19. Precipice

Sepulang sekolah. Laut melalui jalur yang sama persis seperti sebelumnya. Pada gang yang sama pula, ia kembali dihadang preman yang sama. Walau tanpa satu orang pimpinan mereka, ketiganya telah sangat bersiap membalas dendam. Benak Laut berkutat, “Banyak sekali perundung berkeliaran. Betapa menjijikkan bangsa ini?”

“Kupikir kau kutu buku, nyatanya kau sama sekali tidak belajar,” Slamet mengawali pembicaraan.

Tepat pada sisinya berdiri si kembar yang mengenakan celana jeans dan kaos dalam warna putih. Keduanya meletakkan pemukul pada bahunya dengan kepala mendongak penuh kesombongan. Sementara di belakang si preman botak, bertumpu seorang pria yang menyembunyikan wajahnya menggunakan sweater kebanggaannya.

Laut mengembus napas lalu melepas earphone-nya dan menyimpan buku catatannya ke dalam ransel, lalu menatap tajam para preman di hadapannya tanpa ekspresi takut sekalipun, meski pada kenyataan tangannya gemetar.

“Brengsek! Akan kupastikan kau takkan bisa sombong lagi!” Sakhi mengerang sambil menjulurkan pemukulnya.

“Ayo, hantap kepalanya!” Sakha menyaut dengan melakukan hal yang sama seperti kembarannya.

“Kalian cuma berempat, ke mana satunya?” tanya Laut tetap pada nada datarnya, tapi sama sekali tidak melemahkan tatapan tajamnya.

“Kepalanya hancur!” teriak Slamet membuat Laut terkejut. “Itu gara-gara kau memukul kepalanya pakai batter. Dasar bocah sinting! Beraninya bermain curang!”

Mata Laut menilik. Otaknya berpikir, “Pasti ada kesalahan,” Dari ekspresi para preman di depannya jelas kalau mereka tidak sedang bercanda. Terlebih si gundul yang menggebu-gebu. “Tapi ... kalau itu benar, siapa pelakunya?”

“Nyari apa kau, brengsek?!” Slamet kembali berseru saat Laut tengah sibuk menyapu pandang, mencari CCTV.

Sayangnya, gang yang sukar dilalui orang itu tak dibenahi CCTV oleh bangunan di sebelahnya. Namun, mungkin saja di toko yang tepat berada di seberang jalan punya rekamannya. Pun kalau CCTV-nya menjangkau sampai ke gang tersebut.

“Sera—”

Kalimat Slamet terhenti di situ setelah sebuah batu kembali menghantam kepalanya, tapi kali ini ia tidak pingsan. “Brengsek!” erangnya.

“Kalian tidak ada kapoknya, ya!” teriak Mentari dari ujung gang lalu melangkah masuk dan bertengger di sisi Laut. “Kau tidak apa?”

Pria yang ditanya sama sekali tidak merespons. Otaknya masih menimbang banyak hal.

“Dasar pecundang! Kau jadikan jal*ng ini sebagai pengawalmu, hah?!” Sakhi membentak.

“Lac*r ... aku memang mencarimu. Untung kau datang sendiri, aku jadi tidak perlu repot-repot,” ucap Slamet dengan mengangkat sebelah bibirnya sambil mengelap darah yang merembes keluar dari kepalanya.

“Eleh ... siapa juga yang mau ketemu kamu?!” Mentari menanggapi. “Ayo pergi dari sini,”

Laut tetap bergeming, meski wanita itu menarik tangannya kuat.

“Apa yang kau lakukan?! Ayo pergi!” seru Mentari.

“Pergilah, aku tidak ada urusan denganmu,” ucap Laut.

“Aku masih punya utang denganmu! Jadi aku masih punya urusan denganmu!” teriaknya.

Laut mengembus napas lalu membalik badan.

Melihat itu, Slamet mendadak terbahak membuat keduanya menghentikan langkah, terlebih saat seorang pria menghadang mereka.

“Tidak ada tempat untuk kabur,” Slamet kembali bicara.

Seperti biasa, Mentari melayangkan serangannya dengan melempar batu. Namun kegesitan pria itu membuatnya terkejut, ia berulang kali menghindarinya, bahkan ada satu batu yang berhasil ditangkap.

“Si-siapa kau?!” tanya Mentari tergagap sebab takut.

Laut melangkah maju, menghadapkan wajah tepat pada pria itu. Keduanya saling lempar tatapan tajam tanpa ada mau yang berkedip terlebih dulu.

“Apa kau pikir ... kau setara denganku?” ucap pria itu beberapa saat kemudian. Dan dengan gerakan secepat kilat ia membuat Laut bertumpu pada lututnya sambil memegang perutnya yang nyeri.

Tidak ingin kalah, Laut menarik kaki pria itu sampai buatnya jatuh terjungkal. Lalu melompat dan menindihinya. Kemudian mencengkeram erat leher pria itu sambil mengepal tinjunya kuat-kuat.

Pria itu tertawa. Ekspresi takut sama sekali tak terlukis pada wajahnya. “Menarik,” ucapnya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakkan Mentari. Saat Laut menengok ke sumber suara, ia melihat wanita itu telah dijagal oleh si preman kembar, sementara si preman botak mengarahkan pisau ke wajahnya.

“Lihat ke mana?!” sentak pria di hadapannya. Dengan keluwesannya ia melakukan gerakan berputar sampai akhirnya mengunci tangan kanan Laut. “Rasakan ini!” serunya sambil menghentakkan tangan Laut sampai tulangnya berbunyi.

Namun tidak ada erangan yang keluar dari mulutnya, seperti orang-orang yang biasa ia lawan selama ini. Dan hal tersebut makin membuat pria itu kian tertarik pada Laut.

Bahkan dalam kondisi seperti itu, Laut berhasil mendaratkan pukulan keras berulang kali ke arah betis pria itu memakai sikunya. Sampai membuat pria itu terpaksa melepaskan kunciannya.

“Kau benar-benar menarik!” teriaknya sambil menahan kakinya yang nyeri.

Laut tertatih-tatih berusaha bangun sambil memegangi sendi pada tangan kanannya yang bergeser. “Ini tidak patah,” bisik hatinya yakin. Jarinya menekan kuat lalu menggerakkannya ke sana ke mari sampai kembali menghasilkan bunyi.

“Sinting!” ucap pria itu kagum. “Mari selesaikan urusan kita, kalau kau menang ... akan kulepaskan wanita itu,”

Laut mengembus napas dan bersiap menyerang, tapi ia urungkan saat mendengar teriakan.

“Berhenti main-main, Miller!” seru Javier yang baru saja keluar dari dalam mobil. Pria itu melangkah sambil menenteng pistol.

Pria yang dipanggil namanya terkekeh sambil menggaruk kepala.

“Ikut kami atau kulubangi kepalamu!” sentak Javier sambil menodongkan pistol ke arah Laut.

Pria itu bergeming. Ia memaksa menatap tajam pria di hadapannya dengan badan yang gemetar. Otaknya menyimulasikan kejadian bila melawan pria bersenapan. “Pasti akan ada yang tertembak, terlalu berisiko,” bisik batinnya.

Melihat tidakan Laut, Miller kembali tertawa sambil berbisik, “Dia benar-benar menarik,”

Sementara Javier terkejut, baru pertama kali ia melihat orang biasa apalagi siswa SMA sama sekali tidak gemetar di hadapan pistol. Padahal hanya para petinggi mafia dan gangster yang bisa melakukan itu. “Apa bocah ini tidak takut mati.” ucap batinnya.

Javier kembali menilik pria di hadapannya. Tatapannya jelas bukan menunjukkan kepasrahan, melainkan persiapan diri. “Bocah ini ... dia berniat melawanku?!” seru hati Javier.

Keheningan menyeruak untuk beberapa saat sampai kemudian, Slamet berseru, “Aku bisa bunuh jal*ng ini sekarang!”

Laut mengembus napas. Dengan terpaksa ia menaiki mobil bersama Miller.

Sementara pria bersetelan kantoran itu mengatur napasnya, jantungnya menegap kencang, sebab ia pikir pistolnya bisa direbut dengan mudah oleh bocah itu. Untung saja, kejadian memalukan itu tidak terjadi. “Bocah yang mengerikan,”

“Cabut!” perintah Slamet menyuruh rekannya untuk melepaskan Mentari saat ketiga orang itu telah memasuki mobil. “Kita selesaikan urusan kita nanti lagi, jal*ng!” kemudian menaiki kendaraan mereka, menyusul kepergian mobil itu.

Mentari yang sebelumnya dilempar ke tempat sampah terpogoh-pogoh bangkit dan berlari mengerjar mereka. Namun semuanya sia-sia. Laju kakinya tidak secepat kendaraan modern.

Dengan napas memburu, ia terduduk di tepi jalan. Hatinya berkata, “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Belum beranjak dari tempat duduk, Mentari dikagetkan dengan kehadiran si sweater.

“Sialan! Kau masih mau memukulku?!” teriak Mentari membuat beberapa pejalan kaki yang lain menghadapkan pandangan ke arah mereka.

Di hadapannya, preman itu melempar tatapan tajam dari balik hoodie yang menutupi kepalanya.

Terpopuler

Comments

Penulis Noname

Penulis Noname

spektakuler

2023-07-13

0

Nurrizky

Nurrizky

jir
lawan si nomor 1 kuroken

2023-07-06

0

Nurrizky

Nurrizky

Udah kek ciri khas si Mentari ini mesti bawa batu wkwkwk

2023-07-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!