8. Destination

Tindakan Ghazi diliput oleh surat kabar nasional dengan tagline “PENJAHAT YANG MEMBUAT HEBOH SATU NEGARA KARENA MEMBUNUH AYAHNYA SENDIRI AKHIRNYA MASUK PENJARA”. Beritanya menjadi trending topic bahkan di lapas sekalipun. Dan itulah yang membuatnya merasakan neraka dunia, sebab ia tidak tidak dimasukkan ke tahanan khusus remaja, melainkan penjara umum.

Baru saja sampai di sana, semua terpidana melihatnya dengan tatapan tak senang. Tidak berselang lama Ghazi langsung dijagal.

“Anak baru, ya? Kau yang menghancurkan kepala ayahmu, kan ? Kau ini orang atau bukan, sih?” ucap salah seorang tahanan dengan tato pada lehernya. “Di luar kau sudah dihukum oleh hakim, tapi di sini giliran kami yang menghukummu.“

Tidak hanya kekerasan, beberapa homo juga membuat penjara menjadi lebih buruk. Dalam kondisi yang mengerikan itu, Ghazi kembali mengingat pesan terakhir ibunya. Jadi ia melakukan segala cara untuk bertahan hidup. Sampai membuatnya menjadi penguasa lapas. Akhirnya, Ghazi belajar bahwa untuk bertahan hidup dirinya harus menginjak orang lain.

Ghazi selalu berusaha keras untuk terus hidup dalam kerasnya kehidupan penjara, meski harus menyuap atau menghancurkan masa depan orang lain. Apa pun, ia coba untuk tidak peduli. Bagi Ghazi, keselamatan dirinya lebih penting, sebab ada Fara yang menunggunya. Meski begitu, Ghazi merasa dikhianati oleh adiknya, karena tidak pernah sekalipun Fara menjenguknya bahkan sampai hari dibebaskannya Ghazi.

“Dia pasti tidak menyukaiku karena sudah jadi kriminal, tidak ada bedanya dengan Ayah. Sialan! Tahu begitu, aku tinggal saja dia waktu itu! Sial! Sialan kau Fara!“

Kemarahan Ghazi terhadap Fara yang tidak ada kabar terus menumpuk dan bermaksud ia tumpahkan setibanya di rumah nanti.

Baru keluar dari lapas, Ghazi memposting foto yang ia ambil dari atap gedung pada media sosialnya. Tanpa tagline, tanpa kata, tanpa ada yang pernah melihat. Itu tidak penting. Bagi Ghazi, sudah bisa mengabadikan momen itu sudah cukup baginya.

Dengan kemarahan yang menumpuk, Ghazi membatin, “Akhirnya keluar, meski bebas bersyarat. Apa yang sebenarnya kau lakukan dua tahun ini Fara. Kenapa tidak menjengukku?! Sialan!“

***

“Fara! Sialan, di mana kau Fara!“ serunya setelah mendobrak pintu. “Kenapa kau ga datang saat aku dipenjara!”

Namun sekejap kemarahan itu lenyap setelah melihat keadaan Fara yang pucat pasi dengan rambut pendek. Jemarinya penuh luka. Sedang matanya mirip mata panda dengan kantung mata yang tebal. Di sisinya tidak ada perabotan rumah, hanya ada sampah. Bekas makanan dan rambut berserakan di sembarang tempat. Menumpuk bagai gunung.

Ghazi terduduk lemas. Penyesalan kini menggerogoti hatinya. Ia menyadari kalau selama dua tahun ini dirinya hanya mengeluhkan kesialan yang dialami sewaktu di penjara, dan melupakan kalau Fara tinggal sendirian. Selama dua tahun, saat Ghazi bertahan hidup di sana, Fara sekarat.

Fara masih anak SD yang tidak tahu cara bertahan hidup, dan Ghazi kabur ke penjara dengan alasan tidak akan lagi menderita karena keluarganya, tapi nyatanya, Fara kembali menderita, dan kali ini karena ulahnya.

Dengan badan gemetar Ghazi mendekati adiknya. Menggenggam kedua lengan yang rapuh itu. ”Fara … kenapa kamu begini? Siapa yang membuatmu begini?”

”Mas... besok ikut aku ke sekolah, ya?“ ucap Fara tanpa nada.

“Ya! Bilang saja siapa orangnya!” Ghazi berseru.

“Bukan itu. Aku punya keluarga, tapi teman-teman bilang aku ga punya,”

Mendengar itu Ghazi tidak lagi bisa menahan. Air matanya tumpah. Ia hanya bisa menunduk kepala.

“Kenapa aku ditinggal?” Fara kembali melanjutkan perkataannya. “Kenapa semuanya meninggalkanku?!” teriaknya dengan linangan air mata.

Sementara Ghazi tetap tertunduk tanpa bisa mengucapkan kata ‘maaf’. Namun erangan adiknya membuat Ghazi memeluk Fara dengan erat, hingga akhirnya pria itu bisa berkata, “Maaf ... Mas minta maaf. Mamas takkan lagi meninggalkanmu, kamu tidak akan sendirian lagi.”

Ruang menjijikan itu kini berubah menjadi hangat, kehangatan keluarga yang telah lama dirindukan oleh anak sepuluh tahun.

***

Sorenya Ghazi mengajak Fara pergi ke dokter praktik terdekat. Setelah menanyakan keluhan dan pengecekan, si dokter menyerahkan secarik kertas yang telah ia tulis sebelumnya.

“Hoar...ding dis-order?” ujar Ghazi.

Si dokter mengatur napasnya lalu berkata, “Sederhananya, adikmu tidak bisa membuang barang,”

“A-apa mungkin....”

Si dokter mengangguk seakan mengetahui apa yang akan diucapkan Ghazi. ”Jelas, kehilangan keluarga adalah masalah utama. Anak seusia adikmu butuh keluarga, juga teman untuk bercerita, bermain. Sendirian di rumah adalah hal mengerikan bagi anak seusianya. Apalagi yang sudah kalian alami,” kata si dokter berargumen. “Adikmu pasti kesepian di rumah, jadi dia mengisi rumahnya dengan sampah sebagai pengganti keluarganya,”

“A-pa ada obatnya, dok?”

“Untuk sementara, sebaiknya jangan tinggalkan adikmu terlalu lama,”

Ghazi mengangguk yakin. Sementara adiknya yang sedari tadi duduk tenang, kini menarik lengan Ghazi sambil bertanya, “Apa masih lama?”

Ghazi menggeleng lalu menjawab, “Sudah selesai,”

“Apa boleh aku minta bulgogi sebelum pulang?”

“Tentu saja!” Ghazi berseru sambil mengusap kepala adiknya penuh kasih.

Fara tersenyum. Hal yang tidak bisa ia lakukan selama dua tahun ini.

***

Sejak hari itu, Ghazi mengajarkan Fara cara bertahan hidup. Semua hal yang ia pelajari saat dipenjara. Berkelahi, menyuap, mengadu domba, memfitnah, ... apa pun caranya, yang terpenting baginya adalah ia dan adiknya bisa bertahan hidup. Dan bagi Ghazi satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menginjak orang lain.

Itulah alasan Ghazi menjadi anggota Kuroken, kelompok berandalan yang hampir menguasai satu daerah. Apa pun perintahnya, ia lakukan. Hingga membuatnya menjadi seorang pimpinan divisi. Karena hanya Kuroken yang menerimanya, karena hanya kelompok itu yang membuatnya mendapatkan banyak uang untuk Fara, untuk membeli kamera, untuk biaya sekolah, dan tentunya untuk bisa bertahan hidup.

Namun setelah tiga tahun lamanya bekerja di Kuroken, baru pertama kali Ghazi berhadapan dengan tembok besar. Sesuatu yang mustahil ia hancurkan meski dicoba berulang kali.

“Siapa sebenarnya anak itu?” Otak Ghazi bertanya-tanya dan kembali memunculkan kejadian saat anak dengan masa otot ala kadarnya, tapi mampu membuatnya terduduk mati kutu hanya dengan satu pukulan.

Anak yang menjadikannya tak bisa melakukan apa pun saat musuh bebuyutan Kuroken datang menyerang. Hingga membuat Ghazi harus dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi tidak berdaya. Yang bisa jadi membuat Ghazi kembali meninggalkan Fara. Dan membuat Fara tersiksa seperti dulu.

“Sialan! Gara-gara bocah itu .. aku tidak bisa bertahan hidup. Sialan!”

Kemarahannya meledak, tapi langsung padam saat senyum Fara muncul dalam benaknya.

“Aku begini, bukan salah bocah itu,” batin Ghazi. “Kalau saja aku tidak memalaknya. Kalau saja aku tidak masuk Kuroken. Kalau saja aku tidak mengajari Fara hal-hal brengsek itu. Kalau saja aku tidak dipenjara. Kalau saja Ibu masih ada. Kalau saja Ayah tidak memukulinya. Kalau saja Ayah tidak depresi. Kalau saja Ayah tetap bisa jadi atlet tinju. Kalau saja ... sialan! Semua takdir ini sangat sialan!”

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

lanjut lah...

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

bijak

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!