Sagara sudah tiba di apartemen Marvin, tempat yang mereka jadikan markas saat berkumpul. Sagara tahu kode apartemen Marvin karena pria itu sendiri yang memberikan kode kunci apartemennya. Marvin mengizinkan ketiga sahabatnya datang sesuka hati mereka ke tempat itu. Asalkan ketiganya tidak membawa perempuan manapun ke apartemen Marvin.
Setelah mengantarkan Aurel ke apartemennya, Sagara langsung menuju apartemen Marvin. Awalnya Aurel mencegah Sagara pergi dan terus memaksanya untuk masuk ke dalam. Namun, Sagara masih dalam keadaan normal. Dia tidak ingin bertamu ke tempat seorang perempuan, jika tidak ada siapapun di tempat itu kecuali dirinya dan Aurel.
Bukannya takut tidak dapat mengendalikan hasrat dan hawa nafsunya. Lebih tepatnya itu Sagara menghindari suatu hal yang nantinya dapat merugikan dirinya sendiri atau orang lain.
Marvin, Langit dan Chandra melajukan motor mereka kembali melintasi jalan raya yang ditemani oleh terik matahari yang begitu menyengat kulit. Beruntung pakaian yang mereka kenakan dapat sedikit menutupi bagian tubuh mereka, kalau tidak mungkin saja tubuh mereka akan sedikit belang di bagian leher, tangan dan kaki.
Chandra terlihat mengibas-ngibaskan kaos putihnya saat motor berhenti di depan lampu merah. Bukan hanya Chandra saja yang melakukan itu. Bahkan Langit membuka resleting jaketnya, agar udara masuk ke dalamnya.
"Aduh tetangga, hari ini warbiasa panasnya," keluh Langit dengan suara pelan.
Setelah beberapa menit menempuh jarak laju motornya. Akhirnya ketiga pria itu telah tiba di parkiran apartemen Marvin. Ketiganya segera memasuki lift karena memang sudah tidak tahan dengan hawa panas dari cuaca hari ini.
Ketiganya sudah tiba di dalam apartemen, ketiganya langsung membuka pakaian mereka dan membiarkan udara dingin dari AC menerpa kulit dan pori-pori mereka.
"Akhirnya, sejuk.." guman Langit seraya memejamkan matanya menikmati sejuknya AC.
Sagara mengerutkan dahinya melihat ketiganya kompak tidak mengenakan kaos mereka. Sagara memilih bangun dari duduknya dan pergi menuju dapur. Lalu pria itu kembali dengan membawa empat kaleng minuman bersoda.
Chandra terhenyak saat merasakan sensasi dingin di lehernya. Chandra sontak membuka matanya dan mendapati Saga sedang menempelkan kaleng soda ke lehernya. Chandra segera mengambil minuman tersebut.
"Thanks," ucap Chandra.
Marvin dan Langit pun sama seperti Chandra yang terkejut akan ulah Saga. Mereka pun mengambil dan mengucapkan terima kasih pada Saga.
Sagara kembali duduk di sofa yang tadi ia duduki. "Bagaimana, berhasilkah?" tanya Saga sambil membuka tutup kaleng sodanya.
Chandra, Marvin dan Langit kompak membuka mata mereka dan menatap Saga dengan tatapan yang sulit diartikan.
Langit menghela nafasnya. "Vesha tidak mau memaafkan kita. Apalagi memaafkan dirimu, Ga!" jawab Langit.
Sagara meminum sedikit minumannya. "Baguslah! Lagian untuk apa kalian repot-repot datang menemuinya hanya untuk minta maaf padanya. Tidak perlu minta maaf padanya, karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan. Dia yang lebih salah, karena terlalu percaya diri menyukai aku," sahut Saga dengan sangat santai.
Chandra meremas minuman kalengnya. "Kamu benar-benar pria dengan ego yang tinggi, Ga. Sadar Ga, kamu disini juga salah karena memberi harapan pada Vesha," protes Chandra yang semakin tidak habis pikir dengan pola pikir Sagara.
"Yang dikatakan Chandra benar, Ga. Kamu sama aku salah, aku salah karena sudah mengajak kamu untuk taruhan. Sedangkan kamu salah karena menyetujui ajakan aku dan juga kamu mengkhianati Vesha dengan menjalin hubungan bersama Aurel. Padahal kamu tahu kalau Aurel dan Vesha itu terlihat dekat. Kita berdua salah, Ga. Salah karena sudah menyakiti hati Vesha," ujar Marvin membenarkan apa yang dikatakan Chandra.
Saga tersenyum sinis. "Aku tidak akan pernah minta maaf padanya," celetuk Saga.
Chandra bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Saga. Tanpa aba-aba, Chandra menarik kerah baju Saga.
"Kamu pria brengsek yang pernah aku kenal, Ga. Kamu benar-benar sudah keterlaluan," ucap Chandra sedikit berteriak.
Marvin dan Langit mencegah dan mencoba melepaskan genggaman tangan Chandra pada baju Saga. Sagara mulai tersulut emosi karena ucapan Chandra.
Saga melototkan matanya dengan rahang yang mulai mengeras. "Apa-apaan sih, lepas! Jauhkan tanganmu dari bajuku," ucap Saga seraya menyentak tangan Chandra.
Sayangnya tenaga Chandra lebih besar dari Saga. Akhirnya Marvin menarik tubuh Chandra dengan paksaan, hingga tangannya terlepas dari genggaman baju Saga.
Saga bangun dan Langit mencegah tubuh Saga yang hendak maju ingin memukul Chandra.
"Minggir, Lang! Aku ingin menghajar pria miskin yang sok jagoan itu," ucap Saga saat mencoba menyingkirkan tubuh Langit.
"Stop, Ga!" pekik Langit yang sedikit mendorong tubuh Saga.
Chandra mengepalan tangannya saat mendengar hinaan dari mulut Saga. Lalu pria itu sedikit tersenyum sinis.
"Kamu ingin menghajar ku kan? Ayo, silakan! Aku memang pria miskin, tapi aku masih tahu bagaimana caranya menghargai perasaan seorang perempuan. Tidak seperti dirimu yang tidak pernah menghargai perasaan perempuan. Dasar pengecut!" teriak Chandra yang sudah maju selangkah.
"Brengsek," pekik Saga.
Saga mulai melayangkan pukulan, namun segera ditangkis Chandra. Kini berbalik, Chandra segera memukul Saga dan pas mengenai rahang pipinya. Saga sempat terhuyung sambil memegang sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
Saga hendak membalas pukulan dari Chandra, namun dengan cepat Langit mencegah dengan menahan tubuh pria itu. Marvin pun juga menahan Chandra untuk tidak melakukan hal yang berlebihan.
"Tolong berhenti!" suara Marvin menggema di setiap sudut ruangan.
Marvin menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tajam. "Tidak bisakah kalian bersikap dewasa? Jangan seperti anak kecil begini," ujar Marvin dengan nafas terengah menahan gejolak kekesalan dalam dirinya.
"Beritahu temanmu itu, Marvin. Untuk tidak menjadi pria pengecut," kata Chandra yang masih sangat emosi.
Saga kembali tersulut emosi dan hendak menghampiri Chandra. Lagi-lagi tubuhnya ditahan oleh Langit.
"Lepas!" sentak Saga pada Langit.
"Diam, Ga!" bentak Langit.
Saga menatap kesal pada Langit, lalu mendorong Langit dengan kasar.
"Brengsek kalian!"
Saga meraih tas miliknya dan langsung pergi setelah mengucapkan kata kasar tersebut. Pintu apartemen Marvin menjadi sasaran kekesalan Saga, pria itu dengan cukup keras menutup pintu tersebut.
[Brak…]
Marvin memejamkan matanya saat mendengar suara dentuman pintu tersebut. Pria itu memijat pangkal hidungnya sejenak dan membasahi bibirnya yang kering. Marvin menghela nafasnya dengan kasar sambil berkacak pinggang, sedangkan Chandra memilih memejamkan matanya dan duduk bersandar di sofa.
"Sorry,"
Satu kata yang diucapkan Chandra saat membuka kembali matanya. Pria itu menatap kedua sahabatnya yang masih berdiri sambil melihat ke arahnya. Langit menghela nafasnya dan meraih kaos putih yang sempat ditaruh di sofa.
"Lupakan! Saga memang seperti itu, nanti dia juga akan kembali jika hatinya sudah lebih tenang," jawab Langit sambil memakai kaosnya.
Marvin memukul lengan Chandra pelan. "Jangan terlalu kamu ambil hati setiap kata-kata Saga. Aku dan Langit tidak pernah memandang kasta saat ingin berteman dengan seseorang," sambung Marvin, agar Chandra tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan Saga mengenai status sosialnya.
Chandra tersenyum hambar. "Terima kasih, tapi memang benar apa yang dikatakan Saga tentangku. Aku hanya orang miskin yang sok jagoan membela perempuan seperti Vesha," jawab Chandra yang disambung dengan tawa getirnya.
Langit menepuk lengan Chandra. "Jangan berkata begitu, posisi kamu itu sangat benar. Vesha memang pantas untuk kita bela," ucap Langit yang memberi Chandra semangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments