Vesha duduk sambil mengutak atik ponselnya. Dia sedang menunggu taksi online pesanannya. Seulas senyuman terbit saat taksi onlinenya tiba di depan lobi kampusnya. Sang sopir yang mengenakan masker pun keluar dari dalam mobil dan hendak menyapa Vesha. Namun suara Saga yang memenuhi teras lobi pun menarik perhatiannya.
"Vesha," panggil Saga dengan suara kencangnya.
Vesha yang sudah berdiri dari posisinya pun segera menoleh ke arah sumber suara. Vesha melihat Saga dengan aura kemarahannya menghampiri dirinya, namun Vesha tidak akan peenah takut.
[Plak]
Wajah Vesha seketika itu juga terhempas ke samping. Bahkan jika ia tidak menahan tubuhnya, mungkin saja ia akan terjatuh karena tamparan yang diberikan oleh Saga teramat keras. Vesha memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan Saga. Seketika gadis itu menatap tajam ke arah pria tersebut. Sopir taksi online yang melihat itu pun segera menghampiri Vesha dan langsung membawa tubuh Vesha ke belakang tubuhnya, dan menjadikan tubuh pria itu tameng untuk melindungi gadis itu.
Keributan pun terjadi, hampir semua mahasiswa menghampiri dan melihat perselisihan diantara mereka. Bahkan sopir taksi online yang Vesha pesan pun segera berlari melindungi gadis itu.
Pria itu mendorong tubuh Saga, hingga Saga mundur satu langkah dari posisinya. "Apa-apaan kamu, heoh? datang-datang main tampar wajah orang, kalau ingin bermain kasar hadapi aku. Bukan malah menampar wajah Vesha, dasar pengecut!" bentak pria itu yang tidak suka dengan apa yang baru saja dilakukan Saga.
Vesha sempat tertegun mendengar jawaban dari pria yang diketahui olehnya adalah sopir taksi online yang dipesannya. Namun bukan itu yang menjadi Vesha tercengang. Tadi pria itu menyebutkan nama panggilannya, padahal saat memesan taksi itu Vesha menggunakan nama lengkapnya. Vesha dilanda kebingungan, seolah pria itu sudah sangat mengenal Vesha.
Saga tersenyum sinis sambil berdesis. "Cih, kamu siapa, heoh? memilih membela wanita yang nggak tahu diri ini? Asal kamu tahu wanita yang kamu bela ini adalah wanita bermuka dua. Gara-gara dia kekasihku terluka setelah didorong sama wanita ini," ucap Saga dengan suara cukup keras sambil menunjuk ke arah Vesha.
Pria itu masih berusaha untuk tidak ikut emosi. "Mana buktinya kalau memang Vesha mendorong kekasih Anda, Bung?" tantang Chandra.
Saga stagnan dia bingung harus memberi bukti apa, sedangkan dirinya hanya mendengar dari Aurel saja. Lalu, Saga mendengar suara Aurel yang memanggilnya.
Saga pun menoleh dan melihat Aurel berjalan menghampiri dirinya dengan sedikit kesusahan. Vesha yang melihat itu pun mengernyitkan dahinya. Pasalnya tadi saat bertemu dengannya, gadis itu biasa saja. Tidak ada luka seperti itu, pria itu pun sedikit menoleh ke arah Vesha. Vesha langsung menggelengkan kepalanya dengan memberi tatapan kejujuran yang dapat pria itu lihat.
"Lihat! ini bukti kalau wanita ini sudah mencelakai Aurel," ucap Saga dengan begitu lantang.
"Kak," tegur Aurel.
Nyatanya gadis itu menjadi malu karena saat ini mereka menjadi tontonan murid-murid di kampus ini. Bahkan terlihat Marvin, Chandra dan Langit yang mulai menghampiri mereka.
Vesha yang masih memegangi pipinya tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Saga. Vesha menggelengkan kepalanya, itu semua tidak benar.
Vesha menatap tajam ke arah Aurel. Ia pun memberanikan dirinya untuk membela diri. "Apakah kamu melihat kejadian saat aku mendorong kekasihmu itu?" tanya Vesha dengan raut wajah marahnya.
Saga tertawa sinis. "Tidak perlu melihatnya, aku percaya pada kekasihku. Kalau apa yang diucapkannya itu benar," jawab Saga.
Vesha menggeleng tidak percaya dengan apa yang barusan Saga katakan. Saga memilih percaya pada Aurel yang jelas-jelas telah memfitnah dirinya. Vesha tersenyum getir sambil menatap Saga dan Aurel bergantian.
Vesha memilih maju dan menghampiri keduanya, namun tangannya sempat dicekal oleh sopir taksi itu. Vesha menoleh dan melihat sang sopir yang sedang menggelengkan kepalanya seakan tidak mengizinkan Vesha berhadapan dengan mereka.
Vesha tersenyum tipis, entah kenapa Vesha merasakan kehangatan dari genggaman pria asing itu. Vesha tersenyum lebar dan mengangguk. Memberi isyarat pada pria asing itu kalau dirinya akan baik-baik saja. Walau nyatanya tidak sepertii itu.
Vesha berdiri di depan Saga dan Aurel yang sedang menundukkan kepalanya. Vesha tersenyum hambar melihat kelicikan Aurel. Vesha pun menatap ke arah Saga.
"Kau menuduhku mencelakai kekasihmu tanpa bukti apapun, Tuan Sagara. Aku turut prihatin atas sikapmu yang hanya mendengarkan tanpa melihat bukti-bukti yang nyata. Seharusnya kau selidiki dahulu kebenarannya barulah kau berhak menghampiriku dan menampar wajahku seperti tadi," ucap Vesha dengan bibir bergetar menahan sesak dihati dan perih di wajahnya.
"Kamu masih ingin mengelak, heoh?" bentak Saga
"Saga,"
Semua menoleh ke arah Marvin, Langit dan Chandra. Ketiga pria itu menghampiri Saga dan Vesha yang sedang berseteru. Chandra sedikit menarik tubuh Vesha agar sedikit menjauh dari Saga. Langit pun menghalangi tubuh Vesha dan menatap tajam ke arah Saga.
Perlakuan ketiga sahabat Saga menarik perhatian semuanya, karena ketiganya lebih peduli pada Vesha ketibang Saga dan Aurel. Saga mengepalkan kedua tangannya saat melihat kenyataan bahwa sahabatnya begitu perhatian pada gadis yang sudah membuatnya kesal dan marah.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Ga!" ucap Marvin memperingati Saga.
"Aku memang tidak tahu permasalahan kalian bertiga. Tapi, setidaknya selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Ini masih di area kampus," ucap Marvin kembali.
Saga menatap tidak percaya atas apa yang baru saja Marvin katakan. Saga tidak menjawab ia langsung membawa Aurel pergi dari tempat itu. Aurel yang kakinya masih terasa sakit pun terpaksa mengikuti langkah lebar Saga.
Dari kerumunan para mahasiswa yang berdiri di lobi, pria yang tadi membantu Aurel berdiri sambil memegang kotak P3K. Pria itu sejak tadi menyimak semuanya, ia menatap iba pada Vesha, bahkan ia pun menggelengkan kepalanya tidak menyangka kalau Aurel akan bersikap seperti itu terhadap Vesha.
"Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini, agar Saga tidak terus termakan hasutan Aurel," gumam pria itu dalam hatinya.
Marvin dan yang lainnya masih tidak habis pikir dengan sikap Saga. Marvin, Chandra dan Langit menatap prihatin pada Vesha.
"Kamu nggak apa-apa, Sha?" tanya Langit.
Vesha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Pipi kamu masih sakit?"
Vesha dan ketiga pria yang ada di hadapannya menoleh ke arah pria asing itu. Ketiga pria itu mengerutkan dahinya, mereka baru tersadar kalau Vesha sejak tadi tidak sendirian. Tetapi bersama pria itu.
"Kamu siapa?" tanya Langit yang menelisik penampilan ptia tersebut.
"Ah, dia.." ucapan Vesha menggantung karena pria itu memotong ucapannya.
"Namaku Bryan, aku adalah kekasih Vesha." jawab pria itu dengan penuh percaya diri.
Vesha tercengang mendengar jawaban Bryan, tambah lagi tangan Bryan dengan lancangnya menarik tangan Vesha dan membawanya mendekat ke tubuhnya.
"Kami pamit, permisi!" ucap Bryan.
Vesha masih terdiam mencoba mencerna yang baru saja terjadi. Vesha menoleh ke arah belakang menatap tidak enak pada ketiga pria yang menatapnya bingung. Vesha masuk ke dalam mobil Bryan, dan pria itu sedikit berlari kecil menuju kursi kemudi.
Bryan menyalakan mesinnya, dan kembali menatap ke arah Vesha yang ternyata sedang menatap dirinya penuh tanya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu pada ketiga temanku?" tanya Vesha
Bryan menatap manik mata Vesha, lalu ia mengangkat kedua bahunya. "Entahlah! aku tadi hanya refleks saja," jawab Bryan dengan santainya.
Vesha semakin tercengang mendengar jawaban Bryan yang terlalu santai menurutnya. Vesha menggelengkan kepalanya.
"Gila," celetuk Vesha yang menatap Bryan dengan tatapan tajam.
Bryan pun menoleh dan sedikit mendekatkan wajahnya. Tentu saja Vesha terkejut dengan itu, apalagi tangan Bryan sudah berada di dagunya.
"Diamlah! Aku hanya ingin melihat bekas tamparan mantan kekasihmu itu," ucap Bryan yang membuat Vesha terkejut mendengar ucapan pria itu.
"K-kenapa kamu tahu soal Saga? sebenarnya kamu itu siapa, bagaimana kamu mengenal aku dan Saga?" selidik Vesha dengan tatapan curiga pada Bryan.
Bryan pun tersenyum. "Tentu aku tahu semuanya tentang kamu, Vesha Arabelle."
Vesha tercengang mendengar jawaban Bryan, sungguh Vesha tidak mengenal siapa Bryan yang sebenarnya. Bryan pun mulai mendekat ke wajah Vesha tanpa disadari oleh gadis itu, Kemudian Bryan sedikit melirik ke arah luar jendela. Bryan pun tersenyum smirk, kemudian pria itu pun membuka maskernya dan menampakkan wajah tampannya. Vesha semakin tercengang saat melihat siapa Bryan yang sebenarnya.
"K-Kamu,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Dimas Hanidar
pingin tak jitak tuh kepalanya aurel
ttp semangat thor update nya
2023-06-22
0