Vesha menatap datar ketiga pria yang masih berdiri di hadapannya. Begitupun juga dengan Shena.
"Apakah Sagara menyuruh kalian untuk datang, dan melaporkan kepadanya tentang kondisiku. Setelah apa yang sudah dirinya lakukan, hmm?" selidik Vesha pada ketiganya.
"Jika benar, tolong katakan padanya. Saat ini aku dalam kondisi baik-baik saja selepas apa yang sudah ia lakukan terhadap diriku," sambung Vesha dengan intonasi penuh ketegasan.
Marvin menggelengkan kepalanya. "Tujuan kami datang ke sini bukan itu, Sha. Tapi kedatangan kami kesini, hanya untuk minta maaf sama kamu. Terutama aku yang sudah mengusulkan taruhan ini pada Saga," jawab Marvin.
"Iya, Sha. Apa yang dikatakan Marvin benar. Kami hanya ingin minta maaf sama kamu. Terutama minta maaf atas kesalahan Saga yang sudah melukai hatimu," sambung Langit membenarkan ucapan Marvin.
Shena yang mendengarkan perkataan Marvin dan Langit langsung memutar bola matanya.
Vesha tersenyum sinis dengan tatapan datar dan terkesan dingin. "Untuk apa kalian minta maaf, semuanya sudah terlambat." jawab Vesha seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Kalaupun aku memaafkan kalian, belum tentu aku lupa atas apa yang sudah teman sekaligus sahabat kalian itu lakukan terhadap diriku," lanjut gadis itu.
Shena yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. Karena ia merasa kalau dirinya memang harus membantu membela sahabatnya itu.
"Mohon maaf aku menyela, yang berbuat salah itu teman kalian si Sagara. Kenapa bukan dia yang datang ke sini dan minta maaf langsung pada Vesha. Bukan malah menyuruh antek-anteknya untuk datang minta maaf sebagai perwakilannya. Suruh dia datang dan temui Vesha secara baik-baik, bukan malah ngumpet seperti seorang pengecut," celetuk Shena yang yang masih memberi tatapan sinis pada ketiga pria itu.
Ketiga pria itu tertegun mendengar ucapan ketus dari Shena. Ketiganya pun kembali melirik, mereka pun membenarkan apa yang dikatakan gadis di hadapannya itu. Walaupun ini pertama kali melihat Shena, ketiga pria itu dapat menilai dengan baik kalau gadis itu sangat galak.
"Tadi kami sudah mengajaknya untuk ikut datang ke sini. Tetapi kebetulan sekali hari ini Saga sibuk," jawab Chandra sedikit berbohong.
Shena tertawa hambar. "Sibuk sama cewek barunya di apartemen, heoh?"
Skak mat, ketiganya bungkam dan tidak bisa menjawab apa yang baru saja dikatakan Shena. Bagaimana Shena tahu soal dimana tempat Aurel tinggal. Semuanya Shena ketahui dari Vesha. Vesha juga sangat mengenal Aurel, karena gadis itu sering membantu Aurel dalam segala materi yang baginya sulit.
Vesha dan Aurel pun berkenalan saat gadis itu sedang kesulitan di toilet. Kala itu Aurel yang sedang datang bulan, tanpa disadarinya celananya telah tembus bercak darah segar dari menstruasinya. Saat itu kebetulan sekali Vesha juga sedang datang bulan dan memberikan pembalut cadangan untuk Aurel. Vesha juga meminjamkan sweaternya untuk menutupi bagian belakang celana Aurel. Sejak saat itulah mereka semakin dekat, Aurel juga tahu kalau sejak lama Vesha menyukai Sagara.
Vesha mengepalkan kembali tangannya, seketika pikirannya mulai kemana-mana tentang Sagara. Mengingat kalau Aurel hanya tinggal sendiri di apartemennya. Tidak menutup kemungkinan kalau mereka berdua melakukan hal yang terlarang sebelum janur kuning melengkung.
Pikiran buruk itu melintas begitu saja dan membuat Vesha membenci dirinya sendiri. Vesha menggelengkan kepalanya seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya secara kasar.
"Sebaiknya kalian pergi dari rumahku!" usir Vesha pada ketiga pria itu.
Chandra merasa ini belum selesai. "Tapi, Sha. Dengarkan dulu pen…"
Vesha menatap tajam pada Chandra. "Pergi sebelum aku berteriak," Vesha kembali mengusir mereka dengan nada suara terdengar sangat geram.
Chandra menghela nafasnya. "Oke, kami akan pergi. Namun sebelum itu, sekali lagi aku dan yang lainnya minta maaf atas kejadian ini. Maafkan kami, Sha!" ungkap Chandra terasa begitu tulus pada Vesha.
Vesha tidak menjawab, namun Shena menjadi wakil dari Vesha.
"Sudah, sebaiknya kalian bergegas pergi dari rumah ini!" ucap Shena seraya mengusir ketiga pria tampan itu.
Tanpa berkata-kata lagi Langit, Marvin dan Chandra bergegas keluar dari rumah Vesha. Langkah mereka saat keluar dari rumah Vesha terasa begitu berat. Bahkan sesekali ketiganya menoleh melihat ke arah Vesha yang enggan membalikkan tubuhnya untuk sekedar mengantarkan mereka sampai pintu gerbang.
Ketiga pria itu pergi dengan perasaan yang masih sangat mengganjal dalam diri masing-masing. Perasaan belum lega karena Vesha belum mau memaafkan mereka. Vesha lebih dulu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Shena, membuat ketiganya merasa semakin bersalah pada gadis itu. Lalu ketiganya melihat ke arah Shena yang juga sedang menatap ketiganya secara bergantian.
"Kami pamit, assalamualaikum." ucap Chandra
"Waalaikumsalam," jawab Shena dengan aura dinginnya.
Ketiganya menaiki motor masing-masing dan pergi meninggalkan rumah Vesha. Shena menghela nafasnya dan menoleh seraya melihat ke arah dalam rumah. Gadis itu pun segera masuk menyusul Vesha yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam.
Shena pun masuk kedalam rumah dan tujuannya saat ini adalah kamar Vesha. Setelah tiba di depan pintu kamar sahabatnya itu, Shena mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Vesha. Shena mencoba membuka handle pintu, namun sayangnya pintu terkunci.
Shena menghela nafasnya. "Aku harap kamu tidak menangis lagi, Sha. Jika itu terjadi maka aku akan benar-benar menghajar Gara dan ketiga teman-temannya," gumam Shena sambil menatap nanar pintu kamar sahabatnya.
Shena memgambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan. "Aku akan menunggumu di bawah," gumam Shena saat mengetik pesan pada ponselnya.
Shena mengirim pesan ke ponsel Vesha, mungkin dengan cara seperti itu Vesha akan tahu kalau dirinya belum pulang. Sementara itu di dalam kamar, gadis yang saat ini sedang dikhawatirkan oleh Shena baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Vesha baru saja selesai mandi yang kedua kalinya. Sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Vesha meraih ponselnya. Lalu ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Shena.
Vesha pun bergegas memakai pakaiannya, gadis itu tidak ingin sahabatnya menunggu terlalu lama. Setelah dirasa sudah selesai, gadis itu pun segera keluar kamar dan turun ke bawah.
"Aku pikir kamu sudah pulang, Shen?" ucap Vesha setelah melihat sahabatnya sedang nonton televisi.
Shena menoleh dengan memberi tatapan horornya. "Memangnya kamu nggak baca pesanku?" tanya balik Shena sambil mendengus kecil.
"Apa kamu habis menangis?" selidik Shena yang masih memberi tatapan horor.
Vesha menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawabnya.
"Kamu mungkin bisa membohongi orang lain dengan menutupi mata bengap kamu itu dengan lapisan make up tipis. Tapi tidak denganku, Sha." celetuk Shena.
Vesha berdecak. "Cih, matamu tajam sekali. Udah kaya mata dewa di film Fast And Farious," sahut Vesha.
Shena tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Izinkan aku menghajar mereka, Sha. Rasanya belum lega hatiku, kalau belum memberi pelajaran pada Sagara dan ketiga temannya itu," ucap Shena.
"Jangan, sahabat Gara yang lainnya belum tentu bersalah. Biarkan saja mereka mendapat ganjarannya sendiri tanpa mengotori tanganmu itu. Ingat perawatan kulit dan kukumu itu mahal, lho!" jawab Vesha sambil tertawa kecil.
Shena berdecak kesal. "Pesankan aku makanan dong, laper nih!" celetuk Shena.
Dahi Vesha berkerut. "Lho, Mamaku lagi nggak masak ya?" tanya Vesha.
Shena menggelengkan kepalanya. "Mama baru saja pergi, tadi Bu RT datang. Katanya minta ditemenin ke butik buat milih baju yang cocok sama si Bu RT," jawab Shena.
Shena merubah posisinya menghadap ke samping dimana Vesha duduk. "Bagaimana bisnis onlinenya? Banyak yang minat?" tanya Shena
"Alhamdulillah lancar," jawab Vesha seraya tersenyum.
"Butik Mama juga semakin ramai," lanjut Vesha.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kalau kamu atau Mama butuh bantuan, beritahu aku saja. Siapa tahu aku bisa membantu kalian," ucap Shena.
Vesha mengangguk. "Iya, nanti kalau aku sedang ramai orderan. Aku pasti panggil kamu buat bantuin aku jualan online," jawab Vesha seraya tertawa kecil.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak saling menggoda satu sama lain. Vesha juga tidak lupa memesan makanan melalui aplikasi delivery order untuk dirinya dan juga Shena.
Marvin menghentikan laju motornya saat merasakan ponselnya bergetar. Langit dan Chandra yang berada di belakang Marvin pun ikut berhenti.
"Ada apa, Vin?" tanya Langit sedikit berteriak.
Marvin menunjukkan ponselnya. "Saga ada di apartemen," jawab Marvin
"Barusan dia kirim pesan dan menunggu kita bertiga di sana," lanjut Marvin.
Langit menoleh ke arah Chandra, dan Chandra pun mengangguk mengiyakan ajakan Saga. Mereka kembali menjalankan motor masing-masing dengan tujuan rumah Sagara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments