6. Promise

“Mas,” kata Bulan pada suaminya yang sedari tadi masih mematung di depan kamar Laut.

“Biasanya dia tidak begini,”

“Kalian berdua itu mirip. Aku masih ingat, waktu—“

“Aku akan bicara dengannya,” serobot Angkasa.

“Sudah biar aku saja,” cegah Bulan. “Kalau kau masuk, kalian bisa berkelahi nanti,”

Angkasa mengembus napas lalu turun ke ruang utama. “Kalau benar kami mirip, kau pasti bisa membuatnya tenang,”

“Tentu saja! Aku kan ibunya,“ tanggap Bulan. ”Kau mau ke mana?”

“Kalau kau menenangkan anak itu. Aku akan mengurus sisanya,”

“Tunggu!” seru Bulan yang dihiraukan oleh Angkasa. Wanita itu menghela napas kesal. “Dasar pria itu. Lakukan saja sesukamu!” gerutunya lalu masuk ke kamar Laut dan menutup pintu.

Bocah yang baru saja memukuli teman sekelas juga gurunya sampai dibawa ke rumah sakit masih diam menatap keluar jendela. Luka pada tubuhnya masih baru, bahkan darah merembes keluar perban yang menutupinya.

“Apa yang kau lihat?”

”Kebebasan,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. ”Kenapa memberiku nama Laut? Langit jauh lebih baik, dia lebih luas,”

Bulan mendekat dan mengelus kepala anaknya penuh kasih. ”Apa laut tidak seindah itu?”

“Mungkin. Aku belum pernah lihat langsung, hanya dari gambar,”

“Mau pergi ke sana?“ tanya Bulan dengan senyum merekah pada wajahnya.

“Kapan kalian ada waktu?” Laut balik bertanya membuat dahi ibunya mengerut.

Memang dalam beberapa bulan ini dia dan suaminya disibukkan oleh urusan ini itu yang sangat penting dan mendesak. Terlebih setelah Bulan tahu kalau dirinya hamil, buatnya makin tak ada waktu berkumpul bersama seperti sebelumnya. Dia menyadari kurangnya kehadiran orang tua, bisa jadi yang membuat Laut menjadi emosional, meski tetap saja dia tidak menyukai tindakan yang dilakukan anaknya itu. Namun Bulan tetap mempertahankan seringainya.

“Duduk sini,“ ajaknya yang langsung dituruti oleh Laut tanpa kata. “Kita akan pergi besok kalau kau berjanji tidak akan berkelahi lagi,“

Anak berumur 5 tahun itu menunduk kepala. “Maafkan aku,“

“Kau menyesal?”

Laut tidak menjawab. Kepalanya masih terduduk. Sementara kedua tangannya mengepal. Bulan menyadari kalau anaknya sedang menahan emosi. Perilakunya sangat mirip dengan Angkasa.

“Kenapa berkelahi dengan mereka?”

Melihat anaknya takkan merespons Bulan kembali melanjutkan pertanyaannya. ”Apa mereka pantas dipukul?”

Mendengar itu Laut menjawab dengan tatapan tajam. “Aku hanya memukul mereka yang pantas dipukul,“

Bulan menanggapi dengan pandangan yang tak kalah menusuk. Selang beberapa detik keduanya diam, hanya saling bertukar mata sampai akhirnya keheningan itu pecah karena Bulan tertawa. ”Kau sangat mirip dengan Angkasa,”

Laut hanya menyungging sudut mulutnya.

”Aku tidak tahu apa yang ayahmu ajarkan saat aku tidak bersama kalian, tapi dengarkan ini baik-baik, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan. Ada kalanya diam dan membiarkan jauh lebih baik,” ucap Bulan berargumen.

”Bagaimana kalau mereka tidak mau berhenti?”

Respons Laut yang cepat membuat Bulan terkejut, tapi dia berusaha menutupinya. ”Kau bisa menakuti mereka,”

”Bagaimana caranya?”

”Tatapan matamu sangat tajam. Gunakan itu, pasti mereka akan takut,“

”Apa itu akan berhasil?”

”Tentu saja! Matamu jauh lebih mengerikan dari mafia sekalipun!”

“Ibu mengejekku?“ tanya Laut.

“Mana mungkin!“ tegas Bulan sambil tertawa dan mengelus kepala anaknya.

Laut masih menatap dalam sebelum akhirnya berkata, ”Akan kucoba,”

”Tapi ... kau tidak harus selamanya diam,”

“Kapan aku boleh menghajar mereka?”

Lagi-lagi tanggapan Laut yang cepat membuat Bulan terkejut. Baginya Laut adalah cerminan Angkasa ketika mereka pertama kali bertemu. Keduanya sangat mirip, meski selisih usia mereka tiga puluh tujuh tahun. “Kenapa kalian suka berkelahi, sih?!“ Bulan menggerutu sambil mengacak-acak rambut anaknya. “Tentu saja saat seseorang butuh bantuan,“

Laut mengiyakan dengan isyarat.

“Jadi apa kau bakal menghajar orang-orang yang mengganggu Ibu juga?“

Anak itu mengangguk lalu berkata, “Akan kukirim mereka ke rumah sakit,“

“Tidak perlu berlebihan.“ tanggap Bulan sambil memeluk anaknya.

Kehangatan yang diberikan oleh Bulan menjadi obat yang dapat dengan cepat membuat hati Laut merasa tenang dan nyaman. Peluk kasih yang bahkan bisa dirasakan olehnya dalam 10 tahun ke depan.

***

“Bagaimana menurutmu?“ Mentari mengulang pertanyaannya kepada pria yang sedari tadi membisu. “Apa kau melamun?” tambahnya sambil menggoyang tubuh Laut.

“Ah,” tanggap pria itu seraya mengangguk kepala.

“Kau melamun?” tanya Mentari.

Laut mengatur napas sembari memejam mata lalu bertanya, “Sudah pilih bajunya?”

Mentari mengendus kesal kemudian berkata, “Dari tadi aku tanya, ambil ini, atau yang ini?” ucapnya sekalian menunjukkan dua model baju pada tangannya.

“Ambil saja dua-duanya,” jawab Laut lalu melangkah melaluinya, menuju ke kasir.

“Apa yang kau katakan? Itu pemborosan!”

“Jangan buang-buang waktuku, aku harus ke tempat les,”

“Apa kau rajin belajar?” tanya Mentari sambil menghalangi langkah Laut.

“Minggir,” katanya dengan mendorong bahu wanita itu.

“Kukira kau atlet atau semacamnya. Soalnya kau membuat mereka pingsan dengan sekali serangan,” ucap Mentari seraya menirukan gerakan Laut sebelumnya.

Laut tak menanggapi, dia tetap berjalan ke kasir.

“Di mana kau belajar?“ lagi-lagi Mentari menghalangi langkah Laut.

Pria itu segera menyingkirkan wajah Mentari yang mencegahnya melangkah.

”Kenapa kasar sekali?!” Mentari menggerutu. Kemudian berlari kecil menyusul Laut.

”Sudah, Kak?” tanya si kasir.

Laut mengangguk lalu meminta Mentari menaruh belanjaannya dengan lirikan mata.

“Ada lagi, Kak?” si kasir kembali bertanya saat Mentari meletakkan kemeja putih polos di pembayaran.

“Ini saja,” jawab Mentari.

“Baik,” tanggap si kasir.

“Hei, apa kau masih punya uang?“ bisik Mentari. “Bukannya dompetmu diambil preman-preman tadi? Apa kau sudah mengambilnya?”

Laut tak merespons, ketika dimintai pembayaran dia menggunakan kartu debet.

Seakan kesal mendengar omongan Mentari, Laut mendorong wajah wanita itu menggunakan telapak tangannya.

Selesai melakukan transaksi si kasir kembali berkata, ”Terima kasih telah berbelanja. Semoga hubungan kalian awet sampai nikah,”

Mendengar itu Mentari terkejut, wajahnya memerah. Seketika dia berseru, “Aku bukan pacarnya!”

Sementara Laut mengindahkan pernyataan itu dan meninggalkan mereka.

”Tunggu aku!” teriak Mentari setelah menyadari kalau Laut pergi bergitu saja.

***

Kembali 10 tahun ke belakang. Kala di mana Bulan berhasil menenangkan Laut. Angkasa, seperti yang pria itu katakan pada istrinya, bahwa akan mengurus sisanya. Kini berada di sebuah rumah sakit, menjenguk wali kelas yang menjadi korban akan tindakan Laut sebelumnya, bersama dengan rekannya. Angkasa membawa parcel buah yang telah diletakkan di atas nakas.

Setelah membacakan isi buku pada pria yang terbaring dengan kondisi tidak baik, Angkasa berkata, “Aku tidak suka, jika ada yang mengganggu keluargaku.“

Bersamaan dengan ditutupnya buku itu, pria yang datang bersama Angkasa menarik pelatuk yang sedari tadi moncongnya mengarah ke wali kelas Laut. Angkasa berdiri dan menatap raga yang kini tidak bernyawa. “Aku sudah memperingatkan kalian.“

Kemudian keduanya pergi meninggalkan ruangan itu seakan tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

siapa??
ampe diulang baca koq obrolan yg terakhir msh blm paham, siapa yg menembak siapa yg ditembak??

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

Hebat

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!