Darel menatap sekumpulan anak muda yang sedang tertawa terbahak-bahak. Pria itu berjalan terus hingga berhenti tepat di hadapan Saga.
"Ayah," ucap Saga yang bingung dengan kehadiran ayahnya.
"Ikut ayah!" pinta Darel dengan tatapan tajam dan suara terkesan dingin.
Saga menoleh ke arah sahabatnya yang sedang berkumpul dengannya. Mereka pun mengangguk dan mempersilahkan Saga untuk ikut dengan ayahnya. Saga pun mengikuti perintah Darel, dan masuk ke dalam rumah mereka. Safira pun juga ikut bersama kedua pria itu, Saga sempat menoleh dan bertanya pada sang Bunda. Namun, Safira hanya menunjukkan tatapan sendu dengan gelengan kepala pelan.
Di dalam kamar utama suasana menjadi sedikit tegang. Darel menatap tajam pada Saga, namun pria muda itu hanya menatap bingung pada sang ayah.
"Ada apa, Yah?" tanya Saga.
Darel masih memasang wajah serius dengan tatapan tajam. "Apa yang kau lakukan kepada Vesha, Gara?"
Saga tercengang mendengar pertanyaan dari sang ayah. Saga terlihat nampak panik, namun segera ia tutupi dengan caranya sendiri.
"Yah, aku tidak melakukan apapun pada Vesha. Memangnya apa yang Ayah dengar dari gadis itu?" jawab Saga diselingi sebuah pertanyaan.
"Yah, tolong percaya sama Gara. Gara nggak lakuin apa-apa sama Vesha, gadis itu memang selalu suka membalikkan sebuah fakta," sambung Saga yang terus berusaha menutupi apa yang sudah dilakukannya.
Safira pun mencoba menenangkan kondisi yang ada. Wanita itu menghampiri Saga dan menatap lekat-lekat wajah putranya.
"Nak, sekali lagi Bunda bertanya padamu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Vesha?" tanya Safira dengan nada begitu lembut.
"Kamu jawab jujur atau semua fasilitas yang kamu miliki saat ini akan Ayah sita," bentak Darel.
Safira yang memang pembawaannya begitu lembut berusaha tetap tenang. "Yah," tegur Safira.
Darel menghela nafasnya kasar, dengan tangan terkepal kuat. Bahkan terlihat jelas rahangnya mengeras menahan semua rasa marahnya.
Safira menoleh ke arah Gara dan menunggu jawaban jujur dari putranya. Saga pun melihat mata teduh milik sang bunda yang seakan sedang menunggunya.
"Vesha hanya salah paham, Bun. Vesha salah dengar, Gara tidak pernah menjadikan Vesha taruhan. Itu hanya salah paham, tidak ada taruhan atas nama Vesha. Gara juga tidak melakukan taruhan dengan Marvin," jawab Saga.
"Jadi semua hanya salah paham?" tanya Safira untuk lebih memastikan kembali pada Saga.
Saga mengangguk. "Iya, Bun. Ini semua hanya salah paham saja, tapi masalah Gara dan Vesha sudah selesai, kok!" Saga menundukkan kepalanya.
Safira menghela nafasnya leganya, "Ya sudah! Kalau memang semua kesalahpahaman ini sudah selesai. Kamu boleh kembali menemui teman-temanmu," ucap Safira.
Saga mengangguk dan langsung meninggalkan kamar utama. Saga tersenyum menyeringai setelah keluar dari kamar kedua orang tuanya.
"Maafin Gara Yah, Bun. Gara terpaksa berbohong," ucap Gara pelan dan hanya dirinyalah yang mendengarnya.
Darel menatap tidak percaya dengan sang istri. "Kenapa kamu membiarkannya pergi, aku belum puas bertanya padanya?" Darel berkata dengan perasaan emosi yang masih ingin ia luapkan pada Saga.
"Sudahlah, Yah. Kamu kan, juga dengar tadi Gara bilang apa. Ini hanya salah paham saja, maklumlah anak muda. Kita kan, juga dulu pernah muda," jawab Safira mencoba membujuk suaminya.
Darel memijat pelipisnya. "Terserah kamu, Bun. Kamu memang selalu melindungi kesalahan putramu itu," kata Darel yang lebih memilih keluar daripada ia meluapkan amarahnya pada sang istri.
Setelah keluar dari kamar, Darel memilih oergi ke ruang kerjanya. Di dalam ruang kerja, ia mencoba menghubungi Adam, namun sayangnya Adam tidak mengangkatnya.
"Mungkin dia masih dijalan, sebaiknya aku minta bantuan saja sama Mike. Siapa tahu dia bisa menggali informasi yang sebenarnya dari putranya itu," gumam Darel.
Darel pun menghubungi Mike, yang bukan lain adalah ayah dari Marvin. Mike tidak bisa hadir ke pestanya karena sedang berada di luar kota. Namun dia telah mengirimkan hadiah untuk perayaan Anniversary Darel dan istrinya.
Semenjak malam itu juga, keesokan harinya Darel tidak pernah lagi melihat Saga di rumah. Mungkin anak itu sedang menginap di apartemen Marvin. Darel tahu soal putranya yang sering berada di apartemen Marvin. Darel juga langsung ke Bali setelah dua hari merayakan pesta ulang tahun pernikahannya.
Kini Darel ingat semuanya, jadi apa yang dikatakan Vita dan Mike mengenai Saga yang membuat taruhan dengan Marvin hanya demi sebuah unit motor ternyata benar adanya. Awalnya Darel tidak ingin mempercayainya, bagaimanapun juga Sagara adalah putranya.
Namun sebuah bukti nyata terpampang jelas di hadapannya. Bukti dari ucapan Mike dan Vita, juga bukti kebohongan jawaban Sagara pada malam itu. Darel nampak sedikit meremas berkas tersebut. Safira terheran dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Yah," panggil lembut Safira pada suaminya.
Darel pun menoleh. "Dimana putramu itu, Fira?" Darel bertanya dengan suara bergetar menahan emosi.
Safira tertegun mendengar ucapan suaminya, ia tahu kalau suaminya saat ini sangatlah marah. Safira menatap bingung pada kertas yang diberikan dengan kasar oleh Darel. Pria itu pun masuk dan tujuannya adalah kamar Saga. Sepeninggalnya Darel, Safira mencoba kembali membaca berkas tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat nama si pemilik motor tersebut.
"Ayah," Safira memanggil Darel dengan suara cukup keras.
Wanita itu terus mengejar suaminya dan meninggalkan petugas dealer yang masih. Berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah bingungnya. Darel tidak memperdulikan teriakan Safira yang terus memanggil namanya.
Darel membuka pintu kamar Saga dengan cukup kasar. Bahkan saat ini pria itu langsung memberi tatapan tajam pada pria yang baru saja bangun dari tidurnya. Saga terkejut dengan kedatangan ayahnya, ia juga menatap bingung pada sang ayah.
"Ayah, sudah kembali?" tanya Saga dengan sedikit senyuman di wajahnya.
Saga hendak bangun dari duduknya, namun dengan cepat Darel melangkah maju menghampirinya.
"Ayah, ada a…?" ucapan Saga menggantung saat tiba-tiba saja Darel mencengkram kerah kaos tidur yang dikenakannya.
Darel menatap Saga dengan penuh kemarahan. "Dasar tukang bohong! Kau mencoba membohongi Ayah dan Bunda, heoh?" tanya Darel seraya membentak.
Saga yang masih bingung pun beralih menatap sang bunda yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Safira pun menatap kecewa pada sang putra karena telah membohonginya.
"Maaf, Yah! Gara nggak paham apa yang Ayah maksud," ucap Sagara.
Darel tersenyum sinis di hadapan putranya, Sagara pun sempat tertegun melihat senyuman yang cukup mengerikan dari sang ayah.
"Kau masih berpura-pura tidak tahu? Jadi kau ingin tahu maksudnya kan?" tanya Darel.
Sagara pun hanya bisa mengangguk pelan, karena memang ia tidak tahu kenapa tiba-tiba sang ayah marah seperti ini kepadanya.
"Bangun kamu! Ikut Ayah ke bawah, biar kamu tahu apa yang membuat Ayahmu ini marah," Darel dengan cukup kuat menarik paksa tubun Sagara.
Bahkan Sagara sempat hampir terjatuh, jika dirinya tidak bisa mengimbangi langkahnya, secara dirinya baru saja bangun dari tidurnya. Tentu saja tubuhnya masih begitu lemas, tambah lagi dia belum sarapan.
Safira menangis dan mengejar suami dan putranya yang sudah terlebih dahulu keluar dari dalam kamar. Sebenarnya ia sangat tidak tega melihat putranya diperlakukan seperti itu pada suaminya. Namun ini juga salahnya, karena telah mempercayai dan selalu membela Sagara saat ia melakukan kesalahan.
Darel mendorong tubuh Sagara hingga ia terjatuh ke lantai. Pegawai dealer yang menunggu mereka pun sangat terkejut melihat apa yang barusan dilakukan oleh Darel. Salah satu pegawai dealer mencoba membantu Sagara, namun suara Darel menghentikan niat pegawai tersebut.
"Biarkan dia, dan jangan ada yang membantunya!" bentak Darel seraya berkacak pinggang.
Air muka pria setengah baya itu masih terlihat begitu marah. Sagara bangun dari posisinya, walau ada sedikit rasa nyeri di tangannya karena terbentur pot yang ada di sana.
Sagara kembali terkejut saat Darel melemparkan berkas-berkas di wajahnya. Dengan perlahan pria itu mengambil dan merapikan berkas yang terjatuh di lantai.
"Mereka datang membawa motor hasil taruhan mu bersama Marvin," ucap Darel yang membuat Sagara terkejut.
"Kau pun tidak bisa mengelak lagi, Sagara. Karena aku juga sudah meminta ayahnya Marvin, untuk mencari tahu masalah ini dari putranya. Ayah tidak habis pikir dengan tindakanmu ini, Sagara."
Darel kembali berteriak, dengan tangan yang mulai terkepal kuat. Pria itu pun menggelengkan kepalanya, tatapannya terlihat begitu kecewa dengan sang putra.
"Kau mempermainkan perasaan seorang gadis yang begitu lembut seperti Gavesha, dengan mempertaruhkan cintanya hanya demi mendapatkan sebuah motor!" Darel berkata dengan suara tinggi.
Sagara tidak bisa berkata apapun lagi, ia hanya bisa menundukkan kepala dengan perasaan bersalahnya.
"Silahkan kau nikmati motor hasil taruhanmu itu bersama sahabatmu," kata Darel kembali.
"Tapi, ingat! Jangan pernah kau menginjakkan kakimu kembali di rumah ini. Pergi kau dari rumah ini!" teriak Darel mengusir Sagara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments