5. Blood

“Hei bos!” si sweater berseru melihat Ghazi yang tak kunjung bangkit.

Keterkejutan si sweater sangat jelas ketika melihat Ghazi, pria yang terkenal akan kekejamannya, yang masuk penjara setelah menjadikan ayahnya sendiri sebagai samsak tinju, dan menjadi penguasa lapas karena kegilaannya dalam berkelahi kini justru tak berdaya hanya dengan sekali pukul oleh seorang siswa SMA. Bocah kemarin sore yang sama sekali tak terlihat punya pengalaman bertarung.

Pria berotot itu masih diam dengan tertumpu pada kedua lutut. Tatapannya kosong, napasnya pendek, dan energi seakan lenyap dari tubuhnya. Ini adalah reaksi wajar bagi orang-orang yang menghentakkan napas dengan keras saat melancarkan serangan, tapi dalam waktu singkat mendapatkan hantaman tepat di perut.

“Apa yang kau lakukan, brengsek!” seru si botak sambil melepas Sakha lalu menerjang Laut.

Laut tetap berdiri di tempatnya, yang ia lakukan hanya mengepal tangan kiri dan meluruskannya ke atas. Namun itu sempurna mengenai dagu si botak sampai membuatnya terjungkal. Sedang si sweater lagi-lagi berseru, “Slameeet!”

Pria yang dipanggil tak kunjung bangun membuat kepanikan si sweater meningkat, hingga membuatnya melakukan serangan putus asa.

Laut yang melihat si sweater berlari dengan kelabakan menjawab terkaman itu dengan menghindar ke sisi kiri cepat lalu menjulurkan kaki kanannya, membuat si sweater terjungkal dan menubruk tanah berdebu. Terpogoh-pogoh si sweater bangkit lalu mengambil ponsel Laut dari saku celana Ghazi kemudian melemparnya sejauh mungkin.

Geram akan tindakan si sweater, Laut mendepak tengkuk lehernya membuat pria yang anti sosial itu hilang ingatan seketika.

“Akan kutangkap!” seru si wanita sambil melebarkan kedua tangannya dengan mata terfokus pada ponsel yang melayang di udara.

Saat ponsel kian menukik jatuh, si wanita melompat dan menyatukan tangannya. Namun itu tak berhasil. Ponsel justru mendarat di kepalanya sebelum akhirnya jatuh ke tanah dan terinjak oleh kakinya.

Si wanita meringkuk menahan lara pada kepalanya, sementara Laut mendekat dan berkata, “Menyingkirlah,”

Si wanita yang masih keliyengan memberikan pandangan kesal sebelum akhirnya sadar kalau ia baru saja meremukkan ponsel Laut.

“Ma-maafkan aku. Itu tidak sengaja,“ katanya tergagap.

Laut tak menjawab, ia hanya mengambil ponselnya yang telah rusak dan basah lalu merapikan tasnya yang telah diobrak-abrik oleh segerombol preman tadi.

“Hey! Kau tidak mau bilang terima kasih?!“ seru si wanita menghentikan aksi Laut.

Pria itu menoleh dengan tatapan menusuk membuat si wanita bingung harus memberikan reaksi apa. Lalu ia bangkit dan pergi keluar gang. Meninggalkan mereka bergitu saja seakan tak terjadi apa pun sebelumnya.

Si wanita mendekat dan kembali berkata, “Setidaknya belikan aku pakaian, lihat bajuku rusak!“

Mendengar itu Laut berhenti. Melihat ke arah si wanita dari ujung kepala sampai kaki. Tampak rambutnya acak-acakan, bajunya yang robek terlihat seperti telah rusak sebelumnya, ada beberapa memar pada wajah, tangan juga kakinya. Bahkan di ujung mulut si wanita masih tersisa gumpalan darah yang mengering.

Pria itu mengembus napas lalu berkata, “Apa kau preman juga?” Kemudian kembali pada aksinya.

Melihat itu si wanita kesal berteriak, “Aku sudah membantumu tadi!“ Selanjutnya merapikan pakaiannya agar sedikit pantas terlihat oleh orang banyak.

Menyadari masalah yang dialami si wanita sebelumnya Laut berkata, “Ikut aku.“

Mendengar itu si wanita terkejut lalu membuang semua batu pada ranselnya kemudian mengikuti langkah Laut.

Keduanya berjalan meninggalkan sekelompok preman yang terkapar.

***

Seperginya mereka berdua Ghazi akhirnya ambruk dan terlentang di jalan kotor. Pria berotot itu mulai mengatur napas dan mengembalikan energinya. Matanya memejam dan beberapa saat kemudian memori lama muncul. Ingatan yang tak ingin lagi ia lihat seumur hidupnya. Perihal kehancuran keluarganya.

“Aku tidak boleh begini. Aku mesti dapatkan uang. Fara pasti sudah menunggu.” ucap batin Ghazi saat kesadarannya mulai pulih.

Kala kedua bola matanya terbuka, terlihat seorang bersetelan kantoran berdiri tepat di hadapannya. Mata tajam dengan wajah tanpa ekspresi itu langsung dikenali oleh Ghazi sampai membuatnya melebarkan pandangan dan berseru, “Sialan! Apa yang kalian lakukan di wilayah kami!”

Selanjutnya pandangan Ghazi menghitam, lenyap bersama kesadarannya.

Di sisi lain si sweater yang mulai sadar berpura-pura pingsan saat melihat kengerian yang terjadi di depan matanya.

Langit yang sedari tadi mendung kini menjatuhkan ribuan tetes air ke segala sesuatu yang ada di bawahnya termasuk menghapus bercak darah dari tongkat baseball yang dipakai si pria kantoran untuk menghantam Ghazi.

Pria itu pergi diiringi gemuruh guntur dan kilatannya.

***

Di waktu yang bersamaan terjadi kecelakaan dahsyat. Para warga masih berkumpul melihat dan mendokumentasikan tragedi tersebut sambil menunggu para petugas datang. Tampak beberapa kendaraan ringsek dan salah satu mobil telah hangus terbakar.

Sepeda motor antik yang belum lama ini keluar dari salah SMA favorit di negara ini sudah tidak berbentuk. Pengendaranya bersimpuh darah tergeletak tak sadarkan diri di aspal bersama seorang guru yang menjabat sebagai wali kelas X IPA-10 tanpa seorangpun yang menolong, tanpa ada satupun yang berani mengulurkan tangan memberi pertolongan.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

ya Allah, ayah'a Laut ama pa Guru,,, kasian g ada yg nolong
pembalasan dimulai nih

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

wajib dibaca

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!