Kencan Pertama

Mereka berlima pun pergi bersama-sama ke cafe tempat mereka biasa berkumpul. Mereka semua membawa motor masing-masing, Vesha sangat senang karena pada akhirnya ia diboncengi oleh Saga. Vesha pun memeluk erat tubuh Saga dari belakang saat gadis itu sudah menaiki motor kekasihnya itu.

Saga meremas kuat stang motornya, hatinya merasa semakin kesal karena sikap agresif Vesha. Ingin rasanya Saga menyingkirkan tangan Vesha dari pinggangnya. Namun ia tidak ingin membuat gadis itu curiga dengan pernyataan cintanya tadi.

Seandainya ketiga sahabatnya tidak ada, mungkin saja Saga akan menurunkan Vesha di pinggir jalan. Sayangnya ketiga sahabatnya itu terus mengawasi Saga dan juga Vesha.

Mereka sudah tiba di cafe dan Vesha menyuruh Langit dan yang lainnya untuk memesan apa saja yang mereka inginkan. Vesha juga mengatakan kalau dirinya lah yang mentraktir mereka semua. Saga tersenyum penuh seringaian, lalu ia memiliki sebuah ide yang mungkin akan membuat Vesha kapok berlagak sok banyak uang.

"Kalau ingin traktir, sebaiknya kamu traktir pengunjung yang ada di cafe ini juga. Ya, anggap saja kamu sedang beramal atau membuang sial," ucap Saga yang seakan sedikit menyinggung perasaan Vesha.

Namun sayangnya itu tidak mempan untuk Vesha. Ia bahkan menyanggupi apa yang baru saja dikatakan Saga.

"Benar apa yang kamu katakan tadi, aku akan mentraktir mereka semua hari ini. Tunggu sebentar, ya!" jawab Vesha yang berdiri dan berjalan menuju ke arah kasir.

Sepeninggalnya Vesha, keempat pria itu saling menatap heran dan bingung pada Vesha.

"Gila tuh cewek bener-bener mau traktir seluruh pengunjung cafe ini?" tanya Langit yang masih menatap punggung Vesha yang sudah berdiri di depan kasir.

"Sekaya apa sih keluarganya si Vesha?" tanya Langit lagi.

"Kayaknya nggak kaya banget seperti aku, Lang. Masih kayaan aku ketibang gadis itu. Tapi, kok dia malah enteng banget menyetujui ucapan Saga," sahut Marvin seraya melirik ke arah Saga.

"Mungkin dia bekerja paruh waktu," celetuk Chandra yang masih fokus pada game di ponselnya.

Ketiganya menoleh ke arah Chandra dengan dahi berkerut.

"Sok tahu," celetuk Marvin.

Chandra menaikkan satu alisnya. "Kan tadi aku bilang mungkin, kalau mungkin kan belum tahu kebenaran yang sebenarnya. Istilahnya masih abu-abu ******," jawab Chandra seraya melihat ke arah Marvin.

"Monyet," kata Marvin yang membenarkan ucapan Chandra.

Chandra mendelikkan matanya. "Monyetnya nggak usah ke arah aku juga, Vin!" seru Chandra.

Marvin hanya tertawa menanggapi kekesalan Chandra, namun Saga hanya diam sambil memutar-mutarkan ponselnya di jemarinya. Langit masih fokus menghitung jumlah pengunjung yang datang ke cafe hari ini.

Mata Langit melotot sempurna sambil mengusap dadanya. Hal itu tentu saja menarik perhatian ketiga sahabatnya.

"Kamu kenapa, Lang?" tanya Marvin.

Langit yang masih mengusap dadanya pelan, menatap ketiga sahabatnya. Lalu ia pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan meja.

"Barusan aku menghitung jumlah pengunjung di cafe ini, dan kalian tahu berapa jumlahnya?" tanya Langit yang membuat ketiganya menggeleng pelan.

"Total semuanya itu ada 80 pengunjung dengan menu yang berbeda-beda. Kalau si Vesha nggak bisa bayarnya bagaimana? Apa taruhan ini masih terus berjalan?" ucap Langit yang mulai terlihat gelisah.

Saga tersenyum sinis. "Kalau dia tidak bisa membayarnya, maka kita berpura-pura tidak saling mengenal satu sama lain," jawab Saga dengan tersenyum licik untuk rencananya.

"Kalian pasti paham 'kan?" lanjut Saga tersenyum smirk.

Chandra menatap tajam ke arah Sagara. "Tapi aku tidak setuju, Ga."

Chandra langsung berdiri dan membuat ketiga sahabatnya menatap heran pada Chandra. Sagara berdecak kesal karena Chandra terlihat membela gadis itu.

"Cih, sok jadi pahlawan banyak uang," kesal Sagara dalam hatinya.

Chandra berjalan menghampiri Vesha, namun belum sampai di depan kasir gadis itu sudah berbalik badan.

"Oh, Chan. Apakah ada lagi yang ingin kamu pesan?" tanya Vesha bingung.

Chandra melirik sekilas ke arah kasir, lalu menatap gadis itu. "Kamu sudah membayarnya? Kalau boleh tahu berapa total keseluruhannya?" tanya Chandra balik.

"Sudah aku bayarkan semuanya," jawab Vesha seraya tersenyum dan mengangguk kecil.

"Berapa?"

"Tidak banyak, sudah sebaiknya kita kembali ke meja kita. Aku sudah pesankan makanan dan minuman untuk kalian," jawab Vesha yang masih tersenyum sambil mendorong tubuh Chandra.

"Tapi.."

"Sudah, ayo!" Vesha menarik lengan Chandra.

Chandra menghela nafasnya dan pasrah ikut bersama Vesha kembali ke meja mereka. Dari jauh Chandra dapat melihat senyum mengejek dari Saga.

Mereka kembali duduk di tempat masing-masing, Chandra menatap sendu ke arah Vesha. Lalu ia pun mendesah gusar dan kembali menatap ke arah lain.

"Seharusnya Saga tidak memperlakukan kamu seperti itu, Sha. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa," gumam Chandra dalam hatinya.

Vesha kembali mengobrol bersama Langit dan Marvin. Sedangkan Saga hanya memilih diam dan tidak mendengarkan apa yang Vesha bicarakan. Chandra hanya menyimak apa yang dikatakan Vesha. Dari pembicaraan Vesha, Chandra ada sedikit tahu apa yang sering menjadi kebiasaan gadis itu.

Acara kumpul-kumpul pun berlangsung cukup lama. Akhirnya mereka mengakhiri perkumpulan tersebut saat waktu sudah menjelang sore. Sagara mengantar Vesha dan berpisah dengan yang lainnya, sepanjang perjalanan. Vesha tersenyum lembut dan sesekali melirik ke arah depannya dimana Saga sedang menyetir motornya. Vesha mengeratkan pelukannya pada pinggang Saga dan membuat Saga mengeratkan genggamannya lagi di stang motor.

Tanpa sadar Saga mempercepat kecepatan kendaraannya, dan membuat Vesha semakin mengeratkan pelukannya.

"Sialan nih cewek, malahan semakin erat pelukannya," gerutu Saga dalam hatinya.

Saga memelankan pacu kendaraannya dan membuat Vesha mengernyitkan dahinya. Saga berhenti di pinggir jalan dekat halte bus.

"Turun!" titah Saga.

Vesha melepaskan pelukannya, dan menatap bingung ke arah Saga yang enggan melihatnya.

Saga menoleh dan menatap kesal pada Vesha. "Kamu nggak dengar aku bilang apa, heoh?" tanya Saga dengan suara membentak.

"Aku bilang turun, kamu tuli?" bentak Gara.

Vesha terhenyak mendengar ucapan Sagara. Kekasih barunya itu sedikit membentak dirinya. Vesha turun dari motor Sagara dan masih memberi tatapan bingung pada kekasihnya itu.

"Kenapa berhenti, Ga?" tanya Vesha dengan lembut.

"Aku nggak bisa nganterin kamu sampai rumah. Aku sudah ada janji sama Bunda, sebaiknya kamu naik bus atau pesan ojek online saja," jawab Saga.

Vesha membuka helmnya dan diambil Saga sedikit kasar dari tangan gadis itu.

"Kamu bisa kan, pulang sendiri?" tanya Saga.

Vesha mengangguk pelan dengan senyum tipisnya. Sebenarnya hatinya merasa sakit saat Saga menuruninya di pinggir jalan seperti itu. Apalagi jalan yang ditempuh untuk sampai ke rumahnya itu cukup jauh.

"Aku jalan, bye!"

Saga langsung tancap gas dan meninggalkan Vesha tanpa bersalah sedikit pun. Vesha menghela nafasnya seraya tersenyum tipis menatap punggung pria yang telah menjadi kekasihnya itu.

"Tidak apa aku ditinggal disini. Positif thinking saja Sha, Bundanya Saga lebih memerlukan Saga. Sebaiknya aku pesan ojek online saja," monolog Vesha.

Beberapa menunggu pesanan ojek onlinenya tiba, Vesha duduk sendirian di halte bus Transjakarta sambil memasang earphone di telinganya. Beberapa menit berlalu, akhirnya ojek online yang dipesan Vesha pun sudah datang.

Episodes
1 Taruhan
2 Menyatakan Cinta
3 Kencan Pertama
4 Kedatangan Shena
5 Sikap Freezer
6 Pengkhianatan
7 Mengakhiri
8 Perubahan Vesha
9 Sakit Hati
10 Menemui Vesha
11 Meminta Maaf
12 Berseteru
13 Perubahan Sikap
14 Sudah Tidak Gila
15 Fitnah
16 Rasa Malu atas Kebodohan
17 Keusilan Bryan
18 Ancaman Bunuh Diri
19 Aksi Gila Aurel
20 Kemarahan Ayah Darel
21 Pilihan Terbaik
22 Permintaan Maaf Sagara
23 Si Mulut Pedas
24 Kecemburuan Aurel
25 Sarang Semut
26 Bryan Heinzee
27 Pasar Malam
28 Ungkapan Perasaan
29 Syulit Bobo
30 Modus Sagara
31 Insiden Kecil
32 Kecemburuan Sagara
33 Perasaan Chandra
34 Penangkapan
35 Keputusan Orang Tua
36 Masa Lalu Aurel
37 Keputusan Hakim
38 Face To Face
39 Kecurigaan Naura
40 Menjadi Sekretaris Bryan
41 Bertemu Marvin
42 Pembegalan
43 Perjodohan
44 Tetap Dalam Pendirian
45 Kegundahan Hati
46 Kedatangan Gricella
47 Pertemuan Gricella & Chandra
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Mencari Vesha
58 Usaha Bryan Mencari Vesha
59 Keterkejutan Naura
60 Permintaan Maaf Naura
61 Kedatangan Bryan Ke Surabaya
62 Bicara Berdua
63 Kedatangan Sagara & Marvin
64 Merindu
65 Rasa Gugup
66 Diskusi
67 Tukar Cincin
68 Pendekatan (Gricella-Chandra)
69 Tebing Koja
70 Fitting Baju
71 Menjelang Pernikahan
72 Pernikahan
73 Sagara
74 Status Baru
75 Aruna Yang Galau
76 Makan Siang Bersama Gara
77 Aku Lebih Mencintaimu
78 Pesta
79 Musibah (Sagara & Aruna)
80 Melamar (Sagara & Aruna)
81 Fitting Baju (Sagara & Aruna)
82 Harta Warisan
83 Resepsi Pernikahan (Sagara & Aruna)
84 Kebahagiaan
85 Akhir Kisah
86 Bonus Chapter
87 Pengumuman Buku Baru
88 Bonus Chapter 2
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Taruhan
2
Menyatakan Cinta
3
Kencan Pertama
4
Kedatangan Shena
5
Sikap Freezer
6
Pengkhianatan
7
Mengakhiri
8
Perubahan Vesha
9
Sakit Hati
10
Menemui Vesha
11
Meminta Maaf
12
Berseteru
13
Perubahan Sikap
14
Sudah Tidak Gila
15
Fitnah
16
Rasa Malu atas Kebodohan
17
Keusilan Bryan
18
Ancaman Bunuh Diri
19
Aksi Gila Aurel
20
Kemarahan Ayah Darel
21
Pilihan Terbaik
22
Permintaan Maaf Sagara
23
Si Mulut Pedas
24
Kecemburuan Aurel
25
Sarang Semut
26
Bryan Heinzee
27
Pasar Malam
28
Ungkapan Perasaan
29
Syulit Bobo
30
Modus Sagara
31
Insiden Kecil
32
Kecemburuan Sagara
33
Perasaan Chandra
34
Penangkapan
35
Keputusan Orang Tua
36
Masa Lalu Aurel
37
Keputusan Hakim
38
Face To Face
39
Kecurigaan Naura
40
Menjadi Sekretaris Bryan
41
Bertemu Marvin
42
Pembegalan
43
Perjodohan
44
Tetap Dalam Pendirian
45
Kegundahan Hati
46
Kedatangan Gricella
47
Pertemuan Gricella & Chandra
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Mencari Vesha
58
Usaha Bryan Mencari Vesha
59
Keterkejutan Naura
60
Permintaan Maaf Naura
61
Kedatangan Bryan Ke Surabaya
62
Bicara Berdua
63
Kedatangan Sagara & Marvin
64
Merindu
65
Rasa Gugup
66
Diskusi
67
Tukar Cincin
68
Pendekatan (Gricella-Chandra)
69
Tebing Koja
70
Fitting Baju
71
Menjelang Pernikahan
72
Pernikahan
73
Sagara
74
Status Baru
75
Aruna Yang Galau
76
Makan Siang Bersama Gara
77
Aku Lebih Mencintaimu
78
Pesta
79
Musibah (Sagara & Aruna)
80
Melamar (Sagara & Aruna)
81
Fitting Baju (Sagara & Aruna)
82
Harta Warisan
83
Resepsi Pernikahan (Sagara & Aruna)
84
Kebahagiaan
85
Akhir Kisah
86
Bonus Chapter
87
Pengumuman Buku Baru
88
Bonus Chapter 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!