4. Crack

“Jadi dia memang pimpinan mafia?“ hati Darius berkata lirih. Keterkejutan masih membuatnya terpaku untuk waktu yang lama sampai sebuah dering ponsel menyadarkannya.

“Handphone siapa ini?” bisik batinnya.

Diangkatnya ponsel itu dan seketika Darius sadar kalau itu adalah milik Angkasa. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa handphone-nya ketinggalan?

Otak Darius mengulang apa yang terjadi sebelumnya dan ia mendapati kalau Angkasa sempat membungkuk sebelum akhirnya pamit bersama anaknya. Mungkin saja itu penyebab ponsel ayahnya Laut jatuh dan tergeletak di ruangannya.

Tangan Darius mendadak bergetar kala siapa teringat pemiliknya, tapi rasa ingin tahu memaksa jemarinya menekan layar hingga membuka notifikasi yang baru saja masuk. Nomor tak dikenal mengirim pesan yang membuatnya tercengang.

”Kau pikir semuanya berakhir? Akan kukirim kau ke neraka!“

Rasa panik yang berlebih membuatnya lupa cara bernapas. Dada Darius kembang kempis, berusaha mengambil oksigen lebih banyak dari udara lepas. Matanya terbelalak dan pori-pori kulitnya mengeluarkan keringat berlebih.

“Bagaimana ini? Ayahnya Laut dalam bahaya!” batin Darius kembali berseru. Ia mondar-mandir di ruangannya untuk beberapa saat sampai akhirnya mengambil ponsel miliknya lalu menyalin nomor Laut dan meneleponnya.

Sekali, dua kali, hingga berulang kali teleponnya tak terjawab makin membuat risau dirinya. “Kenapa tidak tidak aktif?!”

Geram nan panik membuat otaknya memanas sampai hampir membanting ponselnya.

“Aku tidak boleh begini. Aku harus telepon polisi!” tutur Darius mantap.

Namun sekali lagi kedilemaan muncul dan menggoyahkan keputusannya. “Apa yang harus kukatakan ke polisi? Dia itu mantan mafia! Pimpinannya pula! Apa kubiarkan saja? Toh dia juga penjahat.”

Sesaat matanya terfokus akan wallpaper pada ponsel Angkasa. Itu adalah sebuah foto keluarga yang harmonis di mana Angkasa masih terlihat muda dan Laut yang mungkin baru berusia lima tahun serta seorang wanita yang tengah hamil besar.

“Ini ibunya Laut? Apa dia meninggal saat hamil?” lagi-lagi hati Darius berbisik lirih. “Sialaaan!” teriaknya. “Aku takkan membiarkan anak rajin sepertimu kehilangan orang tuamu lagi!” tegas Darius lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya.

***

Di salah satu gang sempit yang sukar dilalui pejalan kaki, terlebih para pengendara. Lima orang preman mengerubungi Laut. Semua bawaanya telah diambil, tapi pria itu masih bergeming dengan tetap memberikan tatapan tajam.

“Hey lihat bocah ini!” salah seorang preman dengan tato tengkorak pada lengan kanannya berseru.

“Apa bocah ini mau menangis?” saut rekannya yang memakai sweater.

Sementara ketiga orang lainnya sibuk mengobrak-abrik isi tas Laut.

“Apalagi yang kau bawa?!” gertak preman berkepala botak.

Laut tak merespons. Hanya kedua bola matanya yang menatap tajam.

“Apa yang kau lihat bocah? Mau kucopot matamu?!“ tambah si preman botak menggertak. “Pegang bocah ini!”

Teman-temannya memenuhi perintah si preman botak tanpa kata. Dua orang yang sebelumnya berkata-kata kini menjagal lengan Laut.

Setelah memberikan tatapan tajam kepada mereka berdua, mata Laut kembali menusuk ke arah si preman botak.

“Lihat bocah ini! Belagu banget dia,” sambung preman cungkring yang memakai celana jeans dan kaos dalam warna putih. “Bocah begini harus dikasih pelajaran!“ serunya sambil memukul perut Laut.

“Wuuuu!“ rekan-rekannya berteriak girang.

Sedangkan si preman botak menendang punggung si cungkring. Memaksanya menyingkir. ”Minggir! Ini bagianku,”

”Brengsek!” serunya setelah terjungkal.

Si tato tengkorak dan si sweater menanggapi itu dengan tertawa.

”Mau kubunuh, heh?!” sentak si cungkring seraya berdiri.

”Hentikan!” sela preman dengan badan paling besar di mana terdapat luka pada bagian mata kirinya. Ghazi namanya. Ia adalah seorang anak yatim piatu yang rela melakukan apa saja demi uang, demi bisa menabung untuk biaya sekolah, nantinya. ”Kita sudah dapat apa yang kita butuh,” tambahnya sambil menunjukkan dompet dan ponsel milik Laut.

Mendengar titah pimpinannya keempat preman tadi menyingkir dengan kata-kata intimidasi. Sementara si cungkring mengeluh dengan melontarkan pertanyaan, ”Kenapa dibiarkan? Kita bisa bermain-main sebentar!”

”Kalau bocah itu hidup, kita bisa dapat uang lagi besok,” jawab Ghazi.

”Bagaimana kalau bocah itu melapor?” si cungkring menambah pertanyaannya.

Ghazi tak langsung menjawab, ia menoleh ke arah Laut yang masih bergeming lalu berkata, ”Mustahil,”

Baru saja kelima preman itu menjauh sebuah batu melayang dan mendarat tepat di kepala si cungkring hingga membuatnya berdarah. ”Brengsek!” soraknya sambil menahan kepalanya yang perih.

Sementara di ujung gang seorang wanita berteriak, “Kembalikan dompet dan hp-nya!“

Melihat itu si cungkring geram. Ia berlari penuh amarah dengan tujuan menghabisi wanita itu.

Si wanita menanggapi dengan kembali melempar batu yang menghantam tepat di kening si cungkring sampai membuatnya pingsan.

“Rasakan!” teriaknya yang disusul dengan napas memburu udara.

”Dasar lacur! Apa yang kau lakukan?!“ raung Sakha si tato tengkorak, kembaran si cungkring tadi, Sakhi namanya. Badan pria itu sama cungkringnya, yang membedakan dari Sakhi hanya rambutnya yang dicat warna biru dongker. Selain itu sama semua.

“Aku masih punya banyak di sini,“ kata si wanita sambil memamerkan batu pada genggamannya.

Amarah yang memuncak membuat Sakha berlari sekencang-kencangnya ke arah si wanita. Fokusnya hanya pada si wanita sampai tak melihat Laut yang menjulurkan kakinya hingga membuat Sakha terjungkal.

Menanggapi hal itu si wanita langsung memberondongnya dengan batu yang ia bawa sampai membuat Sakha menyusul kembarannya: pingsan.

“Gimana bos?” tanya si botak.

Ghazi mengembus napas dan bersiap menerjang si wanita bersama kedua rekannya yang masih sadar. Kala ketiganya mulai berlari, sekali lagi si wanita telah menyiapkan rencana liciknya dengan menarik bajunya hingga separuh terbuka lalu berteriak, “Tolooong! Ada orang-orang cabul!“

Para preman terkejut sampai berhenti bergerak. Ghazi yang pertama kali sadar setelah mendengar seruan warga meminta kedua rekannya untuk membawa si kembar cungkring yang pingsan. “Urusan kita belum selesai!” gertaknya lalu melangkah pergi.

Laut yang sedari tadi mematung dan hanya memberikan tatapan tajam ke lawannya kini justru menghadang segerombol preman itu tanpa rasa takut sedikitpun. Mulutnya bergerak dan berkata, “Kembalikan ponselku,”

Ghazi mengencangkan otot lengan kanannya lalu melancarkan tinju keras ke pipi Laut sampai membuatnya terjungkal. Namun tak butuh waktu lama untuk pria itu bangkit dan mengatakan kalimat yang sama: “Kembalikan ponselku,”

Situasi yang tak menguntungkan bagi Ghazi dan rekan-rekannya membuat ia geram akan tindakan Laut. Sekali lagi pria berotot itu melempar kepalan tangannya cepat nan keras, tapi kali ini hanya menghantam udara. Laut sukses mengelak dengan gerakan kecil yang dilanjutkan tusukan pada ulu hati Ghazi.

Pria berotot itu tersentak dan tertunduk di tanah berdebu sementara kedua rekannya melebarkan mata, terkejut.

Dan sekali lagi, pria yang sedari tadi hanya memberikan tatapan tajam berkata, “Kembalikan ponselku.”

Terpopuler

Comments

ORC

ORC

Cerita nya bikin nagih , terus semangat Thor 🌹

2023-10-18

0

Kustri

Kustri

wah ternyata Laut beraksi juga
hei, wanita yg menolong Laut apa jodoh'a... hahaaa

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

mantap

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!