyeramkan berambut panjang menaiki tubuhnya yang kurus. Begitu cepat bahkan Sisil tak dapat menghindar, kini wajah itu telah sampai di pinggang dan menuju ke hadapan Sisil.

Sisil mulai tak bisa bernapas, ia tak henti mengucapkan ayat kursi dengan keras. Kini wajah wanita berparas menyeramkan itu hanya sejengkal jaraknya dengan wajah Sisil. Namun, bacaan Sisil semakin berat untuk diucap.

"Nanananana....Na. Akuhh.. ini Bundamu, Siiiiill..," bisik hantu itu tepat di telinga kiri Sisil. Keringat Sisil bercucuran, bola matanya melihat jelas posisi wajah itu kini berada di sebelah kirinya.

"Allahu Akbar... TIDAAAKK!" jawab Sisil dengan lantang dan sekeras-kerasnya.

"Kenapa Sil.. Sisil Sayang. Sil..." ucap Mama.

"Sisil kamu kenapa hey?" Lidya memegang wajah Sisil.

"Jangan ganggu aku! Pergi kamu..." balas Sisil keras.

"Sayang kenapa?" tanya Mama memelas dengan mengguncangkan kaki Sisil.

Sisil kini benar-benar sadar, meski kakinya belum bisa digerakkan sepenuhnya. Sisil melihat Lidya di hadapannya ketika ia mulai memberanikan membuka mata, tanpa aba-aba Sisil menghambur kepelukan Lidya.

"Hahhhh...hahh...," isaknya.

"Kenapa Sil?" tanya Lidya lagi.

"Aku takut Lid, kamu jangan pergi ya." Sisil berkeringat dingin dan terus memeluk Lidya.

Dinda begitu khawatir, tapi ia begitu tertarik mengelilingkan bola matanya pada setiap sudut ruangan misterius itu. Bagaimana tidak? Ia berpikir, bagaimana kakaknya bisa menemukan kunci dari ruangan yang sempit juga pengap ini.

Tubuh Sisil mulai benar-benar lepas dari segala rasa mencekam tadi, kini kakinya dapat digerakkan secara utuh. Ketika Sisil melepaskan pelukannya dari Lidya, Sisil melihat orang-orang yang ada di hadapannya.

"Mama.. Nenek JAHATT.. PEMBOHONG," bentak Sisil dengan nada yang tak enak didengar.

Sisil lanjut berlari ke luar kamar lalu menuruni anak tangga dan meninggalkan rumah itu dengan hanya beralaskan sendal. Lidya langsung berlari mengikuti Sisil, dia mengira Sisil kesurupan. Lidya begitu khawatir dengan keadaan Sisil. Dinda yang khawatir dengan kakaknya pula mengikuti Lidya dari belakang.

Tersisa Nenek dan Mama di kamar yang selama ini mereka sembunyikan itu, keduanya terduduk diam di atas ranjang. Dan melihat bahwa bedung, foto dan juga albumnya tengah membuka kebenaran masa lalu mereka yang begitu buruk dan hancur. Keduanya saling bertatapan kemudian menunduk.

"Seharusnya aku udah bilang dari lama, Bi. Kalo nggak kejadiannya nggak gini. Aku takut kehilangan Sisil Bi, aku takut dia benci aku. Ya mau gimana lagi, kini malah semakin benci dianya." Tangis Mama teriring dalam setiap ucapannya.

"Aku paham Lin, tapi ini juga salahku. Aku tak bisa menjaga keluargaku, putri dan cucuku. Kenapa dulu bisa terjadi mimpi buruk itu, bagaimana bisa aku melihat putriku mati tak berdaya dan setelah itu aku harus membiarkan cucuku satu-satunya itu tersiksa lahir batinnya tinggal di desa ini. Maaf aku Marlina telah merepotkan mu." Keduanya larut dalam rasa bersalah mereka.

Sisil berlari menuju pohon di dekat jalan menuju sungai. Ia duduk di sebuah batu tepat di bawah pohon itu. Sisil menangis sejadi-jadinya. Lidya yang mengikuti Sisil dari belakang langsung mengambil posisi di samping Sisil.

"Sil," tegur Lidya.

"Lidya... mereka jahat Lid." Kembali memeluk Lidya.

"Kenapa Sil?"

"Aku bukan anak kandung Mama. Nenek sama Mama nggak kasih tau aku. Aku anak kandung Bi Mirna, anak Nenek udah meninggal sepuluh tahun yang yang lalu karena kecelakaan bareng Papa. Aku lihat ini dari mimpi dan album yang ada di kamar itu."

"Bi Mirna? Sepuluh tahun lalu? Hantu Nana?."

"Iyaa..," jawabnya singkat.

"Kok bisa?" tanya Lidya balik.

"Aku juga masih nggak paham. Aku bisa melihat semua kejadian itu dari mimpi atau aku memegang sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu itu. Beberapa kali aku juga kerasukan. Bi Mirna sering memberi gambaran tentang kehidupannya. Yang aku tau warga desa sempat memusuhi Bibi begitu kata Nenek, Papa aku itu bukan Papa kandung aku juga. Papa itu sepupu Bi Mirna, Bundaku. Aku juga tak paham kenapa aku bisa diasuh oleh Mama. Yang jelas aku merasa tersakiti banget menerima kenyataan ini tidak langsung dari Mama atau lisan Nenek. Sakit Lid," terang Sisil dengan amarah dan rasa sakit yang luar biasa.

"Kakak..." Dinda dari arah belakang ternyata mendengar penuh curahan hati Sisil. Ia berhamburan ke pelukan Sisil dan menangis sejadi-jadinya.

"Kakak bukan Kakak kandung aku? tapi Kakak masih sayang Dinda kan? Kenapa Kakak nggak cerita ke Dinda. Banyak banget yang Kakak pikirkan Kak." Pertanyaan Dinda membuat Sisil tersentuh dan berusaha menyeka air matanya yang sedari tadi berlinang.

"Tetap sayang dong Dedek, kan kamu memang Adek Kakak. Kakak ya capek sama semua ini, tapi ya udah Dek Din, harus Kakak jalani juga." Sisil berusaha tersenyum dan memeluk adiknya. Lidya hanya melihat Sisil dengan penuh rasa sedih.

tersenyum dan memeluk adiknya. Lidya hanya melihat Sisil dengan penuh rasa sedih.

"Lid, aku harus gimana ya? Sebenarnya banyak hal yang belum terpecahkan juga. Jujur sih aku begitu pusing mikirin ini semua tapi lebih menyakitkan lagi buat aku ketika keluarga aku sendiri menutup kebenarannya. 10 tahun aku hidup bareng Mama dan aku nggak tau sama sekali kalo Mama itu ada lah Tante aku gitu dan Papa yang dari usia aku 3 tahun udah meninggalkan kami ternyata adalah Om aku sendiri. Aku nggak habis pikir begitu rapi Mama menyimpan kebohongan ini." Sisil menangis sejadi-jadinya, Dinda dan Lidya berusaha menenangkan.

Tiba-tiba seseorang tiba dari arah sungai dan kini berada di hadapan ketiga gadis itu. Wanita itu semakin dekat maka semakin terlihat jelas wajahnya yang mulai keriput juga rambutnya yang memutih. Wajah itu tak asing bagi Sisil dan kini bagi Dinda dan Lidya.

"Nak!" sapa wanita tua itu.

Siapa dia? pasti kamu bisa menebaknya? siapa lagi kalo bukan...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!