Pagi ini seperti biasa Veshabangun dengan hati yang begitu ceria. Ya, memang Vesha adalah gadis yang selalu ceria. Tidak sekalipun gadis itu memperlihatkan kesedihan di wajahnya, walau hatinya terluka Vesha selalu berusaha kuat dan tersenyum di depan orang lain.
Vesha menuruni anak tangga, pagi ini seperti biasa Vesha akan sarapan pagi bersama kedua orang tuanya sebelum ia berangkat ke kampus. Senyum, sapa, ramah itu adalah motto dalam hidup Vesha.
"Pagi Pa, Ma!"
"Pagi sayang," jawab kedua orang tua Vesha.
Adam memperhatikan gerak gerik putrinya sampai dahinya berkerut berbentuk tiga barisan.
"Sepertinya hari ini putri Papa sedang bahagia. Apakah ada seseorang yang membuat princes Papa ini bahagia, hmm?" goda Adam pada putrinya seraya tersenyum.
Vesha mencebikkan bibirnya. "Papa kepo, ih!" jawab Vesha sambil tertawa.
Vita dari arah dapur pun tersenyum melihat interaksi suami dan putrinya. Ia menghampiri keduanya sambil membawa lauk di tangannya.
"Seperti biasa, Pa. Pasti ini menyangkut soal Gara," celetuk Vita sedikit menyinggung putrinya.
"Putri kita ini, Gavesha Arabelle sedang jatuh cinta dengan Sagara Dirgantara," sambung Vita yang masih menggoda putrinya.
Gavesha tersenyum malu. "Apa sih, Ma! Namanya itu Sagara, kenapa sih Mama suka banget panggil Sagara itu Gara?" Gavesha berpura-pura kesal pada Vita.
Namun wajah imut Gavesha bukannya membuat Vita kesal melainkan ingin tertawa dan merasa sangat gemas dengan anak semata wayangnya itu.
"Lho, masih masuk kan? kecuali namanya Sagara tetapi Mama manggil dia Ucup, kan nggak lucu."
Vita langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya, ia tertawa dan membuat Vesha semakin malu dan sedikit kesal karena nama pria yang disayanginya diganti-ganti seperti itu. Adam pun ikut tertawa mendengar istrinya menggoda sang putri.
"Jadi putri Papa ini masih mencintai Sagara, putra Om Darel?"
"Iya, siapa lagi. Sudah jelas putri kita itu suka sama si daun Saga itu, Pa!" celetuk Vita lagi yang membuat Vesha semakin memajukan bibirnya karena kesal dengan sang mama.
Adam tertawa mendengar ucapan istrinya yang memanggil putra temannya yang bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
"Mama," rengek Vesha karena tidak suka Vita mengganti nama Sagara.
Adam ikut tertawa. "Sudah. Ayo, sebaiknya kita makan!" ucap Adam yang pada akhirnya menengahi gurauan istri dan anaknya.
Mereka pun menikmati sarapan pagi ini dengan suasana senang dan bahagia. Vita menatap suami dan putrinya, ia berharap suasana seperti ini akan terus dialaminya. Vita juga selalu berharap dan berdoa untuk Vesha, agar putrinya itu selalu diberi kebahagian.
Vesha berangkat ke kampus menggunakan ojek online, karena Adam tidak bisa mengantarnya. Pagi ini Adam ada meeting yang tidak bisa membuatnya datang telat, ia harus datang tepat waktu.
Gavesha tiba di kampus, hal yang pertama ia cari adalah pria yang telah membuat hatinya selalu berbunga-bunga, bahkan detak jantungnya selalu berdegup kencang. Walau melihat pria yang dicintainya dari jarak jauh.
Matanya berbinar senang saat melihat sosok pria yang saat ini sedang dicarinya. Vesha setengah berlari menghampiri pria itu.
"Sagara," panggil Vesha.
Pria si pemilik nama itu pun menoleh. Wajah pria itu berubah datar dan dingin melihat gadis yang selalu mengusik dirinya. Saga menghela nafasnya jengah, namun dirinya saat itu juga teringat akan taruhan yang diberikan oleh Marvin.
Saga tersenyum paksa, dengan langkah malas ia menghampiri Vesha. Vesha tersenyum manis saat melihat Saga mau menghampirinya, ini adalah momen langka yang dilakukan Saga. Degup jantung Vesha semakin berdetak kencang tidak karuan.
"Oh, jantung bisakah kamu tidak berdetak berlebihan seperti habis dikejar-kejar gukguk?" batin Vesha.
Vesha masih mengatur nafasnya setelah tadi setengah berlari mengejar Saga. Keduanya masih diam, namun beberapa detik kemudian Saga menarik dan membawa Vesha ke suatu tempat yang sudah di tentukan oleh Saga dan Marvin.
Vesha mengulum senyumnya saat melihat tangannya digenggam oleh Saga. menjadi tontonan siswa maupun siswi di kampus tersebut.
Kini mereka berdiri di sebuah taman belakang kampus, yang dimana jarang sekali para mahasiswa bersantai di sana. Sagara menatap lekat Vesha.
"Kamu suka sama aku kan?" tanya Saga.
Vesha mengangguk cepat sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu, kamu mau jadi pacar aku?" tanya pria itu kembali.
Vesha tercengang mendengar apa yang baru saja dikatakan Saga. Vesha masih bungkam dan belum bisa berkata apapun, ini bagaikan sebuah mimpi. Mimpi di dalam dunia nyata, tetapi nyatanya ini tidak mimpi.
"Kamu mau kan?" Saga kembali bertanya.
Vesha kembali mengangguk cepat. "Iya, aku mau." jawab Vesha dengan kecepatan penuh.
Saga tersenyum, namun senyumnya itu bukan karena ia senang diterima oleh Vesha yang selalu mengejarnya. Melainkan hatinya senang karena pada langkah awal ia berhasil membuat Vesha jatuh dalam perangkapnya.
"Mulai sekarang kamu sama aku sudah resmi pacaran, jujur aku sangat senang sekali." ucap Vesha dengan perasaan yang sangat sangat bahagia.
"Eum, ini hari pertama kita jadian. Bagaimana kalau sepulang dari kampus, kita jalan-jalan merayakan hari pertama kita?" tanya Vesha dengan wajah yang begitu bahagia.
Saga melihat binar mata Vesha yang terlihat begitu bahagia. Mata elang itu sedikit melirik ke arah dimana Marvin dan Langit sedang memperhatikannya. Lalu ia kembali melihat ke arah Vesha.
"Nanti aku kabari lagi, sebaiknya kita masuk sebentar lagi ada kelas Pak Arga," jawab Saga.
Vesha mengendurkan senyumnya, dan mengangguk lemah. Ia lupa kalau hari ini adalah jadwal kelas dosen yang sangat killer di kampusnya. Saga berjalan terlebih dahulu, dan disusul segera oleh Vesha.
Setelah keduanya pergi, Marvin dan Langit pun keluar dari persembunyian mereka. Langit menyenggol lengan Marvin.
"Kayaknya kamu harus mempersiapkan uang DP untuk motor yang sudah kamu janjikan pada Saga," celetuk Langit dengan tatapan yang terus mengamati Saga dan Vesha.
Marvin memutar bola matanya malas. "Tenang saja, kalau sudah lewat 6 bulan motor itu akan ada di rumah Saga," jawab Marvin dengan santai.
Langit berdecak kesal. "Sombong banget," gerutu Langit.
Marvin tersenyum miring. "Kamu tahu siapa aku, kan?" ucap bangga Marvin sembari memakai kacamata hitamnya.
"Ayo, masuk ke kelas. Jangan sampai kena skor sama si dosen killer itu!" ajak Marvin
Mereka berdua pun akhirnya berjalan masuk ke dalam kelas, di sana dapat ia lihat Saga sedang duduk bersama Vesha. Vesha terus berceloteh sambil sesekali menggenggam tangan Saga. Namun secara perlahan, Saga menjauhkan tangan ya dari genggaman Vesha.
Dosen yang mereka takutkan pun akhirnya memasuki ruang kelas. Semua mahasiswa terdiam dan tidak ada yang berani berbicara di jam pelajaran dosen tersebut. Kecuali dosen itu bertanya pada mereka.
Waktu terus berlalu, akhirnya jam perkuliahan pun selesai. Semuanya sudah berhambur keluar, namun tidak dengan Vesha, Saga, Langit, Chandra dan Marvin. Ketiganya menghampiri Saga dan Vesha.
"Hai, Vesha!" sapa rama Langit.
Vesha tersenyum. "Hai, juga. Kalian mau kemana setelah ini? Aku ingin ajak Saga jalan-jalan, karena hari ini kami baru saja jadian," ucap Vesha dengan senyum lebar di wajahnya.
Langit dan Marvin berpura-pura terkejut, namun tidak dengan Chandra. Tanpa ada yang tahu, pria itu sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Benarkah?" tanya ulang Marvin.
Vesha mengangguk cepat. "Itu benar. Iya, kan Ga?"
Sagara menghela nafasnya kasar, dan mengangguk pasrah. Marvin menahan tawanya, ia tahu kalau saat ini Saga sudah sangat jengah dengan sikap agresif Vesha.
"Makan-makan, nih!" sindir Langit.
Vesha tersenyum lebar. "Boleh," jawabnya cepat.
"Ayolah! perutku sudah sangat lapar," ucap Langit yang memang sengaja dilakukannya.
Vesha pun langsung berdiri sambil mengambil tasnya. "Ayo," ajak Vesha seraya menarik tangan Saga.
Dengan sangat terpaksa Saga bangun dan mengikuti keinginan Vesha dan teman-temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments