Bima menggeliatkan tubuhnya. Ia tak mendapati Ningrum dikamar, namun Ia mencium aroma masakan yang berasal dari dapur.
Bima tau jika itu Ningrum yang sedang memasak sarapan. Ia melihat jam diphonselnya, sudah hampir pukul 8 delapan pagi, Ia bersiap mandi agar tak terlambat untuk mendaftarkan kontrak proyek diperusahaan yang akan dibidiknya.
Setelah bersiap dan berganti pakaian dan tentunya dengan stylis yang sangat Wah.
Ia menuruni anak tangga dan menuju ke dapur.
Tampak Ningrum sedang membuatkan sarapan, selain cantik dan juga tajir, Ningrum merupakan wanita yang pintar memasak, dan tentunya juga pandai mencari uang, paket komplit untuk seorang wanita seperti Ningrum.
Bima mendekap Ningrum dari arah belakang, memberikan kecupan di pipi kanan sang wanita, lalu merambat ke leher jenjang Ningrum.
"Pagi, Cantik.. Dah bangun aja, dan buat sarapan lagi" ucap Bima dengan segala gaya keromantisannya.
Ningrum tersenyum bahagia saat mendengar kata gombalan yang keluar dari mulut seorang Bima.
Lalu Bima melepaskan dekapannya, lalu menarik kursi makan yang kosong dan duduk menanti Ningrum menyediakan sarapannya.
Wanita itu menyiapkan seporsi nasi goreng dengan satu gelas teh hangat.
Lalu Bima menyantabnya. "Sayang.. Pinjam mobilnya lagi, mau daftarin CV ke perusahaan biar secepatanya dapat proyek" rayu Bima kepada Ningrum, sembari menyuapkan sarapan kemulutnya
Ningrum hanya menganggukkan kepalanya "Semoga berhasil ya, Mas" doa tulus Ningrum dengan sebuah harapan yang begitu dalam.
"Makasih ya, Sayang.." ucap Bima dengan begitu manisnya.
Lalu Ia mempercepat sarapannya dan bersiap akan pergi ke kantor perusahaan tersebut.
Ningrum ikut serta kedalam mobil, sebab Bima akan mengantarkannya ke salon.
Sesampainya di salon, tampak Jenny sudah berada di salon membersihkan kaca dinding depan. Ningrum menyalim tangan Bima dan segwra masuk ke salon.
Jenny yang melihat Bima bersama Ningrum, memberi seulas senyum termanisnya kepada Bima, yang mana dibalas Bima dengan senyum penuh kelicikan.
Bima mengemudikan mobil yang dikemudikannya dengan kecepatan tinggi, Ia sedang mengejar waktu.
Sesampainya diperusahaan tersebut. Ia memasuki ruang CEO karena akan mendaftarkan CV-nya yang mengambil proyek diperusahaan tersebut.
Tanpa sengaja, Bima melihat Rendy yang juga berada di ruang CEO dan akan ikut menghadiri meeting untuk para contractor baru.
Bima menghampiri Rendy "Hei.. Bro.. Apa kabar? Kamu disini juga?" sapa Bima sembari menarik kursi yang kosong disebelah Rendy.
Rendy tersentak, saat melihat Bima juga berada diruang CEO yang sama "Eh.. Iya.. Kamu mau ambil proyek diperusahaan ini juga?" tanya Rendy ramah.
"Iya.. Bisa kebetulan, Ya kita ketemu di sini" ucap Bima .
Rendy tersenyum "Iya.. Aku terpaksa pindah kemari, sebab seminggu lagi Aku akan menikah dengan orang yang tinggal di kota ini" jawab Rendy jujur.
Bima mengerutkan keningnya "Benarkah? Wah selamat, Ya.. Jangan lupa undang-undang nanti kalau pesta" ucap Bima kepada Rendy.
"Aman.. Pastilah aku undang.." jawab Rendy, lalu obrolan mereka terputus saat seorang CEO sudah hadir diruang meeting dan kursi kosong sudah penuh diisi oleh contractor lain.
Sementara itu, Ningrum sudah berada diruang kerjanya. Ia mendapat jasa untuk mendekor dan mak up pengantin di hajatan tetangganya. Ningrum memiliki beberapa kelas untuk jasa decornya, sesuai kemampuan bagdet yang dimiliki oleh sang empunya hajatan. Namun semua Ia terima sesuai orderan dan Ia bekerja secara maksimal tanpa membedakan dari segi pemesanannya.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Jenny mengetuk pintu ruangan kerjanya.
"Masuk"
Terdengar suara pintu dibuka dan tampak kepala Jenny menyembul dari balik pintu.
"Ada apa?" tanya Ningrum sembari memilah pakaian pengantin yang akan digunakan oleh sang pemilik hajatan.
"Mbak.. Ada yang mencari dibawah" ucap Jenny dengan merundukkan kepalanya, sepertinya Ia tampak sungkan menatap Ningrum.
Ningrum mengerutkan keningnya "Siapa?" tanya Ningrum dengan penasaran.
"Tidak tahu, Mbak.. Tapi katanya ada hal yang penting" jawab Jenny.
Ningrum terdiam sejenak "Baiklah, katakan tunggu" titah Ningrum, lalu menutup tutup boks plastik berukuran jumbo tersebut.
"Baik, Mbak.." Jenny kemudian keluar dari ruang kerja Ningrum.
Kenudian Ningrum menyusul untuk menemui oarang yang disebutkan oleh Jenny.
"Dimana orangnya?" tanya Ningrum kepada Jenny.
"Di ruang tunggu" jawab Jenny, sembari jemarinya menunjuk keruang tunggu.
Ningrum memganggukkan kepalanya, lalu menghampiri dua orang pria yang sedang menunggunya.
Ningrum memperhatikan kedua pria berjaket hitam dengan penampilan yang sangar.
"Ada keperluan apa, Ya Pak?" tanya Ningrum dengan penasaran sembari duduk di sofa seberang kedua tamu pria yang tak diundangnya.
"Apa benar ini Ibu Ningrum istri dari Pak Bima?" tanya seorang pria bertubuh kekar tersebut.
"Iya.. Saya istrinya. Memangnya ada apa?" tanya Ningrum semakin penasaran.
"Begini, Mbak.. Kami tadi kerumah orangtua Pak Bima untuk mencari beliau, namun nomor kontak kami diblokir dan selalu tidak mau mengangkat jika kami hubungi. Lalu orangtuanya memberitahu keberadaan salon ibu sebagai istrinya" jawab Pria kekar itu.
Ningrum semakin bingung "Iya. Tapi apa masalahnya?" Ningrum merasakan sesuatu yang tak enak..
"Begini, Mbak.. Pak Bima ada meminjam uang sebesar 30 juta saat akan mau melamar Mbak pada Bos kami. Ia berjanji akan melunasinya dalam jangka seminggu, namun sudah hampir dua bulan lebih tak juga ada niat untuk membayarnya, hingga uang berserta bunganya sudah mencapai 50 juta" jawab pria tersebut.
Deeeegh...
Jantung Ningrum seketika berdegub kencang, debaran bagaikan gemuruh yang menggelegar.
"Apa buktinya?" tanya Ningrum yang tak ingin percaya begitu saja.
Lalu kedua orang tersebut memperlihatkan bukti dari peminjaman uang tersebut, dari mulai tanda bukti terima hingga chat WA milik Bima.
Ningrum terperangah, Ia tidak menduga jika Bima melamarnya dengan uang hasil mengutang dan kini uang yang dipinjamnya memiliki bunga yang semakin menggunung.
"Sebabentar" ucap Ningrum dengan nada lirih yang hampir saja menumpahkan air matanya.
Ia menghubungi Bima, yang saat ini baru saja selesai Meeting.
"Hallo, Mas.. "
"Ya, Cantik
"Ini ada dua orang pria datang, kata mereka Mas ada pinjam uang 30 juta pada Bos mereka. apakah itu benar?" cecar Ningrum dengan penuh kekesalan.
Seketika Bima membolakan matanya, namun Ia kembali tersenyum licik dan mengambil benda pipih logam kuningan dan mengecup benda itu dengan menyebutkan nama Ningrum.
"Iya.. Sayang.. Maaf, Ya.. Bisa kamu talangi dulu, Cantik.. Nanti kalau proyek Mas sudah keluar dan uangnya bisa dicairkan akan Mas ganti deh" ucap Bima dengan nada yang mengiba dan penuh permohonan.
Sesaat Ningrum merasakan desiran angin masuk kedalam relung hatinya, dan hatinya langsung luluh.
Ningrum mendenguskan nafasnya dengan berat "Baiklah, tapi janji ganti ya.. Sebab ini sudah berbunga menjadi 50 juta" ucap Ningrum menegaskan.
"Iya, Sayangku, Cantikku" jawab Bima dari seberang telefon dengan senyum liciknya.
Lalu Ningrum mematikan phonselnya dan menatap kedua pria itu.
"Baiklah.. Saya akan melunasinya, siapkan berkas bukti pembayarannya" ucap Ningrum, kemudian beranjak ke ruang kerjanya untuk mengambil uang tunai yang Ia simpan dibrankas rahasianya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 221 Episodes
Comments
V3
kayaknya lama kelamaan Ningrum di racunin jg sama si Bima , biar semua kekayaannya jatuh ke tangan Bima 🤭🤬
2023-06-19
0
yamink oi
nih ada racun kak ningrum 😁😁🤭
2023-06-15
3