Sagara Menatap tajam punggung kedua sahabatnya. Aurel merasa kesal karena Sagara sedikit menyueki dirinya. Sedangkan Marvin sendiri diam dan tidak berkata apapun. Lalu Marvin pun meraih tasnya dan berdiri, Aurel mengerutkan dahinya.
"Kak Marvin mau kemana?" pertanyaan Aurel menyadarkan Sagara.
Sagara menoleh ke arah Marvin. Marvin pun sekilas melirik keduanya. "Aku mau menyusul mereka berdua," jawab Marvin yang langsung berlalu begitu saja.
Sagara hanya diam dan tidak berkomentar lagi saat Marvin pergi meninggalkan mereka berdua. Aurel melirik ke arah Sagara.
"Kak," panggil Aurel.
Namun sayangnya panggilan dari Aurel tidak didengarkan oleh Sagara. Aurel pun semakin kesal dengan kekasihnya itu, hingga ia menegur Sagara.
"Kak, kamu kenapa sih hanya diam begitu saja. Kamu juga ingin menemui perempuan itu?" tegur Aurel dengan suara sedikit membentak.
Sagara tertegun mendengar nada bicara Aurel yang ia kenal begitu lembut. Sagara mengernyitkan dahinya, dan memberikan tatapan horor pada gadis itu. Aurel menyadari kesalahannya, wajah gusarnya terlihat jelas.
"Maaf, Kak." lirih Aurel.
Sagara tidak menjawab, pria itu kembali menatap ke arah luar jendela. Lalu ia pun berdiri dari posisinya.
"Sebaiknya kita pulang, aku akan mengantarmu," ajak Sagara yang mulai berdiri dari duduknya.
Aurel tidak menjawab lagi, gadis itu hanya diam dan mengikuti Sagara yang sudah berdiri. Sagara mengulurkan tangannya, membuat senyum Aurel terangkat. Gadis itu segera menautkan tangannya pada genggaman tangan kekasihnya.
Mereka segera keluar dari kanton kampus dan menuju area parkir. Sagara terlihat begitu perhatian pada kekasihnya, bahkan dengan lembutnya pria itu memakaikan helm pada kepala Aurel.
"Sudah?" tanya Sagara saat Aurel sudah menaiki jok belakang motornya.
"Hmm," jawab Aurel seraya tersenyum.
Sagara melajukan motornya keluar dari kampus mereka dan segera menuju apartemen milik Aurel. Aurel adalah anak tunggal yang hanya tinggal sendirian di apartemen, kedua orang tuanya berada di luar kota mengurus usaha mereka yang bergerak dibidang industri pakaian.
Sementara itu, di salon Vita dan Shena menatap Vesha tidak berkedip dengan penampilan gadis itu yang terlihat begitu berbeda. Shena menghampiri sahabatnya, lalu menelisik penampilan gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Vesha yang merasa risih pun berkomentar. "Kenapa kamu lihat aku seperti sedang melihat sapi, Shen?" protes Vesha dengan memberi tatapan tidak sukanya.
Shena menautkan kedua alisnya dan menatap sahabatnya itu. "Ini beneran Vesha sahabat aku?" bukannya menjawab Shena malah kembali bertanya pada Vesha.
Vesha memutar bola matanya jengah. "Bukan. Puas kamu?" sulut Vesha yang sudah kesal.
Shena dan Vita tertawa terbahak-bahak. Vita pun merangkul pundak putrinya.
"Putri Mama sangat cantik dengan penampilan rambut pendek seperti ini," puji Vita untuk putri semata wayangnya.
Vesha tersenyum malu. "Beneran cantik, Ma?" tanya Vesha.
Vita pun mengangguk. "Iya, malah terlihat sangat cantik," jawab Vita yang kembali memuji Vesha.
Vesha kembali tersenyum, namun senyum itu hanya senyum paksaan. Karena hatinya masih terasa ada kabut pekat yang mengelilinginya.
"Mungkin hanya Mama, Papa dan Shena saja yang menganggap aku cantik. Tetapi tidak dengan Gara, bahkan dia terlihat sangat jijik denganku," gumam Vesha dalam hatinya.
Vesha menghela nafasnya, ia tidak ingin kembali menangis di depan sahabatnya. Apalagi saat ini ada Vita di sampingnya, Vesha tidak ingin mama nya itu mengetahui keadaan hatinya yang sedang kacau.
Vesha kembali tersenyum saat Vita mengeratkan rangkulannya dan mengajaknya untuk berselfi. Shena tahu kalau sahabatnya itu masih dalam kondisi galau. Namun gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan dan suasana agar menjadi ceria.
"Habis ini kita kemana, ke mall atau ke restoran untuk makan siang?" tanya Shena.
Vita melirik Vesha, "Bagaimana, Nak? Kamu mau kemana?" tanya Vita pada Vesha.
Vesha pun nampak berpikir sejenak. "Eum, aku mau pulang saja. Soalnya masih ada tugas yang harus aku kumpulkan besok dari si dosen killer," jawab Vesha seraya mengeluh.
"Ya, sudah. Jadi kita pulang saja, nih?" tanya Shena lagi.
Vesha mengangguk yakin. "Iya," jawabnya.
Ketiganya pun keluar dari salon tersebut dan segera menuju mobil Shena. Tanpa Vesha dan yang lain tahu, sopir taksi yang tadi bertabrakan badan pada Vesha mengikuti mobil Shena.
Shena pun yang tidak menaruh curiga terus melajukan kendaraannya sambil berbincang-bincang kecil membahas tentang masa depan mereka setelah selesai kuliah pada Vesha dan Vita sesekali menimpali obrolan kedua gadis itu.
"Aku berencana setelah lulus kuliah ingin melamar pekerjaan di luar kota saja," kata Vesha yang membuat Shena dan Vita terkejut mendengarnya.
"Kamu berniat meninggalkan Mama dan Papa di rumah, Sayang?" tanya Vita dengan tatapan sendunya.
Vesha merasa tidak enak dengan sang mama pun menoleh ke bangku belakang, lalu berusaha meraih kedua tangan Vita. Vesha menggenggam tangan yang sudah mulai sedikit keriput itu.
"Aku tidak meninggalkan kalian, aku akan tetap ada di hati Mama dan Papa. Aku hanya ingin tinggal bersama Nenek di Surabaya. Anggap saja aku sedang berlibur di sana dan butuh suasana baru. Aku mohon Mama jangan bersedih," jawab Vesha berusaha menenangkan hati sang mama.
Shena yang sejak tadi menyimak pun sebenarnya tidak setuju dengan rencana sahabatnya itu. Namun bagaimanapun juga Shena yakin kalau Vesha melakukan itu hanya untuk melupakan rasa sakit yang dirasakannya saat ini.
"Kalau Vesha tidak ada di rumah 'kan masih ada aku, Ma. Aku yang akan menemani Mama dan Papa kalau kalian merindukan si tengil ini," cetus Shena seraya tertawa kecil.
Vesha mencebikkan bibirnya saat Shena mengatai tengil. "Kamu tuh yang tengil," ketus Vesha.
Shena hanya tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban sahabatnya. Vita menghela nafasnya, bagaimanapun juga dia sebagai orang tua tidak boleh egois terhadap sang anak.
"Kita bicarakan ini nanti malam sama Papa ya, Nak!" ucap Vita.
Vesha pun mengangguk. "Siap bu boss!" jawab gadis itu dan disambut tawa dari Vita dan Shena.
Mobil Shena sudah memasuki perumahan Laskar Wijaya, begitupun juga dengan mobil sopir taksi tersebut. Pria itu menghentikan mobilnya di jarak yang cukup jauh dari rumah Vesha.
"Jadi benar rumahnya di sana. Aku pikir tempo hari dia berbohong, kalau begitu aku akan mencari tahu tentang dirinya," ucap pria itu yang masih terus mengawasi Vesha yang baru saja keluar dari mobil.
Sedangkan Vesha, Shena dan Vita mengerutkan dahinya saat melihat ada tiga motor sport terparkir di halaman rumahnya.
"Kok ada motor di depan rumah?" tanya Vira.
"Itu motor siapa, apakah ada tamu?" tanya Shena seraya menunjuk ketiga motor tersebut.
Vita menggelengkan kepalanya karena ia pun juga bingung. Ia pun memilih keluar dari dalam mobil. Berbeda dengan Vesha yang mengetahui siapa pemilik tiga motor tersebut pun ikut keluar dari dalam mobil. Shena tahu kalau Vesha mengenal si pemilik motor tersebut, akhirnya bergegas keluar dari mobil dan menghampiri Vesha.
"Apakah Gara datang ke sini?" bisik Shena.
"Bukan Gara," jawab Vesha yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
Vesha dan Shena melihat Vita sudah masuk terlebih dahulu pun ikut mengejar wanita itu. Degup jantung Vesha semakim berdebar karena rasa kecewa dan kesalnya kembali saat melihat ketiga pria yang dikenalnya sedang duduk di teras depan rumahnya.
Ketiganya berdiri dari posisi duduknya saat melihat kedatangan Vita yang disusul oleh Vesha dan juga Shena. Vita tersenyum menyambut hangat ketiga pria itu. Chandra, Langit dan Marvin pun bersalaman sambil mencium takzim punggung telapak tangan Vita.
"Kalian teman Vesha?" tanya Vita.
"Iya, Tante." jawab Langit.
Vita tersenyum. "Sudah dari tadi, ya? Maaf ya, tadi kami ke salon dulu. Kalian mau minum apa, biar Tante siapkan?" tanya Vita.
Chandra melambaikan tangannya. "Tidak usah repot-repot, Tante. Kami juga sudah minum," jawab Chandra seraya menunjuk minuman berkemasan botol plastik di meja.
Vita merasa tidak enak dengan ketiga pemuda di depannya itu. "Aduh, Tante merasa tidak enak. Kalian kelamaan nunggu," ucap Vita.
"Tidak apa-apa kok, Tante. Kami juga baru tiba di sini, tadi memang kebetulan kami sudah membeli minum di kampus," jawab Chandra.
Vita tersenyum dan mengangguk. "Ya sudah, kalau begitu Tante tinggal masuk dulu," ucap Vita pamit pada ketiganya.
"Iya, Tante," jawab Langit, Chandra dan Marvin bersamaan.
Setelah Vita masuk kedalam, ketiganya kembali menoleh dan menatap Vesha yang berdiri di sebelah Shena. Ketiganya sempat tertegun dengan penampilan baru Vesha saat ini. Shena melipat kedua tangannya di depan dada sambil menelisik ketiga pria di hadapannya sambil memberi tatapan tajam.
Ketiga pria itu kesulitan menelan salivanya saat mendapati Shena yang menatapnya seperti itu. Ketiganya pun saling melirik satu sama lain.
Marvin mencoba untuk berbicara dengan Vesha, namun dengan cepat gadis itu memotong ucapannya.
"Sha.."
"Mau apa kalian kesini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments