Selama mereka nonton film bioskop, Shena terus memperhatikan Vesha. Gadis itu seperti tidak sedang menonton film di layar lebar tersebut, namun Vesha terlihat seperti orang yang sedang melamun.
Mereka keluar dari gedung bioskop ketika langit sudah berubah menjadi gelap. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka melewati jam makan malam mereka, beruntung tadi saat menonton film Vesha dan Shena sudah banyak mengemil kentang dan popcorn.
"Langsung pulang atau mampir ke suatu tempat?" tanya Shena
"Langsung pulang saja,"
Shena mengangguk dan mereka pun keluar dari gedung dan segera menuju parkiran.
Setelah tiba di rumah, Shena langsung pamit pulang karena sudah malam. Mengingat besok dia harus berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Kampus Shena dan Vesha berbeda, Shena memilih mengambil jurusan kedokteran. Sedangkan Vesha mengambil jurusan manajemen.
Vesha berjalan gontai menaiki anak tangga. Kebetulan kedua orang tuanya masih berada di Surabaya, karena sedang menjenguk sang Nenek yang sedang sakit.
[Sagara Pov On]
Sejak semalam aku memang tidak mengaktifkan ponselnya. Aku hanya mengaktifkan ponselku yang satu lagi, aku sengaja memiliki 2 ponsel semenjak gadis rese itu menggangguku melalui pesan singkat WhatsApp sebelum kami menjadi sepasang kekasih. Aku langsung membeli ponsel baru untuk privasiku. Nomor baruku tentu saja hanya ketiga sahabatku saja yang tahu.
Aku juga meminta pada mereka untuk tidak memberitahukan nomor ponselku yang baru. Saat aku hendak menuju dapur, aku mendengar suara bel rumah berbunyi.
Aku sengaja mengintip dari jendela, "Ngapain sih, tuh cewek kesini? keras kepala juga nih anak," gerutuku.
Lalu aku tidak sengaja melihat Mbak Surti yang ingin keluar membuka pintu. Segera saja aku menghampiri dirinya.
"Mbak," panggilku
Mbak Surti menoleh. "Iya, Mas Gara. Ada apa?" tanya Mbak Surti padaku.
"Mbak kalau tamunya cariin aku, bilang saja aku lagi keluar, ya!" kataku.
"Lho, memangnya kenapa Mas?"
"Sudah! bilang saja seperti itu. Bilang akunya nggak dirumah,"
Mbak Surti mengangguk pelan. "Ya sudah! Mbak ke depan dulu, siapa tahu tamunya bukan cariin Mas Gara," kata Mbak Surti dan langsung aku mengangguk padanya.
Sepeninggalnya Mbak Surti aku langsung kembali menuju jendela, dari balik hordeng aku melihat mereka sedang berbincang. Aku langsung menghindar dari hordeng saat tatapan mata Vesha melihat ke arah jendela.
"Aduh, ketahuan nggak ya?"
"Ah, masa bodoh amat lah. Mau ketahuan atau nggak, biarin saja. Biar dia mikir sekalian kenapa aku menjauhinya,"
Aku kembali menunggu Mbak Surti di ruang tengah, tidak lama Mbak Surti pun datang. Tanpa aku bertanya pun Mbak Surti sudah berjalan menghampiriku.
"Mas Gara, tadi ada dua gadis cariin Mas Gara. Aku udah tadi bilang sesuai yang Mas Gara katakan," kata Mbak Surti.
Aku pun tersenyum, "Bagus Mbak. Nanti aku beliin coklat, ya!" jawabku seraya menampilkan cengiran.
Mbak Surti nampak berdecak kesal, seperti biasa dia memang suka sekali kesal saat aku menjanjikannya sebuah coklat.
"Heleh, palingan juga Mas Gara beliin Mbak Surti coklat koin atau coklat yang merk nya ayam jago," katanya seraya mencebikkan bibirnya.
Aku tertawa melihat tingkah Mbak Surti. "Nggak Mbak, aku janji kali ini aku beliin coklat yang di Indo Juni," jawabku.
"Haah, males!" sahutnya yang langsung berjalan menuju belakang rumah.
Tawaku semakin pecah melihat muka Mbak Surti yang semakin kesal denganku.
[Sagara Pov End]
Keesokan paginya, Vesha seperti biasa selalu berangkat pagi. Itu dilakukan karena ia sangat ingin bertemu dengan kekasihnya yang beberapa hari ini semakin menjauh dan bahkan Vesha juga merasa kalau Gara sengaja menghindari dirinya.
Vesha menunggu Gara di tempat parkir, dan tidak lama pun yang ditunggu akhirnya datang. Vesha segera menghampiri Gara, dan betapa terkejutnya Gara saat melihat Vesha ada di sampingnya.
"Ga, aku ingin bicara sama kamu," kata Vesha.
"Tinggal bicara saja juga, ribet banget sih!" sahut Gara.
"Kamu kemana saja sih, akhir-akhir ini aku susah banget hubungin kamu. Kamu juga nggak ada kabar. Aku khawatir banget tau nggak sih, Ga!"
Gara memutar bola matanya malas. "Nggak usah lebay banget, biasa saja kali!"
"Kok kamu jawabnya begitu sih, Ga? Apa aku ada salah sama kamu?" tanya Vesha.
Sagara menaikkan satu alisnya. "Salah kamu tuh banyak, gara-gara kamu aku terpaksa jalani ini semua selama 6 bulan. Untungnya dua Minggu lagi hubungan ini berakhir," ucap Gara yang hanya berani ia katakan di dalam hatinya.
Ingin rasanya Gara mengatakan itu semua sama Vesha. Namun, mengingat perjanjian kalau dirinya harus menjadi kekasih Vesha selama 6 bulan demi sebuah motor yang dijanjikan oleh Marvin. Tentu saja Gara tidak ingin usahanya itu sia-sia karena dirinya yang keceplosan dalam bicara.
Gara menghela nafasnya. "Aku akhir-akhir ini lagi ada masalah di keluarga aku, jadi maaf kalau aku menghindar dari kamu. Sebaiknya kita masuk ke kelas, sebentar lagi pelajaran dimulai," jawab Gara.
Vesha terdiam mendengar jawaban Gara. Ditatapnya kembali Gara yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan area parkir. Vesha menghela nafasnya kasar, lalu ia mengikuti Gara dari belakang.
"Ga, tunggu!" ucap Vesha seraya berlari mengejar Gara.
Gara tidak menanggapi panggilan Vesha, pria itu malah terus berjalan. Sepertinya Gara memang sudah sangat jengah dengan sikap Vesha yang terlalu berlebihan.
Mereka tiba di kelas, jam pertama perkuliahan pun dimulai. Selama dosen menerangi materi Vesha sesekali melirik ke arah Gara yang duduk di depannya. Gara sengaja duduk berjauhan dengan Vesha. Gara memilih duduk bersama Chandra dan Langit.
Hingga jam perkuliahan selesai, Gara langsung berdiri dan keluar dari dalam kelas dengan tergesah-gesah. Vesha pun ikut bergegas mengejar Gara, namun sayangnya dia kehilangan jejak kekasihnya itu.
"Kamu berubah, Ga. Sikap kamu ke aku semakin kaya freezer," keluh Vesha dalam hatinya.
Langit, Chandra dan Marvin pun saling melirik. Ketiganya melihat jelas wajah murung Vesha. Mereka bertiga pun menghampiri gadis itu.
"Sha," panggil Langit pada Vesha.
Vesha pun menoleh dan tersenyum. "Ya, ada apa?" tanya Vesha yang menutupi rasa sedih atas sikap Gara terhadapnya.
Ketiga pria yang kini berdiri di dekat Vesha sempat tertegun dengan ekspresi yang diberikan oleh gadis itu.
"Gara mana?" tanya Langit berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Vesha yang masih tersenyum menjawab begitu santai pertanyaan Langit. "Tadi dia izin pulang duluan. Katanya sih, tadi lagi ada urusan sama keluarganya," jawab Vesha.
Ketiganya masih bungkam dan tidak menduga akan sikap Vesha yang terlihat tenang dan tidak murung ataupun kesal pada kekasihnya itu.
"Eum, boleh aku bicara sama kalian?" tanya Vesha yang masih bersikap tenang di depan ketiga sahabat kekasihnya itu.
Kini mereka sudah berada di kantin kampus. Setelah Marvin memesan minuman untuk mereka, Marvin kembali ke meja mereka.
"Apa ada yang ingin kalian ceritakan tentang Gara? karena yang aku dengar dari dirinya, kalau dia sedang ada masalah dalam keluarganya. Apakah Gara ada cerita dengan kalian?" tanya Vesha.
Ketiga pria itu saling melirik dan kembali menatap ke arah Vesha. Langit berdehem, dan sedikit membenarkan sedikit posisi duduknya.
"Sebenarnya kami juga tidak tahu dengan masalah yang ada di keluarga Saga, Sha. Karena kami memang tidak akan mencari tahu sebelum Saga sendiri yang menceritakan semuanya pada kami," jawab Langit.
Langit menelan salivanya. "Maaf, Sha. Aku terpaksa harus berbohong sama kamu!" batin Langit.
Vesha tersenyum. "Begitu ya, aku hanya khawatir saja dengan dirinya. Aku takut masalah keluarganya sangat berat hingga membuat Gara stres. Aku hanya takut Gara melukai dirinya sendiri," ungkap Vesha seraya meremas jemarinya sendiri.
"Kamu tenang saja, Sha. Kami selalu ada untuk Saga," kata Chandra.
Langit dan Marvin pun mengangguk. "Iya, kamu tenang saja!" sambung Marvin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Dimas Hanidar
lanjut thor semangat
2023-06-15
0