Sebulan kemudian...
Bima menemui Ningrum dirumahnya saat malam hari dan Ia menaiki sepeda motor sportnya.
Ningrum keluar dari rumahnya, dan duduk diteras rumah.
Tampak Bima menggunakan pakaian ber merk, dimulai dari kemeja dan sepatu hingga celana jeans yang digunakannya, Ningrum tau itu harganya sangat mahal jika dilihat dari bandrol di Mall.
Sepertinya Bima adalah orang gemar memakai pakaian dan barang mewah. Namun Ningrum mencoba memakluminya sebab jika dilihat pekerjaannya sebagai contractor itu adalah hal wajar.
Namun jika dibandiing Riffky dan Andy, tentu keduanya jauh lebih tajir, namun tidak begitu royal akan penampilan.
"Hai,cantik? Apakah Kau sudah siap untuk aku sunting menjadi istriku?" tanya Bima seoalah tak sabar untuk segera mempersunting Ningrum.
Ningrum tampak diam. Sebenarnya Ia ragu, namun hati dan akalnya seolah bertentangan. Dimana akalnya mengatakan tidak, namun hatinya mengatakan iya.
Bahkan Ningrum merahasiakan ini semua dari kedua sahabatnya. Ia tahu jika sampai kedua sahabatnya tahu, maka tentu mereka akan menceramahinya, dan akhirnya Ningrum berusaha merahasiakannya.
"Aku masih menunggu orangtuaku datang kemari, dan Esok baru sampai" jawab Ningrum.
"Oh.. Lebih cepat lebih baik, Cantik.. Aku sudah tak sabar untuk menjadi suamimu" ucapnya dengan nada penuh makna.
Selama mereka mengobrol, pandangan mata Bima tak lepas dari retina Ningrum.
Pandangannya terus intens menatap bola mata Ningrum, sehingga membuat wanita itu gelisah dan debaran didadanya terasa sangat bergemuruh.
"Mengapa Aku jadi seolah tunduk padanya?" Guman Ningrum dalam hatinya.
"Percayalah, Aku akan menjadi suami yang baik untukmu" ucap Bima mencoba meyakinkan hati Ningrum.
Wanita itu merundukkan kepalanya dan mencoba mempercayai setiap ucapan yang diutarakan oleh Bima.
******
Hari lamaran telah tiba. Keluarga Ningrum telah tiba dan membuat acara sederhana untuk menyambut lamaran dari keluarga Bima.
sebenarnya keluarga Ningrum mencoba menasehati agar tidak terburu-buru menikah, sebab mereka berkenalan baru saja sebulan lebih dan belum mengenal karakter satu sama lainnya.
Seorang kerabat Ningrum memperhatikan Bima yang saat itu ikut datang melamar bersama keluarganya. Pria paruh baya itu melihat ada aura negatif yang terpancar pada tubuh Bima dan naungi cahaya kegelapan. Ia menggelengkan kepalanya, dan melihat jika rumah tangga Ningrum kelak akan banyak mengalami prahara.
Namun Ia tak ingin mengutarakannya, sebab tampaknya Ningrum saat ini sedang berbahagia.
Setelah acara lamaran, maka diputuskan akan dilangsungkan pernikahan yang berjarak waktu seminggu saja, semua terkesan sangat terburu-buru dan dipaksakan.
Namun karena Ningrum tampaknya juga ingin segera menikah secepatnya, keluarga tak dapat mencegahnya.
keesokan harinya, Ningrum kembali memanggil kedua sahabatnya untuk datang ke salonnya. Karena sudah sangat lama tak bertemu, sebab selama sebulan ini, Ningrum menghindari keduanya.
Lalu Andini dan Yamink datang menghampiri Ningrum ke salonnya.
Sesampainya dilantai dua, mereka duduk sofa dan tampak masih saling diam.
"Ada apa? Tampaknya penting banget, dan akhir-akhir Mbak menghindari kita berdua. Apakah Kita ada salah sama, Mbak?" cecar Andini.
Ningrum menarik nafasnya dengan dalam, lalu mengehlanya "Ndin, Kang Yamink.. Sebelumnya aku meminta maaf jika selama ini menghindari kalian. Dan hari ini aku ingin mengatakan kepada kalian, jika esok Aku akan menikah dengan Bima" ucap Ningrum dengan berat.
"A-apa.??!" ucap keduanya secara bersamaan. Lalu Yamink dan Andini saling pandang dan tak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.
"Mbak.. Inikah alasan selama ini Mbak menghindari kami?" cecar Andini.
Ningrum menggigit bibirnya. Ia tampak bingung akan memberikan jawaban apa atas pertanyaan Andini.
"Mengapa terkesan mendadak dan juga dipaksakan?" tanya Yamink dengan tatapan tak biasa.
Ningrum menatap Yamink.
"Aku sudah memikirkannya, dan ini keputusan yang harus aku ambil. Selama sebulan ini, ternyata aku menyadari jika aku mencintainya" jawab Ningrum lirih.
"Apakah hanya karena dia tampan dan gagah? Tanpa melihat sisi lainnya" cecar Andini.
Yamink menggenggam pergelangan tangan Andini, lalu menatapnya dengan isyarat agar diam.
"Baiklah, Mbak.. Jika ini keputusan, Mbak.. Maka kami sebagai sahabat hanya dapat mendoakan yang terbaik.. Jikapun Mbak mengundang kami untuk datang esok, maka akan kami usahakan untuk datang sebagai tanda persahabatan kita" ucap Yamink.
"Makasih, Kang.. Datanglah esok bersama Andini, aku mengharapkan doa terbaik kalian" ucap Ningrum lirih.
Andini hanya diam, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
Setelah obrolan mereka selesai, Andini dan juga Yamink keluar dari ruang kerja Ningrum dan beranjak pergi.
Setelah berada di luarAndini menyeret Yamink memasuki gang menjauhi salon milik Ningrum.
"Kang, jujur deh, Kamu.. Apa sebenarnya yang kamu ketahui dari Bima?" cecar Andini dengan nada penekanan.
Yamink menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kang.. Coba jawab jujur.!!" nada Andini semakin tinggi. Sehingga membuat orang-orang memperhatikan mereka.
"Dengar.. Aku tidak bisa mengatakannya secara spesifik, namun satu hal yang membuatmu penasaran tentang rahasia seorang Bima ialah, Ia adalah seorang penipu..!!" jawab Yamink dengan jarak yang begitu dekat dengan Andini.
Gadis itu membolakan matanya, dan tubuhnya bergetar "Kalau begitu kita harus memberi tahu Mbak Ningrum dan masih ada waktu buat Mbak Ningrum memikirkan keputusannya dan jika perlu membatalkan pernikahannya.." ucap Andini dengan gemetar dan ingin beranjak menemui Ningrum.
Namun Yamink mencegahnya, dan menarik pergelangan tangan sahabatnya.
"Jangan gila kamu.. Apakah kamu gak lihat jika Ia dalam suasana bahagia saat ini untuk menyambut pernikahannya, apakah kamu tega merusak moodnya?" ucap Yamink mengingatkan sahabatnya.
Andini menghentikan langkahnya dan menatap Yamink dengan tanda tanya.
"Lalu apa gunanya kebahagiaannya sehari dan berujung pada penyesalan seumur hidupnya?" tanya Andini lirih.
"Tapi itu hidupnya, dan semua keputusan ada ditangannya, kita hanya orang luar yang tidak perlu ikut campur terlalu dalam untuk urusan pribadinya" ucap Yamink mencoba mengingatkan Andini.
Seketika Andini terdiam, Ia masih tak rela, jika sahabatnya itu jatuh ketangan seorang penipu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Andini yang mulai menurunkan nada bicaranya.
"Kita datang esok diacara resepsinya dan berikan doa terbaik" ucap Yamink.
Andini tertunduk lemah. Lalu menghela nafasnya dengan berat.
"Baiklah.. Jemput Aku esok jika ingin pergi" ucap Andini.
"Dasar jomblo, makanya cari pasangan biar kondangan gak sendiri mulu" ucap Yamink meledek.
Seketika Andini membolakan keduanya matanya "Enak aja ngatain aku jomblo.. Aku punya pacar ya, tapi LDR-an.. Dua bulan lagi juga bakal nyusul nikah" jawab Andini sembari menjulurkan lidahnya
"Kang Yamink tu ya Jomblo Akut.." sindir Andini kepada sahabatnya.
"Eeh.. Enak aja, Aku juga bentar lagi mau nikah. Dah ah.. Aku mau ke kantor dulu, ada pesanan barang untuk di suplay" ucap Yamink yang beranjak menuju depan salon Ningrum untuk mengambil sepeda motornya yang masih terparkir didepan salon.
"Ya sudah.. Aku juga mau balik ke kantor.." ucap Andini, lalu berjalan menyeberangi jalan untuk menuju kantornya yang tak jauh dari salon milik Ningrum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
Ayu Ayuningtiyas
ku pikir yamik ini bukan sahabat baik dech . mosok sdh tau klo sahabatnya mo nikah sama org tdk baik ,dia diem aja.
harusnya yamik itu ngomong sama ningrum , siapa bima itu yg sebenarnya 😡
2023-07-19
1
V3
lanjut ach ,, penasaran ma kelanjutannya
2023-06-19
0
Ai Emy Ningrum
bnyak mengalami prahara gituh ..
2 huruf nya r' sama a' kmn yak 🙄
2023-06-12
4