3. Family

Setelah menunjukkan ruangan Darius, pria yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kedua pasang mata terkejut saat melihat penampilannya. Pria berkepala lima itu datang dalam keadaan tidak baik. Mukanya penuh lebam dan pakaiannya compang-camping.

“Laut, apa dia ayahmu?” bisik Darius.

Pria yang ditanya mengangguk. Kedua bola matanya masih tak lepas dari ayahnya.

“Apa dia preman?” Darius melanjutkan pertanyaannya.

Belum sempat menjawab Ayah Laut tertawa sambil menggaruk kepala. “Yah ... maaf karena datang dengan kondisi seperti ini,” katanya lalu mengenalkan diri. “Angkasa, ayahnya Laut,”

Darius bangkit dan menjabat tangannya. Dalam hatinya berbisik, “Apa kalian keluarga alam semesta? Jangan bilang kalau nama istrimu Bulan.”

Melihat ekspresi Darius yang kebingungan Angkasa kembali tertawa. “Yah ... kebanyakan orang yang mendengar nama kami bakal mengira kalau nama istriku Bulan, dan itu benar. Hahaha....”

Dahi Darius berkerut. Ia sulit berkata-kata. “Silakan duduk,”

Angkasa menempatkan tubuhnya pada kursi di hadapan Dairus, sedangkan Laut kembali pada soal-soal di hadapannya.

“Bapak Angkasa....”

Melihat ekspresi lawan bicaranya yang masih kebingungan, Angkasa menjelaskan apa yang baru saja ia alami. “Ada sedikit kecelakaan di tempat kerja, tapi ini bukan masalah,”

Darius mengembus napas lalu bertanya, “Kau tahu kan aturan berkendara?”

Pria itu mengangguk.

“Kenapa membiarkan anakmu pakai motor, padahal dia baru lima belas tahun?” imbuhnya.

“Yah... kau tahu? Anakku malas untuk bangun,” jawab Angkasa dengan tawa khasnya.

“Sudah kubilang, aku belajar sampai malam,” sela Laut membuat kedua pria itu terkejut.

“Hahaha....” Angkasa menyambung kalimatnya, “tapi anak itu lebih malas telat ke sekolah,”

Darius menarik napas dalam. “Apa pun alasannya, aturan harus ditaati. Bukan untuk dilanggar,”

“Akan kuingat itu,” tanggap Angkasa.

“Dan bila ini terulang. Mohon maaf, selanjutnya kau bisa temui anakmu di kantor polisi,” tegas Darius.

Angkasa diam, menatap mata lawan bicaranya tajam. “Prinsipmu bagus Pak. Semoga tidak membuat pasanganmu gerah, karena kau terlalu kaku. Hahaha....”

Bagai dilempar batu Darius mengerut dahi. Namun ia tetap menjaga image profesinya. Jadi ia tersenyum, walau sinis.

“Apa sudah selesai Pak?” tanya Angkasa.

Darius lagi-lagi mengatur paru-parunya, lalu menyodorkan form pernyataan untuk Angkasa isi dan tanda tangani. Kala jemarinya meraih bolpoin mata Darius terfokus pada sebuah cincin yang bertengger pada jari manis Angkasa, tapi ia tak berani melempar pertanyaan.

Setelah semua prosedur telah dilaksanakan Darius menyilakan mereka keluar dari ruangannya. Seperginya Laut dan Angkasa, Darius kembali mengumpat, “Kenapa preman sepertinya bisa punya anak rajin seperti itu?!”

***

Di parkiran, seperti biasa, seperti yang dicontohkan oleh polisi ketika orang-orang mencoba memperoleh SIM. Laut memeriksa kendaraannya, tapi diberhentikan oleh ayahnya. “Tak perlu dicek lagi. Motor ini sudah membawamu ke sekolah dengan aman, pasti baik-baik saja,”

Pria itu diam, tak menanggapi. Menyetujui begitu saja, karena ia tahu percuma melawan ayahnya.

Tanpa kalimat Laut menunjuk pipinya yang langsung disadari oleh Angkasa.

“Sudah kubilang, ada sedikit kecelakaan di tempat kerja,”

Laut mengembus napas lalu berkata, “Biar aku yang mengemudi,”

“Jangan bodoh!” ayahnya berseru. “Wali kelasmu akan melemparmu ke penjara remaja kalau kau melakukannya lagi,”

Pria itu diam, melihat ayahnya yang mulai menyalakan mesin.

“Aku harus kembali ke tempat kerja, kau bisa pulang sendiri, kan?” tanya Angkasa.

“Aku mau mampir ke tempat les,” jawab Laut.

“Apa kau tidak malas belajar terus?”

Tak mendapat jawaban apa pun dari anaknya Angkasa kembali berkata, “Dengar, bukan cuma otakmu yang perlu belajar, tapi juga ototmu juga!” sambil memamerkan otot lengannya yang cukup besar, bila ditimbang dari usianya yang telah mencapai setengah abad lebih.

Namun lagi-lagi Laut tak menanggapi.

“Apa kau semalas itu berbicara dengan ayahmu?” gerutu Angkasa. “Ah sudahlah, aku sudah sangat terlambat,” kata ia akhirnya. “Jangan lupa isi perutmu!” perintahnya yang langsung direspons dengan anggukan kepala.

“Kalau begitu ... aku berangkat dulu.” ujar Angkasa sambil melajukan sepeda motornya keluar gerbang sekolah.

Sementara Laut hanya bisa melihat ayahnya pergi begitu saja. Dalam benaknya ada sesak yang tidak jelas asalnya. Perasaan gelisah tak menentu. Bagai pertemuan itu adalah terakhir kalinya. Namun segera ia singkirkan pikiran tak jelas tersebut dengan meraih vocabulary-nya dari dalam saku.

***

Selesai menyeduh kopi, Darius duduk di kursi tamunya sambil melihat berkas yang tadi ditanda tangani oleh ayahnya Laut. Tertera nama di sana ‘Angkasa Putra’. Melihat itu hati Darius berbisik lirih, “Namanya sampai sama juga? Keluarga semesta apa emang ga kreatif? Ah ... nama saja yang sama, sikap mereka beda jauh.”

Diletakkannya lembar itu. Sambil menikmati cemilan dan kopi buatannya, Darius menikmati waktu istirahat dengan membaca berita melalui ponsel pintarnya. Seperti biasa, seperti kebanyakan pria pada umumnya yang menyukai cerita kriminal, Darius membaca dengan cermat.

Berita yang tengah trending kali ini seputar pimpinan mafia yang telah lama diisukan pensiun dan membagikan seluruh kekayaannya untuk kegiatan amal. Beberapa anggotanya menyerahkan diri dan kini telah aktif untuk kegiatan kemasyarakatan. Kelompok yang dulunya menjadi musuh pemerintah telah benar-benar berubah demi kemakmuran masyarakat.

Banyak warga masyarakat yang ingin bertemu dengan pimpinan mafia tersebut karena ingin mengucapkan terima kasih. Sebab bukan hanya amal yang dilakukan anggotanya tapi juga perlindungan yang selama ini mereka lakukan atas ketidakadilan yang terjadi, yang tak pernah terekspos di media mana pun.

Beberapa mantan anggota mafia itu menjelaskan kalau usia pimpinan mereka seharusnya menginjak lima puluh dua tahun di tahun ini, tapi badannya yang kekar tak menunjukkan kalau pria itu telah berkepala lima. Lebih lagi, ia adalah pria humoris yang jago berkelahi dengan tangan kosong dan segala jenis senjata. Tak ada satupun anggota yang keterampilannya melebihi pimpinan mereka. Namun bukan karena keterampilan bertarungnya yang membuat para pengikutnya setia, melainkan wibawa dan kehangatan hatinya yang tak pernah memandang status orang.

Hal detail lainnya adalah namanya hanya terdiri dari dua suku kata yang sangat mudah diingat, yang mana satunya berarti laki-laki. Salah seorang yang menyebut dirinya sebagai eksekutif berkata kalau nama di keluarga Bos mereka seperti keluarga semesta.

Membaca itu hati Darius terguncang mendapati kemiripan yang sangat jelas. Namun akalnya memaksa menolak. Walau pada akhirnya mau tidak mau Darius harus membenarkan asumsinya setelah membaca paragraf terakhir pada berita tersebut.

Terpopuler

Comments

IRINA SHINING STAR

IRINA SHINING STAR

saya mampir kakak, tetap semangat ya.. novel kakak bagus banget dan seru sekali☺

2023-09-14

0

Kustri

Kustri

lanjut...

2023-07-20

1

Penulis Noname

Penulis Noname

Luar Biasa

2023-07-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!