Pengkhianatan

Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Vesha undur diri dan memilih untuk pulang saja. Kini tinggal ketiga pria itu duduk saling berhadapan.

"Ini salah, Vin."

Cetus Chandra yang membuat kedua sahabatnya menatap dirinya. Chandra pun kembali memberi tatapan intens pada kedua sahabatnya.

"Usul taruhan yang kamu kasih ke Saga itu salah. Tidak seharusnya Saga menyakiti hati Vesha seperti ini, Vin. Kalian tadi lihat kan, bagaimana Vesha begitu tenang dan tidak OVT saat Saga pergi ninggalin kampus begitu saja, tanpa berbasa-basi sama Vesha," lanjut Chandra.

Langit dan Marvin masih terdiam. Mungkin dalam pikiran mereka, benar apa yang barusan dikatakan Chandra. Marvin mengusap wajahnya dengan kasar sambil menyugar rambutnya.

"Terus apa yang harus kita lakukan? Kalian juga tahu Saga seperti apa? Dia akan tetap memilih taruhan ini sampai selesai. Lagipula nanggung juga, dua minggu lagi usia pacaran mereka masuk 6 bulan," jawab Marvin.

Chandra menghela nafasnya. "Sebaiknya kita bicarakan ini sama yang bersangkutan. Kita temui Saga di rumahnya," kata Chandra memberi usulan.

Langit yang sejak tadi diam pun akhirnya angkat bicara. "Dia nggak ada di rumah," sahut Langit yang membuat Chandra dan Marvin menatapnya.

"Apa maksud kamu, Lang?" tanya Marvin.

"Saga nggak ada di rumahnya. Tapi dia ada di sebuah mall," kata Langit.

Chandra dan Marvin pun tercengang mendengar jawaban Langit. "Maksudnya dia lagi jalan-jalan ke mall sendirian?" tanya Marvin.

Langit menggelengkan kepalanya. "Dia jalan sama Aurel,"

"Apa?"

Marvin dan Chandra pun terpekik setelah mendengar jawaban Langit. Keduanya salong melirik, mereka benar-benar terkejut. Mereka juga kenal dengan gadis yang baru saja Langit sebutkan namanya.

Aurella Sachiara, adik tingkat Saga dan Vesha. Saga berkenalan dengan Aurel saat pertama kali gadis itu masuk kuliah di kampus mereka. Entah bagaimana perkenalan mereka hingga sejauh ini, sampai pada akhirnya Saga terlihat dekat dengan Aurel.

Langit mengangguk, "Iya, mereka saat ini sedang jalan-jalan ke taman terus lanjut ke mall," jawab Langit.

Chandra menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sementara Marvin mengusap wajahnya kembali dengan begitu kasar.

"Kacau banget si Saga. Masalah satu belum kelar, dia sudah cari masalah baru lagi," keluh Marvin.

Chandra terdiam, seakan sedang memikirkan sesuatu yang akan terjadi. "Aku takut kalau Vesha tahu, maka dia akan sangat membenci Saga. Mungkin bukan hanya Saga saja yang akan di benci olehnya. Kita pun juga akan kena dibenci oleh Vesha," Chandra memasang ekspresi wajah kelewat bersalah dan khawatir.

"Ya, mungkin itu resiko yang akan kita terima di kemudian hari," sambung Langit.

"Aku akan hubungi dia, bagaimanapun juga kita harus bertemu dan bicarakan semua ini padanya," kata Marvin.

"Kita utamakan bertemu Saga terlebih dahuu, agar Vesha tidak mengetahui kalau dirinya hanya menjadi bahan taruhan Saga dan kita," lanjut Marvin.

Dahi Chandra berkerut, dengan mata memicing ke arah Marvin. "Kita?" ucap Chandra seraya terkekeh kecil.

"Rencana itu antara kamu sama Saga, Vin. Aku dan Langit nggak ikut campur, dari awal aku sudah menolak rencana gila kamu untuk Saga," Chandra kembali menunjukkan protesnya.

"Oke, iya, memang aku yang memberi usul ini. Sudahlah, sebaiknya kita temui dahulu si Saga!" jawab Marvin yang langsung berdiri dari duduknya.

Langit menepuk lengan Chandra. "Yang dikatakan Marvin benar, kita temui Saga dulu. Setelahnya kita bicarakan lagi rencana terbaik agar Vesha tidak membenci kita," ucap Langit.

Chandra memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya. "Ayo," jawabnya yang sudah pasrah.

Mereka bertiga segera meninggalkan kantin kampus dan bergegas menuju taman dimana Saga berada.

Sementara itu, Vesha tidak lantas pulang ke rumah. Gadis itu berniat untuk menenangkan pikirannya ke toko buku. Vesha memilih pergi ke sebuah mall, selain ke toko buku dia berniat untuk membeli beberapa kebutuhannya pribadinya yang telah habis.

Vesha masuk ke toko buku di dalam mall tersebut. Berkeliling dengan mata yang menjelajah ke setiap rak buku untuk mencari buku yang sedang diincarnya. Seulas senyum terukir jelas di wajahnya setelah mendapatkan apa yang dicarinya.

Vesha keluar dari toko tersebut sambil menenteng sebuah goodie bag berisikan buku yang sudah dibelinya. Kini Vesha beralih ke toko yang menjual segala kebutuhan untuk perawatan dirinya. Namun saat hampir tiba di depan toko tersebut, Vesha melihat sosok yang sangat familiar baginya.

"Gara," gumam Vesha.

Gadis itu pun memilih untuk menyusul Gara yang sudah menuruni eskalator, ketibang membeli kebutuhan pribadinya. Yang menjadi perhatian Vesha saat ini adalah sosok yang bersama Gara, seorang gadis cantik berambut panjang dengan tubuh lebih pendek dari Vesha. Apalagi saat ini tangan Gara menggandeng tangan gadis itu dengan begitu erat. Sesekali Gara tertawa bersama gadis itu, bahkan Vesha melihat sangat jelas saat Gara memperlakukan gadis itu begitu lembut.

"Siapa gadis itu?" gumamnya lagi.

"Perlakuanmu terhadapnya tidak pernah aku rasakan, Ga. Kamu terlihat begitu perhatian dan lembut pada gadis itu," ucapnya dalam hati.

Seketika itu juga hatinya terasa begitu ngilu, saat mengingat perlakuan Sagara yang tidak lembut dan perhatian padanya. Vesha mempercepat langkahnya, agar dapat memergoki kekasihnya itu bersama perempuan lain. Vesha terus mengikuti dari belakang, hingga tempat tujuan mereka adalah area parkir yang berada di lantai 2.

Vesha setengah berlari dan hendak memanggil Gara, mengingat tempat parkir tersebut tidak begitu ramai.

"Gara," panggil Vesha dengan suara tinggi.

Gara yang sedang menggandeng Aurel pun segera menoleh. Vesha terkejut saat melihat wajah gadis itu.

"Aurel," gumam Vesha.

"Vesha,"

"Kak Vesha,"

Sagara dan Aurel pun terkejut akan kehadiran Vesha di parkiran. Vesha menatap tangan Sagara yang masih menggandeng tangan Aurel. Bahkan Vesha melihat sangat jelas kalau Sagara semakin mempererat genggaman tangannya pada gadis itu.

Vesha pun mendekat, dan kini berdiri tepat di hadapan keduanya. "Sedang apa kalian disini, apakah kalian berkencan?" tanya Vesha secara langsung tanpa basa-basi.

Aurel menoleh dan melihat sekilas ke arah Sagara yang sedang menatap Vesha. Aurel ingin melepaskan genggaman tangannya dari Sagara, namun dengan cepat Sagara mempererat genggamannya kembali.

"Iya, kenapa memangnya kalau kami berkencan?" jawab Sagara seraya menantang Vesha.

Mata Vesha yang sejak tadi berembun kini telah mengeluarkan air matanya tanpa permisi. Vesha menggelengkan kepalanya.

"Jadi ini yang tadi kamu bilang sedang ada masalah di keluargamu. Kamu mengkhianati aku, Ga?" tanya Vesha polos.

Sagara menaikkan satu alisnya. "Mengkhianati?" beo Sagara.

Pria itu tertawa mengejek. "Aku nggak pernah mengkhianati kamu, Sha. Asal kamu tahu hubungan kita itu hanya sebatas taruhan saja,"

[Deg…]

Vesha tergugu, dadanya terasa semakin sesak mendengar penuturan Sagara.

"Ta-Taruhan?" tanya Vesha ulang untuk memastikan.

"Ya, kamu itu hanya aku jadikan bahan untuk taruhan aku bersama Marvin," jawab Sagara.

Vesha menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu lakukan ini padaku, Ga? Apa salahku sama kamu dan temanmu itu?" tanya Vesha.

Sagara masih tertawa kecil. "Salah kamu itu banyak. Salah satunya itu mencintai aku yang sudah sangat jelas tidak mencintai kamu," bentak Sagara seraya menunjuk-nunjuk ke arah Vesha.

"Apakah aku salah jika sangat mencintaimu, Ga?"

Sagara nampak membuang ludahnya ke arah samping. "Cih, seharusnya kamu itu sadar diri. Mana mungkin aku mencintai gadis murahan kayak kamu ini. Gadis yang terang-terangan dan nggak ada rasa malu, saat mengejar seorang pria yang sudah sangat jelas tidak suka dengan perempuan agresif. Tapi masih saja kamu mengejarnya," sambung Sagara seraya menggelengkan kepalanya.

Air mata Vesha semakin berlinang, sakit rasanya mendengar penuturan dari orang yang kita sayangi dalam menilai diri kita dengan sebelah mata. Itulah yang Vesha rasakan saat ini, hati benar-benar sangat sakit.

"Apakah kamu selama ini berpikir kalau aku seperti itu, Ga?" tanya Vesha.

Episodes
1 Taruhan
2 Menyatakan Cinta
3 Kencan Pertama
4 Kedatangan Shena
5 Sikap Freezer
6 Pengkhianatan
7 Mengakhiri
8 Perubahan Vesha
9 Sakit Hati
10 Menemui Vesha
11 Meminta Maaf
12 Berseteru
13 Perubahan Sikap
14 Sudah Tidak Gila
15 Fitnah
16 Rasa Malu atas Kebodohan
17 Keusilan Bryan
18 Ancaman Bunuh Diri
19 Aksi Gila Aurel
20 Kemarahan Ayah Darel
21 Pilihan Terbaik
22 Permintaan Maaf Sagara
23 Si Mulut Pedas
24 Kecemburuan Aurel
25 Sarang Semut
26 Bryan Heinzee
27 Pasar Malam
28 Ungkapan Perasaan
29 Syulit Bobo
30 Modus Sagara
31 Insiden Kecil
32 Kecemburuan Sagara
33 Perasaan Chandra
34 Penangkapan
35 Keputusan Orang Tua
36 Masa Lalu Aurel
37 Keputusan Hakim
38 Face To Face
39 Kecurigaan Naura
40 Menjadi Sekretaris Bryan
41 Bertemu Marvin
42 Pembegalan
43 Perjodohan
44 Tetap Dalam Pendirian
45 Kegundahan Hati
46 Kedatangan Gricella
47 Pertemuan Gricella & Chandra
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Mencari Vesha
58 Usaha Bryan Mencari Vesha
59 Keterkejutan Naura
60 Permintaan Maaf Naura
61 Kedatangan Bryan Ke Surabaya
62 Bicara Berdua
63 Kedatangan Sagara & Marvin
64 Merindu
65 Rasa Gugup
66 Diskusi
67 Tukar Cincin
68 Pendekatan (Gricella-Chandra)
69 Tebing Koja
70 Fitting Baju
71 Menjelang Pernikahan
72 Pernikahan
73 Sagara
74 Status Baru
75 Aruna Yang Galau
76 Makan Siang Bersama Gara
77 Aku Lebih Mencintaimu
78 Pesta
79 Musibah (Sagara & Aruna)
80 Melamar (Sagara & Aruna)
81 Fitting Baju (Sagara & Aruna)
82 Harta Warisan
83 Resepsi Pernikahan (Sagara & Aruna)
84 Kebahagiaan
85 Akhir Kisah
86 Bonus Chapter
87 Pengumuman Buku Baru
88 Bonus Chapter 2
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Taruhan
2
Menyatakan Cinta
3
Kencan Pertama
4
Kedatangan Shena
5
Sikap Freezer
6
Pengkhianatan
7
Mengakhiri
8
Perubahan Vesha
9
Sakit Hati
10
Menemui Vesha
11
Meminta Maaf
12
Berseteru
13
Perubahan Sikap
14
Sudah Tidak Gila
15
Fitnah
16
Rasa Malu atas Kebodohan
17
Keusilan Bryan
18
Ancaman Bunuh Diri
19
Aksi Gila Aurel
20
Kemarahan Ayah Darel
21
Pilihan Terbaik
22
Permintaan Maaf Sagara
23
Si Mulut Pedas
24
Kecemburuan Aurel
25
Sarang Semut
26
Bryan Heinzee
27
Pasar Malam
28
Ungkapan Perasaan
29
Syulit Bobo
30
Modus Sagara
31
Insiden Kecil
32
Kecemburuan Sagara
33
Perasaan Chandra
34
Penangkapan
35
Keputusan Orang Tua
36
Masa Lalu Aurel
37
Keputusan Hakim
38
Face To Face
39
Kecurigaan Naura
40
Menjadi Sekretaris Bryan
41
Bertemu Marvin
42
Pembegalan
43
Perjodohan
44
Tetap Dalam Pendirian
45
Kegundahan Hati
46
Kedatangan Gricella
47
Pertemuan Gricella & Chandra
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Mencari Vesha
58
Usaha Bryan Mencari Vesha
59
Keterkejutan Naura
60
Permintaan Maaf Naura
61
Kedatangan Bryan Ke Surabaya
62
Bicara Berdua
63
Kedatangan Sagara & Marvin
64
Merindu
65
Rasa Gugup
66
Diskusi
67
Tukar Cincin
68
Pendekatan (Gricella-Chandra)
69
Tebing Koja
70
Fitting Baju
71
Menjelang Pernikahan
72
Pernikahan
73
Sagara
74
Status Baru
75
Aruna Yang Galau
76
Makan Siang Bersama Gara
77
Aku Lebih Mencintaimu
78
Pesta
79
Musibah (Sagara & Aruna)
80
Melamar (Sagara & Aruna)
81
Fitting Baju (Sagara & Aruna)
82
Harta Warisan
83
Resepsi Pernikahan (Sagara & Aruna)
84
Kebahagiaan
85
Akhir Kisah
86
Bonus Chapter
87
Pengumuman Buku Baru
88
Bonus Chapter 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!