Sikap Aurel benar-benar membuat Saga kesal. Bahkan pria itu tidak habis pikir dengan pola pikir Aurel. Gadis yang selalu ia kira adalah gadis yang baik, lemah lembut dan selalu berpikir rasional. Ternyata semua begitu terbalik, berkali-kali Saga merutuki dirinya yang telah mencintai gadis seperti Aurel.
Saga sudah tiba di apartemen Aurel, ia segera menekan kode kunci apartemen Aurel. Saga tahu kodenya karena dia sering datang ke apartemen Aurel, dan Aurel juga memberikan kode kunci apartemennya itu. Saga segera masuk ke dalam setelah pintu terbuka.
"Aurel," panggil Saga setengah berteriak.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, dan Saga terus masuk ke dalam. Tujuan utamanya langsung tertuju pada kamar Aurel, dengan tlcepat Saga membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aurel sudah memegang sebuah cutter.
Aurel terlihat begitu kacau, Saga dapat melihat mata sembab milik Aurel. Saga yakin kalau gadis itu menangis cukup lama. Saga pun bergegas menghampiri gadis itu, namun Aurel segera mencegahnya.
"Jangan mendekat," pekik Aurel.
Saga pun menghentikan langkahnya. Ia menelan salivanya dengan cukup kasar.
"Rel, tenang, ya!" ucap Saga dengan lembut
Aurel menggelengkan kepalanya. "Jika Kakak tidak mau memaafkan aku, lebih baik Kakak jangan mendekat. Biarkan saja aku mati," sahut Aurel dengan suara lantang.
"Rel," Saga kembali mendekat dengan langkah pelan.
Aurel mendekatkan pisau cutter ke tangan kirinya, dan begitu dekat dengan urat nadi. Saga semakin terlihat panik. Hingga akhirnya Saga kembali memberanikan diri untuk lebih mendekat. Ia menghela nafasnya dalam-dalam, seraya memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya.
"Aku memaafkan kamu, Rel. Ayo, kembalilah!" bujuk Saga pada Aurel.
Aurel masih terdiam dengan tatapan begitu sendu menatap Saga. "Benarkah?" tanya Aurel.
Saga mengangguk sambil tersenyum. "Iya," Saga tersenyum setelah kembali mengangguk.
Perlahan Aurel tersenyum dan menjatuhkan cutter tersebut. Lalu ia pun berlari berhambur ke dalam pelukan Saga. Pria yang sangat dicintainya.
"Jangan tinggalkan aku, Kak. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpa Kakak," lirih Aurel.
Saga memejamkan kembali matanya, entah kenapa ia merasa begitu bimbang dengan Aurel. Saga mempererat pelukannya pada gadis itu, pria itu berusaha mengenyahkan rasa bimbang itu. Ia terus meyakinkan kalau dirinya sangat mencintai Aurel bukan Vesha.
"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu," jawab Saga seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Aurel.
Saga tidak tahu kalau saat ini Aurel sedang tersenyum penuh kemenangan. Senyum licik dari wajah polos yang dapat menipu semua orang yang tidak mengenal Aurel.
"Kena kau, Saga!" gumam Aurel dalam hatinya.
"Ternyata ide tante Gina benar-benar jitu, walaupun terdengar classic," Aurel kembali bermonolog dalam hatinya.
Aurel jadi teringat dengan percakapan antara dirinya dengan sang tante. Tadi, setelah Aurel ditinggalkan begitu saja oleh Saga di kampus. Gadis itu langsung menghubungi tantenya yang bernama Gina Saraswati. Gina adalah adik kandung dari ayahnya Aurel yang baru saja tinggal di Jakarta. Sebelumnya Gina tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai TKI di Hongkong selama 10 tahun. Namun tiba-tiba saja Gina memilih berhenti dan memulai karirnya di Jakarta.
"Kau kenapa, Rel?" tanya Gina sambil mengendarai mobilnya.
Aurel menghapus air matanya. "Saga, Tan. Saga mutusin aku," jawab Aurel.
Dahi Gina berkerut. "Kamu buat salah?" selidik Gina.
Gina memang sudah tahu siapa Sagara, karena Aurel selalu berbagi cerita dengan tantenya itu. Bisa dikatakan Aurel sangat dekat dengan Gina dibandingkan dengan kedua orang tuanya. Aurel pun menceritakan semua kejadian yang terjadi di kampus tadi. Setelah mendengar cerita dari Aurel, Gina pun tertawa kecil.
"Oh My God, ternyata keponakan Tante sangat bodoh. Kenapa kamu bermain begitu ceroboh, Rel?" ujar Gina seraya menggelengkan kepalanya.
Aurel menatap Gina dengan raut wajah kesal. "Tante, kok ngatain aku bodoh!" sahut kesal Aurel yang tidak terima.
Gina masih tertawa. "Terus apa? Memang nyatanya bodoh kan?" celetuk Gina.
"Tante!" tegur Aurel.
Gina berhenti tertawa. "Oke, Tante minta maaf!" ucap Gina.
"Kau ingin Saga kembali denganmu?" tanya Gina.
"Iya, Tante." jawab Aurel dengan begitu antusias.
Gina tersenyum. "Berpura-pura saja kamu ingin bunuh diri," usul Gina.
Aurel tercengang mendengar usul yang diberikan Gina. Gina pun menaikkan satu alisnya, dan tersenyum licik pada Aurel.
"Setiba di apartemen nanti, segera hubungi dia. Katakan padanya kalau dia tidak datang ke apartemen mu. Maka kamu akan bunuh diri," Gina memberi ide yang cukup gila pada Aurel.
Aurel masih nampak ragu menimbang usulan dari Gina. "Apakah ini akan berhasil?" tanya Aurel.
Gina menaikkan kedua bahunya. "Hanya beberapa persen saja. Tapi, Tante yakin kalau Saga akan masuk dalam perangkap ini," jawab Gina.
Aurel pun tersenyum. "Baiklah! Akan aku coba," kata Aurel.
"Terima kasih, Tante!"
"Sama-sama,"
Bayangan dari ingatan gadis itu membuat Aurel tersenyum penuh kemenangan. Aurel merenggangkan pelukannya dan menatap Saga yang benar-benar ada dihadapannya. Aurel membelai lembut pipi pria itu. Perlahan wajah gadis itu pun mendekat dan benda kenyal keduanya saling bersentuhan.
Saga terkejut saat Aurel menciumnya. Ini adalah ciuman pertama Saga. Awalnya terasa sangat kaku, namun Saga mulai melakukannya sesuai dengan insting seorang pria. Ciuman biasa mereka kini berubah menjadi panas dan bergairah.
Cukup lama mereka berciuman, namun detik berikutnya Saga langsung melepaskan ciuman panas tersebut. Saga sadar kalau mereka tidak boleh melakukannya terlalu jauh. Dia juga pria normal yang memiliki hasrat dalam menyalurkan kebutuhan s*****l nya yang terpendam cukup lama.
"Maaf," ucap Saga.
Aurel pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Kak."
Saga kembali membawa Aurel ke dalam pelukannya. Gadis itu pun kembali tersenyum senang dan bahagia.
Hubungan Saga dan Aurel mulai membaik, terbukti saat ini dengan setia Saga menemani kekasihnya untuk jalan-jalan ke sebuah mall. Mereka terlihat kembali mesra, seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka berdua. Seakan masalah di kampus tadi hilang begitu saja seperti debu tertiup angin.
*
Keesokan harinya, di rumah Saga. Darel baru saja tiba di rumahnya pagi ini, setelah satu minggu ini pergi keluar kota. Darel harus mengurus perusahaan cabang di Batam. Dua hari setelah melaksanakan pesta ulang tahun pernikahannya bersama sang istri, Darel diminta untuk segera mengurus masalah perusahaan disana.
Pemilik wajah tegas itu, berjalan masuk ke dalam sambil menyeret kopernya. Safira yang sudah tahu kedatangan suaminya pun segera menyambut hangat Darel.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap Darel saat memeluk tubuh istrinya.
Safira pun tersenyum. "Aku pun juga sangat merindukanmu," jawab Safira.
Mereka melepaskan pelukan, Safira membantu sang suami membawakan jaket yang Darel. Saat mereka hendak naik ke lantai dua dimana kamar mereka berada, tiba-tiba bel rumah kembali berbunyi.
Dahi Darel berkerut, dan menatap heran pada Safira. "Kamu ada janji bertemu dengan temanmu di rumah?" tanya Darel.
Safira pun menggeleng dengan cepat. "Tidak, Yah." jawab Safira.
Darel pun menatap ke arah pintu, lalu kembali menatap istrinya. "Biar aku saja yang lihat," ucap Darel dn hanya dibalas anggukan oleh Safira.
Darel berjalan menuju pintu dan membukanya. Dahinya kembali berkerut saat melihat dua orang pria berseragam sama berdiri di depannya.
"Selamat pagi, Pak. Kami dari dealer H***a ingin mengantarkan motor atas nama pemilik Saga Dirgantara," ucap ramah salah satu pria itu.
"Motor?" Darel kembali dibuat bingung.
"Iya, Pak. Tuan Marvin meminta kami untuk mengirimkan motornya ke alamat ini," petugas dealer itu kembali menjelaskan sambil menyerahkan beberapa berkas pada Darel.
Darel pun langsung mengambil beberapa berkas tersebut. Kini ia ingat bagaimana bisa Saga mendapatkan motor dari Marvin. Ingatan Darel kembali ke kejadian satu minggu yang lalu saat pesta anniversary nya bersama sang istri digelar.
Darel teringat dengan ucapan dari Adam dan Vita. Dimana malam itu Adam dengan terang-terangan membeberkan alasan Vesha tidak diizinkan ikut datang ke pesta yang digelar Darel bersama sang istri. Kilasan balik pun berputar dalam ingatan Darel.
"Kenapa Vesha tidak kamu ajak ke pesta ini, aku yakin dia akan sangat senang bertemu dengan Saga. Begitupun juga dengan putraku itu," tanya Darel pada Adam.
Adam hanya tersenyum tipis dengan ekspresi wajah datarnya. Sedangkan Vita sendiri hanya diam dan tidak memberi reaksi apapun saat Darel bertanya.
"Aku tidak mengizinkannya untuk datang ke acara ini," jawab Adam.
Darel yang tadi sedang tersenyum lebar kini harus mengendurkan senyum di wajahnya. Darel melirik ke arah Safira yang sejak tadi ada di sebelahnya.
"Tapi, kenapa?" tanya Darel.
"Iya, kenapa kamu tidak mengizinkan Vesha untuk datang? Kamu tahu aku sangat merindukannya," Safira yang sejak tadi diam kini ikut angkat bicara.
Adam tersenyum hambar sambil menunduk sebentar, Vita mengusap lengan suaminya dengan lembut. Adam melihat sekilas ke arah sang istri, lalu ia tersenyum dan mengangguk.
Adam kembali menatap kedua sahabatnya. "Karena putra kalian sendiri," jawab Adam membuat kedua pasutri di hadapannya semakin heran.
"Aku tidak mengizinkan putriku merasakan sakit hati lagi atas apa yang sudah putra kalian lakukan terhadapnya," lanjut Adam yang memiliki pembawaan yang selalu tenang.
Safira dan Darel pun saling bertatapan, mereka bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Adam.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, Dam?" tanya Darel
Vita kini juga ikut angkat bicara. "Gara sudah menyakiti hati Vesha dengan cara menjadikan putriku itu taruhan," ungkap Vita dengan sorot mata penuh kekecewaan terhadap Darel dan Safira.
"Kalian tahu kan, kalau putriku sangat mencintai Gara. Tapi, apa yang sudah putra kalian lakukan benar-benar sangat menyakiti hati putriku. Bahkan putra kalian melakukan taruhan bersama Marvin hanya demi sebuah motor," sambung Vita dengan emosi menggebu-gebu.
Adam mengusap punggung sang istri dengan lembut, agar Vita dapat menahan emosinya. Darel dan Safira semakin bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Vita. Ada yang melihat kedua sahabatnya bingung pun mendekat ke arah Darel.
Adam menepuk pundak Darel. "Kau bisa tanyakan soal ini pada putramu itu, Rel. Dia lebih tahu soal ini," ucap Adam seraya tersenyum.
Adam mengajak Vita untuk meninggalkan pesta tersebut. Darel masih dilanda kebingungan, begitupun juga dengan Safira yang saat ini sedang menatap sendu ke arah punggung Adam dan Vita. Keduanya masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Sagar terhadap Gavesha.
Safira menatap suaminya yang masih menatap lurus ke luar jendela. "Yah, apa yang sebenarnya terjadi? Bunda masih sangat bingung," tanya Safira.
Darel menghela nafasnya kasar dan menatap ke arah istrinya. "Sebaiknya kita tanyakan hal ini pada Gara. Dimana anak itu?"
"Mungkin dia sedang bersama Marvin dan yang lainnya," jawab Safira.
Darel pun meninggalkan Safira begitu saja dan hendak mencari putranya. Wajah Darel terlihat begitu marah, bahkan saat berpapasan dengan tamu undangan pun Darel tidak peduli. Tujuan utamanya adalah menemui Saga. Safira yang merasa sangat khawatir dengan suaminya pun mengikuti Darel dari belakang. Bahkan dia juga yang harus meminta maaf para tamu undangan karena telah diabaikan oleh Darel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments