Hari-hari pun berlalu, waktu terus berputar disetiap detik, menit dan jam. Hubungan Sagara dan Gavesha semakin berjalan biasa saja. Tidak ada kisah romantis seperti sepasang kekasih pada umumnya. Karena disini hanya Vesha yang berjuang sendiri, tidak dengan Saga yang berjuang karena sebuah taruhan.
Terkadang Vesha merasa kalau Sagara menerima dirinya sebagai kekasih hanya karena kasihan dan terpaksa. Namun segala pikiran itu dienyahkan oleh dirinya.
Di hari Minggu pagi ini, Vesha mencoba menghubungi Sagara untuk mengajaknya jalan-jalan. Namun sejak semalam nomor pria itu tidak aktif, membuat Vesha merasa sangat khawatir.
Pintu kamar Vesha terbuka, seorang gadis seumuran Vesha masuk ke dalam kamar. Gadis itu melihat Vesha yang sudah memasang wajah murungnya.
"Vesha," panggil gadis itu.
Vesha pun menoleh dan tersenyum. "Shena," sahutnya.
Vesha langsung memeluk Shena sahabatnya sejak kecil itu. Vesha mengajak Shena untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Kenapa nggak kasih kabar kalau mau ke sini?" tanya Vesha.
"Kejutan," jawab Shena sambil tertawa kecil.
"Jahat," Vesha langsung mencubit lengan sahabatnya hingga gadis tersebut berpura-pura meringis.
Shena tertawa, lalubia sekikas melirik ponsel Vesha. "Kamu sedang menghubungi Gara?" tanya Shena.
Shena memanggil Sagara karena memang Vesha pun memanggil Sagara dengan nama Gara. Terkadang Shena bingung dengan Sagara, padahal orang satu tetapi namanya ada beberapa sebutan. Sagara, Saga dan Gara. Bahkan hanya sebuah nama saja dapat membuat Shena dan Vesha tertawa.
Vesha mengangguk cepat. "Tapi ponselnya sulit dihubungi, dari semalam tidak aktif," jawab lirih Vesha.
Shena menghela nafasnya saat melihat wajah sahabatnya itu terlihat sangat murung.
"Kenapa tidak kamu samperin saja kerumahnya? kamu 'kan tahu rumahnya,"
Vesha langsung menatap Shena, sepertinya ide Shena bisa dilakukannya.
"Kamu mau temenin aku ke rumah Gara?" tanya Vesha.
"Bagaimana ya?" sahut Shena nampak bingung. "Aku takut jadi nyamuk di sana," sambungnya sambil tertawa kecil.
Vesha pun ikut tertawa. "Kamu tuh, ya! mikirnya macam-macam terus. Mana mungkin aku jadiin kamu nyamuk, nanti yang temenin aku jalan-jalan siapa?" jawab Vesha yang saat ini berpura-pura ngambek dengan Shena.
Shena masih tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. "Ayo, sebaiknya kamu bersiap! Kita akan kerumah Gara," kata Shena mengajak Vesha.
"Oke, tunggu aku dibawah. Aku akan bersiap-siap," jawab Vesha.
Shena mengangguk dan segera keluar dari kamar Vesha. Gadis itu begitu bahagia melihat sahabatnya bahagia. Shena selalu berjanji dalam dirinya untuk selalu ada di samping Gavesha dalam suka maupun duka. Shena juga tidak segan-segan untuk membero pelajaran pada orang yang sudah menyakiti Vesha.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Vesha sudah rapi. Mereka segera pergi menuju rumah Sagara menggunakan mobil Shena. Karena Vesha sudah sangat mengenal kedua orang tua Sagara, makan dia juga tahu rumah kekasihnya itu. Karena kedua orang tua Sagara bekerja di perusahaan yang sama dengan Adam, Papanya Vesha.
Selama diperjalanan kedua gadis itu berbincang sambil bersenda gurau. Suasana dalam mobil begitu ramai dengan gelak tawa dari keduanya.
"Tidak terasa ya, sebentar lagi kita akan lulus. Kamu dan Gara juga sudah 5 bulan menjalin hubungan. Aku harap kamu dan Gara langgeng, dan kamu selalu bahagia bersamanya," ucap Shena yang begitu bersungguh-sungguh.
Vesha tersenyum, "Terima kasih atas doanya, Shen. Aku pun juga selalu berharap kamu bahagia dan menemukan cinta sejati seperti aku dan Gara," jawab Vesha.
Shena mengangguk. "Kita harus sama-sama bahagia selalu, Sha. Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia," kata Shena seraya menyodorkan jari kelingkingnya.
Vesha pun segera menyambut jari kelingking Shena dan menautkan jari kelingkingnya di sana.
"Janji!"
*
Mobil Shena sudah memasuki perumahan dimana rumah Sagara berada. Beberapa menit kemudia mereka sudah tiba di depan halaman rumah berpagar tinggia dengan cat berwarna hitam tersebut. Shena dan Vesha keluar dan menekan bel rumah tersebut.
Tidak lama seorang perempuan keluar dari dalam, oerempuan tersebut menanyakan maksud dan tujuan kedua gadis tersebut.
"Maaf, Mbak! Saya ingin bertemu dengan Sagara, apakah dia ada di rumah?" ucap Vesha.
"Maaf Neng, Mas Gara nya sedang keluar. Katanya si tadi sebelum pergi ada janji sama temannya," jawab wanita itu yang diketahui sebagai ART di rumah kedua orang tua Sagara.
"Oh, begitu ya! Kalau begitu, boleh minta tolong titip pesan untuk Gara nya, Mbak. Bilng saja kalau Vesha datang dan tolong suruh aktifkan ponselnya," kata Vesha yang sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan kekasihnya.
"Siap, Neng. Nanti Saya sampaikan ke Mas Gara nya langsung,"
"Kalau begitu Saya pamit ya, Mbak. Terima kasih dan maaf sudah menganggu," ucap Vesha seraya membungkuk sedikit.
"Iya, Neng. Sama-sama,"
Vesha dan Shena pun kembali ke dalam mobil, terlihat jelas kekecewaan dari raut wajah Vesha. Shena menepuk pundak sahabatnya.
"Sabar, mungkin Gara memang sedang bertemu dengan temannya," ucap Shena.
Vesha memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Sepertinya emang dia tidak ingin bertemu sama aku, Shen." jawab lirih Vesha.
Dahi Shena berkerut. "Tahu dari mana? Memangnya Gara sudah bicara sama kamu, kalau dirinya tidak ingin bertemu denganmu?" selidik Shena.
Vesha menghela nafasnya begiti berat. "Tadi aku sempat melihat Gara berdiri di jendela yang tertutup tirai putih, Shen. Aku yakin sangat itu dia," jawab Vesha yang langsung menundukkan kepalanya.
Shena tercengang mendengar jawaban sahabatnya itu. Saking penasarannya Shena melirik ke arah seluruh jendela rumah Sagara. Bahkan matanya memicing tajam, ia berharap dapat melihat Sagara di salah satu jendela rumah itu. Namun sayang hasilnya nihil, tidak ada Sagara di sana.
Shena mengepalkan kedua tangannya. Seandainya benar apa yang diucapkan Vesha, maka tidak segan-segan ia menerobos masuk ke dalam rumah tersebut. Shena tidak peduli kalau harus berurusan dengan pihak berwajib. Yang terpenting, Shena berhasil membawa Sagara ke hadapan Vesha.
"Kita pergi dari sini," ucap Shena.
Shena langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan rumah Sagara. Shena terus merutuki Sagara yang seperti pria pengecut, karena tidak ingin mememui Vesha. Shena melirik ke arah Vesha yang saat ini sedang melamun sambil menatap ke arah samping jendela.
"Mau ke mall?" tanya Shena.
Vesha menoleh sebentar. "Boleh," jawab Vesha.
"Kita nonton saja, mau tidak?" usul Shena.
Vesha mengangguk. "Ayo, sudah lama juga kita tidak nonton bioskop." jawab Vesha.
"Nonton Fast X atau Transformer?" tanya Shena.
Kedua alis Vesha saling bertautan. "Eum, dua-duanya juga boleh," jawab Vesha.
Shena menaikkan satu alisnya. "Serius mau nonton dua-duanya?"
"Seriusan, ngapain aku bohong,"
"Bukannya kamu sudah nonton yang Fast X?" Shena bertanya karena bulan lalu Vesha mengatakan kalau dirinya sudah nonton film itu bersama Gara.
Vesha menghela nafasnya kembali dan seketika wajahnya terlihat murung. "Iya, tapi aku ingin nonton lagi. Bete di rumah," jawab Vesha.
"Oke, kita akan habiskan weekend hari ini dengan nonton film di bioskop," sahut Shena yang tidak ingin perpanjang obrolan mereka jika itu menyangkut soal Sagara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments