Keesokan harinya, Vesha sudah mulai berangkat kembali ke kampusnya. Pagi ini ia akan berangkat bersama sang Papa. Karena semalam Vesha meminta Adam untuk mengantarnya terlebih dahulu. Adam juga telah menyampaikan undangan tentang pesta perayaan ulang tahun pernikahan Darel pada Vita dan Vesha.
Vesha hanya diam dan tidak berkomentar saat Adam mengatakan kalau mereka harus datang. Karena merasa tidak enak dengan Darel dan Safira yang sudah mereka kenal sejak masih remaja dulu. Vesha hanya mengangguk, bagaimanapun juga Vesha tidak bisa menghindar untuk tetap bertemu dengan Saga. Mengingat hubungan kedua orang tuanya dengan orang tua Saga sangat baik.
Vesha merapikan kembali rambutnya, hari ini gadis itu mengenakan kaos hitam lengan sabrina yang dipadukan dengan celana cargo hitam dan sneakers putihnya. Aura kecantikan Vesha terlihat semakin bersinar.
Adam tersenyum melihat putrinya dengan penampilan yang sangat berbeda. "Putri Papa sudah siap?" tanya Adam pada Vesha.
Vesha pun mengangguk. "Sudah, Pa!" jawabnya seraya tersenyum.
Adam pun segera menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya keluar dari halaman rumah mereka.
Beberapa menit berlalu, kini mobil Adam telah tiba di halaman kampus Vesha. Sebelum Vesha turun, gadis itu sempat mencium tangan sang papa.
"Belajar yang giat biar cepat lulus," pesan Adam pada sang putri.
"Siap, Pa. Vesha akan terus giat belajar untuk secepatnya menyelesaikan skripsi yang sedang Vesha kerjakan," jawab Vesha.
Adam pun tersenyum, putrinya ini memang selalu giat belajar. "Pulangnya mau Papa jemput?" tanya Adam.
Vesha menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak usah, Pa. Nanti Vesha naik taksi online saja," jawab Vesha.
Adam pun mengangguk, dan Vesha keluar dari dalam mobil. Vesha melambaikan tangannya sampai mobil sang papa sudah keluar dari area kampus. Tanpa disadari Vesha ada beberapa pasang mata menatap kedatangan mereka.
Saga dan Aurel juga baru saja tiba di kampus. Mereka berjalan bersisian sambil bergandengan tangan. Saga dan Aurel melihat kedatangan Vesha dengan penampilan barunya. Saga cukup tertegun melihat perubahan pada Vesha. Vesha melihat keduanya, dan tangannya kembali terkepal kuat.
Vesha menghela nafasnya, dan melanjutkan kembali langkahnya. Saga dan Aurel sempat berhenti saat Vesha berjalan menghampiri keduanya. Saga pikir Vesha akan membuat ulah dengan dirinya atau dengan Aurel. Namun nyatanya Vesha melewati keduanya dengan tatapan datar dan terlihat begitu dingin.
Hati Saga mencelos saat pertama kali melihat Vesha yang bersikap dingin padanya. Saga mengerutkan kedua alisnya saat ia merasakan ada yang nyeri dalam hatinya ketika Vesha mengabaikan dirinya.
Aurel pun merasakan aura berbeda dari Vesha. Aurel membalikkan tubuhnya dan menatap punggung Vesha dengan keheranan. Lalu ia kembali berbalik badan dan melihat sekilas ke arah Saga.
"Itu tadi Kak Vesha kan?" tanya Aurel pada Saga.
Namun Saga hanya diam dan tidak menimpali pertanyaan Aurel. Saga menatap Aurel dan langsung mengantarkan gadis itu ke kelasnya. Setelah mengantar Aurel ke kelasnya, Saga kembali menaiki tangga untuk segera menuju kelasnya.
Saat masuk ke dalam kelas ia tertegun saat melihat Vesha yang duduk di depan dan sedang sibuk dengan laptopnya. Saga berjalan masuk sambil terus memperhatikan Vesha. Namun perhatian gadis itu sedang terfokus pada laptopnya.
Saga memilih duduk tidak jauh di dekat Vesha. Marvin dan Langit hanya memperhatikan Saga dari pojok kanan. Sedangkan Chandra tidak peduli dengan kedatangan Saga.
Materi pertama pun dimulai, Vesha menyimak dengan baik apa saja yang disampaikan oleh dosennya. Setelah satu jam pembelajaran materi untuk pembahasan skripsi akhir tahun, akhirnya selesai dengan sangat baik. Pengarahan yang diberikan cukup jelas dan dapat diterima oleh mahasiswa lainnya.
Vesha merapikan laptop dan bukunya untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Chandra bergegas menghampiri Vesha dan berdiri di depannya. Membuat Saga, Marvim dan Langit tercengang dengan keberanian Chandra.
Chandra melihat ke sekelilingnya. "Sha, bisa kita bicara? Aku tunggu di taman belakang," tanya Chandra.
Vesha hanya menatap datar pada Chandra, belum sempat Vesha menjawab pria itu sudah terlebih dahulu meninggalkan kelas. Vesha hanya berdecak kesal, karena harus bertemu dan berbicara kembali pada orang-orang yang sudah membuatnya jengah.
Vesha terpaksa menuruti ajakan Chandra, gadis itu pun segera keluar dari kelas. Saga mengepalkan kedua tangannya, ada rasa tidak rela saat melihat Vesha masih mau berbicara pada Chandra. Saga tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Chandra pada Vesha. Sedangkan Marvin hanya melirik sekilas Langit, lalu mengajak pria itu untuk mengikuti Chandra.
Vesha berjalan pelan menuju kantin, karena taman yang dimaksud oleh Chandra ada di dekat kantin. Saat hendak menuju kantin, tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh seseorang.
Vesha menatap tajam pada orang tersebut. "Ada apa?" tanya Vesha dengan suara terdengar datar.
Orang itu pun menatap kesal pada Vesha. "Apa maksudmu merubah penampilan seperti ini? Ingin menarik perhatian Kak Saga lagi, heoh?" tanya orang itu.
"Ternyata masih belum sadar juga, ya? Kamu kan tahu kalau Kak Saga itu hanya mencintai aku, Aurel Sachiara." lanjut gadis itu.
Vesha menyunggingkan senyum sebelah sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Untuk apa aku repot-repot kembali mengejar pria yang tidak pernah mencintaiku. Bukankah penampilanku yang sekarang itu menguntungkan dirimu?" ucap Vesha dengan senyum smirk di wajahnya.
"Ternyata kamu tidak mengenal Gara dengan baik, ya? Gara itu tidak suka dengan gadis berambut pendek. Maka dari itu aku memotong rambut panjangku, agar dia semakin membenciku. Seharusnya kamu berterima kasih padaku. Karena aku kamu bisa dekat dengan Gara, walau dengan cara licik,"
Vesha sedikit memajukan tubuhnya. "Dengan cara menusukku dari belakang," lanjut Vesha yang langsung berjalan meninggalkan Aurel.
Aurel mengepalkan kedua tangannya, ia merasa kalau Vesha sangat keterlaluan berkata seperti itu padanya. Aurel berbalik badan dan menatap tajam pada punggung Vesha.
"Awas kamu, Vesha. Aku akan buat Saga semakin membenci dirimu," gumam Aurel dengan gigi yang bergemeretak.
Vesha terus berjalan melewati kantin dan menuju taman. Dari kejauhan Vesha sudah dapat melihat Chandra yang sedang duduk sambil minum minumannya. Vesha berdiri tepat di sebelah Chandra dengan tatapan dinginnya.
Chandra mempersilakan Vesha untuk duduk di sebelahnya. Vesha pun duduk tanpa menoleh sedikitpun ke arah Chandra. Mereka duduk duduk bersebelahan dengan jarak cukup jauh. Chandra sengaja mengajak Vesha untuk berbicara berdua, karena ia pikir kalau ada kedua sahabatnya malah semakin runyam.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Chan?" tanya Vesha yang menatap lurus ke arah air mancur buatan di taman itu.
Chandra menoleh sekilas ke arah Vesha yang nyatanya enggan melihat ke arahnya. Chandra pun tersenyum tipis menyadari sikap Vesha yang berubah.
"Aku hanya ingin minta maaf padamu. Bukannya aku ingin menunjukkan diriku tidak terlibat dalam rencana Saga dan Marvin. Tapi, memang pada kenyataannya aku dan Langit tidak ingin ikut campur tentang taruhan itu. Aku dan Langit sempat tidak setuju dengan rencana mereka berdua. Namun aku sadar diri, kalau aku tidak berhak ikut campur dengan rencana mereka berdua," jawab Chandra.
"Sekali lagi aku minta maaf karena tidak memberitahukan dirimu soal rencana mereka," lanjut Chandra seraya meremas jemarinya.
Vesha menghela nafasnya. "Aku bahkan tidak bisa menjawab permintaan maafmu itu padaku, Chan. Bahkan aku bingung, haruskah aku memaafkan kalian yang sudah membohongiku?" tanya balik Vesha.
Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Itu hakmu, memaafkan atau tidak itu adalah hak yang ada padamu. Yang terpenting bagiku, aku sudah minta maaf padamu secara langsung. Terserah kamu mau memaafkan aku atau tidak," jawab Chandra.
Vesha terdiam, jujur saja dirinya pun masih bingung. Karena pada dasarnya hatinya sudah terlalu terluka atas kebohongan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka, terutama Saga. Tokoh utama dalam kisah cinta Vesha yang telah membuat hatinya sakit, hancur dan bahkan tertutup kabut yang begitu pekat. Entah sampai kapan kabut dalam hatinya akan menghilang dan tergantikan cahaya yang mampu menerangi hati Vesha kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Ryuken
Terima kasih kak, 🙏
2023-06-20
0
Dimas Hanidar
makin seru tetap semangat ya thor up date nya
2023-06-19
0