Amarah Bambang menggebu tatkala ia melihat Laut telah sibuk belajar pada tempat duduk tanpa masalah sedikitpun. Dengan emosi meluap Bambang berteriak, “Siapa yang tadi bersih-bersih?”
Para siswa yang kaget seketika berbisik ini itu sampai ada salah seorang siswa yang berkata, “Fara, tadi dia yang membersihkannya,” sambil menunjuk ke arah wanita dengan rambut dikuncir kuda.
Dengan hentakan langkah keras, Bambang mendekat ke arah Fara lalu memberinya tatapan menusuk.
“Apa maumu?” tanya Fara dengan nada kesal.
Dengan satu tarikan tangan yang keras dan cepat, Bambang menjambak rambut wanita di hadapannya sampai mendongak, “Dasar jal*ng! Ga usah caper di sini!”
Ingin sekali Fara membalas, tapi kedua tangannya telah dijagal oleh Mardhi dan Reza. Jadi wanita itu hanya menggerutu, “Brengsek! Kalau berani ... maju satu-satu!”
“Lihat jal*ng ini!” teriak Reza. “Kau mau nangis, hah?!”
“Kau pikir aku akan segan karena kau wanita, hah?! Kau ini cuma wanita panggilan!” bentak Bambang dengan lebih keras menarik rambut Fara sampai membuatnya memekik.
Para siswa yang melihat itu terkejut sekaligus kebingungan harus bertindak bagaimana. Mereka tahu kalau Ayah Bambang adalah penyumbang dana terbesar di sekolah mereka. Beliau juga melakukan koneksi khusus dengan kepala sekolah, juga komite selama beberapa dekade ke belakang. Itu kenapa Bambang tidak perlu melalui prosedur yang merepotkan seperti mereka untuk bisa bersekolah di sekolah favorit nan bergengsi di negara mereka.
Di sisi lain, Hadi meruncingkan alisnya. Sebab ia telah tertarik dengan Fara sejak kegiatan MPLS. Keduanya menjalin komunikasi yang intens secara tatap muka maupun melalui ponsel. Namun ada kedilemaan yang menghadangnya. Bambang, bukanlah siswa yang mudah diajak berdamai apalagi saat melihat emosinya yang meluap. Terlebih bila melihat latar belakang keluarganya yang mampu mengendalikan semua hukum yang ada.
Jadi, bila berhadapan dengan Bambang, Hadi mesti mengorbankan semua hal yang telah ia bangun selama ini, termasuk mengorbankan masa depannya. “Apa aku bisa melakukannya?” batin Hadi berbisik.
Plak!
Suara tamparan menyeruak keras. Pipi Fara yang mulus dan putih, kini harus mendapatkan cap merah.
“Rasakan!” gertak Reza disusul dengan tawa mengejek.
“Akan kuberikan pelajaran yang pantas untuk lac*r sepertimu,” ujar Bambang dengan urat yang terpampang jelas pada pelipisnya.
Mendengar itu darah Hadi meninggi. Jantungnya menggebu keras. “Persetan dengan masa depan! Aku tidak boleh membiarkan Fara terluka lebih dari itu!”
Seakan mendengar seruan hati Hadi, Fara melebarkan telapak tangannya sambil berusaha menghadapkan wajah ke arah siswa itu. Satu-satunya pria yang mau berbicara dengannya dengan tulus, dengan senyum, dan tanpa tipu daya seperti lelaki-lelaki yang Fara temui selama ini.
Hadi mengetahui kegigihan Fara. Badannya gemetar, ingin sekali ia menyelamatkan Bambang, tapi tak kuasa. Hadi perlu bersabar dan tetap diam di tempat, atau kehidupan yang telah ia usahakan mati-matian akan hancur tak bersisa.
“Lihat ke mana kau lac*r!” sentak Bambang.
“Cuih!” ludah Fara yang tepat mengenai pipi Bambang. Seringainya berkilat lalu berkata, “Main sedetik saja denganmu, aku tak sudi!”
Bambang mengelap liur itu memakai punggung tangannya. Dengan tatapan tajam ia kini melempar tinjunya sekeras mungkin.
Fara telah bersiap, ia sama sekali tidak memejam mata. Otaknya masih mengingat kata-kata dari Ghazi, kakaknya
***
“Ini menakutkan,” ucap Fara yang telah berumur 10 tahun. Menghentikan latihannya dengan meringkuk bagai kucing kedinginan.
Ghazi membungkuk badan. Mengelus kepala adiknya. “Satu-satunya cara bertahan hidup hanya dengan membuat dirimu jadi kuat,”
“Kenapa kau tidak melindungiku?” tanya Fara dengan air mata yang mulai merembes dari sudut matanya. Kedua tangannya masih ia pakai untuk memeluk semua lututnya.
“Tidak selamanya Mamas denganmu,” jawab Ghazi.
“Kau mau pergi lagi?”
“Tidak. Kita akan terus bersama,”
“Kalau begitu—”
“Fara,” Ghazi memotong. “Mamas perlu kerja agar kita bisa makan. Dan kau harus sekolah,”
“Aku tidak ingin sekolah. Aku benci sekolah!”
“Dengar!” tegas Ghazi membuat adiknya yang meronta-ronta kembali tenang. “Kau bilang ingin punya banyak uang,”
Fara mengangguk tanpa kata.
“Untuk bisa mendapatkannya ... kau perlu jadi orang pintar,”
“Apa sekolah bisa membuatku jadi pintar?”
Senyum Ghazi berkilat. Ia mengangguk lalu berkata, “Kau bisa mengendalikan para tikus berdasi itu.”
Mendengar kalimat kakaknya, Fara kembali riang. Mulai saat itu ia kian giat berlatih segala hal dari kakaknya. Tak terkecuali tinju.
Sampai dua tahun yang lalu, kala Fara menginjak empat belas tahun, ia telah cukup mahir menerima semua pelatihan yang Ghazi berikan.
“Ingat ... lihat terus serangannya sampai akhir.” ucap Ghazi sambil melayangkan beberapa tinju.
Fara dengan gesit menghindarinya lalu melakukan counter dan disusul serangan beruntun.
“Kau sudah lebih mahir,” ucap Ghazi saat mereka beristirahat.
“Walau ga sebaik Mamas,”
Ghazi tersenyum.
“Apa tinju saja cukup? Kan ada banyak bela diri, Mas,” ucap Fara lalu menegak minumannya.
“Belajar semua bela diri, bukan hal mudah. Itu akan sia-sia kalau belajarmu setengah-setengah. Menjadi ahli di salah satunya, jauh lebih baik untuk anak seumuranmu,” ujar Ghazi berargumen. “Lagi pula ... di sekolah, jarang ada anak yang bisa bela diri sepertimu,”
“Apalagi seperti Mamas?” ledek Fara.
Ghazi menanggapi itu dengan tersenyum. “Ingat untuk menahan diri ... tidak semua orang bisa menerima seranganmu,”
“Ya... ya... ya....”
“Kalau nanti ada orang yang mengganggumu, dan dia memilih pergi sebelum perkelahian selesai, jangan dikejar,”
“Kenapa?”
“Karena kau sudah menang,”
“Aku lebih suka memukuli mereka sampai bonyok,”
Mendengar jawaban adiknya Ghazi langsung menyentil jidat Fara.
“Apa yang kau lakukan?!” gerutu Fara sambil memegangi keningnya.
“Kubilang ... tidak perlu dikejar,” tegas Ghazi.
“Ya kenapa?!” tanya Fara sedikit berteriak, kesal.
“Kalau kau mengejarnya, itu bisa jadi lebih buruk untukmu,” Ghazi menjelaskan.
Melihat tatapan mata kakaknya yang tajam. Fara tidak lagi berusaha membantah. Ia mengembus napas lalu melempar botol ke sembarang tempat.
“Mas,” panggil Fara beberapa saat kemudian.
“Hmmm....” jawab Ghazi.
“Gimana kalau mereka main keroyokan?” tanya Fara beberapa saat kemudian.
“Tentu saja Mamas akan memukuli mereka!” sentak Ghazi membuat adiknya tertawa.
***
Fara terkejut saat melihat tinju itu tidak mengenainya, sebab salah seorang telah menjagal tangan Bambang dengan erat. “Mamas,” bisiknya tergagap. Bagai melihat gambaran Ghazi dari tubuh pria di hadapannya.
“Si bajing*n ini!” gertak Bambang.
Seperti biasa, Laut merespons itu hanya dengan wajah datar dan tatapan tajamnya.
“Mau kupukul juga, hah?!” teriaknya yang disusul pukulan dengan tangan kirinya.
Namun lagi-lagi Laut menangkapnya dengan mudah, segampang menangkap koala.
Untuk sesaat Bambang terkejut. Padahal ia melakukan itu dengan cepat tanpa ancang-ancang, tanpa menggerakkan bahu berlebih, persis seperti saat seorang petinju melakukan straight. Dan tinju tangan kiri merupakan tinju terkuatnya. Lalu... “Bagaimana bisa si bajing*n ini menangkapnya?” bisik batin Bambang.
“Hentikan ini semua,” ucap Laut saat keheningan menyelimuti beberapa saat.
“Cih!” kesal Bambang memaksa melepaskan tangannya dari cengkraman Laut. “Untung saja tanganku sedang pegal,” membelakangi kedua targetnya lalu melangkah pergi.
Mardhi dan Reza segera melepas tangan Fara lalu mengikuti langkah kaki Bambang yang keluar kelas.
Tepat sebelum ketiganya keluar kelas, Bambang menengok ke belakang lalu berkata, “Urusan kita belum selesai.”
“Jangan kabur! Brengsek!” teriak Fara dan berusaha mengejar. Namun langkahnya terhenti karena tangannya dijagal oleh Laut. “Apa maumu? Lepaskan, brengsek!”
Laut melempar tatapan menusuknya lalu berkata, “Tak perlu dikejar,”
“Apa pedulimu?!” teriaknya sambil meronta, berusaha melepaskan diri.
“Kalau kau mengejarnya, itu bisa jadi lebih buruk untukmu,”
Mendengar kalimat itu, bagaikan mendengar nasehat dari kakaknya. Fara terdiam, matanya menilik tubuh Laut dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sampai kemudian ia terkejut karena seseorang memanggil namanya.
“Maafkan aku,” ucap Hadi saat telah berada di depan Fara.
Laut merespons itu dengan membiarkan tangan Fara kembali bebas.
Sementara wanita itu masih terpaku melihat dirinya, Hadi berkata, “Terima kasih,”
“Itu balasan untuk meja dan kursiku,” jawab Laut kemudian melangkah pergi ke tempat duduknya. Kembali memakai earphone dan mengerjakan soal di hadapannya.
Hadi membungkuk badan, sedangkan Fara masih bergeming. Untuk sesaat bibirnya bergerak, “Di ... sepertinya aku menyukai orang itu,”
Mendengar kalimat Fara membuat Hadi tercekat. Sedetik kemudian bola matanya melebar dengan alis meruncing. Hatinya mengumpat, “Sialan! Jangan rebut Fara dariku!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Kustri
hei Hadi!!! siapa yg mau merebut Fara, lawong kalian g ada hub koq, lagian Fara yg suka ama Laut
2023-07-21
0
Nurrizky
akan kah ada kisah cinta nantinya?
2023-07-06
0
Penulis Noname
up
2023-07-05
0