10. Concuslion

Di sebuah gudang tak terpakai, duduk seorang pemuda pada tumpukan kayu. Pria itu memakai celana jeans dan jaket bergambar kepala singa. Rambutnya bermodel Korean perm dengan warna cokelat tua. Alis runcing dan tatapan tajam yang dimilikinya menunjukan kengerian tersendiri, terlebih bila melihat tato yang memenuhi leher juga punggung tangan dan jemarinya. Tangan kanan pria itu dibiarkan bebas mengudara, sementara tangan satunya memainkan belati dengan lincah.

Di sisi pemuda tersebut berdiri seorang pria bersetelan kantoran dengan kacamata yang tak pernah ia lepas. Wajahnya mulus tanpa luka dengan potongan bowl cut yang menambah kesan tampan. Namun tergantung anting-anting salib pada salah satu telinganya. Satu tangannya ia simpan ke saku celana, sedangkan satu lainnya membantu pria itu menghisap cerutu.

Riuhnya hujan tak meredam suara pintu yang dibuka sebab gudang itu menghalau gelombang suara untuk keluar. Petir menggelegar, mengiringi lima orang pria yang masuk ke gudang itu. Dengan penyinaran ala kadarnya dari kilatan guntur dan cahaya rembulan, salah seorang diantara mereka menyerahkan sebuah berkas ke pria kantoran.

“Bagaimana hasilnya?” tanya si Korean perm.

Sedangkan si pria kantoran menyalakan korek api elektrik untuk membantunya membaca.

“Orang itu masih hidup,” jawab pria yang menyerahkan berkas gelagapan.

“Brengsek!” gerutu si Korean perm sambil bangkit dari duduknya. “Kalian gagal dan malah ke sini,” sambungnya sambil memainkan belati tersebut pada muka pria di hadapannya.

Pria itu berusaha diam meski tubuhnya menggigil karena takut.

“Ada campur tangan No Mercy,” si pria kantoran menyela, menghentikan aksi si Korean perm yang telah mengarahkan ujung belatinya ke leher pria yang menyerahkan berkas.

Mendengar itu si Korean perm mengendus kesal lalu menyimpan belatinya dan kembali pada tempat duduknya. Sedangkan pria yang menyerahkan berkas mengembus napas lega.

“Ini alasan kenapa divisi empat gagal,” sambung si pria kantoran.

“Siapa yang pegang?” tanya si Korean perm.

“Ghazi ... Ghazi Ozi,” sahut si pria kantoran.

“Si anak tinju. Dia bisa gagal juga ternyata....” si Korean perm memainkan jemarinya hingga menghasilkan bunyi gemeletuk. “Javier, suruh orang untuk mengobatinya,”

“Kau masih mau menggunakannya?” tanya si pria kantoran sambil mematikan korek api elektriknya lalu meletakkan berkas yang ia terima di sembarang tempat.

“Jauh lebih berguna ketimbang cecenguk-cecenguk ini,” ucap si Korean perm seraya menunjuk lima pria di hadapannya.

“Aku akan mengirim divisi satu,”

“Kenapa tidak divisi khusus?”

“Mereka sedang menyelesaikan masalah yang kau tinggalkan waktu itu,” jawab Javier sambil melempar cerutunya yang habis.

Si Korean perm menggaruk kepala lalu berkata, “Kalau begitu suruh si anak juijutsu. Aku suka gayanya ... dia cukup menjanjikan seperti Ghazi,”

“Anak baru dari divisi tiga?”

“Ya! Siapa namanya?”

“Matthew,”

“Oh ya dia ... suruh dia saja,”

“Bocah itu sedang sibuk,” Javier menganggapi seraya mengambil rokok baru dari balik jaz yang ia pakai. “Aku menyuruhnya membentuk aliansi,”

“Apa bisa dapat uang dari situ?” tanya si Korean perm dengan mendongakkan kepalanya.

“Tentu saja,” jawab Javier lalu menyalakan rokoknya yang entah ke berapa.

Si Korean perm mengembus napas panjang lalu melompat bangkit seraya berkata, “Biar aku saja yang mengurusnya,”

“Kau hanya akan bikin masalah baru nanti,” cegah Javier.

“Siapa peduli?!” saut Korean perm dengan menjulurkan lidah.

“Tunggu ... Miller!” seru Javier sambil mengikuti langkah si Korean perm, tapi sesaat ia hentikan untuk berbisik di telinga kiri pria yang menyerahkan berkas.

“Aku tidak tahu sampai kapan Miller bersabar. Jadi, urus divisi dua dengan baik ... kau butuh uang untuk ibumu, kan?”

Sedangkan pria yang menyerahkan berkas menelan ludah dengan paksa.

Seperginya kedua orang itu, pria yang menyerahkan berkas mengembus napas keras penuh kekesalan lalu berteriak, “Brengsek! Kau pikir aku mau hidup seperti ini?! Sialan!”

“Paul,” panggil salah seorang bawahannya, kemudian menyerahkan ponsel yang menampilkan pesan dari seseorang.

Pria yang disebut namanya menerima itu lalu membacanya. Seringai lebarnya berkilat diiringi gemuruh guntur.

“Siapkan anak-anak! Kita akan mulai revolusi!” serunya yang langsung dituruti oleh kelima bawahannya.

***

Pada sisi lain, di mana berkumpul anggota yang menjadi musuh abadi Kuroken. Seorang pria bersetelan kantoran dengan gaya rambut texturised crop duduk pada kursi pininfarinas aresline xten, sambil membelakangi dua pria yang baru saja masuk ke ruangannya. Matanya tajam menyapu pemandangan dari balik jendela yang bertengger di lantai tiga puluh dua. Di sisi pria tersebut berdiri seorang pria yang berpenampilan sama dengan potongan two block with bangs yang dibenahi tugas sebagai consigliere [6].

Salah seorang bernama Revan maju selangkah dari rekannya lalu berkata, “Tuan Angkasa Putra sudah diamankan. Kondisinya memang tidak baik, tapi kemungkinan selamat masih tinggi, karena—”

Si consigliere mengangkat tangan, memotong kalimat Revan sekalian menyuruh Lewis melaporkan hasil pekerjaannya.

Seakan memahami instruksi itu, pria berpostur bagai binaragawan menyejajarkan diri dengan Revan dengan kedua tangan tetap tersimpan pada balik punggungnya. “Pimpinan divisi empat Kuroken sudah dibereskan. Aku memukulinya, tapi tidak sampai mati. Dan....” kalimatnya terjeda untuk mengambil napas. “Tidak ada ponsel yang Bos minta,” sambungnya sambil membungkuk badan.

Pria yang dipanggil Bos, bangkit dari duduknya dengan menyimpan kedua tangannya pada saku. Ia tidak membalik badan, masih membiarkan bawahannya melihat bagian belakang tubuhnya.

“Apa lagi?” tanya si consigliere saat keheningan menyeruak di ruangan itu.

“Tuan Laut mengambilnya lagi,” ucap Lewis gelagapan.

“Bagaimana bisa?” tanggap si consigliere.

“Mantan napi itu tergeletak dengan satu pukulan,” Lewis menjelaskan dengan tergagap.

Si consigliere merespons itu dengan siulan. Sementara pria yang dipanggil Bos berkata, “Rebutlah jika bukan dia yang memegangnya,”

“Baik!” seru Lewis.

“Kerja bagus. Akan kukirim upah kalian seperti biasa,”

“Terima kasih, Bos!” teriak Lewis dan Revan kompak.

Si consigliere mengangkat tangan, menyuruh kedua pria tersebut meninggalkan ruangan itu. Setelah pintu ditutup, si consigliere kembali membuka mulut, “Aku bisa mengambil ponsel itu kapan saja,”

“Kekejaman adalah tanda kelemahan,”

Si consigliere mengembus napas kesal. “Tapi itu berharga untukmu! Kau lebih pantas memilikinya!”

“Tidak perlu buru-buru ... takdir selalu berpihak pada yang kuat,” tanggap pria yang dipanggil Bos dengan tetap memandang keluar kaca.

Mendengar itu si consigliere tidak bisa berkata-kata.

“Quill,” katanya beberapa saat kemudian setelah keheningan menyeruak.

“Apa yang kau lihat?” tanya si consigliere.

“Badai akan datang,” jawabnya.

“Aku sudah menunggu lama,” ucap Quill sambil mengira-ira apa yang dilihat sahabatnya sejak kecil itu. “Biar aku yang mengurusnya kali ini ... sebab tidak seorang pun pantas merasa tidak berharga.”

Pria yang dipanggil Bos hanya menyungging bibir tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya lagi.

--------------------

Penasehat

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

piye to kiiih,

2023-07-20

0

Penulis Noname

Penulis Noname

seru

2023-07-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!