Padatnya jalan raya membuat Vesha sedikit kesal, karena dirinya merasa begitu risih saat bersama pria asing yang baru saja dikenalnya. Walaupun mereka sudah tiga kali bertemu, entah disengaja atau tidak. Tapi, Vesha tetaplah Vesha yang tidak terlalu mau memikirkan soal itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, siapa kamu dan bagaimana kamu tahu tentang aku dan Gara?" tanya Vesha.
Bryan tersenyum tipis. "Bagiku, tidak sulit untuk mendapatkan informasi tentang seseorang yang ingin aku ketahui," jawab Bryan.
Vesha yang tidak puas dengan jawaban Bryan pun merubah posisi duduknya menjadi menyamping menghadap pria itu.
Mata Vesha memicing tajam menatap Bryan. "Who are you?" Vesha kembali bertanya.
Kali ini pertanyaan Vesha terdengar begitu menekan, agar Bryan menjawab pertanyaannya.
Bryan nampak menghela nafasnya. "Oke, aku akan menjawab siapa aku. Tapi aku minta satu hal padamu untuk merahasiakannya dari orang lain," nawab Bryan.
Vesha pun menganggukkan kepalanya. "Oke, aku akan merahasiakannya," ucap Vesha.
Bryan melihat mata Vesha yang terlihat begitu serius. "Aku adalah Bryan Heinzee. Kau pasti tahu nama itu kan?" jawab Bryan.
Vesha tercengang dengan mata melebar setelah mendengar pengakuan dari Bryan. Bryan dapat melihat kalau Vesha sangat terkejut mengetahui siapa dirinya. Namun detik berikutnya Vesha tertawa.
"Hahaha, kamu Bryan Heinzee? Astaga, kau habis minum dimana, heoh? Kalau mabuk jangan disini, Bro." ucap Vesha.
"Mana mungkin seorang putra tunggal pemilik perusahaan taksi dan ojek online memilih menjadi driver taksi online. Jangan harap aku akan percaya dengan ucapanmu itu," lanjut Vesha sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan Bryan.
Bryan tersenyum dan ikut tertawa mendengar jawaban Vesha. "Syukurlah kalau kamu tidak percaya," sahut Bryan seraya mengedikkan bahunya.
Vesha masih terus tertawa. "Leluconmu itu sangat lucu," kata Vesha sambil menepuk lengan Bryan.
Vesha menghentikan tawanya dan mengernyitkan dahinya saat menyadari kalau arah jalan menuju rumahnya sangat berbeda. Ia pun segera menoleh dan memberi tatapan tajam penuh waspada pada Bryan yang sedang mengemudi.
"Kamu mau menculik aku?" tanya Vesha dengan tubuh sedikit menjauh.
Bryan menoleh sebentar, lalu pria itu tersenyum. Bryan tidak mempedulikan pertanyaan Vesha, dan tentu saja itu membuat Vesha kesal. Karena pertanyaannya hanya dianggap angin lalu.
"Hei, kamu tidak dengar aku atau memang sengaja berpura-pura tuli?" Vesha kembali berbicara.
"Apa jangan-jangan dia marah gara-gara aku menertawakannya? Terus dia berencana membalasku dengan cara menculik," batin Vesha dengan perasaan panik dan takut dalam dirinya yang membuat pikirannya seketika berubah menjadi negative.
Sungguh keterdiamannya Bryan dan senyum yang pria itu berikan pada Vesha benar-benar telah membuat gadis itu takut bercampur rasa kesal. Vesha pun mendekat ke arah Bryan, apapun yang terjadi Vesha harus berani melawan.
"Aakkkkhhh…" teriak Bryan.
Mata Vesha melotot dengan tangan yang sudah berada di pinggang Bryan.
"Rasakan ini, cepat hentikan mobil ini atau aku akan terus mencubit pinggangmu ini hingga memar!" ancam Vesha.
Dasar Bryan yang bebal, keras kepala. Ia terus mengemudikan mobilnya, tangan kirinya menahan tangan Vesha dan mencoba menyingkirkannya. Namun gagal hingga akhirnya, pria itu terpaksa menghentikan mobilnya.
[Cit…]
Tubuh bagian kiri Vesha hampir membentur dashboard depan samping kemudi. Beruntung ia menggunakan seatbelt. Bryan menghentikan mobilnya dengan begitu mendadak, Vesha pun kembali menatap tajam ke arah Bryan. Tangannya pun kembali mencubit pinggang Bryan dan membuat pria itu kembali berteriak.
"Ampun, Sha!" Bryan kembali berteriak sambil berusaha menyingkirkan tangan gadis itu.
Bryan berhasil mengambil alih kedua tangan Vesha, hingga kini dirinya lah yang pegang kendali. Bryan menyeringai, sedangkan Vesha sendiri sudah mulai merasakan ketakutan.
Bryan memegang kedua tangan Vesha dan menurunkannya, lalu ia menarik tangan gadis itu hingga tubuhnya sedikit maju. Sekali lagi Vesha dalam keberuntungan, tubuhnya tidak dapat lebih dekat dengan Bryan karena tertahan oleh seatbelt.
Vesha tersenyum mengejek, namun bukan Bryan namanya kalau dia tidak berhasil. Pria itu membuka seatbelt yang dikenakannya, lalu beralih membuka seatbelt Vesha. Vesha sempat memberontak, akan tetapi tenaga gadis kecil itu tidak sebanding dengan tenaga Bryan.
"Kau ingin bermain-main denganku, heoh?" suara barito itu membuat sekujur tubuh Vesha meremang.
Bagaimana tidak, Bryan berkata tepat di samping wajah Vesha. Vesha membeku, bahkan dirinya kesulitan untuk bernafas.
"Kenapa dengan diriku? Ya Tuhan, kenapa aku merasa paru-paruku mulai mengecil, dan jantungku. Kenapa jantungku bergoyang kencang seperti ini?" batin Vesha.
Vesha menoleh dan tanpa sengaja hidungnya bersentuhan dengan hidung Bryan. Aroma nafas mint bercampur kafein dari nafas Bryan begitu melekat di indera penciuman Vesha.
Matanya mulai menelisik visual Bryan, alis hitam dengan bulu tebal dan rapi. Vesha menurunkan pandangannya ke hidung mancung dan kokoh milik Bryan. Terakhir matanya tertuju pada bibir tipis dan tahi lalat di bawah bibir yang membuat wajah Bryan terlihat manis jika diperhatikan lebih dalam.
Bukan hanya Vesha yang melakukan hal tersebut. Bryan pun semakin memeta lekukan setiap inci wajah cantik Vesha.
"Kau benar-benar gadis tercantik yang pernah aku temui, Sha. Bukan hanya wajahmu saja yang cantik, namun hatimu pun sangat cantik. Aku harap kau bisa membuka hatimu setelah apa yang terjadi dalam hidupmu," gumam Bryan dalam hatinya.
Ya, Bryan sudah mengetahui semuanya dan benar-benar mencari tahu tentang Vesha. Bahkan Bryan juga tahu apa yang terjadi antara Vesha dan Saga. Vesha menelan salivanya dengan kasar, jantungnya semakin berdetak kencang, karena ini pertama kalinya ia berada di posisi sangat dekat dengan seorang pria. Saat dulu bersama Saga, ia tidak pernah melakukan skinship sama sekali.
Vesha yang teringat akan perlakuan Saga dulu, langsung tersadar dan segera menolehkan wajahnya ke arah luar jendela. Bryan tersenyum melihat gadis di depannya ini saat sedang terlihat gugup dan salah tingkah.
Bryan pun kembali merapikan posisi duduknya. Pria itu melirik Vesha sebentar, dan kembali melajukan mobilnya. Vesha juga kembali memberi tatapan tajam pada Bryan.
"Sebenarnya kamu mau bawa aku kemana, sih?" tanya Vesha untuk kedua kalinya. Namun kali ini suaranya terdengar lembut dan sedikit gugup.
"Ke suatu tempat," jawab Bryan.
Vesha memutar bola matanya malas dan ia kembali mendengus kesal. "Apa susahnya sebutin nama tempatnya. Ribet banget, sih!" ketus Vesha.
Bryan tersenyum mengetahui Vesha kembali kesal dengan dirinya. Nampaknya menggoda gadis itu adalah keseruan tersendiri baginya. Vesha masih menekuk wajahnya, tatapannya tetap tidak berubah. Tatapan tajam penuh curiga diberikannya untuk Bryan.
"Dasar cowok gila, dari tadi senyum-senyum sendiri!" Vesha kembali berceletuk dan mengatai Bryan.
Namun sayangnya, apa yang dikatakan Vesha tidak pernah diambil hati oleh Bryan. Karena Bryan suka dengan gadis yang sedikit cerewet. Vesha yang sudah malas berbicara pada Bryan pun kembali menatap ke luar jendela sebelah kirinya.
Mobil berhenti di sebuah danau, Bryan pun mematikan mesin mobilnya. Vesha mengerutkan dahinya saat melihat ke sekeliling tempat itu. Lalu ia pun menatap pria di sebelahnya yang sudah membuka pintu mobil. Bryan keluar dari dalam mobilnya terlebih dahulu. Vesha pun ikut menyusul keluar dari mobil.
Bryan berdiri di depan mobilnya, sambil menyandar. Menatap lurus ke arah danau buatan yang terlihat bersih. Vesha sempat melirik ke arah Bryan, lalu ikut menatap ke arah danau.
"Bagaimana?" Bryan memulai bertanya pada Vesha tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari danau itu.
Vesha mengerutkan dahinya seraya menoleh dan menatap Bryan. "Apanya yang bagaimana?" tanya balik Vesha pada pria itu.
"Kamu itu benar-benar pria aneh, tadi senyum-senyum sendiri. Sekarang bertanya dengan kata-kata yang sedikit ambigu," sambung Vesha sambil melipat tangannya di depan dada.
Bryan menaikkan satu alisnya dengan senyum miringnya. "Ambigu bagaimana? pikiran kamu saja yang aneh," jawab Bryan yang terlihat sedikit menggoda Vesha.
Vesha mendengus dan hendak menyahuti ucapan Bryan, tetapi pria itu terlebih dahulu menyerobot Vesha.
"Tadi itu aku bertanya 'bagaimana', maksudnya itu soal danau ini. Bagaimana menurutmu soal tempat ini? begitu maksud aku," jelas Bryan yang membuat Vesha terdiam.
Vesha mencebikkan bibirnya. "Makanya lain kali kalau bertanya itu diperjelas, jangan gantung begitu. Kayak hubungan aja digantung-gantung," sahut Vesha tidak mau kalah.
"Tapi aku tidak akan pernah menggantung suatu hubungan. Aku selalu serius soal itu, karena aku pria yang sudah memiliki sebuah komitmen dalam setiap hubungan dengan seorang perempuan," ucap Bryan dengan senyuman menggoda.
Vesha menaikkan satu alisnya, sekali lagi gadis itu memberi tatapan mencurigakan pada Bryan, bahkan saat ini gadis itu juga sedang menatap sinis ke arah pria itu.
"Terserah," Vesha berkata sambil berlalu begitu saja.
Meninggalkan Bryan yang sedang tertawa kecil melihat ekspresi wajah Vesha. Vesha tidak peduli dengan Bryan, gadis itu terus berjalan mengitari danau tersebut. Bryan pun menyusul langkah gadis itu dan mengikuti Vesha dari belakang.
Vesha berjalan sambil merentangkan kedua tangannya, ia tersenyum dengan kepala menengadah ke atas. Dilihatnya pohon rindang yang melindungi dirinya dari sinar matahari. Vesha menghirup dalam-dalam aroma khas dari pohon yang ada di sekelilingnya.
Sekeliling area danau tersebut ditumbuhi dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan besar. Bisa dikatakan tempat itu adalah hutannya kota. Bryan tersenyum saat melihat Vesha berdiri sambil memejamkan matanya.
Seketika ide jahil pun melintas di pikiran Bryan. Pria itu mendekat dengan langkah pelannya menghampiri Vesha. Bryan mendekatkan wajahnya di samping telinga gadis itu.
"Menikmati suasana alamnya, hmm?"
"Aaakkkhhh," jerit Vesha
Gadis itu sangat terkejut setelah mendengar suara Bryan tepat di telinganya. Vesha memicingkan matanya dengan posis tangan terkepal yang siap menghajar Bryan. Bryan tertawa saat melihat tingkah Vesha.
Vesha menurunkan tangannya perlahan, namun wajahnya semakin tertekuk saat melihat Bryan yang tertawa terbahak-bahak, Vesha sadar kalau Bryan sangat senang menggoda dirinya dan juga pria itu senang ketika melihatnya kesal dengan Bryan.
"Dasar sakit jiwa," celetuk Vesha sambil menghentakkan kakinya sebelum kembali melanjutkan jalannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments