2. Lesson

Pukulan itu menghantam tepat di wajah Laut, membuatnya ambruk bersama meja dan kursinya. Kala semua mata tertuju ke arahnya dan kata-kata cemoohan terlontarkan, ia tetap mengatup mulut sambil memegangi pipinya. Bibirnya bergerak, bukan untuk memaki melainkan mengulas materi yang sedang dipelajari: algoritma.

“Apa yang kalian lakukan?” Hadi bertanya hampir berseru melihat kerusuhan yang terjadi di kelasnya. Pria itu datang bersama dua pengurus kelas lainnya sembari membawa buku paket yang akan dibagikan.

Sambil bangkit dan membenarkan tempat duduknya, Laut melanjutkan kalimatnya yang terdengar bagai rapalan mantra. Walau samar tapi masih cukup terdengar bagi orang-orang di sekitarnya. ”Variabel input dari pukulan adalah tulang, otot, dan energi. Sementara pipiku jadi variabel outputnya,”

”Apa yang kau katakan, brengsek?!“ geram Bambang.

“Energi yang dikeluarkan menekan otot untuk melilit tulang lebih kencang,“ Laut menyambung ucapannya dengan membereskan buku dan alat tulisnya. “sehingga membuatnya jadi lebih kuat. Itu mirip seperti kumparan,”

Melihat Laut terus saja mengoceh membuat emosi Bambang naik pitam. Ia kembali mengepal tangan dan melancarkan serangannya.

Namun kali ini Laut sigap menangkap tinju itu lalu berkata, “Beberapa orang mengira perundungan sebagai sesuatu yang mengasikan, tapi sebetulnya itu bukanlah perpindahan melainkan gaya. Kau tahu, semakin banyak gaya yang dikeluarkan, semakin sedikit perpindahan yang terjadi?”

“Hentikan!” Hadi berseru memaksa Laut melepas genggamannya. ”Kembalilah duduk, guru sedang ke sini,” tambahnya lalu membagi buku paket.

Sementara Bambang dengan raut wajah kesalnya melangkah ke tempat duduknya sambil berkata, “Kutunggu kau sepulang sekolah.”

***

Hari pertama masuk sekolah, seperti kebanyakan sekolah pada umumnya membolehkan siswa-siswinya untuk pulang gasik, tak terkecuali salah satu SMA favorit di negara ini. Pada tengah hari, di mana semestinya para siswa menyantap bekal makan siang mereka, kini justru berebut diri untuk segera keluar dari gerbang sekolah. Meski sebagian besar memilih untuk berkeliling mencari ekstrakulikuler yang sekiranya cocok untuk mereka.

Laut, sebagai siswa yang diancam oleh Bambang pun berdiri ketika wali kelas membolehkan kelas X IPA-10 pulang. Namun segera dihadang oleh Bambang beserta gengnya.

”Mau ke mana kau?” Reza bertanya dengan nada intimidasi. “Mau kabur, heh?!”

Di belakangnya Mardhi menekan kedua pundak Laut keras, memaksanya tetap duduk.

Sedangkan Bambang berdiri angkuh tepat di hadapannya. “Urusan kita belum selesai,”

Laut menengadah kepala, membalas tatapan mata Bambang dengan pandangan menusuk membuat pria itu kian emosi sampai berteriak, “Cari mati, ya?!”

Namun selanjutnya tak terjadi apa pun karena wali kelas yang kembali ke kelas sambil berseru, “Laut! Kenapa masih di kelas? Cepat ikut Bapak ke kantor!”

Mau tidak mau Bambang meminta rekannya membiarkan Laut pergi. Walau harus menekan amarahnya hingga memukul meja.

“Gimana nih, Bos?” tanya Reza kesal setelah Laut dan wali kelas pergi. “Mau ditunggu?“

Gemeletuk gigi Bambang terdengar jelas. Wajahnya penuh kejengkelan yang tertahan.

“Tapi, aku harus pergi ke gym,” saut Mardhi.

”Idiot!” bentak Reza sambil menggeplak kepalanya. ”Kita harus kasih pelajaran ke pecundang itu, atau dia bakal makin belagu besok! Ya ga, Bos?!”

Kepalan tangan Bambang menunjukkan seberapa tinggi emosi yang ia tekan. Namun pria itu tak berkata sama sekali.

”Aku punya ide!” seketika Mardhi berseru memecah keheningan. ”Gimana kalau kita rusak saja motornya?”

”Briliant!” Reza berteriak. “Kukira otakmu isinya otot semua, hahaha....” imbuhnya. “Gimana, Bos?”

Seringai Bambang berkilat membuat kedua rekannya berseru girang.

“Kau tahu yang mana motornya?” tanya Reza kembali.

Mardhi meringis lalu tertawa kecil sambil berkata, “Engga,”

“Geblek!” Reza kembali menggeplak kepala Mardhi. “Dasar otak otot!”

“Ayo ke ruang CCTV,” ucap Bambang kemudian.

Reza menanggapi dengan siulan kecil sambil berkata, “Anak investor sekolah, bebas akses manapun. Mantap!”

Sedangkan Mardhi mengangguk setuju.

***

Di ruang guru, Laut yang berulang kali tak dapat menelepon ayahnya diberi perintah untuk membantu guru merapikan data-data pada file excel. Namun dengan kelihaiannya, siswa itu mampu menyelesaikan tugas dalam beberapa menit saja yang padahal selama ini wali kelasnya kerjakan lebih dari seminggu.

”Selesai Pak,”

”Apa kau bercanda denganku?!” tanya si wali kelas kesal. “Bawa ke sini!”

Laut menuruti perintah Darius dan menunjukkan hasil kerjanya. Pria lajang yang baru saja diputuskan pasangannya karena masalah prinsip itu mengamati data pada layar laptop di hadapannya. Dan alangkah terkejutnya ia dengan apa yang telah digarap oleh Laut.

Entry data bukanlah pekerjaan enteng yang dapat dengan cepat diselesaikan apalagi oleh seorang siswa kelas sepuluh sepertinya, meski di sekolah favorit sekalipun. Namun barang kali memang anak-anak SMA zaman sekarang lebih memahami IT ketimbang dirinya yang telah menjadi guru lebih dari lima belas tahun.

“Ini beneran selesai,” ucapnya. “kau ... apa kau mau masuk jurusan IT?“

Laut menunduk kepala dan kembali ke tempat duduk yang disediakan.

“Anak zaman sekarang memang selalu mengejutkan.” bisik hati Darius lalu kembali kepada pekerjaannya.

***

Selesai mengecek CCTV, Bambang beserta dua rekannya menuju parkiran dan mencari sepeda motor putih merek Suzuki GP125. Suzuki jenis ini terbilang nyaman dan mampu menembus batas kecepatan hingga 140 km/jam dalam waktu singkat. Inilah alasan mengapa Laut tidak terlambat ke sekolah.

“Selaranya mirip bapak-bapak,“ ucap Reza ketika mereka akhirnya menemukan sepeda motor itu.

“Potong kabel remnya,“ perintah Bambang yang langsung dilaksanakan oleh Reza.

“Kau yakin memotong semua remnya? Pakai motor tanpa bisa direm, itu bahaya banget, kan?” kata Mardhi gelagapan yang seketika kembali mendapat gamparan pada kepalanya.

“Otakmu itu isinya cuma otot, sudah diam saja!” hardik Reza.

“This a lesson for stupid people like him.—“Ini pelajaran untuk orang belagu sepertinya.” sentak Bambang dengan tatapan tajam yang langsung menciutkan mental Mardhi.

***

”Kapan ayahmu sampai?“ tanya wali kelas X IPA-10 sambil menyudai pekerjaannya. Bukan karena selesai, tapi otaknya sudah lelah. Dirinya butuh istirahat. Sedangkan siswa yang ia ajak bicara tengah sibuk mengerjakan soal. Dalam hatinya bertanya, ‘Untuk apa belajar? Pelajaran saja belum dimulai.’

“Apa masih belum bisa dihubungi juga?“ tambah Darius.

“Ayahku tak pernah malas mengangkat telepon sebelumnya,“

“Apa maksudmu?“ gerutu Darius. “Kalau ayahmu sedang sibuk, suruh ibumu saja yang datang,”

“Dia sudah mati saat aku lima tahun,” jawab Laut dingin.

“Maafkan aku,” kata Darius tergagap.

Hening. Keduanya diam untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Laut mencoba menelepon ayahnya lagi tapi tetap tidak diangkat.

“Masih tidak menjawab?“ tanya Darius.

Laut tak merespons.

“Bilang saja kalau ayahmu tak mau bertanggung jawab,“

Pria yang dibicarakan akhirnya menelepon.

“Lihat, ia tak pernah malas bertanggung jawab.” ucap Laut.

Terpopuler

Comments

Aimi.。*♡🌸

Aimi.。*♡🌸

berandal, bukannya sekolah yang bener...

2023-09-14

1

Kustri

Kustri

Oowh ini yg bikin kecelakaan ayah Laut ampe meninggal

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

Good

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!