Orang tua mana yang akan terima, jika melihat anak mereka tersakiti hatinya oleh orang lain? tidak ada satupun dari mereka yang menerima anak mereka tersakiti. Vita langsung menghubungi suaminya dan memberitahukan apa yang terjadi pada Vesha.
Adam yang mendengar cerita dan keluhan istrinya pun sangat geram dengan apa yang sudah dilakukan oleh putra dari temannya satu kantornya. Adam memijat pangkal hidungnya setelah panggilan telepon dari sang istri berakhir.
Adam memejamkan matanya sebentar sambil menyandarkan kepalanya di sofa dalam ruangannya. Pintu ruangannya diketuk, Adam membuka matanya kembali.
"Masuk," ucapnya
Seorang pria yang seumuran dengannya masuk dengan senyum lebarnya. Adam hanya menatap datar pria itu, pria yang bukan lain orang tua dari pemuda yang telah membuat hati putrinya sakit. Darel, pria itu adalah Darel Dirgantara. Darel mengerutkan dahinya saat mendapati sahabatnya itu menatap dirinya aneh.
"Kamu kenapa, Dam?" tanya pria itu.
Adam membenarkan posisi duduknya sambil merapikan jas yang dikenakan nya. Ditatapnya pria yang sudah lama menjadi sahabatnya itu.
Adam menghela nafas nya sambil menatap ke arah ponselnya. "Aku tidak apa-apa," jawab Adam dengan suara terkesan dingin di telinga Darel.
Darel memilih duduk di hadapan Adam dengan tatapan penuh selidik. "Kita sudah mengenal cukup lama, Dam. Jika kamu punya masalah, ceritalah padaku."
Adam langsung menata pria itu seraya tersenyum hambar. "Ini hanya masalah pribadi, Rel. Ada apa kamu kesini?" jawab Adam dengan bertanya.
"Kamu yakin tidak ingin bercerita denganku?" tanta Darel kedua kalinya untuk meyakinkan.
Darel berharap Adam mau berbagi keluh kesah dengan dirinya. Karena sudah sangat lama Adam tidak pernah menceritakan sedikitpun masalah dalam hidupnya.
Adam menggelengkan kepalanya. "Apa yang harus aku ceritakan, jika nantinya kamu tidak bisa membantu menyelesaikan masalahku?" jawab Adam seraya tertawa kecil.
"Terima kasih atas perhatianmu, tapi untuk saat ini aku masih bisa menangani masalahku. Karena mulai saat ini aku sudah memutuskan untuk menjaga jarak dengan orang yang sudah berani membuat masalah dengan keluargaku," sambung Adam dengan senyum penuh seringaian dan tatapan yang sulit diartikan oleh Darel.
Darel menautkan kedua alisnya. "Ya, aku harap masalahmu akan cepat selesai," ucap Darel dan dibalas anggukan kepala oleh Adam.
"Ah, aku datang kesini hanya ingin memberikan undangan ini. Aku harap kamu, Vita dan putri cantikmu itu datang ke acaraku," ujar Darel seraya menyerahkan undangan pada Adam.
Adam menatap undangan tersebut dan meraihnya. Adam membuka dan membaca undangan tersebut.
"Anniversary?" tanya Adam.
Darel tersenyum. "Ya, kamu benar. Aku ingin merayakan anniversary pernikahan aku dan Safira yang 21 tahun," jawab Darel.
Adam mengangguk tanpa ekspresi apapun. "Oke, aku akan usahakan datang ke acaramu bersama keluarga kecilku," ucap Adam.
"Walau aku tidak yakin putriku akan ikut bersama kami setelah apa yang sudah putramu lakukan terhadapnya," ucap Adam hanya di dal hatinya.
"Harus datang! kalian semua harus datang ke acaraku ini. Karena kalian adalah tamu istimewa dalam acaraku," sahut Darel yang masih tersenyum lebar.
Adam menanggapi dengan senyum tipisnya. Setelah mengobrol sedikit, Darel pun pamit untuk kembali ke ruangannya. Adam kembali menatap undangan yang baru saja diberikan oleh Darel. Tatapan kembali tajam ke arah luar jendela.
"Aku tidak bisa janji akan datang ke pestamu, Darel. Entah kenapa hatiku terasa sakit saat mengetahui bahwa putramu sendiri telah menyakiti putri kesayanganku. Aku sebagai seorang Papa tidak mungkin senang saat tahu putrinya terluka," gumam Adam.
Di rumah Vesha, Shena berhasil mengajak Vesha keluar dari kamarnya. Bahkan saat ini Vesha sendiri mengajak Shena untuk pergi ke salon. Vesha mengatakan ingin potong rambutnya sedikit, gadis itu berkata ingin membuang sial atas kejadian yang menimpanya.
"Potong rambut sekalian facial yuk!" ajak Shena.
"Boleh, kamu atur saja. Yang terpenting penampilanku berubah sedikit," jawab Vesha.
"Oke," ucap Shena.
Kini mereka berdua bersiap untuk segera berangkat ke salon. Vita tersenyum senang saat melihat putrinya sudah keluar dari dalam kamarnya. Vita pun menyapa keduanya.
"Kalian mau pergi kemana?" tanya Vita.
"Ke salon, Mah." jawab Shena.
"Boleh Mamah ikut?" tanya Vita.
Vesha dan Shena menganggukkan kepala mereka berdua. "Boleh, Mah." jawab keduanya yang kompak.
Vita pun tersenyum. "Tunggu sebentar, ya! Mama ambil tas dulu di kamar," ucap Vita.
Kedua gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum. Mereka memilih menunggu di teras depan saja. Tidak lama menunggu, Vita pun datang sambil menenteng tasnya. Ketiganya keluar menggunakan mobil Shena. Shena langsung melajukan mobilnya keluar dari perumahan tersebut dan segera menuju salon langganan mereka.
Setibanya mereka di salon, kedua gadis tersebut keluar bersamaan dari dalam mobil begitupun juga dengan Vita yang keluar dari pintu belakang mobil. Shena dan Vita berjalan terlebih dahulu menuju salon tersebut, sedangkan Vesha berada di belakang keduanya dengan jarak tidak terlalu jauh. Namun karena Vesha sedang fokus memasukkan ponselnya ke dalam tas, tiba-tiba saja tubuhnya tertabrak oleh seseorang.
"Maaf," ucap Vesha dan orang itu.
Pria yang ditabrak Vesha membantu gadis itu mengambil tasnya yang terjatuh. Vesha tersenyum tipis seraya mengangguk kecil.
"Terima kasih, sekali lagi maafkan Saya karena kurang hati-hati saat berjalan," ucap Vesha
Pria itu pun tersenyum dan membuka masker diwajahnya. "Tidak apa-apa, Mbak. Lho, bukannya Mbak yang waktu itu nangis di taksi Saya, ya?" tanya pria itu yang ternyata sopir taksi yang pernah dinaiki Vesha.
Vesha mendongakkan kepalanya, karena sejak tadi gadis itu hanya menunduk. Vesha terkejut seraya mengerutkan dahinya.
Dengan tatapan bingung Vesha menautkan kedua alisnya. "Taksi," beo Vesha.
Namun seketika wajah Vesha berubah, sepertinya gadis itu sudah mulai mengingat. "Eh, Mas yang sopir taksi waktu itu." tunjuk Vesha ada pria itu.
"Duh, Maaf ya, Mas!" ucap Vesha kembali seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
Pria itu hanya tersenyum. "Tidak apa, Mbak. Saya juga minta maaf, tadi Saya terburu-buru. Jadi nggak lihat ada Mbak cantik lagi jalan," ucap pria itu.
Merasa ada salah dalam ucapannya, pria itu mengusap lehernya belakangnya. "Maaf, Mbak!" ucap pria itu sambil memukul mulutnya pelan saat menyadari ucapannya.
Vesha tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Kalau begitu Saya permisi, Mas!" pamit Vesha yang merasa sedikit risih saat mendengar ucapan pria tadi.
Pria itu tercengang dan bingung harus berkata apa lagi. Ia pun menghela nafasnya saat Vesha sudah meninggalkannya di area parkiran.
"Padahal pengen kenalan, minimal tahu namanya gitu. Biar gampang di carinya," gumam pria tersebut.
"Gara-gara nih mulut, asal ceplos saja. Bisa-bisa dia ilfil sama aku," lanjutnya yang masih memukul mulutnya pelan.
Vesha berjalan tanpa menoleh kembali ke srah pria yang ia ketahui sebagai sopir taksi. Shena mengerutkan dahinya saat melihat sahabatnya itu baru saja masuk kedalam salon.
"Dari mana kamu?" tanya Shena pada Vesha.
Vesha menaikkan satu alisnya. "Dari luar, tadi tasku sempat jatuh," jawab Vesha.
Shena hanya ber oh ria, gadis itu segera mengajak Vesha untuk langsung melakukan facial, berhubung salon sedang tidak terlalu ramai. Vita sudah terlebih dahulu ditangani oleh pegawai salon, Vita melakukan facial terlebih dahulu setelahnya ia ingin rambutnya di creambath.
Sementara itu di kampus, Sagara terlihat sedang tertawa bersama Aurel di kantin bersama ketiga sahabat Sagara. Namun sayangnya hanya Sagara dan Aurel saja yang terlihat bahagia di antara ketiga pria yang duduk satu meja dengan mereka berdua.
Walaupun sesekali Marvin dan Langit menimpali obrolan Sagara dan Aurel, tetap saja ada rasa berbeda. Chandra sejak tadi hanya diam dan enggan menimpali obrolan mereka. Ia hanya menjawab sekali dan irit, itupun jika ia ditanya. Jika tidak ada yang bertanya, maka Chandra hanya akan diam sambil memainkan ponselnya.
"Kak Chandra kayaknya sejak tadi diam saja. Apakah Kakak sedang ada masalah?" tanya Aurel pada Chandra.
Chandra menaikkan satu alisnya hingga membuat kerutan setengah di keningnya. "Apakah aku harus mengumbar masalah dalam hidupku ini pada dirimu?" tanya balik Chandra.
Aurel terdiam, senyum lebarnya berganti dengan senyum getir. Gadis itu sempat melirik ke arah Sagara, yang juga sedang menatap Chandra dengan tatapan ketidaksukaannya.
"Tidak perlu sok akrab atau sok dekat denganku. Karena aku tidak suka dengan seseorang yang bahagia diatas penderitaan orang lain," sambung Chandra dengan senyum sinisnya.
"Chan," tegur Sagara.
Chandra masih tersenyum sinis, tatapan ketidaksukaannya terhadap Aurel pun semakin menjadi. Chandra pun melihat ke arah Sagara, lalu ia pun berdiri. Chandra hendak meninggalkan kantin, namun suara Langit menghentikan Chandra.
"Kamu mau kemana, Chan?" tanya Langit seraya berdiri.
Chandra menoleh. "Menemui Vesha untuk minta maaf kepadanya atas apa yang sudah mereka lakukan," sindir Chandra.
Sagara mengepalkan kedua tangannya, begitupun juga dengan Aurel. Sedangkan Marvin semakin merasa sangat bersalah. Langit menatap ketiga orang yang masih duduk di dekatnya. Lalu ia berjalan menghampiri Chandra.
"Aku ikut, Chan." ucap Langit seraya membawa tasnya.
Kedua pria itu pun segera meninggalkan ketiga manusia yang juga sedang menatap kepergian Langit dan Chandra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments