Part Twenty

Ketiganya kini mereka telah ada di hadapan para warga, Ayah sedikit lebih maju posisinya daripada Nenek dan Bunda.

"Ada apa ini rame-rame," tanya Ayah.

"Jual saja tanah kalian untuk kesejahteraan warga desa sini.

"Benar.. Jual saja."

"Warga lebih sejahtera kalau pertambangan itu masuk ke sini. Bener kan semuanya."

"Betul. Kalian jual saja, cuma kalian doang yang membangkang."

Suara itu saling berbalas-balasan tak memberi jeda bagi keluarga yang tengah diintimadasi itu berbicara.

"Tenang semuanya tenang, biarkan kami berbicara dulu," geram Bunda dengan mengisyaratkan tangan kanannya ke atas.

Suara warga mulai redup dan memberi sedikit ruang rongga untuk mengeluarkan alasan logis Bunda untuk berbicara.

"Maaf sebelumnya telah membuat Bapak atau Ibu jadi repot-repot untuk berkunjung ke rumah Mirna dalam keadaan seperti ini, nuwun sewu njih. Begini Pak Bu, pertama tanah itu telah menjadi hak saya pastinya, meski baru-baru ini. Hal itu terbukti dengan adanya sertifikat tanah yang jelas legal dari pemerintah untuk saya. Pasti Bapak Ibu juga tau itu kan? Bapak kepala desa juga tau itu kan?" Semuanya saling pandang atas penjelasan Bunda itu, entah apa saja yang mereka bisikkan satu sama lain.

"Nah tentu saya ada hak pula untuk tanah itu selagi saya tidak melanggar yang mengharuskan saya melepaskan tanah itu. Apa saya menyerahkan tanah itu kepada pemerintah hingga pindak haknya? Tidak! Saya terlantarkan saja tanah itu? Tidak, saya mengurusnya dengan baik. Apakah saya memindahkan hak milik saya? Atau status kewarganegaraan saya bukan Indonesia? Bukan warga desa Mulyo Abadi, begitu pak?" Semua masih terhening diam.

Sampai satu suara memecah keheningan, "Lah kamu sama suamimu menyusahkan warga sini Mirna. Warga juga butuh uang untuk hidup, ya dengan cara dijual. Lagian warga untung dua kali lipat juga kan," ucap seorang Pria yang itu ternyata adalah Syam.

"Iya betul," balas dua atau tiga orang warga.

"Jadi begini Bapak Ibu, bukan kami keras kepala pengen menyusahkan Bapak Ibu. Namun jika kita jual tanah perkebunan dan diganti dengan pertambangan banyak kerugiannya, Pak, Bu. Hitunglah jangka panjang, jati kian langka dan pastinya harga semakin membahagiakan. Justru perlu kita budidayakan, meski pada akhirnya nggak mahal setidaknya ia jelas menghasilkan secara stabil, yang mana hasilnya akan membantu penghidupan kita. Kita dapat menggantungkan hidup sampai anak kita dewasa setidaknya berbelas-belas tahun ke depan," jelas Bunda.

"Lagian jika tanahnya dijual sekarang, okey tanah laku dua kali lipat setelah itu mau gimana cari nafkah? Ibu Bapak perlu memikirkan itu. Ditambah efek pertambangan itu juga akan merusak alam kita yang asri. Wisatawan bisa saja tertarik ke sini bila kita olah desa ini menarik dan menyenangkan. Sedangkan jika pertambangan masuk, mereka banyak untung kita banyak rugi. Tanah desa kita tercinta malah dimiliki oleh orang luar, sungai kita keruh, udara tak asri lagi, lumbung bekas pertambangan bakal ada di mana-mana dan ujungnya kita sulit menemukan air bersih untuk kehidupan sehari-hari," tambah Ayah.

"Hal itu yang mendasari saya untuk mempertahankan tanah saya, bukan karena keegoisan, tapi lebih pada demi kepentingan bersama. Setiap saya menjelaskan selalu dipotong, tidak dipercaya dan saya harus bagaimana menyikapi hal ini kecuali diam." timpal Bunda.

"Apaan tuh omong kosong, Bulsyit...," hasut Syam.

"Iya juga sih ya."

"Aku nggak mikirin ke situ tau."

"Eh si Syam nggak paham bahasa manusia kali udah dijelasin panjang ya, malah masih ngegas."

Suara mulai riuh dengan bisikan mereka masing-masing. Banyak pula yang merasa bersalah menerima ajakan untuk berbondong-bondong melawan ketidakadilan, padahal mereka tak paham apapun tentang yang mereka tuntut.

Entah siapa yang pertama mengusulkan hal ini, tapi tetap saja kepala desa bertanggung jawab atas yang dilakukan warganya. Dan hal ini ia setujui dengan sadar.

"Maaf telah menganggu waktunya dan menuduh yang tidak-tidak.. Bagaimana pun kejadian ini adalah tanggung jawab saya selaku kepala desa, saya kurang bijak memikirkan semuanya dan begitu mudah terhasut. Maaf sebelumnya tidak mendengarkan kalian, mungkin ini bisa kita pertimbangkan dan mencari solusi untuk meningkatkan ekonomi warga. Mohon bantuannya juga njih Pak, Bu." Sesal kepala desa.

Sisil hanya terdiam di seberang halaman rumah, tangisnya sedikit berkurang mendapati hal ini. Sedangkan mbahnya, berdiri tenang dengan wajah pucat. Sisil kecil ternyata mengintip dari jendela rumah, ia terbangun karena suara gaduh yang mengganggu mimpi-mimpinya.

Bunda, Nenek dan Ayah hanya tersenyum teduh. Sebenarnya Nenek begitu khawatir jika sampai di antara warga ada yang membawa senjata tajam untuk mencelakai putrinya. Sejak tadi Nenek tak lepas pandangan pada perorang dari warga itu. Sampai satu titik ia begitu kecewa, ketika sahabatnya sendiri juga ikut dalam pengepungan rumah mereka tersebut.

'Ami? Bisa-bisanya dia juga ingin menjatuhkan putriku,' batin Nenek.

"Ya sudah, kami pamit ya Pak, Bu. Maaf sekali lagi." Dengan kedua tangannya yang disatukan sejajar dengan dada.

"Yuk pulang semua."

"Huuu..," teriak beberapa warga.

"Huu.. lihat aja nanti," ucap seorang pria di barisan belakang. Ya siapa lagi kalau bukan Syam. Dan suara itu tertangkap oleh pendengaran Sisil.

"Ish benci banget aku lihat orang tuh," lirihnya.

"Ijah...," panggil Nek Aminah dengan wajah khawatir.

"Udah yuk masuk, oh itu Sisil juga ke bangun," ujar Nenek pada Bunda dan Ayah. Ketiganya meninggalkan Nek Aminah seorang diri.

"Bu, kenapa nggak diajak masuk Bibi?" keluh Bunda

"Lah, rapopo. Biarin aja." Dengan logat jawanya.

"Ya ampun kasian Nek Aminah," ketus Sisil.

Nenek Aminah menunduk lesu, ia tak bisa berbuat apa-apa kini dan memutuskan untuk pulang saja.

"Mbah, berarti ini kejadian sebelum Bunda hampir di bunuh ya?" tanya dengan hati yang berat.

"Ya, tepatnya 2 malam sebelum kejadian itu."

"Kamu sudah tau kan semuanya kenapa bisa terjadi sekarang? Kamu nggak boleh egois gitu. Nenek dan mamamu pasti ada alasan untuk menyembunyikan ini semua." "

"Iya Sisil paham, Mbah. Humm, tapi ada satu pertanyaan Sisil." Sisil pasrah dengan keadaan.

"Apa itu?" tanya Mbah menunduk,

melihat ekspresi tulus Sisil. "Kenapa saat itu, Papa bisa tahu Bunda ada di rumah kosong itu?"

Mbah diam dan tak menggubris pertanyaan Sisil. Pandangannya kosong melihat ke rumah berbahan kayu klasik itu.

"Mbah...," panggil Sisil.

"Mbah, kok diam aja?"

"MBAAHHH..," teriak Sisil sambil menarik tangan pria tua itu.

"APAA!" Kakek itu melihat ke arah Sisil dan mendekatkan wajah yang sangatr hancur. Suaranya begitu menyakitkan gendang telinga. Begitu buruk saat itu untuk menceritakan kondisi sosok yang ada di hadapan Sisil ini.

"Haaaa." Seketika Sisil terbangun dari tidurnya. Badannya penuh dengan keringat yang cukup lengket, tubuhnya pun ikut lemah seperti berjalan jauh.

"Astagfirullah, kaget banget." Ia terduduk kemudian minum air putih yang telah disediakannya semalam.

'Ngeri. Jadi ini semua jawabannya?' batin Sisil.

'Aneh ini semua mimpi tapi terasa nyata, seperti aku ada di situ gitu.' Sisil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Allahu Akbar..Allahu Akbar."

Suara azan berkumandang dari segala penjuru. Sisil sadar bahwa sekarang telah masuk waktu subuh. Sisil memutuskan untuk mandi lebih awal dari yang lain karena belum ada satu pun yang bangun di rumah.

Sisil bergegas membawa handuknya dan menuruni anak tangga menuju kamar mandi, semua masih dalam keadaan gelap. Sehingga Sisil harus menghidupkan satu persatu lampu ruangan. Sisil kini sudah berada di ruang dapur, ia berjalan santai menuju kamar mandi.

Ketika hendak masuk ke kamar mandi, ujung bola matanya menyorot sesuatu yang ada di sebelah kanan tubuhnya, tepatnya berada di salah satu sisi dapur. Sisil yang penasaran menoleh dan benar saja ada sesuatu di sana yang jaraknya hanya 5 langkah dari posisi ia berdiri kini.

"Astaga, adek siapa?" tanya Sisil halus sambil melangkahkan kakinya pada sosok yang bertubuh kecil dengan rambut pendek yang berwarna hitam mengkilap. Laki-laki kecil itu menoleh,

"Ini adek, Kak," ujarnya dengan wajah yang begitu pucat.

Seketika Sisil berteriak kaget dan terduduk lemas. Sisil kini tengah merapatkan matanya yang indah di santai menuju kamar mandi.

Ketika hendak masuk ke kamar mandi, ujung bola matanya menyorot sesuatu yang ada di sebelah kanan tubuhnya, tepatnya berada di salah satu sisi dapur. Sisil yang penasaran menoleh dan benar saja ada sesuatu di sana yang jaraknya hanya 5 langkah dari posisi ia berdiri kini.

"Astaga, adek siapa?" tanya Sisil halus sambil melangkahkan kakinya pada sosok yang bertubuh kecil dengan rambut pendek yang berwarna hitam mengkilap. Laki-laki kecil itu menoleh,

"Ini adek, Kak," ujarnya dengan wajah yang begitu pucat.

Seketika Sisil berteriak kaget dan terduduk lemas. Sisil kini tengah merapatkan matanya yang indah di balik kedua telapak tangan. Tubuhnya gemetar hebat, kaki terasa tak bertulang dan kini rasa itu mulai menyerang tulang belakangnya.

"Silll...." Seseorang datang dari belakang dan menepuk pundaknya yang hampir menyatu dengan lantai dapur dan sejajar dengan kakinya yang sudah tak berdaya.

"Haa..," Sisil tersentak kaget.

"Ih kamu kenapa, Nduk!" tanya Nenek.

"Itu...." Tunjuknya pada sudut dapur masih dengan mata tertutup.

"Ada apa? Nggak ada apa-apa di situ," tutur Nenek.

Sisil sedikit menurunkan tangan yang menutupi matanya dengan perlahan dan benar tidak ada sosok apapun di sana.

"Ya Udah kalo gitu, Nek." Sisil mencoba berdiri dan seolah ia berani.

"Beneran? Nggak kenapa-napa kan?"

"Nggak kenapa-napa, Nek." Ia lanjut masuk ke kamar mandi.

Terpopuler

Comments

Shyfa Andira Rahmi

Shyfa Andira Rahmi

apa papahnya juga brkomplot sma si syam??🤔🤔

2023-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!