Ningrum terlelap dalam tidurnya. Ia tidak menyadari jika saat menuju pulang tadi Bima mencampurkan obat tidur kepadanya.
Bima kemudian mengambil kesempatan untuk pergi. Pria itu menggunakan mobil dan uang yang diberikan oleh Ningrum pagi tadi untuk bersenang -senang bersama Jenny, melampiaskan hasratnya,.tentunya dengan gratis.
Saat melewati simpang, Ia dihadang oleh Lely, dan Ia terpaksa menghentikan mobilnya.
"Appan, sih..Lel?" tanya Bima yang sudah tak saabr, sebab Jenny sudah lama menunggunya.
"Baang... Bagi duitlah. Abang enak-enakan naik mobil kesana kemari, tuh Ibu dah pusing kepalanya karena Jhony dan Bram tidak bekerja, tetapi dirumah terus main game" ucap Lely ketus.
Bima mendengus kesal, dan memberikan sejumlah uang kepada Lely.. "Nih.. Berikan pada Ibu" ucap Bima sembari menyodorkan 5 lembar uang ratusan ribu. Lely dengan cepat menyambarnya dan menggenggamnya.
Bima kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat dan meninggalkan lokasi tempat Lely berjualan ayam geprek.
"Enak bener nasib Bang Bima, narsis terus kesana- kemari pakai mobil Mbak Ningrum" guman Lely lirih sembari menatap kepergian Bima.
Jenny tampak lama menunggu, ditepi jalan yang sama. Saat melihat mobil Ningrum sudah meluncur ke arahnya, Ia tampak kegirangan, dan tak sabar untuk segera bertemu dengan suami sang majikannya, keduanya merasa bangga menjadi pengkhinat.
Andini dan juga Rendy sedang makan malam disebuah hotel. Rendy baru saja selesai membawa Andini berbelanja untuk keperluan pernikahan mereka, terutama cincin sebagai mas kawin.
Rendy menginap di hotel tempat mereka makan malam, karena jika pulang malam ini akan sangat melelahkan.
"Kamu suka cincinnya, Sayang?" tanya Rendy dengan lembut.
Andini menganggukkan kepalanya, lalu dengan begitu manisnua mengecup jemari Andini.
Rendy adalah pemuda yang baik. Ia adalah seorang pekerja keras, dan juga selalu menghargai Andini dengan cintanya yang begitu tulus.
Bima menepikan mobilnya di sebuah hotel, lalu tak sabar memasuki hotel dan memesan satu kamar untuk Ia dan Jenny.
Keduanya mendapatkan kamar yang letaknya harus melewati resaturant ditempat hotel tersebut.
Tanpa sengaja, Rendy melihat Bima yang sedang menggandeng tangan Jenny dengan begitu mesra "Bima" ucap Rendy lirih, lalu seketika Andini tersentak dan menatap orang yang disebut oleh Rendy sang calon suaminya.
Rendy ingin memanggil Bima, namun Andini segera membekap mulut Rendy agar tak memanggil orang tersebut.
Dengan membolakan kedua matanya, Andini memberi Isyarat agar diam.
Akhirnya Rendy mengurungkan niatnya untuk memanggil sosok tersebut.
Akhirnya Andini bernafas lega.. "Kamu kenapa bisa kenal dengan sih, Mas?" tanya Andini lirih, dan penuh penasaran.
"Mas pernah satu proyek sama Dia, dan satu kos juga, ya kenallah.. Tapi perempuan itu siapa, Ya? Emang sih Dia sudah menduda, mungkin itu pacar barunya" jawab Rendy.
Andini mengerutkan keningnya, jika Rendy pernah satu kos dengan Bima, berarti mereka berteman akrab, dan dan setidaknya Rendy memiliki banyak tahu hal tentang Bima.
"Dia itu seperti apa orangnya, Mas?" tanya Andini penuh selidik.
Seketika Rendy menatap Andini "Kenapa begitu ingin tahu tentang kehidupan Bima? Kamu naksir sama dia, Ya?" Rendy berbalik bertanya dan merasa cemburu.
Andini dengan cepat mencubit pinggang calon suaminya "Kamu ini, ya.. Masa iya cuma nanya doank dibilang naksir" jawab Andini kesal.
Kemudian Rendy tersenyum wajah lucu, ya itulah karakter Rendy yang selalu membuat Andini akan ceria lagi.
"Sudahlah.. Jangan ngomongin orang, mending kita omongin rencana hidup kita kedepannya" jawab Rendy yang memiliki type tidak perduli dengan kehidupan orang lain selama itu tak mengusiknya.
Andini mendenguskan nafasnya kesal "Tapi dia itu suami sahabatku, Mas.. masa iya Aku melihat sahabatku dikhianati aku diam?" jawab Andini lirih dan raut wajahnya tampak penuh kesedihan.
Rendy tersentak kaget "Apa..? Jadi dia sudah menikah lagi?" ucap Rendy tak percaya.
Andini menganggukkan kepalanya lemah "Apakah semua pria akan seperti itu nantinya, berselingkuh dibelakang istrinya" ucap Andini dengan penuh rasa bimbang.
Rendy menatap sang calon istrinya "Tidak semua pria akan berbuat seperti itu, dan masih ada tersisa beberapa pria yang akan teguh menjaga hati dan cintanya untuk satu wanita saja" jawab Rendy berusaha meyakinkan hati Andini.
Seketika Andini tersenyum sumringah mendengar pernyataan dari Rendy.
Rendy juga bekerja sebagai contractor dan sudah mendapaftarkan kontrak diperusahaan yang ada di kota ini. Ia memilih bekerja dikota yang sama bersama Andini, agar tidak lagi LDR-an saat seperti pacaran.
"Aku harus bersikap bagaimana, Mas.. Aku tidak tega jika melihat sahabatku dikhianati" ucap Andini lirih.
Rendy diam menatap sang calon istrinya "Untuk saat ini jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatmu, apalagi mereka baru saja menikah, Biarkan sahabatmu mengetahuinya sendiri, ingatlah.. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat akan ketahuan juga, sebab aroma busuk bangkai akan memberitahu sendiri dimana Ia disembunyikan" ucap Rendy menegaskan.
Andini menganggukkan kapalanya, meskipun Ia merasa sangat sakit dan kecewa.
"Sudah. Ayo Mas antarkan pulang" ucap Rendy, yang menggenggam jemari Andini. Pria itu selalu membuat hati Andini nyaman dan juga tenang, sikap lembut dan perhatiannya hang tulus tanpa bulus itu yang membuat Andini memantabkan hatinya menerima lamaran Rendy untuk menikahinya.
Keduanya memilih untuk pulang, dan Rendy mengantarkan Andini ke rumah.
Sementara itu, Bima dan Jenny sudah berada dikamar hotel. Jenny yang tampak tak sabar sudah berbaring diatas ranjang untuk menunggu serangan dari Bima.
"Pak Bima.. Apakah Mbak Ningrung tidak curiga jika bapak keluar pakai mobilnya?" tanya Jenny penasaran, yang mana Ia sudah melucuti pakaiannya sendiri.
"Tenang saja, Bapak sudah memberi obat tidur padanya, jadi kita bisa bersantai dan menghabiskan malam ini" jawab Bima dengan penuh keyakinan.
Jenny tersenyum sumringah "Bapak pinter banget, deh" puji Jenny yang sudah siap menanti serangan cumbuan dari pria yang sudah beristri.
"Bapak ini pintar segalanya" jawab Bima bangga, yang menghampiri Jenny dan memulai serangannya.
"Bapak kenapa selalu buang benih bapak saat bersama Jenn.."Tanya gadis itu yang mulai tersengal karena Bima sudah menyerangnya.
"Ya karena Bapak mau bermain aman saja, mana mungkin Bapak mau kamu hamil, kan bahaya, kamu juga bakal dipecat jika ketahuan hamil dengan Bapak. Apa kamu faham?" ucap Bima yang terus mencumbu Jenny.
Gadis itu menganggukkan kepalanya "Iya.. Jenny faham.. Tapi Jenny suka sama Bapak, kalau bapak bagaimana?" tanya Jenny ditengah hasratnya yang membara.
Tentu saja Bima tidak akan menjawabnya, sebab Ia hanya menyukai tubuh gadis itu tanpa perasaan apapun, sebab Jenny bukanlah gadis yang memiliki banyak uang dan hanya seorang karyawan disalon Ningrum.
Bima hanya menjawab dengan cumbuan-cumbuan mautnya yang membuat gadis itu melayang dan melenakan.
"Jenny cinta sama, Pak Bima" lenguhan Jenny mulai hilang bersama dengan rintihan pengkhianatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
V3
bakar aja tuh orang ,, bikin maksiat trs
2023-06-19
0