Rasa sakit akan sebuah pengkhianatan, tentu tidak hanya menghancurkan hati Gavesha. Akan tetapi pengkhianatan tersebut dapat juga menggelapkan jiwa gadis polos yang memiliki hati tulus tersebut. Vesha tidak akan pernah melupakan rasa sakit seperti kabut yang selamanya tertinggal di lubuk hatinya. Rasa sakit yang teramat menyakitkan, karena telah dikecewakan oleh satu orang yang Vesha pikir tidak akan pernah menyakiti hatinya.
Selama ini Vesha salah, ia pikir Gara tidak akan pernah melakukannya. Namun kenyataannya, Gara telah melakukan hal tersebut dalam kehidupannya. Luka yang akan selalu ia ingat, entah kapan luka itu akan sembuh.
Shena sengaja datang ke rumah Vesha pagi ini setelah mendapat telepon dari Vita, yang mengatakan kalau Vesha sejak kemarin sore tidak keluar kamar. Shena memilih tidak berkuliah sama seperti Vesha, dan memilih menemani sahabatnya itu.
"Assalamualaikum, Ma." ucap Shena saat memasuki rumah sahabatnya.
Shena juga memanggil kedua orang tua Vesha dengan sebutan 'Mama & Papa' sesuai permintaan Vita dan Adam. Vesha pun tidak keberatan, bahkan dirinya juga terlebih dahulu memanggil kedua orang tua Shena dengan sebutan 'Mommy dan Daddy'.
"Waalaikumsalam, akhirnya putri Mama datang juga," jawab Vita.
Shena pun menyalami punggung tangan Vita dan menciumnya sekilas. Vita pun tersenyum pada Shena.
"Papa sudah berangkat kerja?" tanya Shena.
"Sudah, baru saja Papa berangkat," jawab Vita.
"Memangnya apa yang terjadi pada Vesha, Ma?"
Vita menghela nafas beratnya. "Mama juga tidak tahu, Shen. Sejak sore kemarin Vesha tidak sama sekali keluar kamar. Bahkan dia melewatkan makan malam dan sarapan pagi ini," Vita terlihat begitu khawatir dengan kondisi Vesha.
Shena mengerutkan dahinya. "Tidak seperti biasanya Vesha seperti ini, Ma. Kecuali dia memang mempunyai masalah, atau ada orang yang membuat hatinya terluka," ucap Shena.
"Iya, kamu benar. Vesha tidak akan bersikap seperti ini jika tidak ada yang memulainya," jawab Vita membenarkan apa yang dikatakan Shena.
Vita menatap intens pada Shena. "Apakah Vesha sudah memiliki kekasih?" tanya Vita.
Shena mengerjapkan matanya dan mengangguk pelan. "Namanya Sagara, Ma. Putra dari Oom Darel dan Tante Safira," jawab Shena.
Vita nampak terkejut dan menutup mulutnya dengan satu tangan. "Kamu serius mereka berpacaran, Shen?"
"Iya, Ma. Kalau tidak salah hubungan mereka sudah berjalan hampir 6 bulan," jawab Shen yang mengingat-ingat.
"Mama tidak tahu soal ini, Shen." ucap Vita dengan suara lirih.
Shena menggenggam tangan Vita. "Sebaiknya aku temui Vesha dulu ya, Ma. Shena usahakan kalau Vesha akan makan sarapannya pagi ini," kata Shena.
Vita tersenyum, "Ya sudah, pergilah!" jawab Vita yang mengizinkan Shena naik ke lantai atas dimana kamar Vesha berada.
Shena tersenyum tipis dan segera berjalan menuju lantai dua. Setibanya di lantai dua, Shena menatap pintu kamar sahabatnya itu. Shena mengetuk pintu kamar Vesha. Satu kali, dua kali masih tidak ada sahutan dari dalam sana. Hingga ketukan keenam kalinya barulah Vesha membukakan pintu kamarnya.
Shena membuka pintu kamar sahabatnya, dahinya bahkan berkerut membentuk tiga barisan di keningnya. Shena menatap ke sekelilingnya kamar Vesha, namun tidak ada keanehan atau keganjilan di dalam kamar tersebut. Akan tetapi sorot mata Vesha terlihat sangat berbeda.
"Are you ok?" tanya Shena dengan dahi yang masih berkerut.
Vesha yang masih berdiri di sebelah Shena pun menaikkan satu alisnya. Vesha juga mengangguk pelan.
"I'm fine," jawabnya dengan sangat santai.
Shena masih menatap bingung pada Vesha yang berjalan santai menuju tempat tidurnya. Seketika itu juga Shena menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apakah ada masalah, Sha?" selidik Shena.
Vesha tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat dengan bibir bergetar.
Sebagai seorang sahabat, Shena tidak semudah itu percaya dengan Vesha yang mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Shena yakin kalau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja, karena terbukti dari sorot mata bulat dengan bulu mata lentik itu yang terlihat memberi tatapan dingin dan kosong.
"Kamu sedang tidak baik-baik saja, Sha. Jangan bersembunyi dariku, karena aku tahu kalau kamu sedang ada masalah. Aku sangat tahu kamu seperti apa, Sha. Cerita lah, kita sudah cukup lama saling mengenal satu sama lain," ucap Shena.
Shena masih terus menatap lekat mata indah milik Vesha. Seketika itu juga mata indah itu mulai tergenangi air mata yang mungkin akan segera jatuh dari tempatnya.
Shena mulai mendekat dan memeluk tubuh Vesha. "Menangislah!" bisik Shena.
Ucapan Shena bak sebuah sihir, detik itu juga Vesha menangis dengan suara yang begitu pilu. Tangisnya bahkan terdengar cukup keras, karena Vesha berusaha untuk berteriak. Shena semakin mempererat pelukannya pada Vesha, tangannya terus memberi usapan lembut pada punggung Vesha.
"Aku disini, Sha. Aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan selalu mendengarkan keluh kesah yang kamu rasakan. Jadi jangan pernah menyembunyikan luka sekecil apapun dalam dirimu," ucap Shena yang membuat Vesha semakin terisak.
Vesha meluapkan tangisan nya dalam pelukan sahabatnya, gadis itu bahkan meremas bagian kemeja belakang yang digunakan oleh Shena. Rasa sesak itu kembali lagi saat Vesha haru mengingat kejadian kemarin siang.
Setelah cukup lama menangis dalam pelukan Shena. Akhirnya, Vesha sudah lebih tenang sedikit walau sesekali sesegukannya masih terdengar jelas. Shena membantu Vesha mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
Shena juga sedikit merapikan rambut Vesha yang berantakan. "Sudah cukup tenang?" tanya Shena dibalas anggukan pelan dari Vesha.
"Mau cerita?" tanya Shena kembali.
Vesha menghela nafasnya. "Gara," jawab Vesha.
Alis Shena terangkat satu. "Kenapa dengan Gara, apa dia menyakitimu?"
Vesha mengatupkan bibirnya dengan tangan terkepal. "Dia mengkhianatiku dan menjadikanku bahan taruhannya," jawab Vesha yang begitu geram mengingat hal tersebut.
Shena membulatkan matanya, sorot matanya kini memancarkan kemarahan luar biasa. Bahkan saat ini tangannya juga terkepal kuat.
"Brengsek," gumam Shena yang geram.
Shena kembali menatap sahabatnya itu. "Bagaimana kamu tahu kalau Gara melakukan hal sekejam ini padamu?" tanya Shena.
Vesha menghela nafas seraya menundukkan kepalanya. Detik kemudian Vesha pun menceritakan semuanya, Shena yang menyimak cerita dari awal Vesha bertemu Gara di kampus sampai di sebuah parkiran mall kembali tersulut emosi.
"Perlu aku hajar pria itu? Jujur saja aku sangat ingin memberi pelajaran kepadanya," ucap Shena.
Vesha langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan! tidak perlu mengotori tanganmu untuk membalas kejahatan seseorang. Biarkan saja tangan Tuhan yang bekerja, walaupun prosesnya lama tetapi yang namanya karma tidak akan pernah salah rumah," jawab Vesha.
Shena berdecak kesal. "Kamu ini, kenapa sih masih saja bisa sabar sama orang yang udah nyakitin kamu," gerutu Shena.
Vesha hanya tersenyum kecut. "Aku sebenarnya bukan orang yang tergolong sabar, Shen. Tapi, entah kenapa aku merasa membalas kejahatan seseorang itu tidak perlu dengan suatu hal yang sama jahatnya. Kamu tahu aku seperti apa, jika sudah tersakiti. Bahkan untuk menatap wajahnya orang yang sudah membuatku sakit saja aku malas," jawab Vesha.
Shena mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu masih akan berkuliah di sana?" tanya Shena.
"Tentu, aku akan tetap berkuliah di sana. Aku akan kembali fokus pada skripsiku, dan toko online yang aku buat bersama Mama. Mungkin akhir-akhir ini aku akan mulai sibuk mengurus semuanya," jawab Vesha.
Shena tersenyum. "Good, ini baru Vesha yang aku kenal," kata Shena.
Mereka pun kembali berpelukan, namun tanpa mereka berdua sadari. Sejak tadi Vita mendengarkan apa yang sudah diceritakan oleh Vesha. Vita juga sama seperti Shena yang sangat kesal dengan pria yang bernama Sagara.
Apalagi tadi Vita mendengar kalau putrinya itu menjadi bahan taruhan oleh Sagara dan temannya. Vita yang kesal pun segera pergi dari depan kamar putrinya.
"Benar-benar anak itu, lihat saja nanti. Aku pastikan si daun Saga itu akan menyesal karena sudah menyakiti hati putriku," gerutu kecil Vita sambil berjalan menuju kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments