Anila berjalan bersisian bersama Amara. Kesibukan Amara sebagai pengurus asrama tidak pernah mampu membuatnya kehabisan energi. Inilah tokoh utama wanita dalam novel yang Anila rela baca hingga larut malam.
Amara memiliki pribadi yang optimis dan pantang menyerah. Tipikal cahaya yang dapat menarik semua pria penting di dalam cerita agar tergila-gila dengan kebaikannya.
Anila menggosok tengkuknya yang dingin.
Sejak tiga hari terakhir setelah dia bertemu putra mahkota, Anila merasa hidupnya tidak tenang. Dia selalu merasa diawasi banyak mata, namun sepertinya Amara tidak menyadari itu.
"Putra mahkota benar-benar menyebalkan. Aku tidak mengerti kenapa dia mulai memperketat asrama wanita." Amara menghela napas.
Tunggu? Anila bahkan tidak mendengarkan omongan Amara karena larut dalam pikirannya sendiri.
"Kenapa diperketat?" tanya Anila meneguk salivanya diam-diam.
"Hanya beberapa prajurit pria yang boleh mengantar barang-barang keperluan. Bahkan harus prajurit yang memiliki posisi penting, harus orang terpercaya putra mahkota," kata Amara. "Sebelumnya dia tidak seketat ini, siapapun boleh membantu mengurus asrama. Ada apa dengannya?"
Anila hanya dapat memberi respon sederhana. "Dia putra mahkota."
Seakan itu adalah jawaban yang Amara duga. Wanita itu mengangguk lesu, membenarkan ucapan Anila.
"Amara, aku harus tidur sekarang." Anila tersenyum. "Kau juga, jangan begadang."
Amara melambai acuh. "Jangan pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja bahkan ketika tidak tidur semalaman."
Anila tertawa. Dia mengangguk dan memasuki kamarnya. Wanita itu berbaring di atas kasurnya, dia memijit kepalanya yang berdenyut.
"Aku harus melakukan sesuatu. Bagaimana mendekati putra mahkota? Bagaimana aku mencintainya?" Anila memukul bantalnya karena jengkel. Fakta bahwa dia harus jatuh cinta pada Raven adalah hal yang paling menyebalkan.
Bukan hanya itu, Raven memiliki wajah yang sangat mirip dengan bos di kantornya. Anila merinding harus menyukai orang yang seperti itu meskipun sifat mereka jelas berbeda.
Anila duduk bersila di atas kasurnya, dia mengambil tinta dan kertas mulai mencoret rencana awalnya untuk hanya bertahan hidup sambil menunggu Raven jatuh cinta padanya.
Itu tidak bisa.
Anila harus memikirkan ide yang lebih gila. Bahkan mungkin akan membuat Amara pingsan jika mendengarnya atau dunia akan menertawakan ide tersebut.
Anila harus merayu, dia harus lebih agresif, dia tidak bisa jadi prajurit wanita saja dan tidak melakukan proses apapun.
Apa? Hal apa yang bisa membuat Raven lebih mudah dia jangkau?
Anila memiliki kesempatan sebelum acara festival berburu kerajaan tiba. Di cerita novel 'Ratu' Amara dan Raven bertemu saat festival itu. Mereka menjadi lebih sedikit akrab saat Amara dengan lembut membalut kepala Raven yang berdarah. Awal mula Raven terobsesi dengan wanita itu.
Anila tertawa sesaat kemudian dia mulai menyadari dunia ini seperti mencuci otaknya saat ide gila terlintas.
"Ayo kita coba."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Raven sedang berkutat dengan lembaran-lembaran kertas di atas mejanya. Kacamata bertengger cantik di batang hidung, bulu matanya yang sempurna berkibar indah.
Bunyi pintu ruangannya membuat Raven melirik sesaat. "Masuk."
Seorang prajurit membungkuk hormat pada Raven sebelum menyerahkan surat yang tergulung di tangannya.
"Ini ada surat untuk Anda, Yang Mulia." Bulir keringat menghiasi wajah sang prajurit. "Dari asrama prajurit wanita."
Raven mengangkat salah satu alisnya. "Laporan Amara?"
"Bukan dia, Yang Mulia. Dia bilang putra mahkota akan tahu siapa jika Anda membaca surat yang dia berikan."
Raven terkekeh santai. "Bahkan tanpa membacanya aku sudah tahu maksudmu. Kau boleh pergi."
Prajurit itu membungkuk kembali sebelum berjalan cepat keluar dari ruangan Raven.
Raven tersenyum kecil, dia melepas tali yang tersimpul indah di surat tersebut. Tangannya dengan percaya diri membentangkan surat itu di atas mejanya.
Pria itu memiringkan kepalanya, mata biru itu menelusuri tiap jengkal kalimat yang ditulis oleh Anila. Berani sekali Anila mengirimnya surat setelah tiga hari yang lalu dia ditatap dengan kurang ajar oleh wanita itu.
"Menarik." Raven menyipitkan matanya. Begitu panjang basa-basi manis yang diutarakan Anila dalam surat itu. Namun, hanya satu kalimat yang dapat Raven baca dengan cermat.
Saya memohon pada Putra Mahkota untuk menempatkan saya di sisi Anda. Biarkan saya menjadi sedikit tidak tahu diri.
Raven tahu kalimat itu bahkan lebih menarik dari apapun.
"Wanita ini benar-benar sudah gila." Raven menggulung kembali surat itu. Dia meletakkannya di laci meja kerjanya.
Terdiam sesaat, Raven tersenyum mencurigakan.
"Prajurit!" panggil Raven. Prajurit yang berdiri menjaga pintu depan tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Tolong sampaikan pesanku pada Anila di asrama prajurit wanita." Raven menyandarkan punggungnya. "Katakan padanya, aku menerima itu, suruh dia untuk menemuiku besok di sini."
Prajurit itu mengerutkan kening dengan halus. Walaupun tidak jelas, prajurit tersebut mengangguk dan segera pamit untuk menyampaikan pesan yang telah dia terima.
"Kau membuatku tidak bisa menatap neraka, Anila." Raven melirik kertas-kertas di rak.
Kertas-kertas berisi gambar Anila saat bekerja di depan komputer.
Raven mengusap wajahnya. "Di mana itu? Kau sangat indah saat fokus di depan benda aneh itu."
Raven bertanya-tanya di mana bola ajaib bisa menghasilkan gambar itu berdasarkan apa yang Raven rasakan.
Bagaimana gambar itu bisa muncul ketika Raven bahkan tidak tahu benda persegi itu.
"Dari mana asalmu? Atau aku yang sudah gila juga?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua keranjang cucian jatuh serempak dari tangan-tangan prajurit wanita.
"Anila apa yang kau lakukan?!" Wesa mengatakan hal yang hampir sama seperti tiga hari lalu.
Prajurit pria dengan gagah mengulang kalimatnya.
"Putra mahkota berkata pada prajurit Anila bahwa dia menerima itu."
Anila hampir pingsan. Bukankah terlalu cepat memberi balasan untuk permintaan konyolnya itu? Raven sangat aneh.
"Apa hubunganmu dan putra mahkota?!" Semua prajurit wanita berkerumun di sekitarnya. Mereka tampak sangat terkejut dengan pesan tiba-tiba itu.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang." Anila panik. "Aku akan menjelaskannya jika ini sudah dapat aku tangani."
Untungnya, para teman-temannya tidak memaksa lagi. Mereka menghormati pilihan Anila.
Semua terlalu tiba-tiba.
[Kisah Anda dibuat]
Notifikasi mengambang itu muncul lagi. Anila sudah berusaha untuk mempelajari cara kerja sistem ini, dia hanya dapat memastikan jika setiap gerakan penting akan memicu hal tersebut.
Anila tidak salah memilih jalannya.
"Putra mahkota memerintahkan Anda untuk menghadapnya esok hari." Prajurit itu lantas pergi setelah selesai memberikan pesan terakhir.
"Permisi, bolehkah aku meminta tolong pada kalian?" Ucapan wanita itu membuat teman-temannya menoleh.
"Jangan sungkan, Anila," balas salah satu dari mereka.
"Tolong bantu aku berdandan besok."
"Apa ...?"
Satu ruangan terdiam.
Anila menyugar rambut panjangnya untuk menghilangkan rasa gugup. "Aku ingin merayu putra mahkota."
Amara tersandung. "Apa kau demam?"
Beberapa wajah dari wanita-wanita itu memerah malu. "Apa maksudmu, teman?"
Anila mendengus. "Aku serius. Tolong."
Anila adalah pekerja gila, dia terlalu fokus pada karir dan keluarganya. Untuk mengurus dirinya sendiri, Anila kerepotan akibat tumpukan kertas di kubikelnya. Riasan sederhana Anila tidak akan mampu menarik putra mahkota.
Ini dunia yang berbeda, Anila harus memahami Raven agar dia mencintai Raven. Dia harus belajar untuk mengerti dan sedikit berani untuk beberapa hal.
"Kau bodoh." Wesa meringis ngeri.
"Kupikir kita bisa membantu rencana gilanya agar dia tidak penasaran lagi." Wanita bernama Talita menggaruk kepalanya.
"Kau mencari lubang kematianmu, Anila." Amara mengguncang tubuh wanita itu.
"Aku tidak akan berakhir jadi orang bodoh. Percayalah!" Anila tersenyum lebar.
"Apa kau serius putra mahkota tipe idealmu, Anila? Kau ...." Amara bahkan tidak bisa mengatakan apapun. Wanita itu mungkin tidak mengetahui wajah Raven untuk saat ini, tapi perintah-perintahnya yang terkadang gila itu bahkan cukup bagi Amara tahu bahwa pria tersebut tak memiliki hati.
Dia pria yang mengerikan.
"Dia tampan? Baiklah, kau tidak bisa melihat hanya dari wajahnya saja 'kan? Pikirkan, Anila." Amara berusaha membuat Anila sadar.
"Amara, kau tidak bisa menghentikan seseorang untuk jatuh cinta." Wesa menepuk bahu Amara.
"Kau cukup tidak tahu diri untuk menyukainya." Talita mengangkat cuciannya seperti teman-temannya yang lain. "Dia putra mahkota."
Perbedaan kasta.
Namun dengan adanya sistem dan misinya, Anila yakin bahwa jika dia membuat pergerakan, kasta itu bisa dia lewati.
"Aku ingin pergi menjemur pakaianku dahulu." Anila mengalihkan pembicaraan dan segera menjauh dari Amara dan Wesa yang masih saling menenangkan satu sama lain.
Mereka orang-orang yang baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments