"Hallo.. Ndin.. Kamu dimana?" tanya Ningrum dengan perasaan yang sangat campur aduk.
"Dirumah.. Emang Mbak dimana?" tanya Andini santai.
"Yaelah Ni, Anak.. Mbak sudah didepan rumah Kamu, buruan keluar" titah Ningrum dengan nada menggerutu.
"Iya..iya.. Sabar dikit napa sih, Mbak.." jawab Andini, lalu menutup panggilan telefonnya dan memakai hijab yang tersangkut didinding kamarnya.
Andini keluar dengan menggunakan stelan pakaian tidur bermotif hello kitty.
Gadis itu berjalan menuju pintu gerbang dan membukanya, lalu menghampiri sahabatnya itu.
"Yuuk, masuk Mbak.." ajak Andini kepada Ningrum.
"Kamu yang masuk kedalam mobil" pinta Ningrum.
"Haaah? Emangnya mau kemana?" tanya Andini dengan penasaran.
Ningrum yang tidak sabar dengan dengan sikap Andini, laku turun dari mobil dan menggiring sahabatnya masuk kedalam mobil.
"Ya ampuun, Mbak.. Aku mau diculik kemana? Mana pakai baju tidur lagi" protes Andini, yang mana Ningrum mengacuhkan omelan sahabatnya.
"Brisik banget ne anak.. Udah diem.. Sapa juga yang mau nyulik Kamu, ngabisin pengeluaran saja yang iyanya nyulik kamu" gerutu Ningrum, lalu menghidupkan mesin mobilnya dan menuju kesebuah tempat.
Ningrum membawa Andini ke sebuah cafe yang tak jauh daru rumah mereka. Setelah memarkirkan mobilnya, Ningrum meminta Andini turun dan menuju cafe.
Andini mengomel karena pakaian tidurnya menjadi pusat perhatian para pelanggan lainnya.
Ningrum mengambil tempat disudut cafe, lalu memesan menu yang tersedia dicafe tersebut.
"Kamu pesan apa?" tanya Ningrum kepada Andini.
"Samain sajalah, Mbak.." jawab Andini.
Setelah memesan menu yang sama, Ningrum memandang kepada Andini.. "Ndin.. Mbak diteror sama cowok" ucap Ningrum dengan perasaan gelisah.
Andini melongo mendengar perkataan sahabatnya.
"Gercep banget, padahal Aku juga baru mau kenalin.. Ada temen kantor Aku, duda tampan, tajir lagi" Ceplos Andini.
"Mbak kiranya awalnya itu ulah Kamu ataupun Kang Yamink, ternyata bukan.
Ningrum menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya. "Cowok itu terus saja gencar deketin Mbak, meskipun sudah Mbak blokir nomornya, dia ganti nomor lagi" ucap Ningrum mengeluarkan uneg-unegnya.
Baru saja Ia mengucapkan kata-katanya, phonselnya kembali berdering dan membuat Ningrum menghentikan ucapannya. Ia meraih phonsel dari dalam tas-nya, Dan melihat nomor yang tidak tersimpan itu.
"Tu..kan. Baru saja diomongin, sudah nelfon lagi Dia, Ndin" ucap Ningrum, yang meriject nomor tersebut dengan kesal.
Andini mengerutkan keningnya " Koq dia bisa dapat nomor Mbak darimana?"tanya Andini penasaran.
Ningrum kembali mendengus kesal.. "Dari Mbak yang jual ayam geprek diujung simpang. Katanya itu kakak laki-laki Dia.." jawab Ningrum dengan lemah.
Andini menganggukkan kepalanya "Ada foto profilnya?" tanya Andink penasaran.
Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu membuka foto profil pria yang terus menerornya itu, lalu memperlihatkannya kepada Andini.
Gadis itu mengamati foto tersebut.. "Sepertinya Aku kenal deh deh, Mbak" ucap Andini mencoba men-zoom foto tersebut, lalu meyerahkan kembali phonsel itu kepada Ningrum.
Ningrum menatap penuh penasaran.."Masa sih? Kamu kenal dari mana?" tanya Ningrum penasaran.
"Rumah orang tuanya kan ada digang kami.. Tetapi terletak paling ujung. Dia ini Duda satu, merantau, dan seorang kontraktor" jawab Andini mencoba menjelaskan.
Ningrum terdiam sejenak, lalu menatap kembali sahabatnya "Orangnya gimana? Baik gak?" cecar Ningrum penasaran.
Andini terdiam sejenak, lalu melanjutkan ucapanya "Kalau fisik sih tampan, tubuhnya kekar, dan juga tinggi banget orangnya. Bisa dibilang perfect gitulah kalau soal fisik" jawab Andini.
Tak berselang lama, pesanan mereka datang, dan Andini menyeruput juice jeruknya "Kalau urusan sifatnya, Aku kurang tau, soalnya Dia kan merantau, trus Kita juga gak gitu kenal" ucap Andini kembali.
Ningrum menganggukkan kepalanya, pertanda memahami ucapan sahabatnya.
"Tetapi tetap waspada, Mbak.. Biasanya jika terlalu gencar sekali mengejar Kita, ada sesuatu dibaliknya, namun semua kembali kepada Mbaknya" ucap Andini mencoba menyarankan.
Ningrum kemudian menikamati pesanannya, dan memikirkan ucapan sahabatnya.
Saat keduanya sedang asyik ngobrol dan menikmati pesanan mereka, tiba-tiba saja seseorang menyapa mereka dari arah belakang dengan suara khasnya. Andini dan Ningrum spontan menoleh kearah suara tersebut, yang mana tak lain adalah Yamink yang saat itu juga sedang berada di cafe tersebut, dan baru saja selesai meeting dengan Bos-nya.
Melihat kedua sahabatnya berada dicafe yang sama, Ia menggabungkan dirinya, dan nimbrung percakapan mereka.
"Mbak.. Gimana dengan yang tadi siang, Aku ada temen yang lagi cari jodoh, orangnya baik, tidka sombong dan juga rajin menabung" ucap Yamink sembari tersenyum nyengir.
Andini sampai tersedak mendengar ucapan sahabatnya yang konyol itu.. "Yaelah.. Pakai rajin menabung segala.. dah banyak belom tabungannya" tanya Andini sembari menyuapakan makanannya.
"Tenang saja, Mbak Andin.. Pokoknya tajir, deh" jawab Yamink dengan serius.
Tiba-tiba telefon Ningrum kembali lagi berdering, dan Ningrum melihat nomor yang sama, lalu memutar bola matanya dengan malas.
Yamink yang penasaran merampas phonsel sahabatnya dan melihat foto profil yang teryera dilayar phonsel sahabatnya, lalu mengerutkan keningnya.
"Ini Kan m, Mas Bima? Koq Mbak bisa kenal sama Dia?" tanya Yamink dengan pandangan penasaran.
"Bukan kenal, soalnya belum kenalan" jawab Andini menyela.
Ningrum mendengus kesal "Nomor Mbak diberikan pada orang ini oleh salah satu keluarganya. Koq Kang Yamink kenal sama Dia?" tanya Ningrum penasaran.
Yamink yang semula bersemangat ingin menjodohkan Ningrum dengan atasannya, tiba-tiba badmood setelah melihat mengetahui sahabatnya didekati oleh pria bernama Bima tersebut.
"Saranku sih, hati-hati saja dengan orang ini Mbak.. Tapi semua kembali kepada Mbaknya" ucap Yamink dengan lirih.
Seaat phonsel Yamink berbunyi, lalu Ia melihat jika itu dari Ibunya.
yamink mengangkatnya "Ya.. Hallo, Bu.. Ada apa?" tanya Yamink dari telefonnya "Oh.. Iya.. Ini Yamink sudah selesai, dan bentar lagi juga pulang.. Iya nanti Yamink belikan ya, dah Ibu.." ucap Yamink mengakhiri panggilan telefonnya.
"Maaf, gak bisa lama-lama.. Ibu minta dibelikan obat kolestrolnya sudah habis" ucap Yamink, berpamitan kepada keduanya.
Ningrum dan Andini mengangguk bersamaan.. "Hati-hati, Kang.." ucap keduanya, lalu dijawab senyum dan anggukan kepala dari Yamink.
Ningrum menatap Andini "Sepertinya Kang Yamink mengenal dekat orang bernama Bima ini" ucap Ningrum kepada Andini. Gadis itu sudah menyelesaikan suapannya, dan meneguk habis juice jeruknya.
Setelah itu Andini menganggukkan kepalanya "Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kang Yamink tentang orang ini, sebaiknya Mbak berhati-hati saja" ucap Andini dengan serius.
Ningrum menatap nanar sahabatnya, dan mencoba memahami apa yang disarankan oleh kedua sahabatnya.
"Pulang, Yuk.. Dah malam" ajak Ningrum.
"Yuuuk.." jawab Andini.
Lalu Ningrum memanggil pelayan dan membayar pesanan mereka, lalu menuju pulang.
Sesampainya didepan pintu pagar rumah Andini, gadis itu turun, dan berpamitan kepada sahabatnya.
"Mbak.. Sering-sering saja ya culik Aku.. Aku rela koq kalau ditraktir tiap tiap malam" ucap Andini dengan senyum lebarnya.
Ningrum memanyunkan bibirnya, dan memutar mobilnya menuju pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Bahasa didalam percakapan sudah pas banget 👍👍
2023-12-07
1
V3
berarti kang Yamink tahu yaa ttg si Bima 🤭🤭
2023-06-18
0