Sirine ambulans berbunyi cepat bertubrukan dengan gemericik hujan. Mobil putih itu melaju, menerobos jalan sambil memaksa para sopir menepikan kendaraannya. Di dalamnya paramedis [2] memaksimalkan keterampilan juga pengalaman mereka demi menyelamatkan nyawa orang-orang yang mereka bawa.
Ghazi salah satunya. Pria 22 tahun itu berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Mukanya benar-benar hancur, tulang kepalanya pecah dan terus saja mengeluarkan darah walau petugas gawat darurat telah menutupnya. Namun kendati separah itu, kesadaran Ghazi mulai kembali. Kelopak matanya terbuka, dan ia bisa melihat apa saja yang dilakukan petugas medis terhadap dirinya meski samar, meski telinganya tak biasa menghasilkan suara selain ’Nging’, dan meski tubuhnya tidak bisa merasakan apa pun.
Otak Ghazi bertanya-tanya, ”Apakah aku akan mati kali ini? Tapi kalau aku mati, bagaimana dengan Fara? Padahal aku sudah berjanji, takkan meninggalkannya lagi. Sialan!”
Lalu semuanya mulai pudar dan menghitam. Ghazi tidak tahu apalagi yang terjadi. Ia hanya menyerahkan seluruh inderanya pada keheningan dan kesendirian. Layaknya orang yang tenggelam ke dasar laut.
***
Sepuluh tahun lalu, kala usia Ghazi menginjak 17 tahun, kekagumannya akan foto tak pernah berubah sejak mendapat kamera pertama di usia 5 tahun. Bagi Ghazi foto adalah benda ajaib yang bisa menyimpan memori selamanya. Makanya ia gemar mengupload hasil potretannya ke media sosial miliknya, walau hanya foto pemandangan.
Semua keluarga Ghazi suka difoto olehnya. Adiknya, Fara berpose dengan percaya diri tiap kali difoto. Bahkan ayahnya yang selalu murung pun menunjukkan aksinya seperti masa kejayaannya dulu. Namun itu tidak berlaku bagi Ibu Ghazi. Karena ibunya adalah boneka yang hancur.
Boneka yang sudah lama melupakan mimpinya—menjadi model—dan hancur karena menjadi mainan seseorang. Bercermin saja ia tak sanggup, apalagi difoto. Karena itu, meski Ghazi suka memotret, ia tak pernah punya selembarpun foto ibunya.
“Fo-foto? Satu atau dua minggu lagi, bagaimana?” ucap ibunya dengan wajah bengkak.
Namun, meski telah menunggu empat belas hari lamanya, wajah Ibu Ghazi masih saja babak belur.
“Lagi-lagi,” kata Ghazi tersentak melihat kondisi ibunya. “Ibu dipukuli Ayah?”
Wanita itu tak merespons, hanya meringkuk dengan memeluk kedua lututnya.
Ghazi menarik ibunya keluar rumah. Di belakang apartemen bobrok itu keduanya kembali berbicara. “Kenapa Ibu hidup begini? Bagaimana kalau kita kabur saja?” ajak Ghazi.
Ibu Ghazi lagi-lagi tidak berkata membuat anaknya makin cemas.
“Atau Ibu saja yang kabur,”
Wanita itu menggeleng kepala.
“Kenapa Ibu terus hidup dengan orang seperti itu?!”
“Jangan bicara begitu, Ghazi,” tutur ibunya. “Ayah kalian ... adalah pria yang malang. Dia harus pensiun dari tinju gara-gara mata kirinya tidak bisa lagi melihat, kau kan tahu itu,”
“Tapi dia kan bisa cari kerja, bukannya di kamar terus!” Ghazi membentak, karena baginya Ibu Ghazi yang lebih malang.
“Umurnya sudah banyak. Sulit buat ayahmu cari kerja,” ibunya masih berusaha menjaga nama baik suaminya di mata anak-anaknya.
“Tapi dia mabuk-mabukan Bu! Bahkan orang itu terus-terusan memukuli Ibu!”
“Dia begitu karena depresi,” kata Ibu Ghazi akhirnya. “Bagaimana aku bisa kabur meninggalkanmu dan Fara?”
Ghazi diam, tidak lagi menjawab. Mulutnya terkatup dengan gigi gemeletuk. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dirinya selalu tidak paham akan pemikiran ibunya.
Berulang kali Ghazi mengajak ibunya kabur dari rumah, tapi Ibu Ghazi tidak bisa dengan alasan karena Ghazi dan Fara. Walau pada akhirnya Ibu Ghazi melakukan sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Sangat tidak bertanggung jawab.
***
Seperti biasa, Ghazi mengantar Fara pulang ke rumah sebelum melanjutkan kegiatannya di sekolah dan pergi ke tempat kerja. Alangkah terkejutnya mereka berdua mendapati ibunya dalam kondisi leher terikat dan kaki tidak menempel ke tanah.
“Mas ... leher ibu jadi panjang,” ucap Fara yang kala itu baru enam tahun.
Ghazi dengan sigap menutup kedua mata adiknya yang masih kecil, yang seharusnya tidak melihat tragedi mengerikan itu bagi anak seusianya.
Kata orang pintar jika seseorang mengalami tragedi berat saat kecil, otak akan berusaha melindungi dengan cara melupakan semua ingatan. Ghazi berharap Fara seperti itu.
Ibu Ghazi akhirnya pulang ke negeri boneka setelah meninggalkan pesan agar Ghazi dan Fara tetap hidup bagaimanapun caranya.
***
Upacara pemakaman Ibu Ghazi sangat sederhana dan tidak ada foto. Waktu itu Ghazi berpikir untuk membunuh ayahnya, tapi ia sedang menangis.
“Istriku ... kenapa kau pergi dengan cara seperti ini?!” Ayah Ghazi berseru dengan linangan air mata sambil memeluk makam istrinya. “Aku tidak pernah baik padamu ... selama ini aku hanya menyakitimu! Aku bahkan belum sempat meminta maaf. Kenapa kau harus pergi?!” isaknya. “Aku sadar ... aku sekarang sadar sayang. Tolong maafkan aku, kembalilah!“
Untuk pertama kalinya Ghazi melihat ketulusan orang itu sampai membuat tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali. Dan yang paling penting adalah Ghazi tidak bisa merampas sosok Ayah dari Fara yang masih kecil, yang sudah kehilangan sosok Ibu dari hidupnya. Itulah yang akhirnya membuat Ghazi sadar akan alasan ibunya tidak bisa kabur dari rumah. Seorang anak butuh sosok orang tua.
Namun tidak berselang lama setelah meninggalnya Ibu Ghazi, ia akhirnya sadar bahwa seseorang tidak bisa berubah semudah itu.
***
Ghazi baru saja pulang kerja sambilan seraya menenteng makanan kesukaan Fara. Seperti biasa, ia mencari adiknya. “Fara, kau di mana?”
“Aku di kamar Ayah,”
“Kenapa di sana, apa kau main sama Ayah?” Ghazi membatin.
Baru saja masuk ke kamar ayahnya, Ghazi tersentak melihat wajah Fara yang lebam. Kedua matanya bengap, tidak bisa melihat dengan jelas. Kondisinya tak jauh berbeda dengan wajah Ibu Ghazi sebelumnya, seperti boneka hancur yang sangat tidak ingin lagi Ghazi lihat. Sementara itu ayahnya masih tertidur dalam kondisi mabuk.
“Mas, apa aku akan seperti Ibu?”
Mendengar pertanyaan Fara kian membuat emosi Ghazi memuncak. “Fara, tutup mata dan telingamu sebentar,” katanya lalu menghantam kepala pria berkepala empat itu berulang kali memakai martil. “Tidak ada artinya kemenangan, bila keluarga sendiri hancur seperti ini!” Kemudian meremukkan semua piala juga sabuk kemenangan yang pernah diraih oleh ayahnya.
”Kamu tidak akan seperti Ibu, Fara.” ucap Ghazi dengan tubuh berlumuran darah sambil berbisik lirih di telinga adiknya.
Fara merespons itu dengan memeluk Ghazi lalu menangis sekencang-kencangnya.
Setelah apa yang dilakukan siswa kelas 2 SMA itu, Ghazi dikenai 8 tahun kurungan. Namun ia justru bersyukur, sebab Fara tidak akan lagi menderita karena keluarganya. Kini Fara akan bisa menjalani hidup dengan tenang selayaknya anak seusianya.
2. Profesi yang memberikan pelayanan medis pra-rumah sakit dan gawat darurat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Just Nokk
kayak cerita di how to fight
2023-10-04
0
Kustri
tragis
2023-07-20
0
Penulis Noname
sedih banget
2023-07-13
0