Bryan tersenyum manis di depan wajah Vesha yang masih tercengang saat mengetahui wajah dibalik masker itu. Sungguh wajah keterkejutan Vesha membuat Bryan gemas dengan gadis itu. Bryan menoel hidung Vesha karena rasa gemasnya.
Posisi mereka yang terlalu dekat membuat ketiga pria yang ada di depan lobi kampus penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Bryan dan Vesha di dalam mobil. Tangan kanan Langit memegang tangan Marvin, dan tangan kirinya menutup mulutnya.
Langit menahan nafasnya. "Haah, mereka ciuman," gumam Langit dengan mata melotot.
Marvin merasakan pegangan tangan Langit semakin kencang dan membuat pria itu meringis.
"Aarrrggghhh… kau gila, Lang. Ini sakit tau!" keluh Marvin sambil melepas tangan Langit dari tangannya.
Marvin langsung memukul tangan Langit, sehingga pria itu meringis kesakitan. Sedangkan Chandra malah tertawa melihat keduanya seperti anak kecil. Chandra menoleh saat menyadari mobil Bryan sudah berjalan pergi meninggalkan kampus.
Chandra menatap nanar kepergian Vesha. "Apakah dia benar-benar kekasih Vesha?" batin Chandra.
Marvin dan Langit masih sibuk saling pukul memukul, walau pelan tetapi kadang membuat salah satunya mengeluh kesakitan. Sedangkan Chandra sibuk dengan pemikirannya sendiri mengenai pria Bryan. Di saat ketiganya sibuk masing-masing, pria yang menolong Aurel menghampiri mereka.
"Chandra, Marvin, Langit," panggil pria itu menyebut nama ketiganya.
Ketiganya pun menoleh, Marvin dan langit menghentikan aksi mereka yang sedang bercanda.
"Oh, Dimas. Ada apa?" tanya Marvin.
Dimas menghela nafasnya. "Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian. Bisa kita bicara di aula saja?" ucap Dimas seraya memberi usulan.
Dimas hanya tidak ingin Aurel tahu kalau dirinya sudah memberitahukan kebenarannya mengenai insiden jatuhnya gadis itu pada ketiga sahabat Saga.
Marvin menautkan kedua alisnya sambil melirik ke arah Langit dan Chandra. "Ada apa, Dim?"
"Nanti akan aku katakan, sebaiknya kita pindah tempat saja," kata Dimas lagi.
"Ya, sudah. Ayo!" ucap Chandra yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Dimas pun mengikuti Chandra dari belakang. Marvin dan Langit masih bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh Dimas.
"Dia mau bicarakan soal apa?" tanya Marvin.
"Kamu tanya ke aku, terus aku tanya siapa?" Langit kembali bertanya pada Marvin.
Marvin menatap cengo pada Langit, lalu ia pun menggelengkan kepalanya. Marvin berjalan terlebih dahulu meninggalkan Langit. Langit pun segera menyusul dengan sedikit berlari mengejar Marvin dan yang lainnya.
Kini keempatnya duduk saling berhadapan, dan menjadikan Dimas pusat perhatian ketiga pasukan kura-kura ninja itu.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan, Dim? Sepertinya ini sangat rahasia," tanya Chandra memulai obrolan mereka.
"Ini soal Aurel," jawab singkat Dimas.
Ketiganya saling melirik satu sama lain dengan mimik wajah serius mereka.
"Ada apa dengan gadis itu?" tanya Langit.
Dimas mengatupkan bibirnya. "Apa yang dikatakan Aurel soal Vesha yang mendorongnya itu semua bohong. Karena faktanya Aurel jatuh sendiri, dan aku sebagai saksinya. Aku sendiri yang melihat dia terjatuh, dan tangannya tergores pinggiran lemari yang ada di depan sebelah toilet lantai bawah." jawab Dimas menjelaskan sedikit soal kejadian tadi.
Langit menggebrak meja dan membuat ketiga pria dihadapannya terkejut dan langsung memejamkan mata sambil mengusap dada mereka. Reflek Marvin menggeplak punggung Langit.
"Bikin kaget saja!" ucap Marvin dengan mata melotot.
Marvin terlihat sangat kesal pada Langit. Namun pria itu hanya menampilkan cengiran gigi kelincinya sambil menggaruk rambut belakangnya.
"Sorry!" jawab Langit.
"Aku tidak menyangka kalau Aurel akan melakukan itu. Itu sama saja memfitnah Vesha," kata Chandra.
"Benar, dan sepertinya Saga harus segera tahu soal ini. Jika ini terus didiamkan, maka Aurel akan terus memfitnah Vesha dan membuat Saga semakin membenci Vesha," ucap Marvin.
"Ya, itulah yang aku takutkan. Apalagi saat melihat kejadian tadi. Aku merasa bersalah sama Vesha karena tidak muncul saat kejadian tadi dan mengatakan semuanya agar Aurel malu," Dimas menundukkan kepalanya.
Langit menepuk lengan Dimas berkali-kali dengan pelan. "Sudahlah, tidak apa-apa. Yang terpenting kami sudah tahu semuanya, dan kami akan mengatakan pada Saga mengenai hal ini." ucap Langit.
"Tapi, kalau Saga tidak percaya bagaimana?" tanya Marvin.
"Kita buat skenario saja," usul Dimas.
Ketiga pria itu menatap Dimas heran. "Skenario bagaimana, maksud kamu kita berakting gitu?" tanya Marvin.
Dimas menganggukkan kepalanya. "Iya, sebaiknya kita lakukan sekarang. Mumpung mereka berdua masih ada di kantin," jawab Dimas.
Ketiga pria itu masih tampak bingung, Dimas menepuk keningnya saat melihat teman satu kampus nya itu masih belum paham dengan maksudnya. Dimas pun membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak. Marvin, Langit dan Chandra menatap heran pada kotak tersebut.
"Untuk apa ada kotak P3K disini?" tanya Langit dengan ekspresi polosnya.
Dimas menghela nafasnya. "Begini, kalian terlebih dahulu ke kantin. Ulur waktu mereka sampai aku datang, dan saat itu juga aku akan memberikan ini pada Aurel di depan Saga," kata Dimas seraya menunjukkan kotak P3K miliknya.
"Aku juga akan berpura-pura tidak tahu soal keributan yang Saga dan Aurel ciptakan di lobi tadi," sambung Dimas.
Marvin, Langit dan Chandra mengangguk paham sambil membuka mulutnya sedikit. "Aah, kami paham!" jawab ketiganya dengan kompak.
Dimas menjentikkan jarinya. "Sebaiknya kita bergegas," ajak Dimas pada ketiganya.
"Ayo,"
Mereka pun keluar dari aula bergantian, Dimas berpisah dengan ketiganya dan memilih jalan yang berbeda arah. Setibanya di dekat kantin, Marvin sudah dapat melihat Saga dan Aurel masih duduk sambil bersenda gurau. Ketiganya langsung menghampiri dua sejoli yang sedang bahagia itu.
Marvin, Chandra dan Langit langsung mengambil posisi duduk mereka di hadapan Saga dan Aurel. Tingkah ketiganya tentu membuat Saga dan Aurel terkejut. Saga menatap datar pada ketiga sahabatnya.
"Tumben kalian kesini, ada apa?" selidik Saga dengan satu alis yang terangkat.
"Apakah kami mengganggu kemesraan kalian?" tanya balik Marvin dengan sedikit singgungan.
"Ah, nggak kok. Justru aku sama Kak Saga suka kalian ikut bergabung dengan kami," dengan cepat Aurel menjawab pertanyaan Marvin.
Marvin mengangguk. "Baguslah, lagi pula sudah lama juga 'kan nggak kumpul kayak gini," ujar Marvin.
"Iya," jawab Aurel dengan senyuman menggodanya.
Tanpa disadari Aurel, Dimas datang dari arah belakangnya. Marvin, Langit dan Chandra mengulum senyumnya saat melihat kedatangan Dimas.
"Astaga Aurel, disini kau rupanya. Dari tadi aku cari-cari kamu, taunya kau ada di sini." ucap Dimas yang sudah berdiri di sebelah meja Aurel dan Saga.
Aurel terkejut melihat Dimas, gadis itu terlihat mulai panik. Saga memicingkan matanya saat melihat Dimas berbicara pada kekasihnya.
"Ini, kotak P3K yang aku janjikan tadi," lanjut Dimas.
"Nah, kebetulan ada Saga. Ga, tolong obati luka cewek kamu. Tadi aku lihat dia kepleset sendiri terus tangannya tergores pinggiran lemari dekat toilet," Dimas benar-benar memerankan aktingnya dengan baik.
Dimas berperan seolah tidak tahu apa-apa soal kebohongan Aurel yang membuat cerita palsu pada Saga. Saga menatap tajam ke arah kotak P3K tersebut dan bergantian menatap ke arah Aurel.
Saga juga melihat ke arah Dimas yang memasang wajah biasa saja. "Tadi kamu bilang apa, Dim? Aurel kepleset?" tanya Saga untuk memastikan kembali.
Dimas mengangguk dengan cepat. "Iya, dia memang kepleset. Aku sendiri yang lihat, bagaimana bisa aku berbohong. Karena aku sendiri saja tidak suka dengan kebohongan," sahut Dimas sedikit menyentil Aurel.
Saga mengepalkan tangannya menahan rasa marahnya. Terlihat jelas rahangnya yang mulai mengeras karena menahan gejolak emosi dalam jiwanya. Perlahan ia menatap tajam pada Aurel.
"Jadi kamu bukan terjatuh karena Vesha yang mendorongmu?" tanya Saga yang masih memberi tatapan tajam.
Aurel mulai ketakutan saat sadar Saga marah padanya. Gadis itu takut kalau pria di sebelahnya menampar wajahnya seperti apa yang tadi dilakukan Saga pada Vesha.
Saga menggebrak meja. "Jawab!" bentak Saga di depan wajah Aurel.
Semua yang ada di kantin pun terkejut mendengar suara Saga. Semua mata menatap ke arah meja dimana Saga dan Aurel berada. Mereka mulai berbisik sambil bergibah saat melihat pertengkaran Saga dan Aurel. Mereka tahu kalau itu ada hubungannya dengan kejadian di lobi tadi.
Aurel terjingkat ketakutan. "I-iya, Kak. Aku tadi kepleset bu-bukan didorong sama Kak Vesha," jawab gadis itu dengan perasaan gugup karena takut.
Saga kembali memukul meja. "Brengsek, kamu benar-benar keterlaluan Aurel!" Saga kembali meluapkan kekesalannya pada Aurel dengan terus memaki gadis itu.
"Ma-maafkan aku, Kak!" ucap Aurel yang sudah menangis.
Saga mengusap wajahnya dengan kasar. "Maaf? Seharusnya kamu minta maaf sama Vesha, karena kamu sudah memfitnah dirinya," bentak Saga.
"Gara-gara kebohongan kamu itu, aku menampar wajah gadis yang tidak tahu apa-apa. Gadis yang nggak pernah menuntut aku kemana pun aku pergi. Aku nyesel karena sudah percaya sama perempuan seperti kamu, Aurel." maki Saga seraya menunjuk wajah Aurel.
"Aku juga nyesel sudah meninggalkan Vesha hanya demi kamu. Selama ini aku salah dalam menilai kamu, Aurel. Ternyata kamu bukan gadis baik-baik, hatimu terlalu busuk untuk bersembunyi di balik wajah polosmu itu," Saga masih terus memaki dan mengumpati Aurel.
Saga bangkit dari duduknya. "Mulai hari ini kita akhiri hubungan ini. Jangan sekali-kali kamu datang untuk menemui ku, ingat itu!" ucap Saga yang langsung pergi meninggalkan kantin.
Aurel tidak bisa mencegah Saga, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar keputusan Saga. Aurel hanya bisa menangis dengan kepala yang semakin tertunduk. Dimas, Marvin, Langit dan Chandra tersenyum sinis melihat gadis di hadapannya yang masih terus menangis.
"Sudah jangan menangis lagi, nanti air matanya habis. Ingat ini lagi musim panas! kalau mata kamu kering terus air matanya habis, bisa-bisa mata kamu kering kerontang," celetuk Langit.
Ketiga pria di sebelah Langit langsung menahan tawa mereka. Chandra nampak memberikan tisu pada Aurel.
"Tisu," ucap Chandra dengan suara datar.
Chandra memberi kode pada ketiga temannya untuk pergi dari kantin. Mereka pun mengangguk dan meninggalkan Aurel sendirian, kini gadis itu benar-benar sendiri meratapi hasil dari kebohongan yang dilakukannya.
Kebohongan memang tidak akan pernah bertahan lama, akan ada masa dimana kebohongan itu akan terungkap. Ingat kata pepatah lama, 'serapi apapun bangkai yang tertutup rapat, dengan seiringnya waktu bangkai tersebut akan tercium juga'. Namun bedanya disini adalah, Aurel yang tidak terlalu rapi dalam menutupi kebohongannya.
Dia terlalu ceroboh dalam bertindak, dia tidak berpikir kalau Dimas akan memberitahukan semuanya pada Saga dan ketiga sahabatnya. Bahkan hampir seluruh penghuni kampus tahu kalau dirinya telah berbohong dan memfitnah Vesha.
Malu, itulah yang saat ini dirasakan oleh Aurel. Dirinya merasa benar-benar sangat malu atas apa yang telah dilakukannya. Karena rasa takut kehilangan Saga dan takut Saga kembali lagi pada Vesha, membuat dirinya selalu dilanda kekhawatiran berlebih.
Aurel takut itu terjadi karena penampilan Vesha yang terlihat semakin cantik. Ya, Aurel akui itu saat pertama kali Vesha kembali ke kampus setelah putus dari Saga. Aurel takut kecantikannya tersaingi oleh Vesha dan membuat Saga memilih kembali pada mantan kekasihnya itu.
Tambah lagi, akhir-akhir ini Saga terlihat selalu menatap Vesha dari kejauhan. Aurel tahu itu karena ia sering memergoki kekasihnya itu diam-diam mencuri tatapan ke arah Vesha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments