Part Five

"Ma...," panggil Dinda.

"Iya, Sayang. Kenapa?"

Dinda mencoba mengisyaratkan pada kakaknya dengan mengangkat alis juga menarik bagian bawah baju yang dikenakan Sisil secara perlahan. Sisil menggelengkan kepala dan tersenyum lebar membalas tindakan Dinda tadi, ia mengenal betul adiknya, Dinda suka sekali meminta Sisil menjadi juru bicara yang menyampaikan keinginannya pada Mama.

"Hayo, kenapa?" tanya Mama. Tergores senyum lebar pada wajah cantiknya.

Sisil angkat suara, "Ma, boleh nggak Sisil sama Dinda pergi jalan-jalan lihat pemandangan, sekitar sini aja, Ma. Nanti sebelum jam setengah tujuh kita udah sampai lagi ke sini," jelas Sisil.

"Emang keadaan Kakak udah baikan? kalau udah ya enggak apa-apa. Yang penting hati-hati dan jangan terlalu jauh jalannya," tegas Mama.

"Yeee, jalan-jalan," ucap Dinda dengan riang.

"Iya, Ma, pastinya! Kan juga mau sarapan nanti, jadi enggak bakalan jauh jalannya, Ma." Sisil menyertakan senyuman khasnya yang ditujukan pada Mama dan Nenek.

"Iya enggak apa-apa," balas Mama.

"Nanti ada yang ingin Sisil ceritain, Ma," cetusnya sebelum pergi dari hadapan Mama.

"Iya, nanti aja. Mama mau bantu Nenek dulu," ujar Mama.

"Hati-hati ya, jangan ikut orang lain kalau diajak," larang Nenek karena tak ada satu orang pun yang dikenal kedua cucunya di desa ini.

Mereka mulai hilang dari pandangan Mama dan Nenek, keduanya begitu semangat menjelejah pada pagi pertama mereka di desa Mulyo Abadi. Sisil dan Dinda memakai baju kaos berlengan pendek dan menggunakan celana panjang, bedanya Dinda yang berambut pendek hanya menggunakan sebuah jepitan cantik berwarna merah muda, yang ia kenakan untuk menghindari poninya masuk ke mata. Sedangkan Sisil mengepang satu raput panjangnya dengan rapi.

Mereka keluar dari rumah berbahan kayu klasik yang berada di ujung jalan tersebut, lalu mulai menyusuri desa itu dengan kegembiraan. Setelah sekian lama mereka hidup di kota, tak pernah merasakan suasana pagi sesejuk ini.

Pepohonan yang rindang senantiasa menyambut keduanya di sepanjang jalan. Pepohonan itu tersusun rapi berjajar seakan membentuk susunan prajurit yang tengah berbaris menanti arahan dari komandonya.

"Bagus ya, Kak, seandainya kita udah lama pindah ke sini pasti seru,"tutur Dinda.

Sisil hanya tersenyum menanggapi ucapan Dinda tersebut. Keduanya terus berjalan dengan santai hingga beberapa saat, melihat tiga perempuan desa yang mengenakan jarit dan membawa ember besar yang sengaja ditaruh di atas kepala mereka.

Sisil dan Dinda bingung melihat tiga perempuan itu, kira-kira usia mereka sekitar dua puluh satu tahun. Keduanya bertanya-tanya mau ke mana para perempuan yang membawa pakaian itu.

"Mau ke mana ya Kakak-kakak itu?" ucapnya dengan lirih, tetapi terdengar oleh Dinda. Kali ini Sisil yang membuka pembicaraan.

"Iya ya Kak, apa mereka mau ke sungai? Kayak cerita-cerita di televisi gitu, mau nyuci pakaian kotor di Sungai," tebak Dinda yang sebenarnya juga penasaran.

"Mungkin juga itu, apa kita lihat ke sana ya? Kakak penasaran mau lihat sungai."

"Boleh juga tuh, Kak. Dinda penasaran juga sungainya gimana," jawab Dinda.

"Kita nyusul mereka gitu? Yok, tapi diam-diam ya!" lirih Sisil sambil menaruh bagian samping jari telujuknya pada bibirnya sendiri.

"Oke, Kak," bisik Dinda tertawa tanpa suara sembari menutup mulutnya.

Sisil dan Dinda berjalan seperti biasanya, tetapi lebih pelan dan berhati-hati. Keduanya mengikuti para perempuan itu dari belakang. Langkah demi langkah yang mereka lalui, kian menyakinkan mereka akan adanya keberadaan sungai tersebut. Begitu jelas terdengar suara dari aliran sungai, yang mana keberadaanya tak terlalu jauh dari rumah Nenek.

Ketiga perempuan itu mulai menuruni anak tangga, mereka begitu lihai membawa barang yang berat di atas kepala. Sisil dan Dinda masih mengikuti dari belakang, kemudian menuruni anak tangga itu. Mereka tak tahu berapa jumlahnya dan tak mencoba pula menghitung. Namun, warga desa tentu tahu bahwa anak tangga yang terbuat dari semen kasar itu berjumlah dua puluh satu tangga.

Kedua puluh satu anak tangga itu, tak tahu terbuat dari kapan, sepertinya sudah begitu lama. Bahkan ketika masa kecil dari sesepuh yang masih ada di desa ini pun, telah menggunakannya untuk menuju ke sungai yang berada jauh di bawah. Sepuluh tangga lurus ke bawah dan sebelasnya lagi ke kiri.

Tak disadari, Sisil dan Dinda telah berada di tangga ke delapan belas, Sungai itu begitu jelas di hadapan mereka, jernih tanpa bebatuan besar. Sejuk sekali karena dilindungi oleh pohon sekelilingnya. Juga terdapat musala kecil di hulu yang sepertinya tak digunakan lagi, terlihat dari papan yang menjadi dindingnya begitu rapuh dan lapuk.

"Kak, ramai ya terdengar suaranya. Bagus banget sungainya," ujar Dinda yang takjub terhadap tempat yang pertama kali ia jejaki ini.

"Iya bagus banget malahan, tapi kita belum tahu orang di sini bagaimana. Jadi baiknya kita pulang aja, lagian ini udah jam 06.15, Din," ucap Sisil yang memerhatikan jam tangannya yang sengaja dibawa sebelumnya.

"Oke, Kak," balasnya.

Sisil dan Dinda berbalik badan mencoba menaiki anak tangga yang sama. Namun ketika mereka berbalik badan, warga desa yang terdiri dari perempuan-perempuan berbagai usia yang beraktivitas di sungai itu, menyadari keberadaan mereka berdua.

Suara yang riuh terdengar dari bawah seketika mengecil, beberapa orang tetap asyik mengerjakan pekerjaan mereka, anak-anak yang tengah mandi pun tetap berendam di sungai. Namun, ada beberapa yang memerhatikan keduanya, tercengang dan bertatapan kosong. Perhatian Sisil malah terfokus pada seorang wanita paruh baya, perkiraan usianya sama dengan Nenek.

Segala aktivitas itu terjadi di hilir dari posisi keduanya berdiri. Karena waktu dan suasana sekitar yang tak mendukung lagi dengan keberadaan mereka, Sisil dan Dinda mulai beranjak pergi menjauh dari sungai yang indah itu. Sisil belum sepenuhnya melepaskan pandangan dari wanita yang menarik perhatiannya tadi, hingga semua itu terhenti ketika keduanya tak melihat lagi keberadaan orang-orang di sana.

Pada tangga teratas, tiba-tiba Sisil terjatuh. Pikiran yang tak fokus dan mereka yang tengah terburu-buru menyebabkan ia tak memperhatikan jelas tangga-tangga itu.

"Awwww..," teriaknya.

Dinda memegang tangan kanan kakaknya sambil jongkok, "Kak, kok bisa jatuh? Sakit ya Kak?" tanya Dinda yang khawatir.

'...." Sisil terdiam dalam keadaan tertutup mata sambil menggerakkan kepalanya sesekali.

"Kak, kok diam? Kan harus pulang sekarang," gerutu Dinda.

Terdiam sejenak, lalu berbicara "ayo balik ke rumah sekarang."

Ia sebenarnya tak teluka, hanya terkejut saat terjatuh, tetapi ada yang hal aneh yang dirasakan. Ketika tangan kirinya menyentuh tanah, lagi-lagi ditarik mundur ke suatu kejadian yang tak pernah terjadi dalam hidupnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!