Part Three

Dengan raut wajah yang ditekuk, Nenek mulai bercerita tentang kejadian tersebut. "Jauh sebelum Mirna meninggal, warga sekitar memang selalu berperilaku demikian dengan keluarga ini. Mereka mengancam akan menyakiti Mirna dan keluarga ini, bila ia belum berhenti mengurusi urusan desa. Pikir mereka ia bukanlah siapa-siapa, lalu mengapa harus bertingkah sok pintar setelah menyelesaikan pendidikannya di kota."

Sambil menarik napas melanjutkan cerita, "Tapi semenjak Mirna meninggal, Warga desa dan segala keadaan di sini seakan berubah. Mereka akan membatasi kegiatan terutama setelah matahari mulai terbenam, warga juga akan bertingkah demikian kepada siapa pun yang datang ke sini. Sepertinya takut bila kasus tewasnya Mirna terangkat kembali."

"Putriku yang malang, entah siapa yang membunuhnya sesadis itu," ungkap Nenek sambil menahan air matanya. Ia sudah tak mampu lagi melanjutkan cerita.

Suara Nenek kian parau menceritakan hal itu, tangannya pun spontan menutupi kedua mata yang telah banjir karena perih mengingat kejadian tersebut. Memori tuanya masih begitu jelas mengingat setiap detail kejadian yang dilalui di tahun-tahun terburuk sepanjang usianya. Mama segera berdiri dan memeluk Nenek, sedangkan Sisil dan Dinda hanya terdiam mendengar penuturan nya.

"Udah ya, Bi. Tak perlu diingat lagi, Mirna sekarang sudah tenang," pinta Mama yang tengah memeluknya.

"Kakak... udah jangan tanya itu lagi ya!

Hal itu akan melukai Nenek."

"Iya" jawabnya lirih. Ia tahu apa yang dirasakan Nenek, tapi ada yang mengelabui hatinya mengalahkan rasa iba pada neneknya.

'Entahlah, aku tak tahu kebenaran 10 tahun silam,' bisiknya di hati.

Makan malam mereka yang awalnya hangat, berakhir dengan kesedihan. Nasi di piring Nenek masih tersisa, Mama pun demikian. Sementara Sisil dan Dinda menyelesaikan makan malam mereka, kemudian memindahkan piring kotor ke wastafel.

"Bi, istirahat ke kamar aja ya! Biar lebih tenang," saran Mama..

"Huum," ujar Nenek sambil perlahan berdiri dan memegangi tangan Mama. Terus berjalan menuju kamar yang letaknya masih di lantai yang sama.

"Maafin Sisil ya, Bi. Dia belum bisa mengontrol dengan baik ucapannya."

"Tidak apa-apa, bagaimana pun dia adalah cucuku. Aku juga tak sakit hati atas pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan, tetapi lebih pada kematian Mirna. Aku selalu tak bisa menyimpan kesedihanku atas kepergiannya dengan tragis. Apalagi ia meninggal beserta dengan anak yang dikandung. Aku tak tahan bila mengingat semua ini, Marlina! Rasanya aku ingin mati saja," papar Nenek sembari terus memegangi tangan Mama. Beberapa kali berhenti melangkah, karena tubuhnya yang sekarang mudah lelah.

Mama hanya bisa menggelengkan kepala dan terdiam, karena menurutnya ia takkan mampu setegar Nenek. Akhirnya, Mama dan Nenek sampai di kamar. Nenek terus berbaring dan diberi selimut tebal oleh Mama untuk menghangatkan tubuh. Kemudian, mencoba tuk menenangkannya lagi. Entah apa saja yang mereka ceritakan di dalam, Sisil dan Dinda tak bisa mendengarnya sama sekali.

Mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan ruang makan yang letaknya tak terlalu jauh dengan kamar Nenek. Setelah itu, keduanya kembali ke kamar mereka yang terletak di lantai dua bersebelahan dengan kamar Mama. Sisil yang berada di belakang Dinda saat menaiki anak tangga, merasa bulu kuduknya berdiri terkena angin yang sepintas berlalu. Spontan ia menoleh ke belakang karena merasakan ada sosok yang mengikuti.

Ia terdiam sejenak pada posisi anak tangga yang ke empat, perasaannya mulai tak karuan. Pikirannya sudah jauh melayang.

'Jangan-jangan warga desa lagi, mengincar kami. Bisa gawat kalau ada yang berhasil masuk,' pikirnya.

'Mungkin hanya perasaan aja, Apa aku cek aja ya? Haduh, gimana ya?' Masih ragu untuk menoleh dan turun kembali melihat keadaan sekitar.

"Sisil..." Suara itu terdengar dari kejauhan.

"Sisiiil, Siil..." Sumber dari suara itu semakin mendekat. Namun, keberaniannya untuk mengetahui apa yang terjadi semakin sirna, seiring suara yang tak tahu berasal dari mana itu.

Suara itu sejenak terhenti, tak terdengar satu patah kata pun lagi. Ia yang masih memiliki rasa takut layaknya anak seusianya, tentu akan lebih memilih kembali ke kamar. Ia mulai menaiki satu persatu anak tangga itu dengan rasa was-was, langkahnya pun begitu pelan. Meski begitu, pacu detak jantung bergerak cepat dan ujung mata berkeliaran memandangi sekitar.

"Siiil..." Suara itu terdengar lagi seiring dengan hembusan angin.

"Aku takut," lirihnya.

"Harus ke kamar sekarang pokoknya!' membatin.

Ketika hendak melangkah menuju tangga yang ke tujuh. Sebuah tangan besar mencoba memegang pundak Sisil. Tangan itu begitu dingin dan kukunya yang panjang mulai menyergap Sisil dan membawa masuk gadis belia itu pada ruang rasa takut yang luar biasa. Mulutnya terdiam, tangan dan kaki gemetar seperti kedinginan dan ujung sorot matanya tak bisa terdiam. Seketika ia mencoba menoleh perlahan ke kanan, tetapi belum cukup pergerakan leher dan wajahnya menuju 35 derajat ke arah kanan...,

Beberapa waktu, "Haaaaaaaaaaa..." pekiknya yang menggelegar.

"Ada apa sih, Kak!"Sembari menepuk pundak Sisil.

"Ih, Mama bikin kaget aja! " gerutunya setelah mengetahui Mama lah yang ada di belakangnya.

"Iya gimana lagi, Mama panggil dari tadi Kakak enggak jawab - jawab. Mama nyariin kalian di ruang makan nggak ada, di dapur juga gitu. Ya Udah Mama panggil deh, tapi orangnya nggak nyaut-nyaut," terang Mama.

Entah karena halusinasi dan rasa takutnya yang terlalu besar, hingga melihat tangan dari sosok yang bertubuh tinggi itu. Sepertinya hanya khayalan dan ketakutannya saja. Belakangan ini Sisil sering demikian, menutup mata sejenak malah memunculkan bayangan berbagai kejadian seperti puzzle yang saling berkaitan, tetapi di tokohi oleh orang- orang yang ia tak kenal sama sekali.

Seketika ada suara gaduh yang menyebabkan keduanya tersentak diam, tak begitu jelas sumbernya dari mana.

'Duk, Duk...'

"Aduh..aduh ..aduh, bikin kaget aja," ucap Sisil.

"Suara apa ya, Kak. Sebentar ya!" Mama mencoba mencari asal suara itu.

"Apa ya?" sambil terus jalan dengan menatap ke lantai satu.

"Bunyi apa ya, Ma?" tanyanya. Kemudian ikut menyusul Mama dari belakang.

"Kayaknya dari pintu samping. Apa jendelanya masih ke buka ya?" ucap Mama.

"Bisa jadi, Ma. Soalnya udaranya kerasa banget ke dalam."

Setelah keduanya memastikan sumber suara. Ternyata benar saja, suara itu berasal dari jendela kayu yang mana bagian atasnya belum ditutup dengan baik. Jendela itu terbagi menjadi empat bagian, dua bagian bawah tanpa gagang dan sisanya bagian atas. Suara itu muncul dikarenakan tabrakan kedua sisi jendela yang terkena angin kencang. Mama meminta Sisil untuk menutupkan jendela tersebut dengan baik.

"Kak, tutup jendelanya kak! Dingin banget," pinta Mama.

"Iya, Ma. Pantesan tadi tiba-tiba angin masuk," ujarnya sembari memegangi gagang jendela kayu itu.

Ketika hendak menarik jendela tersebut, "Astaga lihat, Ma! Kok itu bisa ada di sana?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!