13. Yearning

Ishwar terkejut setengah mati melihat nilainya yang bahkan tak bisa mencapai angka 300, sampai membuatnya berada di kelas paling terakhir. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, Euno, siswa bermasalah yang tahun lalu tidak naik kelas berada di kelas utama dan bertengger di peringkat kedua.

“Apa aku memang sebodoh ini?” ujarnya murung.

“Kau tidak pergi?” tanya Laut yang membuat Ishwar makin membenamkan kepalanya.

“Semua siswa bodoh sepertiku tetap tinggal di kelas ini,” jawabnya. “Kau di kelas mana?”

“Aku di kelas utama,”

Ishwar tersentak. Ia berpikir pria itu membohonginya, tapi setelah pria berkacamata itu mengecek hasil di laptop yang Laut tinggalkan. Mulutnya tidak bisa terkatup.

“Kau ... si peringkat satu?!”

***

Les berjalan sewajarnya tempat belajar pada umumnya. Si pengajar memberitahu apa saja yang akan dihadapi di awal semester bagi siswa SMA seperti mereka, dan cara tercepat memahami materi. Penjelasannya sangat singkat, juga sederhana. Namun yang membedakan kelas unggulan dari kelas lainnya adalah jumlah pelajaran yang diterima jauh lebih banyak. Itulah mengapa kelas mereka baru berakhir saat jam menunjukan pukul 20:00.

“Baik, kita lanjutkan besok.” kata si pengajar lalu menutup les pada hari itu.

Setelah semua peserta les keluar ruangan, Laut menghampiri Euno yang tertidur di kelas.

“Apa maumu?!” Euno menggertak. Namun seketika ia membenarkan duduknya setelah menyadari kalau pria yang ia incar telah berada di hadapannya.

“Kelas sudah selesai. Kau tidak mau menyelesaikan urusan kita?” ucap Laut dengan nada dingin.

Entah kenapa, mendengar itu Euno merinding. Ia mendadak takut, rasa yang telah lama tidak dialaminya.

Laut sekajap telah mendekatkan wajahnya tepat beberapa centimeter di depan muka Euno. “Aku bisa mulai kapan pun, di mana pun. Aku tak peduli. Kalau kau mau, kita bisa mulai di sini, sekarang juga,”

Euno terperangah. Ia merasa tubuhnya menggigil. “Sial! Ada apa ini?! Apa aku takut dengan bocah ini?!” hatinya berbisik.

“Jangan buang-buang waktuku, brengsek!” kata Laut bernada dingin. Kian menciutkan hati Euno yang mengecil.

Kala Euno berusaha mendobrak rasa takutnya dengan mencoba melakukan tinju, suara pria kribo kembali menghentikan aksinya, “Apa yang kalian lakukan? Pulanglah! Gedung ini mau dikunci,”

Namun Laut tidak menanggapi, ia masih bergeming sambil menatap tajam.

Sementara Euno keliyengan dan dengan gelagapan membereskan perlengkapannya. Ia bangkit seraya berkata, “Hari ini, kau selamat. Lihat saja besok!” kemudian pergi meninggalkan ruangan itu dan Laut begitu saja.

Seperginya Euno, Laut terduduk di lantai dengan tangan dan kaki yang bergetar hebat. Dirinya tidak menyangka dapat melakukan hal barusan, dan yang paling tidak ia sangka adalah dirinya bisa selamat tanpa terluka. Apalagi dari pria berotot seperti Euno, yang dikabarkan brengsek dan hampir dipenjara.

***

Laut sampai rumah jam sembilan malam lebih dua belas menit. Selepas membuat semua ruangannya bercayaha, ia mandi dan mengganti pakaian, kemudian memanaskan tteokbokki yang ia beli di pinggir jalan. Sambil menunggu makanannya hangat, Laut membaca vocabulary.

Keheningan yang menyeruak sama sekali tak menggangunya. Ia telah terbiasa dengan kondisi itu, sebab setelah kecelakaan yang membuat ibunya meninggal, kini Laut hanya tinggal dengan ayahnya. Dan pria berkepala lima itu akan sampai rumah paling awal jam sebelas malam.

Seperti biasa, Laut menghabiskan waktu tersebut dengan membaca vocabulary-nya sambil memanaskan makanan yang ia beli di perjalanan pulang, bahkan terus membaca sampai makanannya habis ia lahap. Lalu masuk ke kamarnya, menyalakan laptop dan memutar video pembelajaran sambil merangkumnya. Sesudah itu, pria berusia lima belas tahun itu akan menikmati alunan musik pada earphone-nya sambil mengerjakan soal yang ia dapat dari internet sampai ayahnya menggedor pintu. Tidak jarang, Laut belajar sampai ketiduran, seperti yang terjadi saat ini.

Dan seperti yang terjadi pada hari-hari sebelumnya, Laut akan kembali memimpikan masa paling indah. Saat bersama ibu dan ayahnya, saat keluarganya masih utuh.

***

Sepulangnya Angkasa, mereka bertiga akhirnya kembali berkumpul di kamar Laut. Bulan menjajarkan tidurnya dengan Laut, sementara Angkasa duduk di tepi ranjang—di sisi istrinya.

“Apa yang ingin kau dengar malam ini?” tanya Bulan mengawali pembicaraan setelah menyelimuti anaknya.

“Ini waktu istimewa bagiku, bagaimana menurut kalian?” Laut balas bertanya.

Bulan melempar senyum sambil berkata, “Tentu saja, Ibu menyukainya, Nak,”

“Kalau Ayah?” Laut masih bertanya, matanya berbinar penuh harap.

Angkasa membalas pandangan itu dengan tatapan tajamnya. Lalu ia mencoba tersenyum. “Aku sama. Aku rindu kehangatan ini,”

Mendengar jawaban ayahnya, Laut merasakan kebahagaian tersendiri. Terlebih berkumpul dengan kedua orang tuanya merupakan sesuatu yang telah lama tak ia dapatkan. Dan kehangatan yang ia rasakan saat itu membuatnya melupakan semua hal buruk yang terjadi. Malahan, seperti tak pernah ada hal buruk sebelumnya atau yang ada di masa depan.

“Senyummu mengerikan,” ucap Laut membuat kedua orang tuanya terkejut.

“Benarkah?” tanggap Angkasa sembari terkekeh lalu mengelitik anaknya.

“Geli, Yah!” Laut berseru meminta ayahnya berhenti, tapi tidak langsung Angkasa turuti.

Sementara Bulan menghiasi ruangan itu dengan tawa pada wajah cantiknya.

Itu adalah hal sederhana yang sangat Laut rindukan, bahkan dalam sepuluh tahun ke depan. Kebahagiaan yang timbul akan hangatnya suasana rumah menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya, sesuatu yang mustahil ia dapatkan sekarang.

***

Keesokan harinya, sesuai apa yang telah Bulan janjikan, mereka bertiga pergi ke pantai memakai satu-satunya mobil yang Angkasa punya. Si Ayah menyetir mobil, sementara si Ibu duduk di kursi belakang bersama anaknya.

Awal perjalanan dipenuhi dengan pertanyaan apa itu laut, seperti apa bentuknya, dan bagaimana itu bisa tercipta. Angkasa, seperti kebanyakan Ayah pada umumnya menanggapi itu dengan membuat cerita fantasi karangannya, yang dengan sigap ditolak mentah-mentah oleh Laut. Mendengar itu Bulan tertawa lalu menanggapi dengan penjelasan ilmiah yang ternyata lebih bisa diterima oleh anak lima tahun.

“Kau benar-benar seperti ibumu,” ucap Angkasa bernada jengkel.

“Aku baru tahu kalau kau bisa tersinggung,” Bulan meledek.

“Aku ini juga manusia,” Angkasa menanggapi.

“Apa Ibu lebih pintar dari Ayah?”

Mendengar pertanyaan polos dari anaknya, kedua pasutri itu terbahak dan dengan kompak menjawab, “Tentu saja!”

“Bagaimana bisa wanita lebih pintar dari pria?” Laut kembali bertanya.

“Karena ibumu suka belajar,” jawab Angkasa. “Ibumu menyelesaikan gelar doktornya di usia dua puluh enam tahun,”

“Apa itu hebat?”

“Tentu saja! Kau mau jadi seperti ibumu?”

Laut tidak langsung menjawab. Matanya melihat ke arah Bulan cukup lama sampai akhirnya ia berkata, “Aku tidak mau jadi perempuan,” sambil menggeleng kepala.

Lagi-lagi mendengar omongan polos anaknya, kedua pasutri itu terbahak.

“Maksud Ayah, apa kau tidak mau jadi pintar seperti ibumu?”

Laut menolak dengan isyarat.

“Kenapa?” tanya Bulan menyerobot suaminya yang belum juga membuka mulut.

“Aku akan lebih pintar dari kalian berdua,”

Bulan dan Angkasa tersentak mendengar pernyataan anaknya. Keduanya menatap tajam ke arah Laut hingga keheningan menyeruak. Sampai akhirnya Bulan kembali membuka mulut, “Tidak ada yang mudah di dunia ini, Nak,”

“Dan, kau tahu ... seorang pria tidak menjilat ludahnya sendiri,” Angkasa menambahkan.

Laut menanggapi itu dengan berteriak, “Tentu saja!” dengan nada yang dibuat sama dengan kedua orang tuanya.

Lagi-lagi keluarga tersebut tertawa penuh kebahagiaan. Namun semua itu lenyap seketika.

Mobil Angkasa menubruk pembatas jalan, lalu berguling masuk ke jurang. Pria empat puluh dua tahun itu sekonyong-konyong berusaha mengeluarkan anaknya setelah berhasil keluar dari mobil terlebih dulu, tapi ia menyadari kalau dirinya terlambat menyelamatkan Bulan.

Angkasa dengan tenaga seadanya menahan Laut yang meronta memaksa menyelamatkan ibunya yang telah dilahap api bersama mobil dan kenangan mereka.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

dan skrg Laut akan ditinggal ayah'a yaa kasian...

2023-07-21

0

Penulis Noname

Penulis Noname

Bulan T_T

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!