1. Place

Setengah bulan lalu.

Dering alarm berbunyi keras, tapi tak sanggup membangunkan seorang anak laki-laki remaja meski sudah setengah jam tidak henti bersuara.

”Laut! Lauuut!“ gema ayahnya berseru hampir ke tiap sudut ruangan. “Bangun! Kau bisa kelaut !“

Kesal pria berkepala lima itu membuka tirai dengan keras. Menyilakan cahaya matahari menusuk wajah anaknya yang masih pulas tertidur. Ia lihat muka putranya sekali lagi, bahkan walau sekujur tubuhnya telah terpapar sinar, tak ada tanda-tanda ia akan bangun.

“Anak ini,” gerutunya. Setelah mengembus napas, pria itu menyingkirkan selimut lalu menarik kaki anaknya keras sampai jatuh dari kasur.

Brak!

Anak laki-laki remaja yang dipanggil Laut akhirnya terbangun setelah kepalanya terbentur keras. Dengan setengah nyawa, ia duduk sambil mengusap kepalanya.

“Bangunlah, aku juga mesti berangkat sekarang.” ucap si Ayah meninggalkan kamar anaknya.

Laut memandang ke arah jam weker, samar, tapi ia coba fokuskan sampai membuat matanya terbelalak. Jam tujuh kurang dua puluh menit! Segera ia bersiap berangkat karena perjalanan menuju sekolah memakan waktu sedikitnya setengah jam.

Melihat anaknya yang kebut-kebutan menyiapkan diri, sampai melupakan sarapan membuat pria beruban itu kembali mengeluh. “Kenapa kau bisa diterima di SMA favorit kalau bangun saja selalu kesiangan?” tanya ayahnya dengan tetap menyantap sarapannya.

“Aku belajar sampai malam,” kata Laut sembari memakai sepatu.

“Bilang saja kau malas bangun,”

“Mana mungkin?” tanggapnya sambil meraih kunci motor dari atas meja. “aku pinjam ini,”

“Hey! Kau belum punya SIM!” ayahnya hanya berseru melihat anaknya berlari keluar rumah bagai bajing loncat, lalu memakai satu-satunya motor yang mereka punya. “Sialan! Itu kan mau kupakai buat berangkat kerja,” ia kembali menggerutu. ”ah sudahlah! Akan kuambil nanti pas istirahat makan siang.” katanya kemudian mengunci pintu rumah.

Di jalan, Laut berkendara cukup ugal-ugalan, tak jarang sesekali ia menerobos lampu merah. Untung saja hari itu tidak ada polisi yang bertugas, kalau saja ada, tamatlah pria itu. Kegesitannya dalam berkendara cukup membuahkan hasil, hingga membuatnya tak terlambat sampai sekolah. Meski nyaris saja gerbang ditutup oleh satpam.

***

Sampai di kelas X IPA-10, ia mengamati sekeliling. Beberapa siswa telah ngobrol, ada juga yang tampak membuat geng. Laut tak memedulikan, ia duduk pada kursinya. Dan tepat setelah ia duduk, sampai bel berdering tak ada satupun siswa yang mengajaknya bicara. Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya.

Awal sekolah seperti kebanyakan sekolah diisi perkenalan dan penentuan pengurus kelas. Hadi, siswa yang ditunjuk sebagai ketua kelas memilih beberapa siswa lain untuk membantunya mengelola kelas. Semuanya berlangsung menyenangkan, tapi tidak bagi Laut. Ia lebih sibuk dengan bukunya, belajar mandiri walau buku pelajaran sama sekali belum dibagi.

Selesai masa-masa yang hangat akhirnya wali kelas mengajukan pernyataan yang membuat hampir seluruh siswa kelas X IPA-10 terkejut. “Dilarang pakai motor juga mobil kalau kalian belum punya SIM!”

Mata Laut tercekat mendengar pernyataan wali kelasnya. Terlebih ia baru saja membawa kabur sepeda motor ayahnya agar tidak telat meski belum punya SIM. Dan yang paling tidak mengenakkan hati adalah perkataan wali kelas berikutnya. “Semua siswa yang hari ini bawa motor atau mobil, ikut Bapak ke ruang guru!”

Tak ada satupun yang berdiri kecuali dirinya. Semua siswa kelas X IPA-10 bersorak, mengumpat dengan kata-kata sewajarnya siswa yang baik yang seketika lenyap saat wali kelas menyentak, “Diam! Atau kalian juga akan kena!”

***

Jam istirahat, setelah selesai mendapat omelan guru juga catatan perilaku buruk. Termasuk menelepon ayahnya—walau ayahnya yang menelepon duluan—untuk mengambil sepeda motor langsung di sekolah, Laut kembali ke kelas, duduk di mejanya lalu membuka buku untuk belajar. Berusaha melupakan kesalahan yang mustahil dihilangkan.

“Hey begundal!” Salah seorang siswa menggebrak meja milik Laut. Mardhi namanya. Ia satu-satunya siswa paling tinggi dan berotot di kelas X IPA-10. Katanya ia dipromosikan masuk ke SMA ini karena sering memenangkan kejuaraan karate. “kenapa berandalan sepertimu bisa diterima di sini?”

Laut tak merespons, ia tetap sibuk mengerjakan soal pre-test yang didapatkan dari internet.

“Sok amat!” serunya dengan membuang buku yang sedang Laut pakai.

Laut menatap tajam mata Mardhi tanpa kata lalu mengambil buku di sisi kirinya. Belum juga tumpukan kertas itu terangkat salah seorang siswa lainnya sengaja menaruh kakinya di atas buku itu. Kembali Laut hanya memberikan tatapan tajam tanpa kata.

”Sorry, accidentally—“Maaf, ga sengaja,”

Bahkan setelah Laut mengembus napas, anak di depannya tak kunjung mengangkat kakinya. Membuat ia memaksa untuk menarik bukunya hingga siswa itu tersentak dan punggungnya menubruk ujungan meja.

“Sh*t!” Pria itu berseru lalu mendaratkan bogem tepat ke arah muka Laut.

Laut terjungkal bersama meja dan kursinya sampai ia mencium lantai.

”Strike!” Reza berseru girang.

Sementara siswa lain hanya melihat apa yang Bambang dan gengnya lakukan tanpa berani mengganggu apalagi melaporkan.

”Look at your position, jerk! You’r our slave now!—“Lihat posisimu, brengsek! Kau adalah budak kami sekarang!”

Itulah awalnya, awal dari semua mimpi buruk yang akan dialami Laut setiap hari di SMA favorit. Sekolah yang selama ini ia impi-impikan dapat belajar di sana yang kini menjadi mimpi paling buruk yang takkan pernah seorang pun bisa membayangkannya.

Terpopuler

Comments

sobat sebat

sobat sebat

ini baru bilang prologue

2023-09-13

1

Aimi.。*♡🌸

Aimi.。*♡🌸

cakep tulisannya enak dibaca 💪🏼

2023-09-11

1

Kustri

Kustri

smoga g digantung ama othor'

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!