9. Confidential

Di belakang mobil ambulans yang membawa Ghazi menyusul ambulans lain yang mengangkut pasien yang tidak kalah parah. Darius orangnya. Pria 30 tahun itu dalam kondisi kritis setelah mengalami kecelakaan berat, sampai membuat mobil pribadinya meledak, yang padahal belum lama ini ia lunasi.

“Dia bakal mati, bahkan sebelum sampai rumah sakit!” seru Nehan setelah melihat ke arah sphygmomanometer [3] yang terus menurun.

“Aku akan lebih cepat!” si supir berseru.

“Ambilkan jarum hijau [4],” Lelaki berkepala lima yang telah menghabiskan 20 tahun di dunia gawat darurat ini tergesa-gesa menggulung lengan bajunya.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Khufaf yang melihat Nehan mulai mengikat lengannya dengan torniquet [5]. Namun tetap menuruti apa yang diminta, sebab selama 5 tahun bekerja dengannya, keahlian yang ditunjukkan Nehan selalu berhasil menyelamatkan nyawa pasien.

“Transfusi darah,” tanggap Nehan sambil membasuh kulitnya dengan tisu alkohol. “Dia bisa mati kalau kehabisan darah,”

“Apa kau gila?! Kita tidak tahu apa golongan darahnya!” cegah rekannya.

“A, golongan darahnya A positif,” sahut Nehan cepat seraya merebut jarum dari tangan Khufaf.

Khufaf terkejut, lalu bertanya sambil memberikan support. “Bagaimana kau tahu?“

“Aku pernah bertemu orang ini sebelumnya.” jawab Nehan dengan menusukkan jarum itu ke pembuluh venanya. Dalam benaknya bertanya, “Bagaimana bisa kondisimu separah ini? Apa yang sebenarnya terjadi, Darius?”

***

Sekitar dua tahun lalu Nehan pingsan di tepi jalan setelah segerombol preman memukulinya hanya untuk mengambil semua isi tas dan dompetnya. Kala kesadarannya membaik, ia telah terbaring pada sebuah mobil yang di dalamnya tengah bertengkar dua sejoli.

Nehan tidak bisa mendengar pecakapan mereka. Kepalanya terasa berat. Bahkan saat tangannya mengusap kepala, masih ada darah segar di sana.

Mobil mendadak berhenti membuat Nehan berpikir, “Apakah sudah sampai rumah sakit?”

Namun seketika seorang wanita yang duduk di kursi depan mendadak keluar dan berseru, “Kita putus!”

“Tapi undangannya sudah—”

Kalimatnya si pria yang duduk di kursi pengemudi terhenti di situ karena si wanita menutup pintu mobil dengan keras. Si pria menduduk kepala lalu mengembus napas dan kembali melajukan mobil.

***

Di rumah sakit. Saat kondisinya membaik. Nehan kembali mendapati si pemuda sebelumnya tengah duduk dan mengamati dirinya.

“Kau sudah sadar?”

Nehan dengan tenaga yang mulai pulih berkata, “Terima kasih,”

Pria itu menyeringai, mendekatkan tempat duduknya dan kembali bertanya, “Siapa namamu?”

“Nehan,” jawabnya pelan.

“Aku menemukanmu di tepi jalan. Apa yang terjadi?”

Nehan memejam mata lalu mengatur napasnya dan berkata, “Aku … dirampok,”

“Semua barangmu diambil?”

Pria tua itu mengangguk.

“Aku akan menghubungi polisi,”

Nehan meraih tangan pria itu saat ia beranjak dari duduknya. Membuat pria itu kembali pada kursinya.

“Kenapa?” tanya si pria.

“Kau mendonorkan darahmu?” Nehan balas bertanya sambil memusatkan pandangan pada lengan kiri pria di depannya.

“Kondisinya darurat. Kebetulan saja darah kita sama,” jawab pria itu.

“Siapa namamu?” tanya Nehan.

“Darius,” jawabnya.

Nehan menyeringai. “Pria yang makmur,”

“Kau mengejek perutku?” ujarnya dengan mengalihkan pandangan Nehan dari perutnya yang buncit.

Nehan masih tersenyum. “Apa pekerjaanmu?”

“Aku mengajar di SMA Pradita Dirgantara,”

“Kau benar-benar makmur, ya?”

Darius mendengus kesal. “Sepertinya kau memang pantas dipukuli,”

Nehan terbatuk membuat Darius bergegas membantunya untuk minum. “Di mana ini?”

“Rumah Sakit JIH Solo,”

Seringai Nehan berkilat lebar makin buat Darius mengerutkan dahi.

“Kenapa kau?” tanya Darius.

“Aku bekerja di sini,” jawab Nehan.

“Jangan membodohiku,” saut Darius kesal.

Belum sempat merespons terdengar suara pintu diketuk dan seorang perawat bersama dokter masuk.

“Dokter Nehan,” ucap si dokter. “Apa yang terjadi denganmu?”

Pria berkepala lima itu lagi-lagi mengukir senyum pada wajahnya. “Dokter Khsanti. Apa ini jadwalmu?”

Sementara Darius mengerut dahi dan mengangkat kedua alisnya. Hatinya mengucap, “Ternyata benar, ya? Dia dokter,”

Khsanti mendekat seraya berkata, “Biar aku memeriksamu,”

“Lakukan,”

Melihat pria tua yang ia selamatkan telah berada dengan orang-orang yang dikenal. Darius melangkah mundur.

“Ke mana?” tanya Nehan yang melihat Darius mulai mendekat ke arah pintu.

“Aku harus menelepon pihak berwajib,” jawabnya.

“Terima kasih,” ujar Nehan.

“Kalau begitu ... aku permisi,”

“Aku akan membalas kebaikanmu ini, suatu hari nanti!” Nehan berusaha berteriak.

Sementara Darius membungkuk badan lalu menutup pintu.

***

“Apa ini alasanmu kembali ke jalan?” tanya Khufaf kala kondisi pasien lebih baik daripada sebelumnya.

Sementara Nehan merespons itu dengan mengerutkan dahi.

“Baru kali ini aku lihat kau mengenali pasien,” ucap Khufaf akhirnya. “Aku pikir, dia adalah alasan dokter kembali ke jalan begini,”

Nehan mengangkat alisnya.

Khufaf mengembus napas lalu berkata, “Tentu saja alasan lainnya, karena rumah sakit jauh lebih mumpuni. Alatnya lebih lengkap ketimbang di ambulans. Makanya keahlian dan pengalaman seperti yang dokter punya sangat membantu bagi petugas dan pasien gawat darurat, khususnya bagi pasien seperti pria ini,”

Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya tatapan mata yang saling balas sebelum akhirnya Nehan menyungging bibir. “Kau benar-benar cerdas, ya?”

Khufaf terkekeh sambil menggaruk kepala.

“Kau tidak mau jadi guru atau intel saja,” ucap Nehan.

“Aku menyukai pekerjaan ini,” jawab Khufaf. “Lagi pula … aku masih perlu banyak belajar darimu,”

“Ambillah apa yang kau butuh,” Nehan menanggapi.

Khufaf mengangguk dan kembali berkata, “Tapi dok, kondisi pasien di ambulans belakang jauh lebih buruk, kenapa memilih orang ini?” ucapnya sambil melihat ke balik pintu kaca mobil.

“Orang itu masih sadar,” tanggap Nehan dengan melakukan hal serupa. “Seakan … dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu,”

“Mustahil ada yang selamat dari kondisi sepertinya,” Khufaf menyela.

“Kau benar,” Nehan menjawab. “Rasanya, orang itu malah mencoba menyelamatkan kita,”

“Apa maksud dokter—”

Kalimat Khufaf terhenti di situ saat melihat ambulans yang membawa pasien lainnya tetap mengambil jalan lurus, bukannya belok ke kanan mengikuti ambulans yang mereka naiki.

“Hey kau salah jalan!” seru Khufaf dengan sedikit membuka pintu. “Dok, kita harus—”

“Aku sudah menghubungi polisi,” Nehan memotong kalimat Khufaf. Membuat rekannya kembali duduk pada kursinya.

“Kapan dokter tahu?”

“Pria itu menarik kerahku sambil memberi tanda SOS,”

“Ini bukan sekadar kecelakaan.” kata Khufaf penuh keyakinan.

Sementara Nehan mengiyakan dengan isyarat. Kepalanya sedikit tertunduk dengan tatapan mata tajam. Tangan kirinya menggenggam sebuah cincin berbentuk kepala naga. Dalam benaknya kembali berkutat, “Sudah kubilang, tidak ada bagusnya pensiun. Mereka akan tetap memburumu, Bos.”

 

Alat pengukur tekanan darah pasien.

Jarum hijau berukuran 21 gauge atau jarum hitam berukuran 22 gauge biasa digunakan pada orang dewasa, sedangkan jarum biru muda yang lebih kecil berukuran 23 dengan winged butterfly biasa dipakai pada anak kecil atau pasien dengan vena yang kecil dan rapuh.

Alat pemberikan tekanan pada anggota tubuh atau ekstremitas untuk menghentikan aliran darah. Ini dapat digunakan dalam keadaan darurat, dalam operasi, atau dalam rehabilitasi pasca operasi.

Terpopuler

Comments

Amiruddin

Amiruddin

lautnya di mana

2023-08-17

2

Kustri

Kustri

apa kbr Laut?

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

menegangkan

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!