Semua menjadi lega. Mereka tak suka dengan gangguan tadi dan ingin segera menuntaskan pertemuan ini. Namun mereka heran karena Cheng Sam dan anak buahnya tidak mengikuti langkah Tuan Muda Chang, malah terus berdiam di tempat.
Cheng Sam maju. “Tuan Muda-ku sangat naif. Dia selalu menganggap enteng setiap masalah. Dia pikir kepergiannya kali ini bisa dilakukan seenaknya. Dia tidak tahu kami berencana mengambil alih kekuasaan Ketua Persilatan!”
“Apa?” seru Pendekar Sung. “Dewa Seribu Wajah mengutus kalian untuk....”
“Benar!” tukas Cheng Sam penuh kemenangan. “Serang!!!”
Belasan anak buahnya segera menyerang dan menawan semua pendekar di sana. Pendekar-pendekar itu, termasuk juga Chien Wan dan kawan-kawan, segera bersiap untuk melawan. Namun semua orang kaget karena tiba-tiba saja tubuh mereka lemas.
“Ha ha ha!! Air minum kalian sudah kami beri bubuk pelemah otot. Salah seorang dari kami telah menyelinap ke dapur kalian!” tawa Cheng Sam penuh ejekan.
“Kalian sudah merencanakan ini!” tuduh Pendekar Him marah.
“Tentu saja. Kami sudah menyusupkan seseorang untuk bekerja di sini sejak jauh-jauh hari. Kalian pikir semuanya aman-aman saja?” cibir Cheng Sam.
Mereka semua terkejut mendengarnya, termasuk Pendekar Sung. Tak disangka bahwa kediamannya yang dijaga ketat ternyata bisa juga kemasukan mata-mata. Dan mereka semua sama sekali tidak menduga akan hal ini. Celakanya, semua sudah meminum teh yang disediakan.
Semua. Kecuali Chien Wan dan Sen Khang.
Chien Wan tak pernah minum kecuali pada saat makan atau benar-benar haus, dan kebetulan ia memang sedang tidak haus. Sen Khang sendiri tadi terlalu asyik mendengarkan perdebatan sehingga lupa minum. Ini menjadi hal yang menguntungkan bagi mereka berdua.
Para pendekar itu, termasuk Ouwyang Ping, Ting Ting, dan Meng Huan, hanya bisa duduk di tempat masing-masing.
Namun Sen Khang tetap berdiri di tempat semula. Chien Wan melangkah menghampirinya. Cheng Sam heran sekali. Namun akhirnya ia sadar bahwa kedua pemuda itu tidak terkena bubuk pelemah otot. Ia memberi tanda agar semua anak buahnya mengeroyok Chien Wan dan Sen Khang. Ia sendiri bersandar sambil menonton pertarungan itu dengan senang.
Chien Wan dan Sen Khang memisahkan diri dan pengeroyok mereka terpecah menjadi dua.
Chien Wan mengerahkan jurus-jurus yang diajarkan Tuan Ouwyang. Ia belum berniat mengeluarkan sulingnya karena terlalu sayang jika digunakan pada mereka. Sayangnya, tanpa sulingnya ia menjadi agak lemah. Ilmu silat tangan kosongnya tidak terlalu bagus. Maka ia mencabut sulingnya dan melompat mendekati Ouwyang Ping. “Sumbat telingamu,” bisiknya.
Ouwyang Ping mengeluarkan sumbat telinga khusus dan mengedarkannya pada orang-orang di sekitarnya tanpa kentara. Ia menyumbat telinganya dengan benda itu. Yang lain mengikuti contohnya.
Chien Wan meniup sulingnya, dan mengalunlah nada melengking yang sangat menusuk telinga. Begitu menyakitkan sehingga para pengeroyoknya serta para pengeroyok Sen Khang menutupi telinga sambil berteriak-teriak. Sen Khang pun merasakan kesakitan yang sama, demikian pula dengan tamu lain.
Karena para penjahat sedang sibuk menahan sakit, Ouwyang Ping yang sudah menggunakan sumbat telinga sehingga tak terpengaruh, dengan bebas melangkah dan memberikan sumbat telinga khusus pada Sen Khang. Dengan isyarat, ia meminta Sen Khang menotok pingsan orang-orang yang tak kebagian sumbat.
Sen Khang segera melakukannya. Semua orang yang tak kebagian sumbat segera dibuat pingsan olehnya. Ia tidak tahu mengapa ini perlu dilakukan, namun ia percaya sepenuhnya pada Ouwyang Ping.
Para pengeroyok mereka tidak tahan lagi. Satu persatu jatuh sambil terus menutupi telinganya. Cheng Sam juga. Mereka semua, termasuk Cheng Sam, berteriak-teriak memohon supaya Chien Wan berhenti. Namun Chien Wan tak peduli, terus saja meniup sulingnya.
Akhirnya Chien Wan menghentikan tiupannya. Semua penjahat sudah bergeletakan di lantai dengan merintih-rintih kesakitan. Ia melangkah mendekati Cheng Sam, lalu berlutut di dekatnya. “Berikan penawar bubuk pelemah otot padaku, atau aku akan meniup sulingku lagi dan kalian akan tuli selamanya,” ancamnya dengan suara rendah.
“Ampun....” mohon Cheng Sam lemah. Lalu ia mengeluarkan penawar bubuk pelemah otot dari saku bajunya. Penawar itu dibungkus dalam bungkusan kecil-kecil.
“Bagaimana aku bisa yakin ini asli?”
“Itu penawarnya, Tuan. Sumpah!” bilang Cheng Sam ketakutan. Genderang telinganya terasa sangat sakit dan berdenging sampai sekarang. Suara Chien Wan terdengar jauh sekali.
Chien Wan mengangguk. “Kalau kau bohong, suling akan kutiup lagi.”
Cheng Sam memandang ngeri pada Suling Bambu Hitam yang tampak angker.
Chien Wan menghampiri Sen Khang yang sudah mencabut sumbat telinganya. Sen Khang melihat penawar itu dan mengangguk. Mereka pun berkeliling membagikan penawar. Chien Wan mendekati Ouwyang Ping dan menuangkan bubuk itu ke mulutnya. Dengan susah payah gadis itu menelannya.
Kemudian Ouwyang Ping memejamkan mata dan mengatur sirkulasi tenaganya. Chien Wan terus memperhatikan gadis itu dengan was-was. Akhirnya Ouwyang Ping membuka mata dan tersenyum menatap Chien Wan.
“Aku tak apa-apa, Kakak Wan.”
Chien Wan menarik napas lega.
Peristiwa ini tak lepas dari pandangan Ting Ting. Ting Ting semakin cemburu terhadap Ouwyang Ping. Dia juga terkena bubuk pelemah otot, namun mengapa hanya Ouwyang Ping yang dijagai Chien Wan?
“Ting Ting, apa kau tak apa-apa?” tanya Meng Huan lembut.
Ting Ting menoleh dan mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia agak terhibur melihat Meng Huan yang begitu penuh perhatian pada dirinya.
Sen Khang meringis. Cuma aku yang tidak diperhatikan, keluhnya dalam hati. Yah, apa boleh buat. Cuma dirinya yang tidak punya pasangan di sini.
Pendekar Sung memberi hormat pada Sen Khang dan Chien Wan. “Terima kasih atas pertolongan kalian berdua. Kalau tidak ada kalian, kami semua pasti akan celaka.”
Sen Khang dan Chien Wan membalas memberi hormat.
“Jangan sungkan, Pendekar Sung. Kita sesama masyarakat Dunia Persilatan harus saling membantu,” ujar Sen Khang ramah.
Pendekar Sung semakin bersimpati pada Sen Khang.
Kemudia ia berbalik dan memandang para pendekar yang saat itu sudah pulih kembali dan tengah menatap Chien Wan dan Sen Khang dengan kagum dan penuh rasa terima kasih.
“Saudara-saudara, izinkan aku memperkenalkan kedua pendekar muda ini. Pemuda berbaju putih ini adalah Pendekar Luo Sen Khang, putra Tuan Luo Siu Man dari Wisma Bambu,” kata Pendekar Sung.
Para hadirin bergumam riuh. Luo Siu Man adalah penguasa Wisma Bambu yang terkenal berilmu tinggi. Rupanya ini adalah putranya! Tak heran jika ia pun berilmu tinggi.
“Pendekar Luo sangat hebat!” puji Pendekar Fu.
“Ilmu tangan kosongnya luar biasa!”
Sen Khang melirik adiknya dengan jenaka.
“Dan, peniup suling ini berasal dari Lembah Nada. Namanya adalah Pendekar Chien Wan,” lanjut Pendekar Sung.
Hadirin kembali riuh. Sudah cukup lama Lembah Nada tak terdengar lagi nama besarnya. Kini datang salah seorang anggotanya dan telah menunjukkan kualitasnya di hadapan mereka semua. Hadirin sangat kagum akan kehebatannya.
“Tiupan suling Anda benar-benar maut!” puji Pendekar Phan. Ia memandang kagum pada pemuda kurus berpakaian hitam yang kini berdiri di hadapannya.
Chien Wan agak malu. Ia tak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti itu. Ia memandang Ouwyang Ping sekilas dan merasa terhibur melihat senyum menawan gadis itu.
“Kalau demikian, kenapa tidak kita sebut saja dia ‘Suling Maut’?” usul salah seorang pendekar tak dikenal.
“Setuju! Setuju!”
“Ada apa, sih?” Pertanyaan itu datang dari arah pintu bersamaan dengan datangnya Sung Siu Hung diikuti pengawalnya yang tersengal-sengal.
“Siu Hung!” hardik Pendekar Sung.
“Ups.”
Bersambung.
gadis remaja jenaka berbaju biru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 182 Episodes
Comments
Agus Gunarto
sayang cerita sebagus ini ilmuny ngak ada namanya
2024-02-08
0
Andy Prayitna
mantap
2023-11-02
1
ais adam
Lanjut terus
2023-08-07
0