Mengakhiri

Vesha menatap kecewa pada sosok pria yang sejak pertama kali berkuliah di kampusnya saat ini selalu mencuri perhatiannya. Pria yang dalam beberapa tahun ini selalu dikejarnya, pria yang berhasil mengisi hatinya yang telah lama kosong.

Dulu tatapan Vesha penuh rasa kagum dan cinta. Namun kini tatapan itu berubah menjadi kecewa dan benci. Vesha menundukkan wajahnya seraya mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat.

"Jadi selama ini kamu menganggapku sebagai perempuan murahan?" tanya Vesha kembali dengan suara yang terdengar begitu lirih.

Sagara menaikkan satu alisnya. "Ya, memang kamu murahan, dimana-mana itu cowok yang mengejar cewek. Ini malah kebalikan dari itu, nggak tahu malu!" jawab Sagara seraya tersenyum sinis.

Vesha yang masih menundukkan wajahnya menghapus air matanya dengan kasar. Lalu ia sedikit tertawa kecil di tengah tangisnya.

"Kenapa pikiranmu sangat dangkal, Ga? Bagaimana bisa kamu menganggapku seperti itu, walau pada kenyataannya kamu sangat tidak mengenal diriku," ucap Vesha yang membuat Sagara bungkam.

Vesha menatap kedua manusia yang sudah mengkhianatinya. Menatap dengan senyum penuh luka pada keduanya.

"Aku akan melepaskan kamu, Ga. Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa dan kamu bebas memilih seseorang yang mampu membuatmu nyaman. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang sudah kamu kasih ke aku, untuk bisa menikmati menjadi kekasihmu. Walau hanya beberapa bulan saja, tapi itu sudah membuat aku bahagia," kata Vesha.

"Ya, walaupun pada akhirnya kamu membuat hatiku luka atas pengakuan yang baru saja kamu katakan. Sekali lagi terima kasih karena kamu sudah menjadikan aku objek taruhanmu. Terima kasih atas luka yang sudah kamu dan sahabatmu torehkan di dalam hatiku,"

"Mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Kamu bebas melakukan apapun tanpa adanya gangguan dari diriku, Ga. Aku berharap kamu selalu bahagia dengan pilihanmu sekarang," ucap Vesha seraya melirik ke arah Aurel.

Seketika itu juga entah kenapa Sagara merasakan ada sayatan kecil dalam hatinya setelah mendengar ucapan Vesha. Tangan Sagara terkepal kuat, bahkan Aurel sempat merasakan sakit saat tangannya semakin digenggam oleh Sagara.

Sagara bingung apa yang terjadi dengan dirinya, kenapa hatinya merasa tidak rela jika Vesha berkata seperti itu. Vesha tersenyum, senyum yang mungkin untuk terakhir kalinya Sagara lihat.

"Selamat berbahagia," ucap Vesha terdengar begitu lirih.

Vesha berbalik badan dan berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Sagara menatap punggung Vesha yang semakin menghilang dari pintu dalam mall. Aurel melihat Sagara yang masih saja menatap lurus ke arah pintu tersebut pun segera menyentuh lengan pria itu.

"Kak," panggil Aurel.

Saga terhenyak dan menoleh ke arah Aurel dengan tatapan sendu bercampur kebingungan dalam dirinya.

"Ya, kenapa?" tanya Sagara.

Aurel berdecak kesal. "Ayo, pulang!" ajak Aurel.

Sagara tidak menolak, ia pun mengikuti Aurel yang terus menarik tangannya menuju motor Sagara. Sagara menghela nafasnya saat ia sudah menggunakan helm. Diam-diam Aurel menggerutu kesal.

"Ngapain sih pakai ketemu sama tuh perempuan. Tapi baguslah kalau akhirnya dia tahu hubungan aku sama Kak Saga. Kota jadi nggak sembunyi-sembunyi lagi untuk berpacaran," batin Aurel seraya tersenyum smirk.

Pria itu langsung menaiki motornya dan disusul oleh Aurel. Mereka berdua meninggalkan gedung mall tersebut, tanpa memikirkan perasaan Vesha yang telah hancur.

Vesha terus berjalan dengan air mata yang terus keluar tanpa berhenti, Vesha menangis dalam diam. Vesha segera memberhentikan sebuah taksi yang memang kebetulan melintas di mall tersebut. Saat di dalam taksi, barulah Vesha menangis begitu pilu. Bahkan sang sopir pun melirik ke kaca spion tengah.

Sopir tersebut memberikan tisu pada Vesha. "Tisu, Mbak!" ucap supir tersebut seraya menyodorkan tempat tisu pada Vesha.

"Terima kasih, Mas!" jawab Vesha seraya mengambil beberapa lembar tisu.

Taksi berhenti karena tepat di lampu merah. Tanpa sepengetahuan Vesha supir itu membeli air mineral dari pedagang yang biasa keliling di lampu merah.

Sopir taksi itu memberikan air tersebut pada Vesha dan membuat gadis itu terkejut. Vesha menatap sang supir dengan mata bengkaknya.

Sopir itu tersenyum manis. "Ambil saja, Mbak. Saya sengaja beli untuk, Mbak. Tenang saja, ini masih baru dan nggak Saya kasih obat terlarang," kata sopir tersebut.

Vesha masih terlihat ragu, namun akhirnya gadis itu memilih mengambilnya sebagai tanda menghargai.

"Terima kasih," ucap Vesha nyaris tidak terdengar.

"Sama-sama," jawab sang sopir yang masih tersenyum manis.

Vesha tertunduk dan membuka tutup botol air mineral tersebut dan meminum airnya hampir setengah botol.

"Kalau lagi ada masalah, memang sebaiknya menangis. Karena dengan menangis hati kita pun terasa lebih tenang. Kalau Mbak ingin kembali menangis, menangis saja!" ujar sang sopir taksi tersebut.

Vesha tersenyum getir. "Sayangnya Saya sudah tidak ingin menangis lagi, Mas!" jawab Vesha yang tersenyum lirih.

Sopir taksi itu pun mengangguk. "Okey," ucapnya yang memang tidak ingin lebih dalam mengetahui privasi seseorang.

"Bay the way, Mbak nya mau kemana ya? Karena dari tadi Saya tidak tahu kemana tujuannya," tanya sang sopir seraya mengusap tengkuknya.

Vesha menepuk keningnya sambil memejamkan matanya sebentar. "Ya ampun! maaf Mas, Saya lupa kasih tahu. Kita ke perumahan Laskar Wijaya Blok G No. 108, Mas." jawab Vesha yang merasa sangat tidak enak.

"Baik, Mbak."

Taksi pun melaju kembali menuju alamat yang diberitahu oleh Vesha tadi. Selama dalam perjalanan Vesha kembali terdiam dan hanya menatap ke arah luar dari kaca jendela.

"Sesakit ini rasanya, Ga. Sangat luar biasa sekali pengkhianatan yang kamu berikan padaku," batin Vesha seraya mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.

Sagara yang masih mengendarai motornya sempat hampir mengalami kecelakaan. Beruntung Sagara kembali fokus pada stang kemudinya. Dari belakang, Aurel menepuk-nepuk punggung Sagara. Terpaksa pria itu menepi terlebih dahulu dan menghentikan laju motornya.

"Ada apa?" tanya Sagara.

Aurel membuka kaca helmnya. "Kamu itu kenapa sih? Hampir saja kita kecelakaan tahu, kalau bawa motor fokus dong, Kak!" omel Aurel.

Sagara menghela nafasnya. "Iya, sorry! tadi aku kurang fokus bawa motornya. Sudah ya, jangan marah sama aku. Kita sebaiknya pulang, aku akan mengantarkanmu ke apartemen," jawab Sagara seraya mengusap lembut tangan Aurel yang masih bertautan di pinggang pria itu.

Aurel pun tersenyum. "Iya," jawabnya.

Sagara kembali menyalakan mesin motornya. Namun saat hendak menjalankan kembali kendaraannya, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Terpaksa Sagara mengambil ponselnya yang ada di saku.

Sagara menoleh kebelakang. "Sebentar ya! Marvin telepon aku," kata Sagara seraya menunjukkan layar ponselnya pada Aurel.

Aurel hanya mengangguk dengan senyum tipis nyaris tidak terlihat. Sagara pun menjawab panggilan dari sahabatnya itu.

"Ada apa, Vin?" tanya Sagara.

"Kamu lagi dimana, Ga?" tanya Marvin dalam sambungan telepon mereka.

"Aku lagi mau ke arah balik, kenapa?"

"Arah balik mana? Arah balik ke apartemen dimana Aurel tinggal, heoh?"

Sagara nampak terkejut mendengar pertanyaan Marvin. "Vin,"

"Langit sudah memberitahukan semuanya sama aku dan Chandra. Kacau banget kamu, Ga. Urusan sama Vesha saja belum kelar, kamu sudah menjalin hubungan sama perempuan lain lagi. Hubungan backstreet pula," Marvin berkata dengan sangat kesal.

Sagara tahu kalau Marvin sangat kesal dan marah terhadap dirinya. Karena perjanjian mereka tidak seperti ini. Sagara mengatupkan bibirnya dengan tangan yang sebelahnya memukul pelan tangki bensin motornya berkali-kali. Sedangkan Aurel sendiri saat ini tidak memperdulikan pembicaraan antara Sagara dan Marvin. Karena Gadis itu juga sedang sibuk dengan ponselnya.

"Kamu dimana?" bukannya menjawab Sagara malah bertanya pada Marvin.

Marvin mendengus kesal. "Kita lagi ada di apartemen Langit," jawab Marvin.

"Oke, tunggu aku. Aku akan kesana setelah mengantarkan Aurel. Aku akan menjelaskan semuanya,"

"Ya, memang kamu harus menjelaskan semuanya pada aku dan Chandra yang tidak tahu menahu soal kamu dan Aurel," sahut ketus Marvin.

Episodes
1 Taruhan
2 Menyatakan Cinta
3 Kencan Pertama
4 Kedatangan Shena
5 Sikap Freezer
6 Pengkhianatan
7 Mengakhiri
8 Perubahan Vesha
9 Sakit Hati
10 Menemui Vesha
11 Meminta Maaf
12 Berseteru
13 Perubahan Sikap
14 Sudah Tidak Gila
15 Fitnah
16 Rasa Malu atas Kebodohan
17 Keusilan Bryan
18 Ancaman Bunuh Diri
19 Aksi Gila Aurel
20 Kemarahan Ayah Darel
21 Pilihan Terbaik
22 Permintaan Maaf Sagara
23 Si Mulut Pedas
24 Kecemburuan Aurel
25 Sarang Semut
26 Bryan Heinzee
27 Pasar Malam
28 Ungkapan Perasaan
29 Syulit Bobo
30 Modus Sagara
31 Insiden Kecil
32 Kecemburuan Sagara
33 Perasaan Chandra
34 Penangkapan
35 Keputusan Orang Tua
36 Masa Lalu Aurel
37 Keputusan Hakim
38 Face To Face
39 Kecurigaan Naura
40 Menjadi Sekretaris Bryan
41 Bertemu Marvin
42 Pembegalan
43 Perjodohan
44 Tetap Dalam Pendirian
45 Kegundahan Hati
46 Kedatangan Gricella
47 Pertemuan Gricella & Chandra
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Mencari Vesha
58 Usaha Bryan Mencari Vesha
59 Keterkejutan Naura
60 Permintaan Maaf Naura
61 Kedatangan Bryan Ke Surabaya
62 Bicara Berdua
63 Kedatangan Sagara & Marvin
64 Merindu
65 Rasa Gugup
66 Diskusi
67 Tukar Cincin
68 Pendekatan (Gricella-Chandra)
69 Tebing Koja
70 Fitting Baju
71 Menjelang Pernikahan
72 Pernikahan
73 Sagara
74 Status Baru
75 Aruna Yang Galau
76 Makan Siang Bersama Gara
77 Aku Lebih Mencintaimu
78 Pesta
79 Musibah (Sagara & Aruna)
80 Melamar (Sagara & Aruna)
81 Fitting Baju (Sagara & Aruna)
82 Harta Warisan
83 Resepsi Pernikahan (Sagara & Aruna)
84 Kebahagiaan
85 Akhir Kisah
86 Bonus Chapter
87 Pengumuman Buku Baru
88 Bonus Chapter 2
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Taruhan
2
Menyatakan Cinta
3
Kencan Pertama
4
Kedatangan Shena
5
Sikap Freezer
6
Pengkhianatan
7
Mengakhiri
8
Perubahan Vesha
9
Sakit Hati
10
Menemui Vesha
11
Meminta Maaf
12
Berseteru
13
Perubahan Sikap
14
Sudah Tidak Gila
15
Fitnah
16
Rasa Malu atas Kebodohan
17
Keusilan Bryan
18
Ancaman Bunuh Diri
19
Aksi Gila Aurel
20
Kemarahan Ayah Darel
21
Pilihan Terbaik
22
Permintaan Maaf Sagara
23
Si Mulut Pedas
24
Kecemburuan Aurel
25
Sarang Semut
26
Bryan Heinzee
27
Pasar Malam
28
Ungkapan Perasaan
29
Syulit Bobo
30
Modus Sagara
31
Insiden Kecil
32
Kecemburuan Sagara
33
Perasaan Chandra
34
Penangkapan
35
Keputusan Orang Tua
36
Masa Lalu Aurel
37
Keputusan Hakim
38
Face To Face
39
Kecurigaan Naura
40
Menjadi Sekretaris Bryan
41
Bertemu Marvin
42
Pembegalan
43
Perjodohan
44
Tetap Dalam Pendirian
45
Kegundahan Hati
46
Kedatangan Gricella
47
Pertemuan Gricella & Chandra
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Mencari Vesha
58
Usaha Bryan Mencari Vesha
59
Keterkejutan Naura
60
Permintaan Maaf Naura
61
Kedatangan Bryan Ke Surabaya
62
Bicara Berdua
63
Kedatangan Sagara & Marvin
64
Merindu
65
Rasa Gugup
66
Diskusi
67
Tukar Cincin
68
Pendekatan (Gricella-Chandra)
69
Tebing Koja
70
Fitting Baju
71
Menjelang Pernikahan
72
Pernikahan
73
Sagara
74
Status Baru
75
Aruna Yang Galau
76
Makan Siang Bersama Gara
77
Aku Lebih Mencintaimu
78
Pesta
79
Musibah (Sagara & Aruna)
80
Melamar (Sagara & Aruna)
81
Fitting Baju (Sagara & Aruna)
82
Harta Warisan
83
Resepsi Pernikahan (Sagara & Aruna)
84
Kebahagiaan
85
Akhir Kisah
86
Bonus Chapter
87
Pengumuman Buku Baru
88
Bonus Chapter 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!