Hari pernikahan telah tiba. Karena Ningrum weeding organizer, maka pelaminan dan sebagainya tidak perlu pusing, karena Ia memiliikinya.
Jenny bertugas sebagai make up, karena ilmu yang diajarkan oleh Ningrum sudah dikuasainya.
Pagi ini tampak begitu ramai dikediaman rumah Ningrum. Namun Ia hanya mengundang keluarga inti antara kedua belah pihak dan nuga para tetangga sekitar saja.
Menjelang siang, Andini yang dijemput oleh Yamknk menghadiri pernikahan sahabat mereka dengan membawa bingkisan dan doa terbaik mereka.
Ningrum tampak tersenyum bahagia saat bersanding dengan sang pria yang selama duduk dipelaminan tampak menyiratkan senyum misteri yang tak biasa.
"Kang.. Kenapa firasatku kepada si Bima ini gak enak, Ya" ucap Andini kepada Yamink.
Yamink menatap pria yang kini menjadi suami dari sahabatnya itu "Firasatmu mengatakan apa?" tanya Yamink.
"Ya.. Firasat buruk gitu" jawab Andini.
Yamink menghela nafasnya, lalu keduanya menyelesaikan makan hidangan yang mereka ambil.
"Kita foto, yuk?" ajak Andini.
"Boleh juga.. Pengen liat reaksi Bima saat aku foto bareng ma dia" jawab Yamink, lalu beranjak dari duduknya dan menuju pelaminan untuk berfoto dengan sepasang pengantin tersebut.
Andini dan Yamink berjalan beriringan menuju pelaminan, dan melihat gelagat Bima yang tampak canggung dan salah tingkah saat melihat Yamink menuju pelaminan ingin bersalaman kepada pengantin dan berfoto.
"Kang, Dia keq salah tingkah deh.." bisik Andini kepada sahabatnya.
"He..eh.. kelihatan banget kan kalau dia utu punya salah" jawab Yamink dengan bibir yang hampir tidak terbuka karena begitu pelannya berbicara kepada Andini.
Sesampainya diatas pelaminan, keduanya bergantian memeluk Ningrum dan cipika cipiki sembari memberikan ucapan selamat kepada Ningrum.
"Semoga Sakian mawaddah dan Warrahmah, ya Mbak" ucap keduanya.
Ningrum menanggapinya dengan anggukan dan senyum sumringah.
Andini dan Yamink menuju Bima dan menyalaminya, meskipun tak suka, namun mencoba bersikap biasa saja.
Saat giliran Yamink menjabat tangan Bima, Ia sengaja mencengkramnya kuat, dan menatap tajam pada Bima sembari tersenyum mencibir.
Yamnik sengaja mengapit lengan Bima saat sesi foto, sedangkan Andini mengapit lengan Ningrum. lalu setelah sesi foto selesai, keduanya beranjak dari pelaminan.
Sementara itu, Bima tampak kesal dengan kehadiran Yamink. Ia merasa Yamink adalah ancaman baginya dan Ia harus menjauhkan Ningrum dari pria itu.
Acara demi acara telah selesai. Hingga akhirnya malampun tiba. Ningrum melepaskan accesories pengantinnya dan menghapus make upnya.
Sedangkan Bima menatapnya dengan seringai tak sabar untuk melahab istrinya.
Ningrum melepaskan pakaian pengantinnya, dan menggantinya dengan pakaian dinas malamnya.
Setelah mendapati Ningrum dalam kondisi siap tempur, Bima segera menggarap Ningrum dengan memberikan kepua- san yang selama ini tak pernah Ningrum dapatkan dari hubungan bercintanya bersama dengan Riffky sang mantan suaminya.
Salah satu pesona yang dimiliki oleh Bima Ialah mampu membuat lawan bercintanya melambung hingga mencapai puncak surgawinya.
Ningrum semakin terlena dengan segala ke romantisan yang diciptakan oleh Bima, hingga Ia tak lagi menghiraukan pesan yang pernah disampaikan oleh Yamink. Baginya kini Bima seorang pria yang begitu memikat dan memesona.
Bima terus saja tak memberi jeda kepada Ningrum untuk terbuai dalam perangkap pesona yang Ia ciptakan.
Melihat Ningrum tampak begitu mengaguminya, maka Ia kembali tersenyum seringai dengan sebuah kelicikan yang telah Ia rancang.
Melihat Ningrum tertidur pulas. Bima beranjak dari ranjangnya, Ia berjalan ke pintu balkon dan duduk dikursi santai sembari memandang langit malam.
Pria itu memyalakan sebatang rokoknya, lalu menghisapnya dengan dalam.
Phonselnya berdering, ia melihat sebuah satu panggilan masuk, dan satu nama seseorang tertulis disana. Bima me-riject panggilan tersebut, dan berulang kali nomor itu melakukan panggilan, berulang kali pula Bima me-rijectnya.
Hingga akhirnya sebuah pesan masuk diaplikasi WA-nya, lalu Bima membacanya dan segera menghapusnya san melakukan pemblokiran kepada nomor si pemanggil.
Bima me-nonaktifkan phonselnya, dan menghampiri ranjang mewah milik Ningrum. Ranjang yang tak penah Ia rasakan selama tidur dikamar kosannya.
Ia merasakan jika keberuntungan sedang menanti didepannya, bayangan kemewahan dan juga fasilitas yang menjanjikan akan menjadi impian yang nyata dengan begitu mudahnya.
Bima meraih benda pipih yang terbuat dari kuningan tersebut, lalu mengecup benda itu sembari memejamkan matanya dan mengkomat-kamitkan mulutnya seolah sedang merafalkan mantra.
Kemudian Ia menyimpannya dan memeluk Ningrum yang tertidur lelap dalam buaian mimpi.
Pagi menjelang. Ningrum menggeliatkan tubuhnya dan merasakan sebuah tangan sedang memeluknya. Ia melihat Bima yang masih tertidur pulas, dan Ningrum membelai rambut sang pria dengan begitu lembutnya.
Pria bertubuh kekar itu telah memnggempurnya malam tadi dan membuatnya hampir kelelahan.
Ningrum menggeser lengan Bima , agar menjauh dari tubuhnya Ia ingin membersihkan tubuhnya, karena merasa sangat lengket dan juga lelah.
Namun Bima menyadarinya, dan kembali menarik tubuh Ningrum dalam pelukannya.
"Mau kemana, Sayang? Ini masih suasana pengantin baru.. Mengapa harus terburu-buru" bisik pria pemikat itu dengan bisikan yang membuaikan.
"Kamu selain cantik, tetapi juga sangat memuAskan diranjang" Bima terus membisikkan kalimat yang membuat Ningrum merasa begitu sangat tersanjung dan teristimewa.
Kalimat-kalimat bualan itu belum pernah Ia dengar sekalipun dari Riffky saat mereka selesai bercinta.
Namun Bima, Ia begitu dapat membuatnya merasa teristimewah.
Bima kembali membuat Ningrum melayang pagi ini, segala cumbu rayunya membuat sang Wanita tak dapat lari dari pesona yang Ia pancarkan sebagai pria yang selalu dikagumi oleh banyak wanita.
Ningrum tak lagi dapat menggunakan akal sehatnya. Ia sudah terbuai dalam perangkap sang pria penuh misteri.
"Mas.. Kamu sangat tangguh sekali.." bisik Ningrum diakhir percintaan mereka.
Bima tersenyum licik, itu yang Ia inginkan untuk menjerat para korbannya.
Lalu Ningrum mengecup lembut kening Bima dan beranjak ke kamar mandi, lalu membersihkan dirinya.
Bima meng-aktifkan kembali phonselnya. Lalu sebuah nomor tak dikenalnya menghubunginya, dan Bima dengan cepat meri-jectnya.
Lalu Ia mmebuat pengaturan untuk phonsemnya dengan penolakan terhadap nomor baru yang masuk untuk menghubunginya.
Setelah itu Ia menghapus semua riwayat panggilan masuk dan juga pesan masuk.
Bima kemudian kembali me-nonaktifkan phonselnya untuk beberapa lamanya. Ia masih menghindari berbagai panggilan dan juga pesan untuk selama sebulan ini, karena Ia masih menyusun rencana untuk mendapatkan dan menguasai Ningrum seutuhnya.
Ningrum keluar dari kamar mandi dan menuju lemari pakaian, lalu menggantinya.
"Mas.. Kamu tidak mandi?" Ucap Ningrum sembari menjemur handuknya ditempat khusus.
"Bentar lagi, Sayangku" jawab Bima dengan nada selembut mungkin yang membuat Ningrum semakin terbuai.
"Ya sudah.. Aku ke dapur dulu untuk membuat sarapan" ucap Ningrum yang beranjak keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Ningrum tampaknya terlihat sangat sumringah, dan Ia memasak sarapan dengan penuh semangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
V3
Ningrum sdh makin Terlalu dalam masuk ke perangkap Bima
2023-06-19
0