Anila tidak sempat bereaksi dengan teriakan Talita. Dia terlempar menabrak tanah sedangkan kuda ditahan oleh Talita agar tidak terus berlari.
Anila melihat benda yang menabraknya, sebuah kayu yang cukup besar. Dari mana asalnya?
"An, Hidungmu berdarah." Talita segera merobek pakaiannya. Dia menjepit hidung Anila sembari membersihkan darah yang sudah keluar.
Anila tidak waktu untuk itu. Meskipun kepalanya pusing, dia segera menarik bahu Talita untuk pergi.
"Kita lanjutkan, Tal." Anila menarik tali kuda. Talita mengangguk dan mereka segera memacu kuda semakin dekat dengan tujuan. Beberapa teman mereka mungkin sudah membantu di sana.
Setibanya mereka di sana, keadaan benar-benar sudah kacau. Rakyat lemah dan lahan pertanian mereka bergelimpangan di tanah.
"Ini akan memakan banyak korban," ucap Talita setelah mereka turun dari kuda. "Apa permasalahan para pemberontak itu? Raja sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik meskipun dia hanya pengganti."
Pengganti?
Anila ingin bertanya, namun Talita sudah lebih dulu berlari membawa busurnya. Rambut coklat itu berkibar melawan angin dan api yang berkobar di desa. Para pemberontak satu persatu tumbang menghadapi anak panah Talita yang hampir sempurna akuratnya.
Sosok tokoh utama pembantu Amara, si gadis panah yang pemberani. Dia menunjukkan loyalitasnya pada tokoh utama pria di pertengahan novel.
"Anila, mendekat ke sini." Talita mengambil anak panahnya lagi. Pemberontak tak ada habisnya, mereka melompati rumah-rumah warga, ingin mengepung Talita dan dirinya yang menjadi santapan hangat karena terpisah dari yang lain.
Anila menarik pedangnya. Dia menangkis dan menusuk. Memastikan dirinya tidak merasa bersalah, karena inilah yang harus dia lakukan. Dia tidak hidup di dunianya, ini dunia yang lebih kejam.
Punggungnya dan Talita saling menempel. Mereka berlari saat para pemberontak masih dalam perjalanan melompati atap rumah warga.
"Kita harus ke tengah desa!" Talita berlarian disusul Anila.
Ketika mereka tiba di tengah desa dengan susah payah, Anila termenung. Api berkobar lebih panas di langit yang mulai gelap. Angin berhembus kencang, tapi Anila melihat seseorang.
Rambut pendek berwarna merah melambai-lambai. Wanita itu berdiri dikepung para prajurit wanita yang nampak sekarang. Dia berdiri kokoh memegang tongkat kapaknya.
Mata tajam dan bulu matanya bergerak menoleh pada kehadiran Anila dan Talita.
Talita mengangkat busurnya dan berjalan perlahan, ikut mengepung wanita itu. Akan tetapi, Anika tidak bereaksi.
"Memalukan. Sekretaris Pak Revan tidak bisa menyusun hal kecil seperti ini?"
Kalimat itu bergema di kepalanya. Mata orange itu menatapnya, itu bukan warna mata yang sama. Familiar menyambut hati Anila saat mereka bertatapan, perasaan dikucilkan.
"Anila," panggil wanita dengan rambut sebahu merah itu. Dia tekekeh. "Akhirnya aku melihatmu lagi."
Sama sepertinya, Natara mengenali wajah Anila. Tongkat kapak itu berdiri di tanah. Jubah merah darah itu bergerak cepat menghampiri Anila. Talita dan yang lain segera menghalangi langkah wanita itu, namun Natara terlalu kuat. Yang Anila tahu, teman-temannya terlempar setelah itu.
"Kau tahu berapa tahun aku menunggu?" desis Natara. Mata itu penuh dendam, Anila melangkah mundur.
"Ah, jangan. Jangan sekarang. Kau masih pohon yang baru tumbuh." Natara menggeram.
Natara mendengar teriakan prajurit pria yang menyusul. Wanita itu berdecak, dia segera berlari dan menghilang disusul anak buahnya yang mengintai di atas perumahan.
Anila menghembuskan napas berat. Dia terkejut dan hanya bisa terduduk lemas.
Aku pikir, aku tidak akan melihatnya lagi, batin Anila mengusap wajahnya gusar. Betapa lemahnya dia saat ini. Bagaimana Natara bisa ada di sini? Apa yang terjadi?
Tidak ada penjahat bernama Natara. Anila menjambak rambutnya karena sakit kepala. Sekarang bayang-bayang wajah ayah dan adiknya menghantui pikiran Anila.
Untuk sekian lama, Anila kembali menanamkan ini dalam dirinya. Dia ingin pulang.
Semua temannya mendengar cara Natara memanggil namanya. Untungnya, tidak ada satupun dari mereka yang mengungkit masalah itu. Seakan itu hanya angin lalu, mereka semua berbondong-bondong membantu warga yang cedera, mengangkut jasad-jasad yang tersisa, dan berdoa bersama untuk jasad-jasad yang sudah tidak dapat dikenali.
Kesedihan dan tangis pilu menemani langit yang gelap. Bintang-bintang indah bersinar, tetapi tak ada siapapun yang melihatnya.
Anila membuang wajahnya, tidak sanggup melihat wanita hamil menangisi abu suaminya.
"Kau mungkin akan banyak melihat hal seperti ini di masa depan."
Anila tersentak saat mendengar suara familiar. Topeng besi dilepas dari wajah pria itu, seketika netra yang bersinar dapat Anila lihat. Warna biru layaknya lautan.
"Semua orang pasti akan kehilangan hal-hal penting suatu hari nanti. Jadi jangan terlalu bersedih, karena kesedihan itu menyiksa."
Anila menggosok telapak tangannya. "Bagaimana dengan adikmu?" tanya Anila.
Keheningan terjadi. Anila menggigit bibirnya, bodoh!
Anehnya, Raven tidak tersinggung. Justru ada tekad yang di matanya yang muncul. Mereka sama-sama menatap kekacauan di desa itu.
"Maaf." Anila perlu mengucapkan itu.
Bukan rahasia lagi, adik dari putra mahkota mati dibunuh secara misterius. Anila tidak tahu itu, kematian adik Raven hanya disebutkan dalam satu paragraf dibuku ketiga. Tampaknya, itu terjadi di volume pertama novel itu.
Raven mengulum kata. "Tidak apa. Yang lemah memang selalu mati paling cepat."
Anila hampir ingin menampar Raven. Bagaimana dia bisa lupa sejahat apa pria ini? Walaupun begitu, Raven diceritakan hanya peduli dengan adiknya dan Amara.
"Kau menyesal meminta maaf?" Raven melirik.
"Sangat." Anila mendengus jengkel.
Raven menggenggam tangan Anila. "Ayo ikut aku."
Anila menoleh pada teman-temannya yang sibuk memberikan pakaian baru pada warga desa.
"Ayo. Tugasmu itu ikut denganku." Alis Raven menyatu.
Anila mengangguk. Mereka segera memisahkan diri. Seorang prajurit pria menunggu mereka di samping kuda.
"Yang Mulia, ini barang-barang yang Anda minta." Prajurit pria menunjuk beberapa kantung yang menggantung di tubuh kuda.
"Aku tidak akan meminta maaf karena hari ini kau bekerja denganku melebihi batas waktu." Raven melanjutkan, "itu tugasmu."
Anila bosan melihat Raven sepanjang hari, tapi dia masih ingat dengan tekadnya saat terdampar di dunia ini.
"Ke mana lagi kau akan pergi?" Anila merapikan ikatan rambutnya.
Raven melepas pakaian perangnya. Dia kali ini hanya memakai pakaian polos dan terbilang biasa. Itu baju murahan yang sering Anila lihat dipakai oleh rakyat setempat.
"Aku? Tidak, kau ikut." Raven mengambil topi jerami dari kantung yang ada di kuda. "Kita akan pergi dari istana untuk waktu yang lama."
Raven menerima kertas dan tinta dari prajuritnya. Dia mulai menulis di punggung kuda. Lalu menggulung kertas itu dan diserahkan kepada prajurit kembali. "Berikan surat izinku pada Raja."
"Lagi?" Anila mendesah bingung saat prajurit pergi setelah mengangguk patuh. "Berapa lama kita pergi? Sampai pagi?"
Raven menggeleng. "Berhari-hari."
"Kita akan berpergian?" Anila ingin sekali menangis. "Aku belum berkemas."
Raven menepuk empat kantung besar itu. "Lihat. Pelayanku sudah mempersiapkannya saat kau pergi dari asrama."
"Hei, itu melanggar privasi!" Hidung Anila membesar.
Raven tampak tidak peduli. Dia melemparkan sesuatu.
"Apa ini?" Anila sudah terbiasa menerima tindakan yang tiba-tiba itu. "Cincin?"
"Kita akan bermain peran sebagai suami istri kali ini. Jadi persiapkan dirimu."
Rahang Anila jatuh saat itu juga.
"Apa kau bilang?"
"Naik." Raven mengulurkan tangannya. "Kau akan melihat apa yang kuinginkan nanti."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments