Tidak pernah terbayang oleh Anila bahwa hari itu akan menjadi hari yang paling melelahkan sepanjang hidupnya.
Pagi hari sekali Anila sudah bersiap-siap dengan segala pakaiannya dan juga senjatanya yaitu pedang yang selalu menemani dia kemana-mana.
Dia sudah berjalan menuju ruangannya sang putra mahkota. Ternyata putra mahkota tidak menunggunya dari dalam ruangan, akan tetapi menunggu di luar ruangan. Pria itu sudah siap dengan pakaian berburu dan juga busur yang tergantung di belakang tubuhnya.
Wanita itu memandang Raven. Anila harus bersiap hari ini, rencana Raven kali ini adalah hal penting bagi Anila juga.
Ini adalah alur yang tidak Anila tahu. Karena Anila ada di sisi putra mahkota, maka Anila mengikuti alur cerita kemana Raven akan membawa cerita ini nantinya.
"Mari kita pergi."
Raven mencengkeram satu botol kecil berisi cairan merah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara berburu ini dirayakan oleh banyak kerajaan, termasuk kerajaan dari perbatasan luar. Banyak pangeran dan putra mahkota serta para petarung terpercaya yang menjadi perwakilan tiap kerajaan. Hal tersebut membuat rakyat-rakyat berkumpul di pinggir hutan. Beberapa rakyat menonton dan berlomba-lomba mendukung pahlawan mereka bahkan sebelum acara dimulai.
Anila berjalan di belakang Raven, dia meniti sekitar dengan cermat. Wanita itu merasakan tekanan yang tinggi diberikan oleh banyak mata pada dirinya dan Raven.
"Jangan hiraukan tatapan mereka. Itu intimidasi." Raven mendesis tak acuh.
"Apa Anda serius menjalankan rencana itu? Anda bahkan tidak berpikir panjang untuk memutuskannya." Anila menghela napas.
Dia bisa melihat teman-teman prajuritnya bersorak melambai padanya. Wajah mereka terlihat sekali sedang menggoda Anila yang berhasil sampai di posisi sedekat ini dengan Raven.
Mereka percaya Anila menyukai Raven. Belum. Anila bahkan tidak bisa merasakan jantungnya berdebar-debar.
Anila berusaha mencari batang hidung Amara. Gadis itu pasti pergi bersama Rose hari ini. Mengingat Rose berupaya ingin membantu Amara setelah jasa Amara menyelamatkannya.
Tidak ada. Seperti yang Anila duga, tokoh utama wanita mungkin akan datang terlambat.
Raven melihat lebatnya hutan yang mereka pandang. "Ini bukan pertama kalinya aku pergi ke dalam sana."
"Permisi." Seorang pelayan menghampiri mereka sembari membawa nampan yang terdapat kain di atasnya. "Silakan, Yang Mulia."
Anila tersenyum dan mengambil satu kain biru itu. Dia berbicara pada Raven kemudian. "Yang Mulia."
Raven mengangkat tangan kirinya, dan membiarkan Anila mengikat kain yang digunakan sebagai tanda pengenal di sana.
Setelah memastikan simpulnya rapi, Raven mengambil kain biru yang menjadi pasangannya. Dia mengikat itu pada pergelangan tangan Anila.
Anila bisa melihat dari ekor matanya, teman prajuritnya sedang menahan napas bersamaan melihat mereka.
"Kau membawa pisau?" tanya Raven memastikan.
Anila mengangguk. Selain pedang, dia juga mengantongi pisau untuk keadaan darurat. Seperti yang Wesa terus ajarkan padanya.
Ketika acara ingin di mulai, saat itulah Amara turun dari kuda tergesa-gesa mengambil kain dan mengikat satu sama lain dengan Rose.
"Kau benar, Rose ikut."
Anila memang memberikan sedikit opini saat mereka berdiskusi tentang rencana Raven.
"Amara tidak mungkin meninggalkan Rose. Dia juga membutuhkan teman. Anak-anak yang dianggap budak, tidak akan dihalangi untuk mengikuti tuannya," balas Anila.
Raven menyeringai.
Tak lama, semua berkumpul dan bersiap. Sorakan masih terdengar untuk para calon pemenang.
Anila tidak tahu sejak kapan, tapi dia mulai mendapatkan tatapan sinis karena harus duduk satu kuda bersama Raven. Mungkin mereka berpikir, betapa rekan yang tidak berguna Anila itu.
Saat terompet memecah udara, kuda-kuda berlarian ditelan hutan. Sama seperti Anila dan Raven saat ini, mereka cekatan membuntuti Rose dan Amara di depan sana. Mereka cukup menjaga jarak agar Amara tidak curiga.
Target mereka—oh, target Raven—kali ini adalah Rose.
Anila mengambil cairan merah yang berada di dalam saku Raven. Rambut gelombangnya di sanggul rapi agar tidak menganggu saat kuda melaju kencang.
Amara dan Rose berhenti di dekat sungai. Mereka nampaknya tidak terlihat ingin mencari rusa dengan tanduk emas yang diincar oleh banyak peserta.
Amara memusatkan anak panahnya untuk membunuh rusa biasa. Rose hanya berdiri di sebelahnya dan menonton pekerjaan wanita itu.
"Tidak bisa." Raven menutup kembali semak-semai yang sudah ia singkap. "Terlalu dekat dengan sungai."
Cairan yang ada di tangan Anila saat ini adalah cairan peledak. Bisa memancing banyak hewan termasuk rusa tanduk emas itu.
Tapi itu bukanlah tujuan Raven. Karena penggunaan barang seperti ini dilarang dalam acara berburu, seperti yang Raven katakan.
Untungnya, Amara kembali menaiki kuda bersama Rose. Kali ini ekspresinya serius melihat ke kanan dan kiri untuk menemukan sesuatu. Ambisi di matanya cukup membuat Anila berbisik pada Raven.
"Dia sudah fokus mencari, Yang Mulia."
"Kau tidak perlu bilang, aku sudah mengerti." Raven memacu kuda, kali ini menuju jalan berlubang.
Sebelum Amara menoleh ke belakang karena mendengar derapan kaki kuda, Raven berkata, "Anila, sekarang!"
Boom.
Anila melempar cairan beserta botolnya. Meledak dan mengepulkan asap pekat yang manis. Amara pastinya sedang panik, mengira ada peserta yang curang.
Anila segera melompat turun dan berlari menjauhi tempat berasap itu. Dia kembali ke posisi mengintai, membiarkan Raven melaksanakan langkah berikutnya.
Raven mendorong kudanya sekuat tenaga, dia jatuh dari kudanya. Begitu pula Amara dan Rose.
Anila berjongkok di semak-semak.
"Tidak ada orang," gumamnya memastikan sekitar. Tapi tidak lama lagi, para binatang akan mencium aroma ini.
"Aku melihat seseorang melarikan diri!" Rose terbatuk. Dia membersihkan diri dan membantu Amara untuk duduk.
Raven meringis. Dia bersitatap dengan Rose. Anak itu mengenalinya dengan cepat.
"Y-Yang Mulia?" tanya Amara memastikan. Di garis awal, Amara pertama kali melihat wajah Raven. Itupun dia mengenalinya karena Anila duduk di atas kuda yang sama dengan pria itu.
Sekarang dia melihatnya langsung. Lebih jelas.
Mata biru itu menggali netranya dengan begitu dalam. Namun, Raven segera berdiri. "Aku kehilangan Anila."
Amara panik. "Apa? Bagaimana bisa, Yang Mulia?"
Raven memicingkan matanya. "Jangan berbicara padaku dengan semudah itu."
Anila beruntung di posisinya dia masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Ada yang melemparkan cairan ilegal." Raven mengucapkan kalimat itu. "Dia melarikan diri. Anila mungkin membuntutinya."
Amara dengan mudah percaya. "Kepala Anda berdarah."
Raven menyentuh keningnya. Ah, dia terlalu menikmati peran ini.
"Biar saya balut." Amara membuka tas pinggangnya.
Anila mendengar sekitar. Dia dapat mendengar langkah kaki beberapa kuda. Mungkin rusa bertanduk emas mencium aroma ini, dan dia berlari diikuti beberapa peserta yang kebetulan melihatnya.
Anila berlarian membantu Raven, seakan dia baru menemukan pria itu. Dia dan Raven segera pamit dan menaiki kuda bersama untuk pergi.
"Anila, kepala Yang Mulia harus dibalut dahulu." Amara memberikan kain putih padanya.
"Tidak perlu. Yang Mulia tidak ingin itu." Anila mengucapkan kalimat asal. Raven sepertinya hanya mengangguk-angguk membenarkan. Kuda mereka berlari menjauh.
Anila menoleh ke belakang. Benar saja, Amara sepertinya baru menyadari ada banyak langkah kaki kuda menuju arah mereka.
"Dia mungkin sedang mengira salah satu dari mereka yang menggunakan cairan itu. Tenang saja." Raven berujar dengan santai.
[Ceritamu Berbelok]
Terlalu terkejut dengan kalimat itu, Anila hanya sadar suara tombak berjatuhan masuk ke dalam pendengarannya kemudian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments